Menikahi Sang Mantan

Menikahi Sang Mantan
Hujatan


__ADS_3

Arash dan Adinda turun bersama menuju meja makan, disana sudah ada Mariana dan Mujin yang duduk berjauhan. "Selamat pagi Maa, pagi Mujin" ucap Adinda tersenyum.


"Pagi" jawab Mariana seraya menatap wajah Putra dan Menantunya bergantian. "Pagi ini kalian berdua terlihat berseri seri, apa ada hal baik terjadi?"


Adinda tersenyum malu, "Jangan membuatnya malu Ma" jawab Arash seraya menarikkan kursi untuk Adinda.


"Oh..oke" Mariana tersenyum tipis.


Rupanya seperti ini wajah putraku saat sedang jatuh cinta? Aku lega semua berjalan sesuai keinginanku.


Mariana menyeka mulutnya setelah minum. "Arash, sudah selesai makan kan? Ikut Mama sebentar"


"Oke!"


Adinda dan Mujin melihat keduanya yang menjauh. "Kenapa mereka tak mengajakmu juga Adinda? Apa mereka membicarakan sesuatu yang harus dirahasiakan darimu juga?" ucap Mujin.


"Aku tak masalah Mujin, aku tak perlu terlibat dengan pembicaraan antara ibu dan anak"


"Apa kau tak penasaran?"


"Nggak tuh"


"Adinda aku menemukan sebuah artikel tentang dirimu, kau mau lihat?" Mujin menyodorkan hp nya.


"Artikel tentangku? Boleh kulihat?"


"Ya"


Wajah Adinda mengernyit membaca sebuah artikel berjudul 'Menantu Hutama yang berasal dari kalangan orang biasa, The Real Of Cinderella'


Isinya membahas tentang asal usul Adinda yang seorang yatim piatu, pekerjaan mendiang Ayahnya yang seorang supir taxi dan seorang desainer gaun tidak terkenal yang mengambil pinjaman besar untuk membuka sebuah butik, dari gaya bahasanya yang sarkas dan menyudutkan Adinda yang seolah menggiring opini publik ke arah yang tak baik.


Belum lagi komentar komentar di artikel tersebut seperti, "Dia cantik tapi aku yakin sekarang pinjamannya sudah lunas"


"Cantik cantik tapi matre"


"Kasian Tuan Arash Esfandiar Hutama yang terpikat dengan kecantikannya"


"Cinderella matre?"


Dan berbagai komentar komentar negatif yang hampir sama. Yah, Adinda memang sudah bersiap akan banyak komentar buruk tentang perbedaan status sosial mereka berdua, namun ia tak menyangka penulis artikel sudah menyelidiki asal usul keluarganya dan menulis menggunakan kata kata yang menyudutkannya.


Mujin tersenyum smirk menatap Adinda yang terpaku membaca komentar komentar itu satu persatu. "Sudah Adinda, jangan dibaca lagi" Mujin mengambil ponselnya dari tangan Adinda. "Maaf, dari reaksimu pasti itu artikel buruk ya? seharusnya aku menyembunyikannya darimu jika tahu reaksimu akan terluka seperti ini, kupikir kau harus tahu karena aku peduli padamu" Mujin berbicara dengan nada penyesalan.

__ADS_1


"Aku nggak apa apa Mujin, terimakasih karena sudah memberitahuku" Adinda tersenyum kecut.


"Hhh..seharusnya perusahaan sudah memblokir artikel artikel seperti ini, tapi ini semakin banyak saja, apa yang dilakukan Arash dan Ibu Mariana sih, wahhhh..kata katanya sangat keterlaluan!" Mujin menscrol terus menerus layar hp nya.


"Ahh, aku sudah kesiangan.. Aku pergi duluan ya" Adinda pergi terburu buru.


Mujin terdiam menatap punggung Adinda yang menjauh dari pandangannya.. Perbuatan yang disengajanya itu malah membutnya merasa tak nyaman setelah melihat reaksi wajah Adinda yang terlihat sangat terluka.


Perasaan sialan ini sangat menyebalkan..


Arash kembali ke meja makan "Dimana Adinda?"


"Sudah pergi" jawab Mujin.


"Apa dia pergi dengan motor bututnya? Kenapa nggak bilang dulu sih" gumamnya seraya berjalan ke garasi, benar rupanya motor yang sudah lama terparkir di sana tak ada ditempatnya.


Begitu Arash menjalankan mobilnya Adinda sudah pergi jauh dengan motor matic kesayangannya.


"Jangan berkecil hati Adinda, kau kan sudah tahu pasti ada saja orang yang akan memojokkan dengan asal usulmu, kau nggak bersalah, kau nggak memalukan! Anggap saja kau diingatkan kembali oleh kenyataan! Seperti inilah hidup!" Adinda terus bergumam mengulang ulang kata kata itu untuk menguatkan dirinya sendiri seraya terus mengendarai motornya dengan cepat, matanya yang terlihat dari kaca helm terlihat sangat merah.


Arash membuka pintu butik, "Selamat datang" ucap Lina menyambut kedatangannya yang ia pikir seorang pelanggan. "Kakak ipar kok datang sendiri?"


"Dimana Adinda?"


"Kak Dinda belum datang" Arash tampak berpikir.


"Kau tau kemana Dinda pergi?" tanya Arash.


"Bukannya suaminya yang harusnya tahu kemana istrinya pergi!" ucap kesal Anya.


Tiba tiba Tasya menghampiri Lina dengan menyodorkan ponselnya. "Pasti Kak Dinda kesal kalau sudah membacanya" gumam Lina.


"Apa itu?" tanya Anya.


"Artikel Tentang Kak Dinda, The real of Cinderella, judulnya saja sudah menyebalkan isinya cuma menyudutkan kak Dinda, nyebelin banget sih aku pengen mukul penulisnya!" ucap Lina kesal.


Arash mengepalkan tangannya, kemudian keluar dengan terburu buru.. Anya segera menyusulnya, "Makam! Pergilah ke makam orang tuanya!!" ucap lantang Anya, Arash mengangguk.


"Ini yang paling ku takutkan" gumam Anya.


Sampailah Arash di depan nisan bertuliskan Ammar Yadityan dan disebelahnya Nabilah Atmaja, makam dengan rumput hijau yang tumbuh dengan sehat, sangat bersih dan terawat itu tidak ada siapapun disana, hanya tertinggal setangkai bunga mawar putih di antara keduanya.


Arash berjongkok di hadapan setangkai bunga yang terlihat masih segar itu. "Ayah, Ibu, maaf karena datang terlalu terlambat itu karena aku sangat malu kepada kalian, Adinda sudah banyak menderita karenaku, maaf.. Tapi aku tak bisa menyerah untuk menempatkannya disisiku apapun yang terjadi, tolong restuilah hubungan kami" gumamnya lirih.

__ADS_1


Disisi lain Adinda memarkirkan motornya di depan mini market yang tak jauh dari butik, setelah berputar putar tanpa arah rasanya tenggorokannya sangat kering.


Adinda mengambil sebuah botol air mineral dingin dan membawanya ke kasir. Bipp.."Harganya 5 ribu" ucap kasir tersebut seraya menatap wajah Adinda dengan cukup intens membuat Adinda merasa tak nyaman, Adinda pun segera membayar lalu pergi dengan cepat.


Dukkk..karena terburu buru Adinda menabrak seseorang, "Maafkan aku" ucapnya dengan wajahnya yang menunduk.


"Adinda?" ucap seorang pria, suaranya tak asing di telinga Adinda.


Adinda pun menatapnya "Henry?"


Henry yang mengenakan kaos dan celana pendek dengan topi di kepalanya tampak sangat santai.


"Apa yang sedang kau lakukan disini?"


"Beli air minum, aku duluan ya.." Adinda pergi begitu saja, namun Henry mengejarnya setelah membayar barang yang dibelinya.


"Adinda tunggu.." Panggilnya lantang.


Adinda yang sudah berada di atas motor menoleh kembali "Ada apa?" Adinda tampak tak nyaman, tak seperti Adinda yang biasanya percaya diri.


"Kamu bawa motor? Boleh aku minta tolong?"


"Apa?"


"Tolong antar aku ke danau disana" ia menunjuk ke suatu arah.


"Tapi Henry.." Adinda tampak ragu.


"Tolonglah.. Sudah lama aku ingin mencoba memancing di sana, kudengar suasananya sejuk, cocok untuk menenangkan diri"


"Baiklah, silahkan naik"


Di seberang jalan Arash sudah menemukan keberadaan Adinda, ia masih memperhatikan dari kejauhan, kemudian ia mulai mengikuti Adinda yang pergi bersama dengan Henry yang membonceng.


"Lalat itu terus saja mencari kesempatan dalam kesempitan, sial!" gumamnya.


Adinda berhenti di pinggir danau, suasana disana memang sejuk dan sepi.


"Turun dan duduklah" ucap Henry yang sudah mengalasi rerumputan di samping tempat duduknya dengan sapu tangan.


"Tapi, aku harus bekerja sekarang.."


"Hei.. pekerjaanmu bisa dikerjakan orang lain kan? Aku sedang sesak, apa kau tak kawatir aku akan masuk dan menenggelamkan diri jika sendirian disini?" Buk buk..ia menepuk tempat disampingnya duduk dengan tangan satunya yang sudah memegang pancingan.

__ADS_1


Adinda pun menurutinya, perasaannya berangsur membaik menikmati udara dan ketenangan hamparan air di hadapannya dalam diam, perlahan matanya mulai tertutup kepalanya jatuh tepat di pundak Henry.


Bersambung.


__ADS_2