Menikahi Sang Mantan

Menikahi Sang Mantan
Ayo Menikah


__ADS_3

Adinda dan Karina sampai di rumah saat hari sudah gelap, Adinda tertegun melihat pemandangan asing di depan rumah, 4 orang pria berada dalam satu meja mengobrol dan tertawa dengan Arash berada di tengah tengah, Adinda bertanya tanya sejak kapan Arash mulai menempatkan dirinya dengan sangat baik diantara Henry dan keluarganya?.


Tiba tiba Karina berlari menghampiri Rakka lalu menarik tangannya membawanya masuk, sepertinya Adinda mengerti apa yang akan dikatakan oleh Karina yang sedang menggebu gebu itu.


Adinda berjalan mendekat, ia melihat Henry yang terlihat sama seperti biasanya, tiba tiba Henry berbalik menatap ke arah Adinda berada, dia tersenyum.


Loh? Adinda bingung dibuatnya.


Kenapa dia bersikap seolah tak ada apapun yang terjadi? Atau... Sekarang dia sudah membereskan perasaannya?.


"Kenapa berdiri saja? Duduklah sini" ucap Dewangga kepada Adinda, seketika Arash dan Henry pun menatap Adinda bersamaan.


"Tidak usah Kakek, sepertinya kalian sedang asik meengobrol, aku permisi kedalam" Jawab Adinda lalu melangkah pergi.


Arash bangun dari duduknya, "Saya juga permisi Pak Dewangga, saya mau melihat Jean"


"Yaa.. Terserah kau saja.. Awas kalau macam macam!"


"Iya iyaa!!" Arash pun berjalan masuk mengikuti Adinda.


Dewangga menatap Henry yang tiba tiba terdiam. "Kenapa? Kamu merasa kalah?" ucapnya membuat Henry tertohok.


"Saya sudah kalah sejak awal Pak" ia tersenyum kecut.


"Padahal bisa saja aku mendukungmu jika kamu masih ingin berjuang"


"Tidak Pak terimakasih..saya tak ingin memaksakan kehendak sendiri..seharusnya saya merasa puas dengan hubungan kami selama ini, saya saja yang terlalu serakah"


"Menginginkan sesuatu bukanlah dosa, Adinda memiliki pemikiran yang sangat keras dan logis sama seperti ibunya,tak mudah menggoyahkan pendiriannya itu, aku hanya ingin melihatnya bahagia, kupikir dia akan bahagia jika memiliki seseorang sepertimu disampingnya, tapi kenyataannya anak Hutama itu sudah lebih dulu mengisi seluruh hidupnya hingga tak ada lagi celah untuk dimasuki oleh orang baru, kau anak yang baik, aku ingin mengenalkan wanita baik untukmu jika kamu setuju"


"Terimakasih perhatiannya Pak.. Anda tak perlu repot repot, saat waktunya tiba saya pasti akan menikah"


"Jangan begitu..aku benar benar akan senang jika kau mau menemui cucu dari kenalanku!" kekehnya.


"Tidak perlu Pak"


"Eheii..atau kunikahkan saja kau dengan anak perempuanku?"


"Memangnya anda punya anak lain selain yang kukenal?"


"Siapa lagi? Tentu saja Karina! Ha ha" Dewangga tertawa.


"Anda sedang bercanda Pak?"


"Ha ha ha"


.

__ADS_1


"Adinda.." ucap Arash begitu ia menyusul Adinda masuk ke dalam kamar Jean.


"Ngapain masuk kesini?" jawab Adinda dengan raut wajah waspada.


"Ngapain lagi? Menemui Putriku lah.. Dan kamu juga sihh"


"Ayo bicara di tempat lain.. Jean sangat sensitif dengan suara saat tidur" Adinda melewati Arash agar Arash mengikutinya keluar, namun tiba tiba Arash meraih tangan Adinda kemudian mendekatkan wajahnya ketelinga Adinda.


"Disini saja.. Ayo bicara pelan pelan saja, disana" Arash menunjuk sofa panjang di pojok ruangan dekat jendela, kemudian menarik tangan Adinda membawanya ke sana.


Kenapa tiba tiba hawanya menjadi panas?


Mereka berdua duduk bersebelahan, "Katakan!" ucap Adinda seraya menatapnya.


"Aku akan bertanya sekali lagi.. Adinda.. Ayo kita menikah lagi!"


Adinda terdiam sejenak membuat Arash gemetar takut ditolak, "Kamu tahu kan sekarang prioritasku adalah kebahagiaan Jean?"


"Aku tau!"


"Kalau kita bersama lagi Jean akan memiliki keluarga yang lengkap, tapi bagaimana dengan Ibumu? Bisakah kau melindungi Jean dari Ibumu? Jean harus hidup nyaman, aku nggak bisa mentolerir sekecil pun kemungkinan yang bisa saja menyakitinya"


"Kamu segitu nggak percayanya padaku Adinda? Bagaimana caranya agar kamu bisa percaya bahwa aku akan melindungi kalian? Haruskah kita tinggal dan menetap di luar negri? Apa itu akan membuatmu tenang?"


"Tidak!"


"Temuilah dia! Sepertinya Ibumu sangat membutuhkanmu, kemarin dia menemuiku"


"Apah?? Apa kamu terluka? Atau diancam? Kenapa dia menemuimu?"


"Nggak, Ibumu memintaku membuatmu kembali ke rumah dan perusahaan"


"Aku nggak mau!"


"Yasudah!"


"Loh? Kok kamu nggak membujukku?"


"Untuk apa?"


"Hemmm.. Tadi kita sedang membicarakan menikah kenapa kau seenaknya mengganti topik pembicaraan Adinda!!"


"Iya.. Ayo menikah setelah kau benar benar memastikan bahwa Ibumu tak akan mengusik Jean.. Untuk itu kau perlu menemui Ibumu kan?"


Seketika Arash tersenyum cerah, "Aku akan pastikan kamu nggak kawatir lagi" tiba tiba Arash merentangkan kedua tangannya hendak memeluk Adinda namun dalam sekejap Adinda menghindar.


"Nggak ada peluk pelukan! No! Tunggu halal!"

__ADS_1


Arash meremas telapak tangannya, "Hahhh!!!" tiba tiba ia bangun.


"Sudah mau pergi?"


"Iyalah! Aku mau cepat cepat halalin kamu!" ucapnya dengan wajah super serius seraya berjalan keluar membuka pintu.


"Hi hi.. Benar benar menggelikan!"


.


Bruuuummmmm!!! Mobil Arash masuk ke garasi kediaman Hutama, Mariana yang baru saja pulang dari bekerja bergegas kembali keluar mendengar suara mobil yang di kenalnya, mereka bertemu di ruang tamu.


Mariana mengulurkan tangannya hendak memeluk Arash namun raut wajah Arash yang dingin membuat Mariana mengurungkan niatnya.


"Kau benar benar kembali kan?" ucap Mariana dengan mata berkaca kaca.


"Aku datang atas permintaan Adinda, Anda seharusnya berterimakasih padanya!"


"Apa wanita itu sungguh lebih penting daripada Mama yang sudah melahirkanmu? Kenapa kau terus membuat Mama sedih demi wanita itu!!"


"Mama memang sudah melahirkanku, tapi Mama juga harus ingat bahwa Adinda jugalah yang sudah melahirkan anakku! Apa anda juga mengancam Adinda menggunakan Putri kami?"


"Apa yang wanita itu katakan padamu sampai kau semarah ini?"


"Adinda bukan orang seperti itu! Mama juga sudah tahu sifat Adinda kan? Cobalah ingat ingat kembali kebersamaan Mama dengannya dulu di rumah ini sehingga itu bisa mengurangi kebencian Mama padanya! Aku akan menikahinya lagi! Jangan ganggu keluarga kami atau aku akan benar benar melakukan sesuatu yang tak pernah anda kira!"


"Omong kosong!!! Kau bilang menikah? Jangan harap!! Sudah susah susah aku membuatmu berpisah dengannya, apahhh? Menikah?!!"


Arash menatap Ibunya dengan sorot mata dingin"Maa.. Aku serius dengan kata kataku kali ini!! Jangan pernah anda mengusik kami atau aku akan menghancurkan nama baik Hutama Grup dengan tanganku sendiri!!"


Sorot mata Arash membuat Mariana merinding, Mariana merasa kali ini sepertinya Putranya benar benar akan menghancurkan apapun yang menghalanginya, tapi harga diri Mariana tak memerbolehkannya gentar hanya dengan gertakan seperti itu.


"Baiklah.. Kau boleh menikahinya dan aku berjanji tak akan mengusik kalian lagi dengan satu syarat!"


"Syarat apa?"


Mariana melipat tangannya di atas dada "Usir Lee Mujin! Buat dia kembali ke asalnya dengan kakinya sendiri!"


"Baiklah! Silahkan Mama mulai menyiapkan hati karena sebentar lagi anda akan menggelar resepsi pernikahan untuk kami" Arash tersenyum smirk.


"Bukankah kau terlalu percaya diri Nak?" gumam Mariana yang melihat Arash pergi menjauh.


Mariana yakin bahwa Arash tak akan mungkin memenuhi tantangannya karena dirinya saja tak mampu mengusir Lee Mujin meski ia sudah menggunkan berbagai cara.


Di dalam mobil Arash melihat hp nya lalu menghubungi seseorang. "Bagaimana perkembangannya? Kau masih mengawasinya kan? Begitukah? Laporkan terus situasinya padaku, kita akan mulai bergerak dan lalu.. Libatkan Polisi di hari itu"


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2