
"Kenapa bengong? Apa kau tak yakin dengan perasaanmu sendiri?" tanya Anya lagi.
"Hahhhhhhhh.." Adinda hanya menghela nafas panjang.
"Sudah kuduga kau akan seperti ini jika terlibat lagi dengan pria itu! Kau memang mudah goyah itulah kelemahanmu! Yah mau gimanapun kau, kau tetaplah sahabat terbaikku jadi aku akan mendukung setiap langkahmu"
"Apa benar aku mencintainya? Tapi belum lama aku putus dengan Hesa dan menikah dengannya, apa aku memang orang seperti ini ya?? Apa aku seburuk itu?" Adinda menatap langit langit diatasnya.
"Yah, waktu memang tak menentukan kapan perasaan akan berubah, itu bukan hal buruk, siapa saja bisa melakukan itu tergantung situasinya"
"Begitu?"
"Tentu, setelah kuingat ingat waktu kamu putus dengan Arash dan ketiga mantanmu setelahnya memang sangat berbeda"
"Apa maksudmu?"
"Butuh waktu bertahun tahun sampai kau bisa menerima orang lain setelah putus dengan Arash, sedangkan ketika kau putus dengan mantanmu setelahnya kau hanya butuh waktu kurang dari dua bulan menerima pria lain, apa kau tak menyadarinya?"
"Entahlah.."
"Karena kau sudah memutuskan untuk tinggal disisinya maka jujurlah pada dirimu sendiri, lalu bagaimana dengannya? Apa dia yang memintamu menjadi istrinya yang sesungguhnya?"
"Ibu Mertuaku yang minta"
"Ohooo rupanya kau sudah mendapatkan hati sang ratu? Tapi Arash sama sekali tak menolakmu?"
Adinda mengangguk "Bahkan sudah beberapa kali dia mengatakan mencintaiku dan dia bilang tak pernah berubah" ucapnya seraya malu malu.
"Wahhhh...hahaha apa ini? Reaksimu sudah menjawab semuanya!!"
Adinda menutupi wajahnya "Kau membuatku malu Any!"
"Yah..aku ikut senang jika kau akhirnya bahagia, Aku merestuimu! Hehe".
Adinda menyenderkan kepalanya di pundak Anya, Anya membuatnya salah tingkah.
"Hahhhh..dasar! Aku yang baru bicara seperti pakar asmara malah memiliki nasip tragis dalam pernikahan, bukankah memalukan?"
"Nggak! Justru aku bangga padamu! Kau sangat tangguh, jika jadi dirimu aku pasti benar benar kalut, kau sudah bekerja keras Anya! Banggalah dengan dirimu sendiri dan segera lupakan si sialan itu!!!"
"Huuuhhhh..baiklah mari menjalani hari hari dengan bahagia Din, kamu dan aku, semangat!!"
"Semangat!! Jadi apa rencanamu dengan Ayah Bara?"
"Aku sudah mengajukan surat cerai dan dia langsung menandatanganinya.."
"Bagaimana perasaanmu sekarang?"
"Entahlah.. Aku sedih dengan nasipku tapi aku akan lebih sedih jika putraku merasakan rasa sedihku, pokoknya aku akan terus melangkah maju dengan kakiku sendiri, dan juga aku akan memulai kembali karirku"
"Ide bagus Bu Dokter gigi Anya!"
"Yah.. Aku akan mengambil uang dari Donny sebagai kompensasi dan mendirikan klinik gigi di samping ruko ini"
"Wahhh..keren!! Apa aku akan dapat pelayanan gratis nanti?"
__ADS_1
"Enak ajaaa!!!"
"Hahaha"
.
Setelah perasaan Adinda membaik ia keluar dari butik ketika Anya sudah tidur, Adinda melihat jam di ponselnya, sudah jam 2 dini hari, jalanan sangat sepi, tak mungkin ia mendapatkan taxi.
Dinda pun mengirim chat kepada Arash.
Sudah tidur? Bisakah menjemputku? Aku merindukanmu.
Chatnya langsung dibuka tapi Arash tak membalasnya.
"Hahh..pasti dia marah banget sampai nggak bisa tidur, aku akan minta maaf saat dirumah nanti" gumamnya.
Berkali kali Adinda mencoba memesan taxi online namun tetap tak mendapatkannya. "Sunyi, haruskah aku tidur di sini saja?" gumamnya seraya berjalan ke arah pintu butik, ia sudah mengambil kuncinya lagi.
Bruuummmmmn..tiba tiba mobil Arash muncul, Adinda tersenyum.
"Cepetan masuk" ucap Arash dari jendela mobil yang dibuka, Adinda pun segera berlari lalu masuk mobil.
Deg deg.. Debaran di dada Adinda rasanya sangat keras di situasi yang sunyi, entah kenapa rasanya berbeda dari biasanya, Arash pun tak mengatakan sepatah katapun setelah Adinda masuk membuat suasana semakin canggung, mobil terus berjalan dengan cepat membelah kesunyian di jalan yang lenggang.
Begitu sampai di rumah Adinda mengikuti Arash dari belakang, ingin sekali ia mengatakan permintaan maaf namun rasanya bibirnya sangat berat, alhasil ia hanya bisa membuntutinya sampai di kamar.
"Apa ada yang ingin kau katakan?" ucap Arash seraya membuka kancing kemejanya, rupanya ia baru saja dari suatu tempat mengingat ia masih menggunakan baju yang sama.
Adinda berbalik badan melihat Arash yang hendak membuka bajunya. "Aku minta maaf karena sudah bicara kasar denganmu" ucap Adinda dengan wajah memerah.
"Ya, bisa dibilang begitu, setelah berbicara dengan Anya aku menyadari perasaanku sendiri"
Arash mendekati Adinda yang masih berdiri di depan pintu "Berbicaralah sambil melihatku!"
"Ahh..apa kau sudah memakai bajumu?"
"Lihat saja sendiri kalau penasaran" Arash tersenyum smirk.
Perlahan Adinda berbalik badan mengintip dari selah selah jemarinya, Arash sudah berada tepat di hadapannya, untunglah dia sudah memakai bajunya.
"Jadi apa kau memaafkanku?"
"Nggak semudah itu!"
"Jadi aku harus apa?"
Arash menunjuk pipi kanannya membuat Adinda tersipu malu "Kenapa? Bukannya waktu itu kamu sudah menciumku?"
"Ahh hahah.. Kamu ngomong apa sih" Adinda semakin malu.
"Kemana orang yang tadi bilang merindukanku?" ledeknya lagi.
"Dasar!" Adinda melangkah menjauh namun Arash menarik tangannya.
"Mau kabur?"
__ADS_1
"Enggak! Aku mau ganti baju dan tidur"
"Hahhh..padahal aku belum memaafkanmu tapi kau tak berusaha mendapatkan maaf dariku!" gerutunya. "Baiklah, tadi kau bilang kau sudah menyadari perasaanmu kan? Perasaan seperti apa yang kau maksud?"
Adinda terdiam sejenak sebelum kembali menjawab Sementara Arash menantikan jawabannya.
"Perasaan bahwa aku bersedia tinggal disisimu karena aku mencintaimu" Seketika mata Arash membelalak, ia terdiam dengan jantung yang berdebar hebat, rasanya ia tak bisa lagi mengekspresikan kebahagiannya.
Sementara Adinda mengalihkan pandangannya karena malu dengan pengakuannya, tiba tiba suasana menjadi sangat canggung karena Arash tak mengucapkan sepatah katapun.
"Ka kalau begitu aku mau ganti baju di kamar mandi" Adinda berjalan dengan cepat, ia masuk ke kamar mandi membawa baju gantinya.
Deg deg deg deg..kedua tangan Adinda mengusap dadanya.. "Hahh..rasanya mau mati..apa yang baru saja ku katakan? Kenapa dia diam saja? Apa dia tak menantikan jawaban dariku? Argggh aku bisa gila" gumamnya pelan seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Setelah cukup lama menenangkan diri Adinda keluar dari kamar mandi, ia lega karena melihat Arash sudah berbaring di tempat tidur dengan lampu yang sudah dimatikan.
Pelan pelan Adinda membaringkan tubuhnya di samping Arash, ia berbaring memunggungi Arash yang menghadap dirinya.
"Adinda" lirihnya.
"Ya!" Ia menjawab spontan karena kaget.
"Ngapain lama banget di kamar mandi?"
"Nggak lama kok"
"Lihat kesini, aku nggak mau melihat punggungmu lagi!"
"Aku lebih nyaman tidur seperti ini"
"Katanya kau mencintaiku.."
"Memangnya kenapa dengan itu?"
"Tingkahmu memperlihatkan seakan kau membenciku"
"Eheiii..perasaanmu saja"
Sreettttt.. Tiba tiba Arash membuang guling pembatas di tengah tengah mereka kemudian mendekap tubuh Adinda dengan tangannya, Adinda pun sangat kaget dibuatnya.
"Hahhh.. Rasanya nyaman, seperti kehidupanku baru saja berjalan kembali, apa kau tahu betapa aku mengharapkan momen momen seperti ini Adinda? Aku selalu mengingatmu meski kau tak pernah memikirkan diriku, meski begitu aku tetap merindukanmu, aku ingin memelukmu dan menciummu.."
Adinda berbalik badan menghadap ke wajah Arash. "Aku sudah kembali, peluk dan ciumlah aku Ashh.."
"Kau yakin?" Adinda mengangguk, "Kau takkan menyesal?" Adinda pun menggeleng.
Arash memeluknya semakin erat, "Apa boleh aku sebahagia ini?" gumamnya.
"Ya.." jawab Adinda.
Arash mulai mendekatkan wajahnya mencium pipi kiri dan kanan kemudian beralih mencium bibir istrinya dengan lembut dan perlahan..
Suasana semakin lama semakin panas, tangannya mulai masuk ke dalam baju Adinda namun tangan Adinda menghentikannya. "Kenapa? Kamu belum siap?" Adinda mengangguk. Arash pun menarik kembali tangannya. "Baiklah, hari ini sampai disini saja, cup" Arash mengecup pipi Adinda dan kembali memeluknya. "Sudah malam, ayo tidur seperti ini" bisiknya.
Bersambung.
__ADS_1