
"Maaf, sepertinya saya tak bisa melanjutkan perjodohan ini, ini terdengar naif tapi sepertinya saya tak bisa menikah tanpa dasar cinta" Arash bangun dari duduknya.
"Kalau begitu beri saya waktu.. 3 kali saja berkencanlah denganku!! Saya akan pastikan anda jatuh cinta padaku!" ucapnya dengan penuh percaya diri.
"Apahh?? Jangan konyol!" Arash memperlihatkan wajah meremehkan.
Alexa bangun dari duduknya, "Jika dalam kencan ke 3 anda tak juga memiliki perasaan kepada saya maka pada saat itu saya akan menyerah, sebaliknya jika anda menolak saya sekarang berarti anda harus bersiap siap! Saya ini bukan orang yang pantang menyerah loh!" dia tersenyum menyeringai.
"Hahh.. Baru seperti ini kenapa rasanya aku sudah lelah" gummnya pelan.
Alexa kembali tersenyum "Saya bisa mendengar ucapan anda Tuan Arash, jadi bagaimana?"
"Baiklah, lakukan seperti itu, karena setelah kencan ketiga kamu akan pergi dengan sendirinya, pembicaraan kita sudah selesai, aku permisi!"
"Anda tak menawarkan diri mengantarku pulang? Ini sudah malam loh.."
"Tidak!" Arash berbalik badan lalu pergi dengan langkah kaki cepat tanpa menoleh lagi kebelakang, sementara Alexa terus menatapnya dari kejauhan dengan bibir tersenyum.
"Dia membuatku penasaran.." gumam Alexa.
Bukan tanpa alasan kepercayaan dirinya itu, dari wajah, penampilan, bentuk tubuh dan juga latar belakang keluarga terpandang yang sempurna membuatnya yakin bahwa semua laki laki tak akan ada yang bisa menolak pesonanya tak terkecuali Arash. Ia pikir dalam hidupnya itu hanya memiliki satu kelemahan yaitu kasus percobaan bunuh dirinya.
Dua hari kemudian di hari minggu adalah kencan pertama mereka yang sudah di janjikan, seperti orang orang kencan pada umumnya, Alexa mengajak Arash menonton di bioskop, menonton film komedi romantis yang sedang populer baru baru ini.
Sudah susah payah Alexa membuat rencana, tapi saat ini, disaat saat semua penoton tertawa dan bereaksi terhadap jalannya cerita bahkan Arash hanya fokus pada ponselnya terus menerus, hal itu membuat Alexa meradang, tapi ia merasa harus sabar karena ini barulah permulaannya.
Alexa mengelus dadanya beberapa kali melihat Arash yang tak pernah menanggapi ucapannya tentang kesan dari film dan juga pemainnya. Lalu Alexa yang beberapa kali mencuri curi kesempatan untuk melakukan skinship ringan namun Arash terus menerus menghindar dengan sangat natural.
Kini kesannya tentang Arash mulai sedikit berubah.
Laki laki batu!
__ADS_1
Begitu film selesai Arash langsung bangun tanpa menoleh sedikit pun kepada Alexa yang berada di sampingnya seolah ia telah menunggu nunggu kesempatan untuk melarikan diri dari ruangan bercahaya remang remang itu.
Alexa masih mencoba tersenyum, bahkan ia dengan senang hati mengikuti Arash di belakangnya sampai mereka diluar.
"Gimana filmnya?" Alexa masih berusaha mengobrol dengan Arash meski pertanyaan itu ia sendiri sudah tahu jawabannya.
"Entahlah.." Jawab Arash santai.
"Hmmm.. Menurutku pemeran utama prianya kurang menghayati perannya, yah maklum saja dia adalah aktor pendatang baru.. Bla bla blaaa.." Seketika ia melirik ke arah Arash yang berdiri di sampingnya, Alexa menghela nafasnya lagi, entah sudah berapa kali ia menghela nafas hari ini. Arash bahkan tak mendengarkannya berbicara.
Tiba tiba langkah Alexa terhenti, orang orang yang berlalu lalang mulai berbisik bisik melihat Alexa, tentu saja itu karena wajahnya masih dikenali oleh banyak orang, tapi itu bukanlah lagi masalah baginya.
Alexa melihat lagi ke arah Arash, betapa kesalnya Alexa kepada Pria yang amat sangat acuh tak acuh padanya itu, bagaimana bisa dia terus berjalan sementara orang yang pergi bersamanya tertinggal.
Apa aku menyerah saja?
Setelah jauh Arash barulah menyadari Alexa tak berada di sekitarnya, mata Arash mulai mencari cari keberadaan Alexa, terlihat Alexa yang pergi berjalan ke arah yang berbeda, bibir Arash terangkat, ia tersenyum menyeringai.
"Siapa yang kemarin bilang tidak mudah menyerah?" Gumam Arash, ia pun pergi sendiri dengan santai.
Bruuukkkkk!!
Tiba tiba seorang gadis kecil dengan rambut di kuncir dua yang terlihat sangat manis menabraknya dan tubuh kecil itu jatuh terpental.
"Huwaaaa!!!" anak itu menangis dengan keras membuat Arash panik, ia pun lekas membantunya berdiri.
Tiba tiba seseorang menghampiri mereka dengan tergesa gesa. "Tuan Putri!! Kamu nggak papa? Apa kamu terluka?" ucap Henry, ia memeriksa lutut dan siku Jean.
Betapa terkejutnya Arash melihat orang yang ia anggap sudah merebut Adinda dan juga ternyata anak di hadapannya itu adalah putri mereka.
Raut wajah Arash menjadi sangat gelap, Henry menoleh ke arah Arash, ia terdiam begitu menyadari bahwa orang yang di tabrak oleh Jean adalah Ayahnya sendiri, Henry mulai bingung dengan ekspresi apa yang seharusnya ditunjukannya padanya.
__ADS_1
Henry menggendong Jean yang sudah berhenti menanangis, anak itu menatap Arash dengan lekat lekat. "Tidak ada yang sakit kan?"tanya Henry.
"Aku idak apa apa Papi! Paman itu yang menabrakku!!" Jean menunjuk Arash tepat di depan wajahnya.
"Apah?! Sudah jelas jelas kamu yang menabrakku!!" Arash pun tak mau kalah.
"Sudah sudah, jadi anak baik yah, Jeje harus minta maaf karena Jejelah yang menabraknya" kata Henry seraya membelai kepala Jean.
Jean mengangguk, "Baik Papi, maafkan aku ya Om he he" anak itu tersenyum manis menatap Arash.
Arash pun tak bisa mengabaikan keimutannya itu, anak itu benar benar mirip Adinda, mungkin dulu Adinda terlihat seperti ini saat kecil.
"Papi.. Om nya diam ajaa!"
"Hahh.. Sudahlah, lupakan saja!" jawab Arash salah tingkah, rasanya ia seperti sedang menatap Adinda.
"Kudengar kau di Amerika? Kapan kau kembali?" tanya Henry tiba tiba.
"Bukan urusanmu!! Urus saja anakmu itu!! Jangan sampai dia menbrak orang lain lagi!" jawab Arash lalu ia segera pergi karena ia melihat Adinda yang menuju kesana dari kejauhan.
Henry pun bingung, ia yakin bahwa Arash melihat Adinda.
"Tapi kenapa kesannya dia seperti menghindarinya? Tadi dia bilang anakmu? Apa dia pikir Jean adalah anakku dan Adinda? Itukah sebabnya dia marah dan tak mau menemui Adinda sekembalinya disini?" batin Henry menatap Arash yang menjauh.
"Henry, terimakasih sudah menjaga Jeje saat aku ke kamar mandi, aku lihat dari kejauhan tadi kau bersama seseorang? Siapa dia?" ucap Adinda.
Tiba tiba jantung Henry berdebar hebat, haruskah ia memberitahukan tentang Arash atau..."Oh?? Bukan siapa siapa, ayo kita pulang"
"Oh? Oke deh"
Henry berjalan seraya terus berfikir, sepertinya Adinda belum tahu tentang kembalinya Arash, apa yang akan terjadi jika Adinda mengetahuinya? Tanpa ragu dia pasti akan segera berlari ke arahnya dan memberitahukan tentang Jean padanya, pada akhirnya Henry merasa ia akan kembali ditinggalkan.
__ADS_1
Maaf Adinda.. Aku tak bisa memberitahumu, aku takut kamu dan Jeje akan meninggalkanku, selama masa masa terberatku kalian selalu menemani dan sekarang aku tak yakin bisa hidup tanpa kalian. Kuharap kalian tak pernah bertemu lagi dengan orang itu!.
Bersambung.