
Anya menjalani hari harinya seperti biasa seolah tak ada masalah apapun yang terjadi dalam rumah tangganya, ia tersenyum di depan Putranya dan mengerjakan pekerjaan kesehariannya sebagai seorang Istri dan juga Ibu, mulai dari menyiapkan sarapan pagi, menyiapkan baju kerja suami kemudian mengantarkan Bara ke sekolah, semuanya seolah kembali ke tempat asalnya, namun setelah semua tugasnya selesai dan tinggal ia seorang diri di rumah ia mulai kehilangan senyumannya, mengingat hal hal yang terjadi pada malam itu di rumahnya sendiri, ia pun teringat suaminya yang mungkin saja masih diam diam berhubungan dengan rekan kerjanya yang bernama Sonia yang katanya kini sudah di mutasi ke luar kota setelah Donny memutuskan kembali kepada Anya.
Semakin Anya mencoba menggali perasaannya yang dulu, semakin ia teringat perselingkuhan Suaminya dan membuatnya menjadi semakin kepikiran dan marah, bahkan untuk menelan sesuap nasi saja ia sangat kesulitan karena kehilangan selera makannya, namun Anya berusaha menyibukkan tubuhnya dengan mengerjakan berbagai pekerjaan rumah agar fokusnya teralihkan.
Sore itu Donny pulang lebih awal dari biasanya, ia melihat Istrinya semakin pucat dan terlihat tak memiliki daya hidup, jangankan berhias untuk mempercantik diri, dimatanya itu Istrinya kini semakin tak menarik saja.
Anya menemani suaminya makan malam di meja makan, Donny menatapnya yang diam saja, "Apa ada yang mengganggu pikiranmu Sayang?" tanya Donny membuat perhatian Anya beralih kepadanya.
"Bagaimana kalau kita pindah rumah? Bagaimna menurutmu?"
"Apah? Kenapa tiba tiba?"
"Ingin mengganti suasana hati saja"
"Maaf Sayang, bukannya aku nggak mau mengabulkan keinginanmu, tapi rumah ini dibeli oleh orang tuaku, meski atas namaku tapi mana mungkin aku menjualnya dan pindah, kalau untuk mengganti suasana hati gimana kalau kita pergi liburan? Aku akan mengambil cuti tahunanku"
"Nggak usah deh, Bara harus absen sekolah jika begitu"
"Yasudah kalau kau tak mau aku tak memaksa"
Begitu Anya dan Donny berbaring di atas tempat tidur bersama Anya selalu memperlihatkan punggungnya kepada Donny, Donny merasa sejak kembali Anya terus menjaga jarak dan bersikap waspada padanya, setiap Donny mencoba menyentuhnya Anya akan menghindar seolah tak ingin bersentuhan dengannya, namun Donny masih mencoba mengerti Istrinya yang masih harus beradaptasi kembali.
Hari hari terus berlalu, namun Anya tetap seperti itu dan malah semakin sensitif terhadap setiap gerakan Suami yang mencoba mendekatkan diri. Pada akhirnya Donny malah mengabaikannya dan membiarkan Istrinya bersikap sesuai keinginannya selama Anya dan Bara masih tetap tinggal disisinya.
"Sayang, aku baru gajihan, setelah menjemput Bara siang ini kau pergilah jalan jalan ke Mall atau kemanapun itu, nih ambillah kartu ku dan pakailah sesuka hatimu" ucap Donny seraya memakai baju kerjanya.
"Baiklah, terimakasih" jawab Anya meraih kartu debit dari tangan Donny.
Perbincangan pun usai ketika Donny tak lagi menjawab atau mengajukan pertanyaan lain. "Hahhhh.." ia menghela nafas seraya berjalan keluar dari kamar. Lama kelamaan Donny pun merasa sesak berada di dekat Istrinya sendiri, ia merasa sudah berusaha memperbaiki hubungannya namun rasanya tak ada yang berubah hanya keadaan yang malah menjadi semakin keruh karena Anya berusaha menahan semuanya, Donny pun langsung pergi tanpa menyentuh sarapan yang sudah disiapkan Istrinya.
🍀🍀🍀
Mikyla sudah berada di kediaman Hutama bahkan sebelum pemilik rumah pulang, Mirna melayaninya dengan senang hati entah itu menyajikan minuman dan juga camilan yang disukai oleh orang yang sudah lama di kenalnya itu.
__ADS_1
Mujin masuk ke rumah, ia melewati ruang tamu dan terhenti ketika melihat Mikayla sudah berada di sana. "Apa yang kamu lakukan disini Mikayla?" tanya Mujin yang sudah berfirasat buruk.
Mikayla tersenyum, "Kan aku sudah bilang mau mengatakan semuanya kepada Tante Mariana tentang Arash dan Adinda di masa lalu"
"Kan sudah kubilang tunggu waktu yang tepat kan? Kenapa kamu nggak sabaran begini sih?"
"Bukan aku yang nggak sabaran! Tapi kamu yang lambat! Kau menyuruhku mencari tahu sesuatu yang bisa membuat Arash dan Adinda berpisah sekarang juga tapi kenapa sekarang kau terus menghalangiku begini?!" ucapnya kesal.
"Terserah kau saja! Sekarang kembalilah ke rumahmu! Aku akan mencari waktu yang tepat!"
"Nggak! Sekarang lah waktu yang tepat itu!" kekehnya.
"Mikayla dengarkan aku kali ini saja!" bujuknya.
"Makanya jelaskan! Apa alasanmu menunda nunda waktu yang sudah kita tunggu tunggu ini?" Mujin terdiam seraya berfikir "Apa jangan jangan kamu beneran suka sama wanita kampung itu sampai kamu mau melindunginya?" Mikayla berekspresi menyepelekan.
"Bukan begitu! Aku hanya tak ingin orang yang nggak ada sangkut pautnya denganku terkena imbasnya"
"Aku nggak peduli apapun yang kamu pikirkan! Pergi sana!" Mujin menarik tangan Mikayla dan membawanya keluar, namun Mikayla tetap bersikeras dengan pendiriannya mencoba mempertahankan dirinya.
"Jangan begini Lee Mujin, aku mau mengatakannya sekarang juga! Aku nggak tahan lagi!!"
"Apa apaan ini?!" ucap Arash yang baru saja mau masuk ke rumah bersama Adinda. Mujin segera melepaskan tangan Mikayla.
"Bukan apa apa! Kalian masuklah! Aku mau mengusirnya karena Ibu Mariana melarang orang ini datang kan?" jawab Mujin.
"Tunggu tunggu, Ar.. Aku mau bicara penting sama Tante Mariana, ijinkan aku menunggunya pulang sebentar!" ucap Mikayla yang masih di tarik Mujin menjauh dari mereka berdua. "Hei, Mujin berhenti menarikku!! Aduh.. Tanganku sakit sekali!!! Lepas!!" Mujin tak menghiraukannya dan hanya fokus untuk menjauhkan Mikayla.
Arash hanya menggeleng melihat keduanya "Mereka terlihat akrab, sejak kapan mereka saling mengenal?" ucap Adinda.
"Nggak penting! Nggak perlu kamu pikirin, ayo!" Arash menggandeng tangan Adinda membawanya masuk.
Tiba tiba Mirna datang menghampiri Arash dan Adinda, "Lho..Tuan Arash, Kemana Nona Mikayla? Saya mau menawarkan minuman lagi" ucapnya.
__ADS_1
"Sudah pergi!"
"Dia bilang ingin mengatakan hal penting sama Nyonya Mariana, kenapa pergi?"
"Kan Mama sudah bilang dia nggak boleh masuk kesini, kenapa kamu tetap membawanya masuk sih?" ucap Arash kesal.
"Maaf Tuan, tapi dia kan Nona Mikayla sahabatnya Tuan Arash dari kecil, mana berani saya mengusirnya?" Dalihnya seraya melirik Adinda sesekali.
"Jadi kamu memilih mematuhi Mikayla dari pada Mama? Kalau begitu kamu pindah saja ke rumahnya!" pungkasnya.
"Hei, sudah sudah.. Katanya capek? Ayo!" Adinda menengahi dengan menggandeng tangan Arash membawanya ke kamar.
"Adinda aku belum selesai ngomong sama Si Mirna, dia harus mengerti siapa Tuannya kan?" keluh Arash.
"Iya iya, kamu sudah mengatakannya dengan jelas, dia pasti sudah mengerti, tenanglah.. Kamu nggak biasanya seperti ini karena Mirna"
"Sudah lama aku tak menyukai tatapan matanya saat menatapku!"
"Hei! Apa lagi itu??"
Brakkk!!! Adinda menutup pintu kamar dengan keras.
"Adinda.." tiba tiba Arash menggendongnya.
"Kyaaaa!!! Ngapain, ayo mandi dulu.."
"Gimana kalau mandi bersama?" goda Arash seraya mendekatkan wajahnya.
"Oke.."
"Hehe" Blammm! Arash menutup pintu kamar mandi.
Bersambung.
__ADS_1