Menikahi Sang Mantan

Menikahi Sang Mantan
Kenangan masa lalu


__ADS_3

Setelah masuk ke mobil Adinda hanya diam dan terus mengalihkan wajahnya menatap ke arah luar, berkali kali Arash meliriknya, ia ingin menanyakan apa yang baru saja dilihatnya namun ia merasakan keraguan.


"Ehemmm" Arash berdehem untuk ke sekian kalinya namun Adinda tak menghiraukannya.


Setelah beberapa saat rasa penasaran Arash sudah tak tertahankan "Nggak ada yang mau kau jelaskan??" ucapnya.


"Apa yang ingin kau dengar?" jawabnya tanpa menoleh.


"Bukannya seharusnya kau menjelaskan mengapa kau berpelukan dengan laki laki itu di tempat umum?" ucapnya dengan sinis.


"Oh.. Dia hanya menolongku, aku berhutang budi padanya"


"Bukan itu yang ingin kudengar!" nada suaranya meninggi namun Dinda tak terkejut, Arash semakin kesal karena ia pikir Dinda terus mengabaikannya. "Apa kau lupa statusmu sebagai istriku? Bagaimana jika seseorang mengenalimu dan perbuatanmu mencoreng reputasi keluargaku!!" bentaknya.


"Sudah kubilang jangan membentakku!!!! Huuwaaaaaa hiks hiks.." Tiba tiba Adinda menoleh lalu menangis dengan keras membuat Arash terkejut dan bingung, Sudah sejak tadi ia berusaha membendung air matanya, namun bentakkan Arash membuatnya tak tahan lagi.


Arash pun kebingungan dibuatnya karena Adinda terus menangis, "Sudah sudah, aku minta maaf aku tak akan membentakmu lagi"ucapnya panik. Namun Adinda masih terus menangis sesenggukan di sepanjang jalan.


"Hiks hiks.. Sroooottttt!! Mau kemana ini bukan jalan pulang?" ia mulai bicara ketika menyadari sekitarnya.


"Mana bisa aku membawamu pulang dengan wajah seperti itu, apa yang akan dipikirkan Mama"


Adinda mengambil cermin kecil dari tasnya kemudian ia melihat wajahnya yang berantakan, maskaranya sudah luntur dari mata sampai ke pipi, ia segera mengambil tissu lalu membersihkan wajahnya.


"Aku minta maaf, aku tak bermaksud membentakmu" ucap Arash lirih.


"Aku begini bukan---"


"Ayo turun" Mereka turun di depan sebuah Bar yang terlihat sepi, itu adalah bar yang sering mereka berdua kunjungi dulu, Arash selalu membawanya ketempat itu saat Adinda sedang butuh dihibur, mereka selalu datang setelah bar tutup atau memang sengaja ditutup saat Arash menginginkan karena bar tersebut milik teman Arash.


"Kenapa kau membawaku ke tempat ini?" tanya Dinda yang merasa tak nyaman karena mengingat kenangan masa lalu.

__ADS_1


"Ayo masuk, aku tak tahu cara menghibur orang lain selain membawanya ketempat ini"


Dia mengatakan seolah olah ia suka sekali menghibur orang lain..


Dinda pun mengikuti Arash masuk karena sudah sampai dan memang ia butuh dihibur hari ini karena kelakuan kakaknya.


Setelah mereka masuk ke dalam Arash naik ke atas panggung lalu memainkan musik, benar, Arash sangat tertarik di bidang musik dan ingin menjadi seorang DJ, hanya Adinda dan teman pemilik bar yang mengetahuinya, namun karena latar belakang keluarganya yang tak biasa ia hanya bisa menjadikan itu sebagai hobi saja tanpa boleh diketahui oleh orang lain, ia akan bermain musik saat perasaannya sedang kacau.


Lalu Adinda yang sedang bersedih akan menangis sejadi jadinya di tempat itu tanpa seorang pun yang tahu sampai ia merasa lega setelah melampiaskan emosinya.


Setelah kurang lebih satu jam akhirnya Adinda telah merasa lebih baik, kini fokusnya teralihkan oleh Arash yang sedang asyik memainkan musik dengan handseat di telinganya.


Dulu melihatnya bermain musik seperti ini adalah favoritnya karena Arash yang terlihat paling bahagia dan bersemangat saat ia melakukan hobinya ini.


Arash pun tersadar dan menoleh ke arah Adinda berada, tatapan mereka bertemu, dulu di saat saat seperti ini ia akan tersenyum tapi sekarang Arash menghentikan musiknya dan melepaskan headseatnya, lalu ia turun dari panggung dan menghampirinya.


"Sudah merasa lebih baik?" Adinda pun mengangguk, seketika keduanya merasa canggung dengan situasi itu. Situasi yang mengharuskan mereka berdua mengingat kenangan manis keduanya.


"Oke" Arash pun berjalan keluar mengikuti Adinda.


🍀🍀🍀


Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, Anya masih berada di ruang tamu menunggu kepulangan suaminya, ia sudah menunggu sejak jam 9 malam begitu Putranya tertidur.


Ia mulai gelisah, sebulan belakangan ini ia merasa jadwal lembur suaminya semakin hari semakin lama, bukan tanpa alasan, ia mulai gelisah ketika mendengar Adinda mengatakan hal yang tak biasanya ia katakan tentang suaminya, sejak itu ia mulai kepikiran, saat ia ingin mengecek ponsel suaminya ponselnya terkunci, Anya pun tak menyadari sejak kapan suaminya butuh privasi karena Anya memang tak pernah membuka hp suaminya, ia sama sekali tak bisa mencoba berbagai angka yang familiar tentang keluarga kecil mereka.


Anya merasa ini aneh namun ia tetap ingin menyangkal kemungkinan terburuknya, ia mencoba menipu dirinya sendiri, tapi seiring ia berusaha tetap mempercayai suaminya itu perasaannya semakin gusar, ketidakpercayaan justru semakin menyeruak dalam hati dan pikirannya.


"Bruuuummmm" suara mobil membuyarkan lamunan Anya. Ia segera bangun dari duduknya dan membuka pintu.


Donny turun dari mobil membawa sebuah kotak hadiah berukuran kecil yang langsung ia serahkan begitu melihat istrinya, seperti biasa Donny tersenyum menatap istrinya dengan penuh cinta, seketika perasaan Anya membaik hanya dengan melihat senyuman yang tertuju hanya untuknya itu.

__ADS_1


"Apa isinya?" ucapnya setelah menerima kotak hadiah.


"Bukalah, kamu akan segera tahu istriku" jawabnya dengan lembut, lagi lagi Anya luluh sampai ia lupa apa yang ingin ia tanyakan kepada suaminya terkait ponsel dan yang lainnya.


Anya membuka hadiah di tangannya, wajah Anya berbinar binar menatap sebuah cincin emas dengan permata berbentuk hati, ia pun memeluk suaminya "Terimakasih sayang"


"Aku tahu kamu pasti menyukainya" jawabnya seraya mengelus punggung istrinya.


Deg, tiba tiba jantung Anya berdebar, ia mencium aroma wangi parfum lain yang menempel di baju suaminya, aromanya manis namun samar samar, ia yakin bahwa itu bukanlah wangi parfum yang biasa dipakai suaminya, kini perasaannya seketika menjadi kacau kembali.


"Apa kamu mengganti parfum sayang?" tanyanya dengan hati hati seraya melepas pelukannya.


"Tidak tuh"


"Mengapa aku mencium aroma parfum lain di bajumu?"


"Ohh?? Benarkah?" Donny mulai mengendus tubuhnya sendiri. "Ahh aku ingat, tadi seseorang menyemprotkan parfum di bajuku di ruang ganti, dia meminta pendapatku setelah membeli parfum baru" jawabnya dengan tenang.


"Ruang ganti? Itu berarti dia laki laki? Apa aku mengenalnya?"


"Benar dia Dokter Johan, kenapa hari ini pertanyaanmu detail sekali? Jangan bilang kau mencurigaiku?" ucapnya dengan sorot mata tak nyaman.


"Eiii, mana mungkin, aku bertanya karena wangi parfumnya sesuai seleraku"


"Jadi begitu aku akan menanyakan dan membelinya untukmu..Aku masuk sekarang"


"Oke, kau bersihkan dirimu dan beristirahatlah" ucap Anya seraya mengambil tas di tangan Donny.


Kini Anya mulai memperhatikan gerak gerik suaminya, seperti biasa suaminya tidur dengan memeluknya, namun kali ini untuk pertama kalinya Anya merasa tak nyaman, ia segera mengalihkan tubuhnya dan tidur membelakangi suaminya.


Anya mulai berfikir keras, jelas jelas itu adalah wangi parfum yang pasti disukai oleh wanita, jika disemprotkan wanginya pasti akan lebih tajam, itu seperti hanya menempel karena samar namun suaminya mengatakan itu milik Johan, Johan adalah teman dekat Donny di rumah sakit, Anya pun mengenalnya, orang itu bukanlah tipe yang memakai aroma parfum seperti itu, Anya merasa sudah jelas bahwa suaminya membohonginya, perasaannya semakin getir, ia bertanya tanya apa ini bukan kali pertama suami yang sangat di percaya membohonginya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2