Menikahi Sang Mantan

Menikahi Sang Mantan
Calon Istri Rakka


__ADS_3

Dua hari kemudian.


Di sebuah kedai kopi Mariana duduk berhadapan dengan seorang wanita berrambut panjang, wanita itu adalah Adinda.


"Kenapa datang sendiri? Padahal aku berharap bisa melihat cucuku dari dekat kali ini" Ucap Mariana seraya sesekali menyeruput cangkir berisi kopi hitam. Adinda mengerti maksud ucapannya bahwa dia sudah mengawasi Jean.


"Saya yakin anda bukan ingin bertemu anak saya! Apa yang anda inginkan dengan menemui saya? Tolong katakan dengan cepat" ucap Adinda dengan raut wajah datar penuh kewaspadaan.


"Baiklah.. Aku juga tak memiliki waktu untuk bertele tele denganmu! Bujuklah Arash agar dia mau kembali ke perusahaan dan menemuiku"


"Apa sekarang anda sedang minta tolong?" Jawab Adinda menyindir.


"Ini permintaan!"


"Kenapa anda meminta saya melakukan itu? Apa untungnya buat saya?"


"Hahhh... Gaya bicaramu semakin sombong rupanya!! Mari bertransaksi! Jika kau bisa membuatnya kembali padaku aku akan menuruti satu permintaanmu! Sebaliknya jika kau tak berhasil maka aku akan mencari cara untuk membawa Putrimu itu dengan segala cara"


Mata Adinda membelalak kesal, "Bukankah anda tahu ancaman anda sekarang sudah tak berarti apa apa lagi? Jangan harap saya menuruti keinginan anda!" Adinda bangun dari duduknya.


"Bukankah kau juga seorang Ibu? Kau pasti bisa mengerti alasan tindakanku selama ini, apa perlu benar benar kupisahkan kau dari anakmu agar kau mengerti perasaanku? Aku bahkan rela melenyapkan seseorang jika itu demi kebaikan Putraku!"


"Anda bilang demi kebaikan? Kebaikan siapa yang anda maksud? Apa kebaikan yang anda maksud adalah membuat hidup putra anda sengsara karena Ibunya yang paling dihormati di dunia ini mengancam hidup orang yang paling disayangi olehnya? Sepertinya anda belum mengerti apa itu kasih sayang yang sebenarnya!! Jika anda ingin Putra anda kembali cobalah untuk memahaminya terlebih dahulu!!" Adinda yang geram berjalan keluar dengan cepat. Sementara Mariana terdiam menatap keluar.


.


Semua anggota keluarga Atmaja sudah berkumpul di meja makan yang sudah dipenuhi oleh bermacam macam hidangan.


Tak lama Rakka muncul dengan wajah tersenyum menggandeng seorang wanita dengan rambut lurus sebahu dengan penampilan modis khas wanita sosialita, mata Adinda yang cukup terkejut terfokus oleh wanita yang muncul dengan senyuman dibibirnya.


Senyuman wanita itu seketika menghilang ketika ia bertatapan dengan Adinda.


"Ayah, Karina, Adinda..perkenalkan ini adalah calon istriku, namanya Mikayla, gimana cantik kan?" Karina mengangguk angguk. "Ayo Mikayla.. Sapalah keluargaku"


"Halooo.. Saya Mikayla Sania Subroto, senang bertemu kalian semua!" ucapnya ragu ragu.


Rakka melirik Adinda yang bereaksi tak nyaman, "Ada apa Adinda? Apa kamu sakit?"


"Nggak, aku nggak papa Om" jawab Adinda.


"Yasudah, mari mulai makan malamnya, silahkan duduk Mikayla" Ucap Dewangga. "Kuharap makanannya sesuai dengan seleramu"


"Tentu Ayah..ini semua terlihat lezat!"


"Ayah? Apa kau yakin akan menjadi istri Kakakku?" ucap Karina sinis.


Mikayla tersnyum, ia menyelipkan rambutnya ke telinga, "Ahh.. Maaf"

__ADS_1


"Jangan minta maaf Kayla.. Memang cepat atau lambat kau harus memnggil Ayahku dengan panggilan itu, lebih awal membiasakan diri bukankah lebih bagus? He he" ucap Rakka.


"Ehemmm.. Ayo makan saja dulu" ucap Dewangga.


"Kakek, aku sudah selesai makan, aku akan memeriksa Jean di kamarnya" ucap Adinda.


"Iya, pergilah.." Adinda pun bangun dari kursinya.


"Maaf.. Bisa numpang ke toilet sayang?" ucap Mikayla kepada Rakka.


"Iya, jalan kesana.. Lurus belok ke kiri ada toilet di sana"


"Baik"


Karina melirik Mikayla yang menjauh, "Apa Kakak yakin dengan wanita itu?"


"Memangnya kenapa? Apa yang kurang darinya?"


"Dia adalah Putri dari pemilik S Elektronik, kabarnya perusaha itu mengalami kebangkrutan karena pihak Hutama sudah lama menarik investasinya karena masalah pribadi"


"Jadi apa hubungannya itu dengan rencana pernikahan kami?" jawab Rakka tak senang.


"Apa kakak bodoh? Sudah pasti keluarga itu sedang menggunakan Putrinya untuk mendapatkan sumber dana investasi, aku dengar selama beberapa tahun ini wanita itu terus mendekati laki laki muda dari keluarga berada, Kakak adalah salah satunya yang tua! Bagaimana menurut Ayah?"


"Cukup! Meskipun begitu aku akan tetap menikahinya karena aku mencintainya!!" tegas Rakka.


"Itu tak akan terjadi! Aku yakin Mikayla bukan wanita seperti itu!!"


"Hahhh.. Susah bicara dengan laki laki yang sedang dibutakan oleh kecantikan! Dasar bodoh!"


.


Tiba tiba Mikayla menarik tangan Adinda saat Adinda baru saja akan meraih handle pintu.


Adinda pun tersentak kaget, "Apa apaan kenapa mengikutiku?" ucapnya seraya menepis tangannya.


"Pelankan suaramu sialan! Kenapa kau ada disini?"


"Bukankah seharusnya aku yang nanya kenapa kamu disini!!"


"Jawab saja bodoh!"


"Hahhh!! Pergi sana atau aku akan membocorkan perilakumu kepada Pamanku!!"


"Paman? Kau benar benar anggota keluarga ini?"


"Kenapa memangnya kalau iya?"

__ADS_1


"Hahhh sialan.. aku sangat muak! Lagi lagi kau!! Tapi aku tidak peduli apapun hubunganmu dengan keluarga ini, aku akan tetap menikahinya!" Mikayla tersenyum menyeringai.


"Jujur sajalah.. Kau tidak benar benar menyukai Pamanku kan? Apa maumu? Tinggalkan dia kalau kau cuma ingin main main!!"


"Siapa bilang? Aku mencintainya dengan sepenuh hati tuh!! Oh iya jangan berlaga mengenalku! Kau harus pura pura tak mengenalku!!"


"Hahh..aku benar benar tak habis pikir denganmu!!"


"Sudahlah!! Aku tak peduli dengan apapun yang kau pikirkan!! Biar kutegaskan!! Jangan mengganggu hubunganku dengannya!!"


"Biar kutegaskan juga!! Jangan mimpi! Aku tak akan tinggal diam sebelum kau pergi dari hidup Pamanku!!"


Mikayla melihat Rakka berjalan menuju ke arahnya dari kejauhan, ia segera mengatur ekspresinya.


"Kau disini bersama Adinda rupanya, kupikir kemana karena kau tak ada di toilet tamu.. Lhoo kamu kenapa?" tiba tiba raut wajah Rakka menjadi panik melihat Mikayla menunduk dengan meneteskan air mata.


"Ck ck.." Adinda berdecak seraya menggeleng gelengkan kepala.


"Maaf..ini kesalahanku sayang, sepertinya semua keluargamu tak menyukaiku.. Hiks hiks.."


"Memangnya apa yang kamu katakan padanya Adinda? Kenapa Kayla sampai seperti ini?" ucap Rakka seraya menatap Adinda dengan tajam.


"Paman.. Aku tak mengatakan apapun yang membuatnya menangis.." Adinda merasa sedih, untuk pertama kalinya Pamannya yang selalu hangat tiba tiba berekspresi seperti itu kepadanya.


Mikayla menyeka air matanya "Sudah sudah, jangan memarahi keponakanmu, aku saja yang terlalu sensitif"


"Sudahlah.. Ayo aku antar kamu pulang saja!"


Adinda menyentuh lengan Rakka "Tapi Paman.. Aku tidak--" ucapannya terhenti ketika Rakka menepis tangan Adinda dengan kasar lalu ia berjalan membawa Mikayla pergi.


Tiba tiba Mikayla menoleh ke arah Adinda dengan senyuman dibibirnya.


"Dasar wanita licik!" gumam Adinda kesal. "Dari sekian banyaknya laki laki kenapa harus Pamanku?!! Aku harus cepat bertindak!"


.


Di dalam mobil Mikayla terus menerus diam dengan wajah murungnya, tak lama sampailah ia di depan rumah Mikayla yang masih berada dalam satu komplek perumahan.


"Maaf..padahal keluargamu menyambutku dengan hangat, tapi keluargaku..." ucap Rakka lirih dengan wajah amat menyesalnya.


"Tidak apa apa.. Jangan kawatir, ini karena kondisi keluargaku yang sedang tertimpa kemalangan, wajar mereka tak menyukaiku, tolong jangan menyalahkan keluargamu, terutama Adinda.. aku hanya sedang sensitif hari ini, aku serius" ucapnya seraya tersenyum getir membuat Rakka lebih merasa bersalah.


"Aku janji apapun yang terjadi aku akan tetap menikah denganmu!!"


"Terimakasih sayang" Mikayla memeluk Rakka, namun seketika bibirnya tersenyum smirk.


Ini benar benar sangat mudah....

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2