
Keesokan harinya berita dan artikel yang menghubungkan antara Alexa Isnandar dan Arash Esfandiar Hutama terus bermunculan dengan berbagai spekulasi yang tak berdasar dan sangat merugikan perusahaan sehingga seharian ini suasana hati Mariana terlihat sangat buruk.
Berita tersebut membuat gerak gerik anggota keluarga di kediaman Hutama terus di perhatikan oleh wartawan yang berusaha menggali informasi lebih dalam meski keamanan terus di perketat.
Sementara Arash terjebak di dalam rumah, ia tak diperbolehkan keluar oleh Mariana barang selangkah pun untuk menghindari fitnah yang kian menjadi jadi.
Adinda yang sedang duduk di tempat tidur melirik ke arah Arash yang duduk di sofa tampak gelisah menatap ponselnya.
"Hari ini aku terus melihat wajahmu di internet, kau pasti senang kan karena kau semakin terkenal?" gurau Adinda mencoba mencairkan suasana karena seharian ini Arash tampak suram.
"Jangan bahas itu Adinda! Bikin tambah kesal saja! Orang orang terus memfitnah keluarga kita hanya karena aku menggandeng si Alexa itu!" Gerutunya kesal seraya menscroll terus menerus hp nya.
"Keluarga Kita? Haha"
"Kenapa? Apa ada yang salah?"
"Nggak ada apa apa hehe! Jadi apa rencanamu?"
"Memangnya aku dalam situasi membuat rencana? Semua keputusan ada di tangan Mama, aku tak ingin mendahuluinya"
"Anak baik!"
"Apa sih Adinda!"
"Boleh pinjam hp nya?"
"Buat apa kamu kan punya hp sendiri?" meski bilang begitu ia tetap memberikan kepada Adinda.
"Kamu hanya akan terus kesal jika melihat artikel tentangmu terus terusan, ayo tenangkan diri dan pikiran, pikirkan solusi agar kamu terbebas dari tuduhan"
"Hahhh... Kamu bicara begitu seolah ini adalah masalah orang lain, apa sedikitpun kamu tidak kesal suamimu di kait kaitkan dengan wanita lain?" Arash malah semakin kesal.
"Tentu saja aku baik baik saja, aku tak pernah memperdulikan tanggapan orang lain tuh"
"Dasar Adinda menyebalkan! Haruskah kubocorkan saja lokasi si Alexa agar para wartawan berhenti mengganggu keluarga Hutama?"
"Bukannya kamu sudah berjanji padanya untuk merahasiakannya apapun yang terjadi sampai dia siap untuk kembali?"
"Ya itu benar tapi janji dengan orang asing tak sepenting itu"
"Janji adalah janji, dia berusaha bunuh diri itu berarti masalahnya sangat berat, kamu nggak boleh meremehkan posisi orang lain hanya karena dia orang asing bagimu"
"Iya iya! Apa kakimu sudah mendingan?"
"Ya, ini sudah lebih baik"
__ADS_1
"Baguslah, ahhhh aku lapar, ayo turun aku akan menggendongmu" ucapnya seraya berjalan menghampiri Adinda.
"Apahh?? Aku bisa sendiri" Adinda terburu buru mengambil tongkatnya, namun belum sampai ia bergeser Arash sudah menggendongnya.
"Kyaaaa!!!! Turunkan aku" berontaknya dengan wajah memerah.
"Tenanglah..aku kan sudah janji akan menjadi kakimu sampai sembuh, jadi biasakanlah, lagian apa kau tak suntuk terus berada di kamar seharian kita harus makan siang di meja makan?"
"Ahhh dasar!!!" Adinda menutupi wajahnya karena malu, sedangkan Arash terus mengembangkan senyumannya berjalan melewati tangga dengan perlahan.
"Kamu berat juga" guraunya berbisik di telinga Adinda.
"Ahh bodoamat! Duhh malu banget Bi Murni ngelihatin" Adinda semakin salah tingkah di buatnya, terlebih Bi Murni yang sedang menghidangkan makanan di meja makan tampak mencuri pandang seraya tersenyum dengan malu malu melihat keduanya dari kejauhan.
"Tuan Arash" ucap Mirna tiba tiba membuat langkah Arash terhenti.
"Ada apa?"
"Ada tamu"
"Halooooo Arrrrr.." ucap riang Mikayla yang segera menghampiri Arash begitu mendengar suaranya dari ruang tamu. Mikayla terhenti ketika melihat Arash yang sedang berdiri dengan menggendong Adinda, wajahnya berubah masam. "Apa ini?" ucapnya.
"Kay? Kenapa kesini?" tanya Arash. "Mirna, bukannya hari ini kediaman tak menerima tamu?"
"Tapi Tuan, dia kan Nona Mikayla bukan orang lain, saya pikir tak akan masalah, maaf kalo saya salah Tuan" jawab Mirna gugup.
"Sudah kubilang jangan bahas itu lagi kan?" ucapnya seraya memindahkan Adinda ke kursi meja makan.
"Wahh..kebetulan aku juga lapar" Mikayla menarik kursi di samping tempat Arash duduk sementara Adinda duduk di hadapannya.
"Apa yang kamu lakukan Kay?" ucap Arash tak suka.
"Apa lagi? Makan bersama, bukankah ini bukan hal baru aku bergabung disini?" jawabnya dengan percaya diri.
"Yasudah, lakukan apapun yang kau mau, pulanglah setelah selesai makan!"
"Oke Arrr..hehe masakan Bi Murni selalu enak, dari kita kecil sampai dewasa begini rasanya tak pernah berubah, benar kan Arr.." ucapnya setelah suapan pertamanya.
"Hmmm"
Mikayla terus menerus membahas tentang masa kecil mereka untuk menekankan bahwa dirinyalah yang lebih mengenal dan lebih dekat dengan Arash, sementara Adinda hanya makan dalam diam, ia tahu tujuan sebenarnya Mikayla melakukan hal kekanak kanakan seperti itu.
"Aduhhhhh" tiba tiba Mikayla bangun karena tersiram air dari gelasnya yang tumpah. "Yah..bajuku basah Ar.. Gimana nih?" wajahnya panik.
"Pulanglah dan ganti baju di rumahmu!"
__ADS_1
"Nggak ah, baju dalamku terlihat, aku malu Ar, bisa pinjam kemeja kamu nggak?"
"Pinjamlah baju Adinda, kenapa harus pinjam kemejaku?"
"Nggak! Selera berpakaiannya denganku sangat beda, aku lebih suka memakai kemejamu, dulu pun kau sering meminjami bajumu kan"
"Hahhh...lakukan semaumu saja lah!" Arash tak ingin repot.
Mikayla segera naik menuju ke kamar Arash, ia tersenyum karena kamarnya masih sama seperti terakhir dia kesana dulu hanya ditambahkan lemari pakaian di sebelah lemari milik Arash.
"Apa ini milik wanita itu? Seleranya kampungan padahal dia desainer, yah pantas saja desainer kelas bawah!" ia membukanya dan ternyata memang benar itu adalah lemari yang dipenuhi oleh baju wanita. "Apa mereka benar benar tinggal di kamar yang sama? Hahhh memikirkannya saja membuatku kesal! Aku benar benar tak menyangka tindakanku sendiri akan membuatku menyesal begini" Gumamnya.
Mikayla kembali ke meja makan dengan kemeja putih yang kebesaran, paha mulusnya terlihat jelas.
"Hahhhh" Adinda menghela nafasnya setelah melirik Kay, ia tak habis pikir dengan tingkah polah wanita di hadapannya yang niatnya terlihat sangat jelas.
Tiba tiba Mariana datang dari arah depan dan sudah disambut oleh Bi Murni. "Dimana Arash dan Adinda Bi?" tanyanya begitu masuk.
"Mereka sedang di meja makan"
"Baiklah, aku akan kesana, kebetulan aku juga belum makan siang!"
"Tapi Nyonya---" Bi Murni hendak memberitahu kedatangan Mikayla namun Mariana sudah berjalan dengan cepat.
"Apa apaan kamu!" ucap Mariana yang tersentak melihat Kay dan penampilannya.
"Tantee--" tiba tiba Mikayla gugup karena tak mengira akan bertemu dengan Mariana di jam ini.
"Apa seperti ini penampilan kamu ketika berada di rumah orang lain? Benar benar tidak terdidik" ucapnya lantang.
"Saya bisa jelaskan Tante, tadi baju saya--"
"Cukup! Ganti baju dan pergi dari sini!" teriaknya. Mikayla pun bergegas pergi karena penjelasannya pun tak di dengar.
"Apa kamu nggak bisa lebih tegas sedikit dengan anak itu Arash?!"
"Sudahlah Maa, tadi bajunya kesiram air jadi dia meminjam bajuku"
"Dasar anak bodoh! Apa kau nggak bisa lihat tujuannya? Apa kau tak memikirkan perasaan Istrimu?"
Arash menoleh ke arah Adinda yang terdiam. "Aku nggak apa apa Ma, aku nggak peduli dengannya"
"Itu bagus tapi alangkah lebih baik jika seorang suami bisa menjaga perasaan Istrinya, mengusahakan agar istrinya tak berada dalam situasi seperti ini, kamu mengerti Arash?"
"Iya Maa"
__ADS_1
"Hah kamu sudah dewasa tapi nggak peka dengan hal hal seperti ini, membuatku frustasi saja!.. Sampai lupa, Mama pulang cepat karena ingin memberitahu langkah untuk meredam berita tak berdasar di luar sana, Adinda maaf tapi sepertinya kau harus muncul di pesta pendirian perusahaan 2 hari lagi sebagai istri dari Arash, kalian paham maksud Mama kan?"
Bersambung.