Menikahi Sang Mantan

Menikahi Sang Mantan
Melepasmu


__ADS_3

4 Tahun kemudian.


Suasana meriah bertabur pernak pernik cantik penuh warna dan ceria di sebuah aula yang bertepat di Hutama's Hotel.


Anak anak dan juga orang dewasa berada di tengah tengah dekorasi yang dipenuhi balon merah muda tersenyum gembira dengan bertepuk tangan serentak menyanyikan lagu selamat ulang tahun dengan seorang anak kecil cantik nan ceria memakai gaun putih seperti seorang putri, dia di gendong oleh Adinda yang memakai gaun senada dengannya dan dikelilingi oleh seluruh anggota keluarga Atmaja sebagai pusatnya.


Tiba saatnya gadis cilik berkulit putih bermata bulat itu meniup lilin ulang tahunnya yang ber angka 3, gadis kecil itu meniup dengan sangat antusias, setelah lilin berhasil padam seketika tepukan tangan dan sorakan orang orang semakin keras.


Satu persatu mengucapkan selamat ulang tahun untuknya, dia terlihat amat sangat bahagia, Adinda pun ikut bahagia melihat Putri kesayangannya bahagia.


Dari Arah pintu aula terlihat seorang pria tinggi berkulit sawo matang berambut sebahu yang di ikat, membawa sebuah boneka besar di tangannya, dia sangat manis dan berkarisma, ketampanannya semakin menonjol seiring bertambahnya usianya, auranya yang biasa ramah dan positif membuat semua orang menatap kagum ke arahnya, dia adalah Henry.


"Pappiiiii!!!" ucap gadis kecil itu turun dari gendongan Adinda lalu berlari menyambut Henry dan memeluknya.


"Maaf aku terlambat Tuan Putriku" kata Henry menggendong dan memeluknya.


"Idak macalah Papi.. Aku cuka Papi datang hehe"


"Aku juga menyukaimu Tuan Putriku sayang, selamat ulang tahun, ini hadiah untukmu, nih" Henry memberikan boneka beruang coklat besar di tangannya.


"Wahh Teddy Beal!.. Telimakacih Papi, aku cuka!" gadis kecil bernama Jean Ady Atmaja itu memeluk erat boneka yang sebesar dirinya.


Adinda menghampiri keduanya, "Maaf ya Henry, Jeje ayo turun, jangan merepotkan Paman Henry!"


"Idak mau!" tegas anak itu memeluk Henry lebih erat.


"Adinda.. Sudahlah, Jeje kan masih anak anak, aku sama sekali nggak masalah, aku juga sangat menyukainya hehe"


"Hmmm.. Kalian berdua sama saja!"


"Hehe" Jeje turun dari gendongan Henry, ia menggandeng tangan Adinda dan satunya lagi menggandeng tangan Henry, Jeje mengajak mereka berjalan bergandengan tangan menjauh dari keramaian.

__ADS_1


"Mau kemana sayang? Teman teman kamu ada disini, kakek nenek dan kakek buyut nanti mencari kita" kata Adinda dengan matanya melirik kebelakang mencari cari keberadaan keluarganya.


"Aku cape Mami, aku mau pulang, dicini belicik"


"Eh?? Mami lihat tadi kamu sangat bersemangat tuh!" Adinda dan Henry saling memandang lalu tersenyum dengan tingkah dan ekspresi menggemaskan Jean.


"Mami aku mau ke toilet dulu"


"Oke!"


Adinda dan Jean masuk ke dalam toilet wanita sedangkan Henry menunggu jauh dari toilet.


Disisi lain, Arash duduk di meja kerjanya di kantor Pusat Hutama Grup, dia duduk di meja bertuliskan wakil Direktur di atasnya, wajahnya mengernyit dan semakin gelap setelah melihat beberapa foto di ponselnya dari percakapannya bersama seseorang.


Kraaakkkk!! Arash membanting ponselnya di atas meja kaca, beberapa kali ia mengusap wajahnya mencoba menenangkan diri dari amarah yang memenuhi pikirannya.


Kedua tangannya terus menerus mengepal di atas paha, tak lama kemudian ia bangkit dari duduknya, mengambil jas yang tergantung di pojok ruangan lalu memakainya, ia juga mengambil kunci mobil di atas meja kerjanya sebelum ia keluar dari ruangan itu.


Brummm.. Mobilnya berhenti di depan Hutama's Hotel, ia turun dalu melemparkan kunci mobilnya kepada petugas vallet, kemudian masuk ke dalam sana melewati koridor, tiba tiba ia melihat wajah seseorang yang sangat ingin dihindarinya.


"Apa urusanmu?!!" jawab Arash acuh.


"Hahh.. Kau masih sama saja!"


"Kau juga masih sama! Sama menyebalkannya sejak dulu!"


"Hahaha, berkat dirimu yang pergi sangat lama sekarang akulah yang memegang kendali hotel ini, terimakasih ya..oh ya, ngomong ngomong apa otakmu sudah bisa kembali berfungsi normal?"ledek Mujin.


"Aku tak ingin membuang waktu dengan menjawab omong kosongmu itu" Arash pun melanjutkan langkahnya.


"Oh iya, Adinda! Dia adalah cucu satu satunya Tuan Dewangga Ady Atmaja, hidupnya kini bergelimang harta, bahkan malam ini dia merayakan ulang tahun anaknya di aula hotel ini, eh.. Apa kamu sudah tahu makannya kamu datang meski tak diundang?" ucapan Mujin membuat langkah Arash kembali terhenti. "Selama ini aku sudah berusaha keras mendekatinya tapi siapa sangka dia sudah berhubungan dengan lelaki lain dan memiliki anak di saat hidupmu berada di ujung tanduk, aku tak menyangka ternyata Adinda semurahan itu"

__ADS_1


Mendengarnya membuat Arash mengepalkan tangannya juga menggertakan gigi. Arash berbalik badan lalu mencengkeram kerah pakaian Mujin. "Jaga bicaramu!" tangan Arash sudah bersiap untukmemukulnya.


"Apa ini? Kamu membelanya? Astaga Arash.. Aku sangat kasihan padamu, setelah dihianati saat kau sedang sekarat rupanya kamu masih begitu mencintainya?" Mujin menggeleng gelengkan kepalanya dengan mimik wajah mencemooh.


Arash melepaskan cengkeramannya dengan mendorong tubuh Mujin dengan kuat. "Jangan bicara padaku lagi atau aku akan benar benar menghabisimu!!" Arash segera berlalu pergi.


Sedangkan Mujin merapikan kembali bajunya dengan wajahnya yang tersenyum smirk seraya matanya menatap punggung Arash yang semakin menjauh. "Yah.. Menjadi penonton rupanya sangat menarik hihi" gumamnya.


Tiba tiba langkah Arash kembali terhenti, dari kejauhan ia melihat Adinda bergandengan tangan bersama seorang pria yang dikenalnya dengan anak kecil yang berada di tengah sedang menuju ke arahnya dengan langkah mereka yang dipenuhi dengan canda tawa, mereka bertiga terlihat sangat bahagia.


Raut wajah Arash semakin gelap, ia melanjutkan jalannya berbelok agar tak berpapasan dengan mereka.


Tiba tiba Adinda tersentak, sekilas ia melihat seorang pria yang sangat mirip dengan Arash berbelok di hadapannya, Adinda melepaskan tangan Putrinya lalu ia berlari ke arah pria itu membuat Henry sangat terkejut.


Langkah kaki Adinda terhenti, nafasnya ter engah engah, matanya menoleh ke sekitarnya, dalam sekejap ia kehilangan jejak pria itu.


Apa aku berhalusinasi? Apa akhirnya aku benar benar menjadi gila?


Adinda mengusap keringat di dahinya, "Benar benar menyedihkan, padahal aku tahu dia ada di Amerika.." gumamnya.


"Ada apa Adinda?" Henry menyentuh pundak Adinda dari belakang. Adinda pun menoleh, "Apa kamu mencari seseorang?"


Adinda menggeleng, "Sepertinya aku salah orang" bibirnya tersenyum getir.


"Yasudah, jangan terlalu di pikirkan! Ayo aku antar kalian pulang"


"Oke"


"Aku mau digendong Papi!" ucap Jean mengulurkan kedua tangannya kepada Henry, Henry pun tersenyum kemudian menunduk.


Setelah ketiga orang itu menjauh Arash muncul dari balik salah satu dinding, perasaannya sangat sakit, awalnya ia masih ragu jika anak kecil itu adalah anak Henry seperti yang orang lain katakan, namun begitu mendengar panggilan anak itu kepada Henry kini Arash yakin.. Bahwa kini dirinya benar benar harus mengikhlaskan Adinda bahagia dengan pria yang bisa membahagiakannya lebih dari pada dirinya.

__ADS_1


Adinda.. Silahkan berbahagia.. Kali ini aku benar benar akan melanjutkan hidupku tanpa dirimu..


Bersambung.


__ADS_2