Menikahi Sang Mantan

Menikahi Sang Mantan
Kembalinya Kay


__ADS_3

Seminggu kemudian.


Setelah 8 hari tinggal di kediaman Hutama kini Adinda sudah mulai bisa beradaptasi dengan rumah dan orang orang yang tinggal di sana, kususnya Ibu mertuanya, Ibu mertuanya sehari hari sibuk di perusahaan dan akan kembali sebelum jam makan malam, bukankah itu sangat luar biasa di umurnya sekarang? kesan Dinda padanya kini mertuanya adalah wanita yang sangat tangguh, pekerja keras dan disiplin, dia tak banyak bicara namun sangat teliti, Dinda merasa bahwa dirinya dan Ibu mertuanya sedikit mirip sehingga ia tak akan kesulitan menyesuaikan diri dan bisa tinggal dalam satu rumah tanpa kesulitan, ia merasa beruntung bahwa Mertuanya tak seperti mertua mertua pada umumnya yang ia dengar, malah sering kali Dinda merasa diperlakukan seperti mahluk tak kasat mata olehnya, tapi bukankah itu hal yang baik? Lantaran memang tak ada yang perlu ia lakukan atau bicarakan dengannya.


Disaat semua anggota keluarga sedang menikmati sarapan di meja makan dengan suasana yang hening tiba tiba seorang ART yang bernama Bi Murni yang adaah asisten terlama di keduaman Hutama itu datang dan berbisik di telinga Mariana.


"Suruh mereka menunggu kami menyelesaikan sarapan di ruang tamu!" ucap Mariana dengan suara pelan namun menekan. Bi Murni pun segera berjalan ke arah luar.


Dinda melirik ke arah Arash yang duduk di sampingnya, dia tampak acuh dan tak bereaksi dengan kedatangan seseorang sepagi ini, tak seperti dirinya yang penasaran dengan bisikan Bi Murni, namun jika ingin tinggal di rumah itu dengan tenang orang harus menghapuskan rasa penasaran yang tak perlu, itu yang ia dengar dari Bi Murni, orang yang sudah melayani keluarga Hutama selama 20 tahun, kini Bi Murni sudah berusia 45 tahun, selisih 7 tahun lebih muda dari Mariana.


Mariana menyeka mulutnya pelan setelah menyelesaikan sarapannya.


"Hari ini apa yang akan kalian lakukan?" ucapnya seraya melirik Arash dan Dinda bergantian.


"Bukankah kami sudah bisa melakukan aktifitas biasanya?" jawab Arash.


"Tentu! Kalian sudah menikah lebih dari seminggu, tapi ingat jaga reputasi keluarga, jangan sampai ada yang curiga dengan hubungn kalian berdua, kalian harus mengakrabkan diri, anggap saja kalian berteman"


Dinda pun mengangguk "Baik Ma"


Dreekkkk..Mariana bangun dari kursinya "Pagi pagi sudah ada pengganggu, kalian berdua ikuti aku" ujarnya seraya berjalan.


Sesampainya di ruang tamu Arash dan Dinda dikejutkan oleh kedatangan wanita yang menyebabkan situasi ini yaitu Mikayla yang duduk bersebelahan dengan Ibunya, Luna dengan wajah cemas.

__ADS_1


Mata Mikayla terperanjat getir menatap Adinda, semua berjalan sesuai keinginannya namun keadaannya kini membuatnya menyesali keputusannya melarikan diri dari pernikahan, kini wajah Mikayla terlihat lesu dan kuyu.


"Rupanya seseorang yang melarikan diri sudah kembali, apa kau menyesali keputusanmu itu Kayla?" ucap Mariana begitu sampai di hadapannya.


Mikayla bergegas berlari menghampiri Arash kemudian ia memeluknya "Arrr, maafkan aku, maafkan aku Arr, aku sudah memilih orang yang salah, dia kabur setelah mengambil uang dariku" ucapnya seraya terisak. Semua pandangan kini tertuju kepada Mikayla yang memeluk Arash.


Arash melepaskan diri dan menjauh dari Mikayla "Aku turut prihatin atas apa yang terjadi denganmu Kay, aku yakin kau pasti bisa melaluinya dengan baik, duduklah dan mari bicara" Mikayla pun mengangguk.


"Aku baru sadar kamu gadis yang tak memiliki sopan santun" celetuk Mariana menatap Mikayla tajam.


"Maafkan saya Tante, saya akan memperbaikinya jika tante mengijinkan" ucap Mikayla dengan penuh sesal.


"Benar Jeng, bukankah kamu sudah menganggap Kay seperti putrimu sendiri? Tolong maafkan kesalahannya sekali saja dan tolong berilah dia kesempatan memperbaikinya" timpal Luna membela putrinya.


"Aku bersedia menikah dengan Arash jika Tante menginginkan" ucap Mikayla tanpa berpikir, Arash hanya mengernyit mendengarnya seraya memperhatikan reaksi Adinda yang duduk di sebelahnya, Adinda terlihat canggung seakan posisinya serba salah, Arash yakin tahu apa yang ada dipikirannya saat ini.


"Bagaimana ya? Kamu sudah tak memiliki tempat" celetuk Mariana membuat Luna dan Mikayla merasa ditolak mentah mentah.


"Jeng, bukankah kau tahu bahwa pernikahan antara Kay dan Arash adalah keinginan mendiang Ayah kita?" ucap Luna.


"Tentu saja aku tahu, tapi.. Jika Ayahku berada diposisiku pun ia pasti akan memilih jalan sepertiku dan mengabaikan hubungan persahabatan yang tak penting itu" ucap Mariana seraya tersenyum meremehkan. "Justru Ayahku pasti akan berbuat hal yang lebih ekstrem lagi karena cucu sahabat dekatnya menghianatinya meninggalkan cucu kesayangannya di pelaminan, kalian harus bersyukur karena aku hanya memutus hubungan diantara kita dan tak mengusik keluarga kalian"


"Jeng, tapi menantumu hanyalah wanita kelas rendah yang tak setara dengan kita" ucap Luna lagi.

__ADS_1


Deg, rasanya jantung Adinda ditusuk oleh fakta, seketika ia merasa rendah diri di hadapan semua orang, ia tak tahu harus bereaksi apa dan bagaimana menyikapi situasi yang sangat tak nyaman ini, dan rasanya disini ia pun tak memiliki hak bersuara.


Arash hanya menatapnya dengan iba, rasanya batas kesabarannya sudah habis "Ada apa dengan Tante? Apa yang kurang dari istriku?" celetuknya membuat semua orang terkejut kususnya Adinda.


"Arash benar, Adinda ini cantik baik, mandiri dan pintar, diusianya kini dia sudah memiliki butik gaun pesta dan pengantin dengan usahanya sendiri, meskipun kecil aku yakin dengan potensinya butik itu akan terus berkembang, aku berencana berinvestasi kepadanya" ucap Mariana "Ahh.. Aku harap aku akan segera menimang cucuku" ucapannya membuat semua orang semakin terkejut kususnya Arash dan Adinda.


Mariana menatap Arash dan Adinda bergantian "Ada apa? Kenapa reaksi kalian berlebihan begitu? Apa kalian tak berencana memberi Mama cucu?"


Arash dan Adinda saling menatap "Tentu saja sebentar lagi mama akan segera menimang cucu" ucap Adinda ragu ragu.


"Bagus"


"Aku yakin tante akan menyesal!" ucap Mikayla marah.


Mariana bangun dari duduknya "Pintunya disebelah sana!" ia berjalan masuk ke dalam rumah meninggalkan orang orang.


"Arrr.. Kita masih berteman kan? Tidak bisakah kau membantuku?" ucapnya dengan wajah memelas.


"Sekarang aku tak membutuhkan bantuanmu Kay, mulilah hidup barumu, aku yakin kamu akan segera bngkit dari keterpurukan" Arash dan Adinda pun bangun.


"Arr, bukankah kau mencintaiku? Selama ini aku pura pura tak tau aku sudah melihat buku harianmu saat kita masih kecil dulu"


Arash pun tersentak "Hahhh, itu hanya sekedar ketertarikan yang kekanakan Kay, lupakan itu, kenapa kau jadi seperti ini? Pergilah dan tenangkan dirimu!!" Arash dan Adinda pun pergi meninggalkan Ibu dan anak itu, tak lama mereka berdua juga pergi karena mereka merasa tak lagi memiliki tempat di keluarga ini.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2