
Keesokan harinya di meja makan.
Mariana melirik Arash dan Adinda bergantian "Kalian berdua mengapa pulang terlambat tadi malam? Apa terjadi masalah?"
"Tidak ada apa apa Ma, kami mampir ke suatu tempat" Jawab Arash.
"Oke, aku bertanya karena pipi sebelah kiri Adinda sedikit bengkak dan kebiruan, apa seseorang memukulmu?" ucapan Mariana membuat Arash tersentak, ia langsung menoleh ke arah Adinda yang duduk di sebelahnya.
Adinda memegangi pipinya "Saya tidak apa apa Ma, ini karena saya bertengkar dengan Kakak saya"
"Kakak? Bukannya kakak kamu sudah lama pergi dari informasi yang kudengar?"
"Benar, dia baru saja kembali dan sudah pergi lagi"
"Dia tak akan menjadi masalah kan?" tanya Mariana membuat Adinda tertegun.
"Dia sudah pergi dan tak tahu hubunganku dengan keluarga ini"
"Bagus"
Setelah menyelesaikan sarapan Mariana segera pergi, begitu juga Arash dan Adinda.
Suasana di dalam mobil masih hening, beberapa kali Arash melirik ke arah Adinda. "Kau baik baik saja?" ucapnya dengan ragu ragu.
"Tentu, terimakasih kau sudah menghiburku"
"Ehemmm.. Itu bukan apa apa, meski bukan kamu aku akan tetap melakukan hal yang sama" ucapnya dengan malu malu.
"Okee Tuan penghibur" Adinda tersenyum tipis.
"Heiiii!!!"
"Eh eh lihat depan!" tunjuknya.
Di depan mereka melihat Mikayla yang sedang melambai lambai ke arah mobil Arash. "Apa yang dilakukannya?" gumam Arash seraya menghentikan mobilnya lalu ia turun dan menghampirinya.
"Apa yang sedang kamu lakukan Kay?"
"Untunglah kau datang Arr" ucapnya senang "Mobilku mogok" ia menunjuk mobil yang terparkir di pinggir jalan.
"Mau aku bantu panggilkan montir kenalanku?"
"Aku sudah memnggilnya, tapi akan memakan waktu cukup lama bolehkah aku ikut mobilmu? Tolong antar aku ke perusahaan ayahku"
"Ya, baiklah, tapi aku akan mengantar Adinda terlebih dahulu"
"Oke" Mikayla pun berjalan ke arah mobil Arash, ia membuka pintu depan samping kemudi tempat Dinda berada. "Aku mau duduk di samping Arash, kau pindah kebelakang!" perintahnya membuat Adinda dan Arash tercengang.
"Apa sih Kay, duduklah dibelakang!" pinta Arash.
"Nggak mau, sudah lama aku tak bertemu denganmu, hubungan kita menjauh sejak kau menikah, aku ingin kita kembali seperti dulu lagi"
"Kay---"
"Aku mengerti" sela Dinda yang berjalan keluar dan kembali masuk duduk di kursi belakang, Dinda tak mau ambil pusing dan hanya ingin cepat sampai, Mikayla pun tersenyum puas dengan kemenangannya.
"Cepat pakai sabuk pengamanmu!" ujar Arash melirik kepada Mikayla.
"Oke, ayo jalannnnn"
__ADS_1
Diperjalanan Mikayla terus saja membicarakan tentang kedekatannya dengan Arash sembari matanya terus melirik ke arah kaca spion memperhatikan reaksi Adinda, namun Adinda hanya terdiam dan mengalihkan pandangannya ke arah luar sampai mereka sampai di depan butik, setelah Dinda turun mobil Arash langsung pergi lagi.
"Kamu sengaja kan Kay?" ucap Arash tak senang.
"Sengaja apa maksudnya? Aku tak paham"
"Kau terus menerus membicarakan masa kecil dan bagaimana hubungan kita dulu agar Adinda cemburu?"
"Jangan salah paham dong, aku cuma merindukan masa masa kita dulu"
"Jangan membuat alasan! Bukankah Adinda menikah denganku sesuai keinginanmu? Kenapa kau sekarang bersikap seperti ini padanya?"
"Aku menyesal Arr, seharusnya aku tak mempertemukanmu dengannya lagi, emmm tapi kalau boleh tahu kenapa kalian berdua putus waktu itu?"
"Aku tak mau memberitahumu dan jangan pernah mencari tahu!!" tegasnya.
"Oke"
Aku tak boleh mencari tahu katanya? Membuatku semakin penasaran saja...
"Sudah sampai, turunlah cepat, gara gara kamu aku kesiangan"
"Iihh jangan marah marah gitu dong, aku turun sekarang, terimakasih tumpangannya.."
Brruuuummmmmm.. Arash segera menjalankan kembali mobilnya tanpa memperdulikan sapaan Mikayla.
.
Begitu sampai dibutik Adinda dan Lina segera bersiap untuk memasangkan gaun pengantin rancangannya pada klien yang akan menikah hari ini.
"Semuanya sudah beres kak, selamat bekerja semoga butik kita semakin dikenal luas, semangat!!!"
"Siap Kak, ehh ngomong ngomong pipi kakak bengkak? Apa jangan jangan Kak Arjuna yang memukulmu?"
"Kau tau Kak Juna mendatangiku?"
Lina mengangguk dan wajahnya terlihat merasa bersalah "Maafkan aku kak"
"Kenapa jadi kamu yang minta maaf?"
"Kemarin sore dia datang kerumah dan aku memberitahu keberadaan Kakak, ahh aku bodoh! Harusnya tak kuberitahu, padahal aku sudah tahu sifatnya, apa dia meminta uang?"
"Ya, sudahlah kau tak perlu kawatir, dia sudah janji tak akan menemuiku lagi"
"Apa kakak yakin? Bagaimana kalau dia datang lagi dan memukul Kakak lagi?"
"Entahlah.. Sebelum dia memukul aku yang akan memukulnya duluan"
"Benar, kakak harus membawa pemukul bisbol untuk jaga jaga!!"
"Hahah, sudahlah aku pergi sekarang"
"Duuhhh, aku susah pesan taxi kak" keluhnya seraya menatap layar ponsel.
"Nggak papa, aku akan cari taxi lewat di depan" Adinda menarik 2 koper membawanya keluar.
"Aku akan antar kak"
"Oke"
__ADS_1
Disaat yang bersamaan sebuah mobil berwarna putih berhenti di depan cafe yang masih di renovasi, tak lama Henry keluar dari mobil itu, ia tersenyum menyapa Adinda.
"Hai, mau kemana?"
"Mau antar gaun, kau baru datang Henry?"
"Ya"
"Kalau begitu sampai jumpa, aku akan mencari taxi" Adinda dan Lina melangkah ke pinggir jalan.
"Kak, sepertinya pemilik cafe menyukaimu" bisik Lina di telinga Dinda.
"Eiii mana mungkin"
"Lihatlah tatapan matanya yang masih menatap kakak itu" mereka berdua menoleh ke arah Henry yang masih memperhatikan, Henry pun tersenyum.
"Taxiii!!!" Adinda melambai lambai namun sudah beberapa taxi mengabaikannya karena sudah memiliki penumpang.
"Mau aku antar Dinda?" tiba tiba Henry sudah berada tepat di belakang.
"Tidak tidak usah, kau pasti sibuk"
"Tidak tuh, malah aku sangat senggang hari ini, alangkah lebih baik kalau hari ini aku bisa berjalan jalan"
"Tapiii..." Adinda masih ragu ragu.
"Sudahlah Kak terima saja tawarannya kalau terlalu lama berpikir kakak bisa terlambat" celetuk Lina yang di sambut anggukan setuju oleh Henry.
"Apa benar tak merepotkan?"
"Benar, ayoo" Henry mengambil dua koper di tangan Adinda dan membawanya lalu memasukannya ke dalam bagasi.
"Dah kak..semangat" Lina melambai lambaikan tangan begitu Adinda mobil dijalankan, Adinda pun membalasnya.
"Apa kalian Kakak beradik kandung? Tapi wajah kalian tidak mirip" tanya Henry sembari fokus mengemudi.
"Kami sepupu"
"Ahhh sepupu.. sepertinya dia anak yang baik"
"Benar, apa kau tertarik pada Lina? hehe"
"Eiii, aku terlalu tua untuknya"
"Siapa bilang! Ehh tunggu, apa kau belum menikah?"
"Aku masih lajang"
"Ahhh begitu, ngomong ngomong terimakasih untuk tadi malam, kirimlah nomer rekeningmu, aku akan mengganti uangmu, tapi sepertinya tak bisa langsung semuanya, bisakah aku mencicilnya 3 kali?" ucap Dinda canggung.
Henry tersenyum "Lakukan sesui keinginanmu Adinda, santai saja, kita belum bertukar nomor ponsel, simpan dulu nomorku 0812xxxx"
"Oke, terimakasih Henry, aku akan segera melunasinya"
"Ya ya ya aku mengerti, ngomong ngomong kita mau kemana nih?"
"Wah sampe lupa, ke Hutama's Hotel"
"Okee.. Kita akan tiba 5 menit lagi" Henry menginjak gas untuk mempersingkat perjalanan.
__ADS_1
Bersambung.