Menikahi Sang Mantan

Menikahi Sang Mantan
Pengakuan


__ADS_3

Adinda membuka pintu kamar Putrinya, kamar dengan nuansa warna biru muda yang luas itu hanya di huni oleh Jean Seorang.


Adinda meletakkan tasnya di atas meja lalu berbaring di sebelah Jeje yang saat itu sedang tertidur lelap.


Adinda membelai lembut kepala Jean dengan sesekali mencium keningnya, baginya aroma tubuh putrinyalah obat penenang paling ampuh untuknya.


"Putriku yang malang..maafkan Mami yang tak bisa membawa Ayahmu, maaf karena Jeje memiliki Mami yang sangat payah sepertiku.." gumamnya pelan.


***


Matahari yang sudah menyengatkan panasnya membuat Adinda yang membawa Jean berjalan dengan cepat.


Tring!! Adinda membuka pintu masuk Sweet Coffee dengan satu tangannya menggandeng Jean yang selalu imut dengan kuncir dua rambutnya.


"Papiiii!!!!" Jean berlari begitu melihat Henry dari kejauhan. Tiba tiba para karyawan saling berbisik bisik tentang panggilan anak itu kepada Bosnya.


"Hati hati sayang!" kata Adinda kawatir.


Henry segera mendekat dan melepaskan celmek yang terpasang di tubuhnya, Begitu sampai di depan Henry Jean memeluknya, kemudian Henry menggendongnya.


"Papi aku kangen!"


"Papi juga kangen Jeje"


"Benelann??"


Adinda pun sudah menghampiri keduanya. "Papi kenapa nggak tinggal dengan kami saja sih?"


"Apah?!" Henry dan Adinda saling menatap kaget karena perkataan Jean.


"Aku lihat di buku cerita yang Mami belikan ada gambar Mami aku dan Papi, tapi kenapa Papi nggak pelnah tidul belcama kami?"


Raut wajah Henry menjadi bingung, "I..itu karena--"


"Jeje.. Sudah Mami bilang Om Henry itu bukan Papinya Jeje kan?"


"Nggak! Papi Henly Papinya aku!!" ucap tegas anak itu dengan wajah cemberut.


"Iya iya.. Papi adalah Papinya Jeje!" ucap Henry membuat Jean tersenyum kembali, anak itu turun dari gendongan lalu mulai berkeliling.


"Henry.. Kamu terlalu memanjakannya! Bagaimana jika Jeje terus bergantung padamu?" kata Adinda.


"Jika begitu aku akan sangat senang!" jawabnya dengan tersenyum.


"Aku bukan sedang bercanda!"


"Iya iya.. Aku tahu, mari kita kasih pengertian pelan pelan, suatu saat dia juga akan mengerti, ayo duduk dulu, aku akan buatkan minuman enak"

__ADS_1


"Baiklah"


Jean menyedot minuman coklat yang dibuatkan oleh Henry, hari ini dia terlihat sangat senang.


"Apa itu enak?" tanya Adinda.


"Iya! Mami Papi aku mau jalan jalan!"


"Oke, Jeje jalan jalan dengan Mami saja ya, biarkan Om Henry bekerja!"


"Aku mau jalan jalan sama Mami dan Papi!"


"Jeje!"


"Oke ayo jalan jalan!" ucap Henry.


"Henry!!"


"Nggak papa Adinda.. Aku nggak sibuk kok, semua bisa di handle oleh para pekerja seperti biasanya"


"Hahhh..kalian berdua benar benar sangat cocok ternyata!"


"Syukurlah, kamu mau jalan jalan kemana sayang?" tanya Henry.


"Aku mau ke mall! Mau main cepuasnya!!"


Meski Adinda merasa kawatir dengan kedekatan antara Henry dan Putrinya tapi melihat interaksi keduanya yang menggemaskan membuat Adinda tersenyum.


Adinda, Henry dan juga Jean mulai memasuki wahana bermain anak anak di sebuah Mall yang berada di seberang kafe. Jean sangat bersemangat, ia segera bergabung dengan anak anak sebayanya yang sudah bermain lebih dulu darinya, sementara Henry dan Adinda duduk bersebelahan memantau Jean.


"Maaf ya Henry, lagi lagi kami menyita waktumu" kata Adinda dengan tatapannya masih pada Jean yang sedang asik bermain.


"Jangan meminta maaf untuk hal seperti ini Adinda, aku benar benar merasa senang saat bersama kalian"


"Tapi kan---"


"Adinda.. Kalau kau mengijinkan aku bersedia menjadi Ayah Jean yang sesungguhnya"


"Apahh?? Apa maksudmu?"


Wajah Henry terasa semakin panas, "Ini bukan situasi yang tepat, tapi..aku tetap ingin mengatakannya, Adinda.. Menikahlah denganku, aku akan membuatmu dan Jeje bahagia.."


Adinda tersentak dengan ucapan Henry, ia tak menyangka orang itu akan mengucapkan kata kata seperti itu.


"Henry---"


"Huwaaa!!!!!" Henry berlari menghampiri Jeje yang terjatuh dari jungkat jungkit, Adinda pun segera menyusulnya.

__ADS_1


"Mana yang sakit?" ucap Henry.


"Ini dan ini Huaaaa!!"Jeje menunjuk kedua sikunya, Henry meniupnya dengan hati hati.


Di tengah tengah rasa kawatir akan penolakan dari Adinda, Henry merasa bersyukur karena Jeje mengalihkan perhatiannya dan Adinda.


"Sudah cukup mainnya, ayo pulang!" ucap Adinda, Jeje pun mengangguk.


Di sepanjang perjalanan pulang setelah Jeje tertidur suasana canggung mulai menjalar di antara Adinda dan Henry.


"Henry.. Yang tadi aku--"


"Tolong pikirkan baik baik terlebih dahulu, ini demi Jeje kan?"


"Henry.. Meski demi Jeje aku tak bisa menghancurkan masa depanmu! Kamu berhak menikahi wanita yang kau inginkan! Mungkin sekarang belum ada tapi suatu saat nan--" tiba tiba Henry menepikan mobilnya.


"Kamu!!"


"Apah?"


"Adinda, wanita itu adalah kamu, aku menyukaimu sejak pertama kita bertemu, aku tak pernah mengatakannya karena selama ini pemilik hatimu hanyalah orang itu, aku bukan orang yang baik kepada semua orang, aku baik karena orangnya adalah kamu!"


Adinda sangat kaget, Henry mengatakannya dengan raut wajah gelisah, raut wajah yang menunjukkan bahwa dia tahu bahwa akan ditolak tapi dia tetap mencobanya, Adinda tak menyangka akan tiba tiba mendapatkan pengakuan darinya hari ini, ia tak menyangka selama ini dia bersikap baik karena ternyata Henry mencintainya.


Henry adalah orang yang sangat berarti bagi Adinda, tapi Adinda tak pernah berfikir untuk memiliki hubungan yang lebih dari persahabatan.


.


Arash yang terlihat sangat gagah memakai setelan jas lengkap berjalan menuju ruangan kerja Mariana, sampai di depan pintu yang setengah terbuka ia mendengar suara Mariana berbincang dengan seseorang.


Arash pun membuka pintu, ia masuk, di sana Mariana sedang menelefon dengan menghadap ke luar, pemandangan dari ketinggian tampak jelas dari sana.


"Lalu, kau masih mengawasi Denis kan? Jangan sampai anak itu mendekati Arash dan mengatakan hal hal tentang Adinda yang tak boleh diketahuinya! Terutama anak itu.. meski anak itu cucuku aku tetap tak bisa menerima anak dari wanita sial itu!! Ya! Lakukan seperti yang biasa kau lakukan selama ini"


Mariana menutup panggilan lalu berbalik badan, dia sangat terkejut begitu melihat Arash ada di depannya tanpa mengeluarkan sedikitpun suara, karena ia pikir hari ini Arash mengajukan cuti untuk pemeriksaan kesehatannya sesuai arahan Dokter.


Wajah Mariana terlihat sangat panik melihat Arash yang terdiam dengan wajah gelap. "Sejak kapan kamu disini?"


"Sejak anda membahas tentang Denis! Jadi anda yang sudah mengancam dan membuat Denis pergi dari Hotel agar dia tak menceritakan tentang Adinda dan anak itu?!! Aku benar benar tak menyangka anda adalah orang yang setega ini!!! Apa anda tahu betapa menderitanya aku begitu bangun dari koma dan mendengar kebohongan anda!!! Apa anda tahu saat itu akan benar benar menyesali fakta bahwa aku masih hidup!!" Amarah Arash kian meledak, nada suaranya semakin meninggi.


Mariana hanya terdiam menerima amarah dari putranya satu satunya karena kecerobohannya sendiri yang menghancurkan hal hal yang sudah di bangunnya selama ini.


"Kalau sudah tahu ya sudah! Aku tetap tak akan pernah merestui hubungan kalian berdua meski kalian berlutut bersama" ucap Mariana santai.


"Tolong jangan menganggap diri anda lebih tinggi dari ini, restu? Aku tak membutuhkannya! Aku bisa melakukan apapun yang ku mau, termasuk menghapus nama Hutama yang sangat anda sayangi lebih dari diri anda sendiri!!"


Arash pun pergi dengan langkah sangat cepat, kedua tangannya mengepal menahan kemarahannya yang sudah tak tertahan.

__ADS_1


Beraambung.


__ADS_2