Menikahi Sang Mantan

Menikahi Sang Mantan
Artikel gosip


__ADS_3

Begitu sampai di kamarnya Adinda mengirim chat kepada Anya, setelah mendapat jawaban ia mulai melihat lihat internet dan menemukan sebuah artikel yang berjudul 'Artis peran Alexa Isnandar mencoba bunuh diri di kamar Hutama's Hotel' Melihat isi artikel tersebut membuat Adinda mengerti mengapa hari ini ia bertemu dengan Arash di rumah sakit.


1 jam 2 jam berlalu Adinda bangun dari tidurnya, ia melihat jendela diluar sudah gelap "Arrgghhhh sekujur tubuhku sakit semua" gumamnya setelah menggerakan tubuhnya yang sakitnya baru terasa.


Aku haus.


Adinda mengambil telefon rumah di atas meja di samping tempat tidur.


"Haloo, kediaman Hutama ada yang bisa dibantu?" seseorang menjawab panggilannya di ruang tengah.


"Bi Murni, ini Adinda, kakiku sakit bisa tolong ambilkan air minum?"


"Baik Nona, Bibi akan suruh Mirna segera"


"Terimakasih Bi" Adinda menutup sambungan telefon dengan mengembalikan di tempat semula.


Tok tok tok, tak lama seseorang mengetuk lalu membuka kamar Adinda, dia adalah Mirna yang membawa nampan berisi segelas besar air putih dengan wajahnya yang kesal.


"Manja banget sih baru aja sakit begitu.." gumamnya pelan seraya berjalan, namun Adinda bisa mendengarnya dengan jelas.


"Maaf ya Mirna, aku merepotkanmu.."


"Sudah tau merepotkan tapi tetap dilakukan! Kamu kira kamu Nona besar di rumah ini??" ucapnya menyolot.


"Iya Mir, aku nggak panggil kamu lagi deh, jangan marah marah dong" ucap Adinda santai, Mirna hanya meliriknya dengan tajam.


Brukkk!!! Ia meletakkan nampan di meja dengan keras hingga membuat air dalam gelas sedikit tumpah, Braaakkkk!! Mirna pun keluar menutup pintu dengan keras.


Adinda sadar dia hanyalah seorang menantu pengganti di rumah itu, ia memaklumi sikap buruk Mirna terhadapnya yang belum bisa menerima kehadirannya.


Prangggg!!!!! Tak sengaja Adinda menjatuhkan gelas kosong.


Aduh..aku ceroboh sekali..


Ia pun mencoba bangun untuk membersihkan sendiri pecahan gelas dengan tangan kosong, tiba tiba seseorang membuka pintu kamarnya membuat perhatiannya teralihkan ke arah pintu.


"Aduh.." tangannya berdarah tergores pecahan gelas.


"Adinda..apa yang terjadi? Aku datang karena mendengar suara pecahan" ucapnya seraya menghampiri Adinda.


"Mujin, aku tak sengaja menjatuhkan gelas"


"Hei!! Berhenti! Letakkan saja tanganmu berdarah!" Mujin membantu Adinda bangun lalu memindahkan Adinda ke sisi lain tempat tidur. "Diam disini Adinda, aku akan panggil ART untuk membersihkannya"


"Mujin---" Adinda mencoba menghentikannya namun Mujin sudah keluar dengan cepat, ia kembali bersama dengan mirna membawa kotak obat.


Mirna meliriknya dengan tatapan kesal dan sinis, kira kira Adinda tahu apa yang ingin diucapkannya itu namun karena ada Mujin Mirna hanya diam membereskan pecahan kaca dengan sapu lalu pergi.


"Panggillah aku jika butuh sesuatu Adinda" ucap Mujin seraya mengobati lalu membalutkan perban di telapak tangan Adinda.

__ADS_1


"Baiklah terimakasih Mujin"


"Padahal Arash melihatmu terluka dirumah sakit, tapi dia masih belum pulang juga?" Mujin mencoba memprovokasinya.


"Yah..mungkin dia masih sibuk"


"Sesibuk apapun jika itu aku pasti aku akan lebih memilih meninggalkan semuanya demi orang yang kukasihi" Adinda hanya diam seraya berfikir.


Klekkkkk!! Seseorang membuka pintu kamar, dia adalah Arash yang tampak terengah engah, sepertinya ia datang terburu buru namun ia dikejutkan oleh pemandangan di hadapannya, disana Mujin sedang berjongkok di hadapan Adinda yang duduk seraya memegang tangannya.


"Apa apaan ini?" ucap Arash yang merasa kesal istrinya berduaan di dalam kamar bersama laki laki yang paling di bencinya.


"Apa? Jangan salah paham aku sedang mengobati tangan Adinda yang tergores" Belum selesai bicara Arash mendorongnya hingga Mujin terguling di lantai.


"Kamu yang apa apaan!! Datang datang marah marah!! Mujin hanya membantuku apa yang kamu pikirkan?? Minta maaflah padanya!" ucap lantang Adinda membuat Mujin tersenyum smirk menatap Arash.


"Nggak!! Pergi dari sini!!" ucap Arash dengan menatap tajam Mujin.


"Yaa, baiklah..jangan marah marah" Mujin pun pergi.


Arash mendekati Adinda yang sedang kesulitan mengikat perban tangannya, ia meraih perban tersebut lalu mengikatnya. "Kenapa tak menghubungiku?"


"Ini hanya kecelakaan kecil, tak perlu merepotkanmu!" ucap Adinda seraya mengalihkan pandangannya.


"Kamu marah?"


"Nggak!"


"Kubilang nggak ya nggak!" suaranya meninggi.


"Oke okee.. Jadi apa yang terjadi denganmu?"


"Jatuh dari tangga!"


"Kok bisa sih!!!"


"Aku mengejar Kak Donny yang tiba tiba datang ingin membawa Bara, jadi..."


"Haruskah aku menghabisinya sekarang juga??" wajah Arash sudah sangat kesal mendengar nama itu disebut, "Atau haruskah kubuat dia tak bisa bekerja dimanapun?"


"Itu berlebihan! Sudahlah aku nggak suka kau berbuat hal seperti itu dengan memanfaatkan namamu!!"


"Hahhhhh..." Arash menghela nafas panjang mencoba menenangkan diri.


"Apa wanita itu Alexa?"


"Yang mana?"


"Yang tadi kau gandeng"

__ADS_1


"Iya, dia Alexa, aku membantunya pergi dari sana dan mengantarkannya ke suatu tempat" Arash mulai menatap Adinda lekat lekat "Jangan bilang kamu cemburu Adinda?"


"Hahhhh?? Mana mungkin!" jawabnya tegas.


"Hemmm..padahal aku ingin kamu merasa sedikit cemburu, sayang sekali.. Apa kau tahu betapa kagetnya aku tadi melihatmu terluka seperti itu? Dan yang lebih kaget lagi kenapa harus dua laki laki yang kubenci yang berada di sisimu!!"


"Memngnya kalau aku memanggilmu kamu akan langsung datang dan meninggalkan pekerjaanmu?"


"Tentu!"


"Sudahlah, kau tak bisa selamanya bersikap kasar kepada Mujin, untunglah ada dia yang membantuku ke rumah sakit, seharusnya kau berterimakasih kepadanya bukan malah mendorongnya, aku nggak suka kamu yang selalu memakai kekerasan!"


"Hmmmm..." Arash hanya terdiam.


Tok tok tok, mendengar suara ketukan pintu membuat Arash dan Adinda saling memandang. "Bukalah" ucap Adinda kepada Arash.


Arash bangun lalu membuka pintu, "Ada apa Maa?"


Mariana masuk melewati Arash "Apa yang terjadi sama Adinda? Kenapa terluka separah ini?" ucap Mariana menghampiri Dinda.


"Nggak separah itu Ma, aku nggak sengaja jatuh dari tangga"


"Duhhh.. Pasti sakit sekali, kamu gimana sih Jadi suami?" ucapnya kepada Arash.


"Kok jadi aku yang salah sih?" ucap Arash mengeluh.


"Tentu saja kamu yang salah, kamu seharusnya mengantisipasi agar Istrimu nggak sampai jatuh dari tangga" kekeh Mariana.


"Bukan salahnya Ma.. Aku yang salah karena tak hati hati" ucap Adinda.


"Tentu saja kamu juga salah, seharusnya hati hati, kalau ada masalah kau harus segera beritahu Mama mengerti?"


"Baik Maa"


"Mulai hari ini sampai sembuh jangan bekerja dulu, Mama akan kirim seorang Desainer untuk menggantikan pekerjaan kamu di butik"


"Itu nggak perlu Ma, aku bisa bekerja dari rumah dan sisanya bisa dikerjakan oleh 2 orang Pekerja butik, Mama nggak perlu kawatir"


"Begitu?? Baiklah, dan kamu Arash, mulai sekarang kamu harus jadi kaki Adinda sampai dia sembuh, mengerti!!"


"Tanpa Mama bilang pun aku akan melakukan itu!"


"Baguslah.. Mama bisa bekerja dengan tenang, kalau begitu---" Drrrrrttt tiba tiba ponsel Mariana bergetar panggilan dari sekretarisnya.


"Ada apa Pak Andy? Apaaahhhh!!! Ada berita bahwa Alexa Isnandar adalah menantuku? Gimana bisa beritanya jadi seperti itu? Bagaimanapun caranya cobalah hentikan berita itu mengerti??" Mariana menutup panggilan.


"Ada apa Ma?" tanya Arash yang sudah berfirasat tak enak.


"Apa yang kau lakukan sampai tersebar gosip seperti itu? Mama hanya memintamu menjenguk kenapa sampai difoto dengannya dengan bergandengan tangan pula diluar rumah sakit?!! Sekarang orang orang mengira bahwa Alexa adalah Istrimu dan mencoba bunuh diri karena tekanan menjadi menantu Hutama!" ucap Mariana marah.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2