Menikahi Sang Mantan

Menikahi Sang Mantan
Perasaan kelabu


__ADS_3

Keadaan Anya perlahan mulai stabil dan jadi dirinya sendiri seiringnya ia berbagi cerita pilunya dengan sahabatnya, tahu tahu jam sudah menunjukkan 04:00 waktu berlalu sangat cepat, Adinda menemaninya sampai Anya tertidur lelap di tempat tidur kecil miliknya.


Adinda beranjak perlahan pergi dan hati hati dengan suara langkah kakinya yang mungkin akan mengganggu Anya yang baru saja tertidur pulas.


Adinda menuruni anak tangga dengan perlahan tanpa mengeluarkan suara, ia melihat Arash yang berbaring di sofa ruang tunggu dengan mata tertutup dengan lengan di atas dahi, Adinda mendekat menghampirinya, menundukkan kepala dan menatap wajahnya yang terlihat tak nyaman.


Kupikir dia sudah pulang duluan rupanya tidur disini, kenapa tidur disini jika merasa tak nyaman?


"Huaaammmpptt" Adinda kaget namun ia segera menutup mulutnya dengan tangan melihat Arash yang tiba tiba membuka mata.


"Kenapa menatapku begitu?"


"Tidak, aku tak menatapmu, itu di pipi kamu ada nyamuk aku berniat menangkapnya" dalihnya seraya mengalihkan pandangan membuat Arash tersenyum smirk.


"Yah.. Terserah kau saja lah! Gimana keadaan Anya?"


"Sudah jauh lebih baik, dia sudah tidur, ayo pulang"


"Oke"


Arash mengendarai mobilnya dengan pelan karena kepala Adinda terus bergoyang kesana kesini karena tak mampu lagi menahan rasa kantuknya, di sela sela menyetir Arash terus memperhatikan Adinda dan tangannya terus menerus berjaga jaga ia takut Adinda terbangun mengingat ia yang pastinya sangat kelelahan dengan apa yang baru saja di alami oleh sahabatnya.


Mengingatnya gara gara siapa orang yang menyebabkan permasalahan ini membuat tangan Arash mengepal.


"Apa lebih baik kuhabisi saja sekalian laki laki sialan itu?" gumamnya pelan.


Setelah beberapa saat akhirnya mobil sudah berada di garasi rumah, Arash menoleh ke arah Adinda yang masih tertidur dengan menyenderkan kepalanya ke samping.


"Bangun Adinda" ucapnya lirih namun Adinda tak bergeming sedikitpun.


"Adinda sudah sampai, bangun!" suaranya meninggi.


"Hemmmm" Dinda hanya bergumam lirih.


Akhirnya Arash berniat menggendongnya, ia mulai mendekat sedangkan tangannya meraih kunci sabuk pengaman.

__ADS_1


Ctakkk!! Suara itu membuat Adinda membuka matanya. "Huaaaaa!!!!" ia mendorong Arash hingga terjatuh karena kaget saat membuka mata wajah Arash berada tepat di depan wajahnya membuat ia berfikir yang tidak tidak.


"Aarrghhh, apa apaan sih sakit Adinda!!" ucapnya kesal, ia pun segera memperbaiki posisi duduknya.


"Kau!!! Salahmu sendiri!! Kamu mau berbuat apa padaku?" ucapnya dengan tatapan curiga, kedua tangannya menyilang di atas dada.


"Berbuat apa? Buang jauh jauh pikiran kotor di kepala kecilmu itu!!"


"Meskipun sifatmu buruk kupikir kau masih memiliki hati nurani, aku tak akan memaafkanmu kalau kau berbuat macam macam saat aku lengah!"


"Hahhhh" Takkkk!! Arash menyentil dahi Adinda.


"Aduh sakit" kesalnya seraya memegangi dahinya.


"Makanya sudah kubilang jangan berfikir macam macam kan? Kau sudah kubangunin berulang kali tapi tetap tak merespon, aku hanya berniat membuka sabuk pengamanmu!! Hahhh.. Bikin kesal saja kenapa juga aku harus menjelaskan hal seperti ini,merepotkan! menyebalkan!" ocehnya kemudian ia segera membuka pintu mobil dan pergi dari sana.


"Heii tungguu!!" Adinda menatap punggung Arash yang menjauh, ia menghela nafas karena merasa bersalah telah mendorongnya dengan keras sampai ia jatuh tadi padahal ia yang paling tahu Arash bukanlah laki laki yang akan berbuat seperti itu, terlebih dia sudah menemaninya tanpa mengeluh hari ini.


"Dasar Adinda payah!" ia memukul pelan kepalanya sendiri seraya berjalan masuk.


Adinda mendekatinya "Tidurlah di tempat tidur, di sofa pasti nggak nyaman"


"Nggak! Kau saja, urusi urusanmu sendiri dan jangan ganggu orang yang mau tidur!" jawabnya dengan mata tertutup dan membelakangi Adinda.


"Kamu marah? Maaf aku sudah salah paham dan mendorongmu tadi, apa kau kesakitan?" Arash hanya diam tak merespon ucapan Adinda. "Kau nggak mau memaafkanku? Aku juga tahu kau bukan orang yang akan melakukan hal hal yang tidak kusukai, tadi itu aku cuma kaget, serius cuma refleks, maaf dan terimakasih untuk hari ini Ash.." Adinda berbalik badan namun belum sempat melangkah Arash tiba tiba menggenggam tangannya.


Adinda kembali menatapnya, Mereka saling bertatapan dalam diam kemudian menatap tangannya yang di genggam olehnya lalu beralih ke wajahnya. "Kenapa?" tanya Adinda yang bingung karena Arash hanya menatapnya tanpa sepatah katapun, Dinda kira Arash menahannya karen ingin mengatakan sesuatu.


"Ahh nggak!" Arash segera melepaskan pegangan tangannya lalu menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Ash.. Adalah panggilang sayang yang biasa digunakan oleh Adinda saat dulu mereka menjalin hubungan kekasih, tiba tiba saja panggilan itu terdengar di telinganya hingga membuat Arash kehilangan kendalinya dan mengira Adinda sengaja memanggilnya dengan panggilan itu untuk menunjukkan perasaannya, tapi menilai dari reaksinya itu sepertinya ia salah, Adinda terlihat biasa biasa saja setelah memanggilnya dengan panggilan itu, Arash yakin bahwa sekarang Dinda tak merasakan apapun padanya, itu hanyalah panggilan yang tak sengaja di ucapkan karena kebiasaan, ia menjadi ingin menanyakan pastinya perasaanya seperti dirinya yang sudah lebih dulu mengungkapkan perasaan, namun ia kawatir akan kecewa jika mendengar namanya sudah tak ada lagi dihatinya dan juga Arash kawatir jika Adinda akan tak nyaman karena merasa terdesak dengan pertanyaan itu.


"Apa sih?" Adinda yang masih keheranan tak mengerti arti dari ekspresi yang Arash tunjukkan saat ini.


"Tadi kamu tanya apa aku kesakitan kan? Lenganku sakit nih!" ucapnya sembari memegang lengan kanannya.

__ADS_1


"Kamu serius?" Adinda melihat lengan Arash dengan teliti dari dekat. "Enggak memar tuh" Tuk tuk.. Ia menyentuh lengannya dengan telunjuk. "Apa ini sakit?"


"Iya, sakit banget"


"Sakit banget? Mau ke rumah sakit?"


"Enggak perlu, kayaknya di tiup aja cukup" ucapnya seraya tersenyum tipis.


"Ditiiup?" Adinda pun menuruti keinginannya dan meniup perlahan lengannya, namun setelah Adinda melirik wajah Arash yang terus tersenyum membuat Adinda kesal itu berarti dia sudah dibohongi.


Plakkkk!! "Pembohong!"


"Aduhhh.. Aku beneran sakit Adinda!!"


"Bodoamat!" Adinda merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. "Aku lelah!" gumamnya. "Mari tidur bersama" ucapnya lagi.


"Apa akhirnya kau gila? Apa telingaku rusak?"


"Mungkin kupingmu rusak tapi q nggak gila, hari ini kau juga lelah, tidurlah ditempat tidur, lihatlah aku sudah membuat batas"


Arash pun menoleh ke arahnya lalu bangun, dia benar benar sudah membuat batas mengunakan guling, dalam sekejap Adinda sudah tertidur pulas.


"Aku akan tidur di sebelahmu karena kau sudah memaksa" gumamnya seraya berbaring di samping Adinda.


Arash menoleh ke arahnya, memperhatikan satu persatu bagian dari wajah wanita yang telah sejak lama dirindukannya, tiba tiba matanya terhenti ketika melihat bibir merah muda yang sedikit membuka itu.


Glekkk.. Arash menelan ludahnya dan jantungnya berdebar.


Aku sudah gila, kenapa aku menelan ludah? Ayolah, aku bukan pria cabul, sadarlah aku adalah pria baik baik!!.


Arash segera membelakangi Adinda karena saat dia menatap wajahnya ia kawatir tak akan sanggup untuk mengalihkan pandangannya.


Rasanya hari ini sangat panas..hahhh!!.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2