
"Mami bohong!!!" Jean berlari ke dalam kamar.
Brakkk!!! ia menutup pintu dengan keras.
Adinda terdiam membisu melihat Putrinya sangat marah kepadanya, ia tak bermaksud membohongi Jean perihal piknik, namun begitu sampai dirumah tidak ada satu orangpun yang bisa di ajak sampai akhirnya Adinda membatalkan rencana itu.. Rakka dan Karina sudah pasti sibuk di kantor sedangkan sejak awal memang tidak memungkinkan mengajak kakeknya yang saat ini sedang tak ada dirumah.
Sebenarnya Adinda hanya asal bicara untuk menghindar dari situasi yang tidak menyenangkan di antara Arash dan Henry tadi, ia tak menyangka bahwa Putrinya ternyata benar benar mengharapkan itu mengingat ia selalu pergi berdua dengannya, Adinda baru menyadari betapa kesepiannya Putrinya.
Setelah beberapa saat Adinda membuka pintu kamar putrinya dengan hati hati, ia mendekat.. Jean menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
Adinda membuka selimut itu perlahan. "Sayang.. Mami janji besok saat akhir pekan kita akan jalan jalan yaa.."
Pantas saja anak itu diam saja, rupanya saat ini dia sudah tertidur, Adinda membetulkan posisi tidurnya, membelai kepalanya dengan pelan.
"Sepertinya harus hari ini yaa..." gumamnya pelan.
.
Arash kembali mengaktifkan ponselnya setelah 1 jam, tiba tiba wajahnya tersenyum cerah membuka sebuah chat yang barusan masuk dari Adinda.
Arash seger memutar balik mobilnya, sampailah ia di depan rumah Kediaman Atmaja, disana Jean tersenyum cerah melihat Arash yang datang dengan membawa sebuah boneka besar berwarna pink dan satu tangannya membawa sebuah buket bunga mawar merah.
Arash menyerahkan bonekanya pada Jean "Boneka? Terimkasih Om!!"
"Suka bonekanya?" Jean mengangguk.
Kemudian Arash menyerahkan buket bunganya kepada Adinda, Adinda pun menerimanya, "Terimakasih.. Padahal kamu nggak perlu repot repot.. Ehemmm" ucapnya dengan malu malu.
Arash menggendong Jean, "Lets go.."
Pada akhirnya mereka bertiga berjalan jalan bersama, mereka mengunjungi beberapa tempat mulai dari kebun binatang, sea world dan saat ini mereka berada di taman bermain yang lumayan ramai pengunjung, Jean mencoba satu persatu wahana bermain ringan disana.
Arash yang bersikap hangat dan perhatian setiap waktu membuatnya semakin dekat dengan Jean, Jean terlihat mulai merasa nyaman berada di dekat Arash, begitupun sebaliknya.
Adinda duduk melihat Arash dan Jean kembali dari membeli es krim, keduanya terlihat akrab, mereka terlihat sangat bahagia.
Sepertinya Jean mulai menerima Ayahnya, syukurlah....
Ehh?? Kenapa aku bersyukur? Apa ini berarti aku berharap bisa kembali bersamanya?. Astaga.. Apa yang sedang kupikirkan!.
"Mamii...mau es krim?" ucap Jean begitu sampai di hadapan Adinda.
"Nggak! Buat Jean saja!" jawab Adinda.
"Adinda.. Kenapa wajahmu merah? Kamu demam?" Arash memeriksa dahi Adinda. "Kamu nggak demam tuh!"
__ADS_1
"I.. Iniii.. Karena cuacanya panas?" ucap Adinda canggung seraya menepis tangan Arash.
"Panas apa? Ini sudah sore!"
Adinda bangun "Yahh.. Pokoknya panas, ayo kita pulang sekarang sayang" Ucap Adinda kepada Jean.
"Oke.. Ayo pulang Om.." Jean menatap Arash.
"Apa Jean nggak menyukaiku?" ucap Arash dengan wajah murung.
"Aku cuka kok!"
"Kalau begitu panggil aku Pa Pi.." Arash tersenyum.
"Tapi aku cudah punya Papi Henly!"
"Hemmm.. Yasudah.." Seketika perasaan Arash menjadi buruk karena mendengar nama itu tapi ia tetap harus menjaga ekspresinya di depan Jean.
"Papa! Aku mau panggil Papa Alaash!" ucapan Jean tiba tiba membuat wajah Arash tersenyum kegirangan.
"Benar!! Anak pintar he he, Pa pa yaaa, boleh juga.." Arash mengelus elus kepala Jean. "Coba panggil Papa sekli lagi.."
"Papa Alashhhh.. He he"
"Kamu seseneng itu?" tanya Adinda seraya menatap Arash.
.
Hari sudah mulai gelap, Arash menghentikan mobilnya di depan kediaman Atmaja, begitu turun dari mobil Jean berlari karena melihat Henry di teras rumah bersama Dewangga.
"Papiii..."
"Halo Tuan putri.. Dari mana saja?"
"Aku balu saja beljalan jalan bersama Mami dan Papa! Hali ini cangat celu!!" ceritanya dengan antusias.
"Papa?!" Mata Henry membelalak, ia kaget dengan panggilannya untuk Arash yang saat ini sedang tersenyum penuh kemenangan di depannya.
Meski kesal Henry pun tetap menjaga ekspresinya, "Pasti Jeje sangat senang kan?"
"Benal Papi... Cenangggg cekali... Hehe"
"Baguslah jika Jeje senang.. Pasti Jeje lelah, istirahat sana.."
"Oke Papi!!" Jeje masuk bersama ART yang sudah menghampirinya.
__ADS_1
Merasa tak nyaman berada di antara anak anak muda Dewangga pun pergi bersama asistennya.
Henry terdiam dengan raut wajah suram, membuat Adinda merasa bersalah, sedangkan Arash masih tersenyum dengan kemenangannya itu membuat Henry semakin terbakar amarah.
"Aku datang untuk memastikan kalian baik baik saja, kalau begitu aku permisi dulu" ucap Henry kepada Adinda.
"Anu.. Henry.." ucap Adinda ragu ragu.
Henry berbalik badan lalu tersenyum, "Aku baik baik saja Adinda, kau tak perlu menghawatirkanku"
"Yah.. Tentu saja kau harus baik baik saja! Kau harus menyiapkan diri karena kau akan semakin sering melihat kebersamaan kami mulai sekarang, kau tak akan memiliki celah!" Arash menimpali.
"Kamu benar benar yaa!!" bisik Adinda kesal.
"Kenapa? Apa lagi lagi kamu merasa kasihan? Simpati yang nggak ada gunanya?" ucap Arash kesal.
"Apah? Kenapa jadi kamu yang marah?"
"Memangnya aku nggak boleh marah saat tahu bahwa Ibu dari anakku berusaha menjaga perasaan pria lain yang sudah jelas sedang berusaha merebutmu dariku di depan mataku sendiri!!" teriaknya.
"Jangan meneriakiku!!" nada suara Adinda semakin keras.
"Hahhh.. Sudahlah terserah kau saja!!!" Arash pergi karena sepertinya amarahnya tak akan mudah mereda jika ia masih melihat wajah laki laki yang amat dibencinya itu.
"Hahhh.. Seperti biasa dia selalu pemarah dan seenaknya sendiri!" gumam Adinda.
Henry berjalan mendekat, "Maafkan aku, karena aku kalian bertengkar" ucap Henry dengan wajah merasa bersalah.
"Ini bukan kesalahanmu jangan minta maaf, seharusnya aku yang minta maaf karena membuatmu berada di posisi tak nyaman ini padahal selama ini kamu sudah sangat baik padaku dan Jeje"
"Sudahlah.."
"Dan juga... Sepertinya aku sudah membuat keputusan tentang lamaranmu waktu itu.." ucapnya dengan hati hati.
Deg. Tiba tiba jantung Henry terasa ngilu, melihat dari raut wajah Adinda yang terlihat tak nyaman saat ini tampaknya ia sudah tahu bahwa sekeras apapun ia berusaha pada akhirnya hubungannya tak akan bisa lebih dari seorang teman.
"Kalau sulit untuk dikatakan kau tak perlu mengatakannya, sepertinya aku sudah tahu.." Henry tersenyum kecut menatap wajah Adinda yang terlihat seperti hampir menangis karena kasihan dengannya. "Tolong jangan membuat ekspresi seperti itu.. kau membuatku merasa sangat menyedihkan.."
Adinda tersadar, ia segera mengusap wajahnya, "Maafkan aku Henry"
"Sepertinya setelah ini aku akan sulit bertemu denganmu, tolong jangan datang ke kafe untuk sementara waktu sampai aku bisa membereskan perasaanku"
"Ahhh.. baiklah.. sekali lagi aku minta maaf"
"Kalau begitu aku pergi sekarang" Adinda mengangguk.
__ADS_1
Henry merasa bahwa dirinya sangatlah bodoh, bagaimana bisa ia menaruh harapan kepada seseorang yang jelas jelas ia tahu tak akan pernah berpaling dari cintanya, rasanya perasaan yang tak pernah utuh dan berkali kali patah itu semakin remuk bercampur aduk dengan sebuah kekecewaan karena kekalahan.
Bersambung.