Menikahi Sang Mantan

Menikahi Sang Mantan
Perselisihan


__ADS_3

Pagi pagi sekali Arjuna tiba tiba datang ke kediaman Hutama, namun sayangnya ia tak bisa langsung menemui adiknya karena diberhentikan oleh penjaga keamanan yang bertugas di depan rumah.


Mau tak mau Arjuna harus menunggu sampai penghuni rumah bangun baru petugas keaman bersedia menghubungi Tuannya.


"Hei Pak, samai kapan aku harus menunggu disini? Sudah kubilang aku ini kakak Adinda, aku juga adalah anggota keluarga ini, kamu nggak boleh semena mena denganku!" kekehnya.


"Jika anda benar kakak Nona Adinda pasti Nona sudah bilang bahwa kakaknya akan datang kepada kami, seharusnya anda menghubungi Nona terlebih dahulu dan membuat janji temu, bukan seperti ini! Jika anda begitu tak sabar silahkan hubungi adik anda sendiri!" ucap tegas.


"Hahhh.. Kalau aku punya nomer telefonnya sudah ku telvon dia dari tadi!" jawabnya kesal.


"Berarti anda tak bisa membuktikan diri anda kan? Kalau begitu tunggulah satu jam lagi"


"Awas saja ya kau! Aku sudah mengingat namamu!" ucapnya seraya menunjuk tulisan nama di seragam security.


"Terserah anda saja! Tolong jangan buat keributan!!"


Sepanjang waktu menunggu Arjuna terus menggerutu kesal dan tak sabar.


Setelah satu jam berlalu barulah Security menghubungi televon di kamar Arash dan Adinda. Arash keluar kamar setelah menerima televon tanpa sepengetahuan Adinda.


Begitu Arash menghampiri, Arjuna mulai tersenyum sumringah. "Adik ipar" sapanya ketika Arash sampai dihadapannya.


"Kamu siapanya Adinda?"


"Aku kakaknya, namaku Arjuna, hei bukankah kita pernah bertemu dulu sekali?"


"Ahhh..iya aku ingat, Kamu Kakak yang suka memukul Adinda itu kan?" ucapnya dingin.


"Hei, adik ipar.. Namanya kakak adik pasti pernah bertengkar kan? Jangan dianggap serius dong"


"Hahhh.. Jadi ada keperluan apa pagi pagi datang kesini?"


"Bisa tolong panggilkan Adinda? Aku ingin bertemu dengan adik yang sudah lama tak kutemui"


"Maaf, kau bisa pergi karena Adinda masih tidur dan aku tak berniat membangunkannya"


"Heii, kenapa sikapmu seperti itu kepada Kakak dari istrimu sendiri? Bagaimana perasaan Adinda jika tahu suaminya tak menghargai kakaknya?!"


"Tak ada yang ingin aku katakan lagi, Pak tolong halangi orang ini mendekati rumah dan Adinda" ucapnya kepada petugas keamanan.


"Baik!"


"Adinda!! Keluar!! Ini Kakak! Adinda!!Hah sialan!" teriak Arjuna masih berusaha melawan meski di seret oleh 2 orang bertubuh kekar.


Arash kembali masuk ke rumah, ia tak menghiraukan panggilan Arjuna yang memanggil manggil nama Adinda berulang kali.


.


Seperti biasa seluruh anggota keluarga berkumpul di meja makan, Mujin datang terakhir dengan pakaian formal dengan setelan jas rapi tak seperti ia biasanya, Arash menatapnya dengan curiga.


"Oh iya, Arash.. Hari ini Mujin mulai bekerja di hotel" ucap Mariana membuat senyum Mujin mengembang.


Arash tersentak "Kenapa dihotel Ma? Apa nggak seharusnya Mama berunding dulu denganku sebelum memutuskan hal penting, apalagi ini tentang hotel yang kujalankan!"


"Arash..mengertilah, itu keputusan terbaik yang bisa Mama buat untuk saat ini, mustahil Mama mempekerjakan dia di kantor"


"Memangnya boleh dia ditempatkan di hotel? Nggak ada posisi kosong untuk saat ini Ma!"

__ADS_1


"Mama sudah mengurus semuanya! Dia akan mengisi posisi Asiaten General Manager"


"Apa Mama bilang? Aku nggak butuh! Sudah ada Denis yang mengisi posisi itu!"


"Mama sudah bicara dengan Denis, aku mengusulkannya untuk menjadi Asisten pribadimu, tak ada yang akan banyak berubah, semakin banyak orang yang membantumu maka akan semakin baik! Toh kamu memang memiliki rencana liburan bersama Adinda kan? Sebelum itu maka ajarkan Mujin, bantulah dia beradaptasi dengan baik pada pekerjaannya!"


"Tapi Ma!"


"Cukup Arash, Mama nggak mau berdebat!"


"Maa--" ucapannya terhenti saat Adinda memegang tangannya dan menggelengkan kepala agar Arash berhenti berdebat dengan Mamanya.


Arash bangun dari duduknya, ia mengurungkan niat sarapan karena sudah kehilangan napsu makan. "Ayo Adinda!"


"Duduk Arash!!" teriak Mariana namun diabaikan olehnya dan malah pergi. "Arash!!"


Adinda bangun, "Maa, biar aku bicara dengannya"


"Ya, aku mengandalkanmu Nak" Adinda mengangguk kemudian segera menyusul Arash yang sudah di dalam mobil.


Sementara Mujin terlihat tersenyum gembira melihat pertikaian antara Ibu dan Anak karena dirinya.


"Ibu Mariana, saya senang karena anda membela saya di depan Putra anda" celetuk Mujin.


"Kau anggap ini pembelaan?"


"Tentu saja! Seharusnya Arash mengerti jika anda mau tak mau menempatkan saya di hotel dari pada dikantor yang mungkin saja wajah saya yang sangat mirip Ayahnya akan dikenali dan bisa merusak reputasi anda dan perusahaan, apa dia tak mempercayai keputusan Ibunya sendiri?"


"Nggak usah beromong kosong! Urus saja pekerjaanmu dengan baik! Dreeekkk.." Mariana pun bangun lalu pergi.


.


Begitu Adinda masuk ke dalam mobil Arash segera menjalankankan mobilnya dengam cepat tanpa mengatakan sepatah katapun.


Adinda memegangi perutnya, "Ahh..perutku agak sakit, apa karena aku belum sempat sarapan?" ucapnya seraya melirik Arash.


Tak lama Arash berhenti di sebuah kedai yang menjual berbagai hidangan sarapan indonesia. "Ayo makan bubur" Ucapnya seraya membuka sabuk pengaman.


"Oke!"


Mereka masuk lalu duduk kemudian memesan dua mangkuk bubur ayam yang menjadi ciri khas kedai tersebut.


"Selamat makan Sayang!" ucap Adinda tiba tiba membuat Arash tersenyum.


"Ciihh.. Dasar! Bisa aja!"


"Hehe, gitu dong"


"Maaf.."


"Kenapa minta maaf tiba tiba?"


"Gara gara aku kamu nggak sempat sarapan di rumah"


"Eiiiy.. Sudahlah, aku juga sesekali ingin sarapan diluar seperti ini denganmu"


"Makan yang banyak"

__ADS_1


"Kau juga!"


Setelah Arash menyeka mulutnya Adinda mulai menatapnya. "Apa kau sangat marah kepada Mujin yang bekerja di hotel?" ucapnya hati hati.


"Tentu saja aku marah dengannya tapi aku lebih kesal dengan Mama yang membuat keputusan tanpa berunding denganku yang adalah pemegang hotel saat ini, aku merasa nggak dihargai, apalagi dia memasuki posisi yang diduduki oleh orang lain, bukannya itu nggak adil untuk Denis yang sudah bekerja keras selama ini?"


"Aku mengerti perasaanmu, tapi aku juga mengerti perasaan Mama, mungkin Mama bukannya tak menghargai pendapatmu hanya saja pasti kau akan tetap meenolaknya meski dia meminta pendapatmu terlebih dahulu, apa aku benar Sayang?"


Arash terdiam sejenak berfikir, "Sepertinya memang benar" jawab Arash.


"Jadi kumohon.. Mengertilah posisi Mama dan terimalah Mujin, Denis juga pasti mengerti, ini akan meringankan pekerjaanmu kedepannya dan kita bisa secepatnya pergi berbulan madu, kau bilang ingin menghabiskan waktu denganku tanpa diganggu oleh pekerjaan, apa sekarang tidak lagi?"


"Tentu aku sangat mengharapkannya Adinda.." Mendengarnya membuat Adinda tersenyum.


"Sudah kan? Aku akan mengantarmu ke butik"


"Oke!"


Mereka pun masuk kembali ke dalam mobil, mobil melaju dengan santai.


"Kudengar dari Mavin ada masalah dengan gaun Jolla di resepsi kemarin? Apa semuanya baik baik saja?"


"Ya, semuanya sudah terselesaikan berkat gaun yang sudah lama kupersiapkan untuk mengikuti kompetisi Nasional"


"Kompetisi? Jadi gimana kompetisinya?"


"Mungkin aku harus menyerah karena batas waktu pendaftaran sekaligus desain gaun tinggal satu minggu lagi"


Arash melirik wajah Adinda, dia tampak murung dan kecewa. "Apa seminggu nggak mungkin membuat gaun baru?"


"Ya! Sangat tidak mungkin!"


"Apa ada yang bisa kubantu?"


Adinda menggeleng "Aku harus mengikhlaskannya kan?"


"Kamu sangat ingin mengikutinya kan?"


"Tentu saja, dengan mengikutinya aku akan mendapatkan lebih banyak ilmu dari para profesional meski belum tentu mendapatkan juaranya, nggak papa! Kompetisi itu dilakukan dalam 3 tahun sekali, aku akan mengikutinya di kompetisi mendatang dan mendapatka juara!!"


"Ya! Kau pasti bisa, tapi kenapa gaun Jolla bisa bermasalah?"


"Aku yakin itu bekas guntingan yang disengaja, aku akan menemukan pelakunya sesegera mungkin"


"Apah??! Haruskah aku membantumu?"


"Aku akan bilang jika butuh bantuanmu, sudah sampai ya"


"Sayang sekali.. Aku ingin bersamamu lebih lama"


"Aku akan pulang cepat dan datang kepadamu segera"


"Beneran?"


"Iya, aku turun dulu ya" Adinda mengecup pipi Arash sebagai salam perpisahan, Arash malah menarik dan memeluknya erat erat.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2