
Di tempat sepi di koridor rumah sakit Arash berhadapan dengan seorang petugas kepolisian yang bernama Mahendra Dwi Angga, saat itu usianya 30 tahun, dia polisi muda yang penuh semangat dalam menyelesaikan setiap kasusnya.
"Ada apa anda meminta berbicara berdua saja dengan saya Tuan Arash?" tanya Mahendra.
"Bisakah anda merahasiakan tentang penyebab kecelakaan yang tadi anda katakan?"
"Merahasiakan?"
"Benar, aku tak mau supir taxi yang menabrak mobil Kakekku di sebut sebut di manapun khususnya orang orang dari media"
"Kenapa anda ingin merahasiakannya? Bukankah disini pihak anda sangat dirugikan? Bahkan anda kehilangan Ayah anda" petugas itu tampak menatap Arash dengan penuh kecurigaan.
"Itu urusanku sendiri"
"Apa yang harus saya katakan kepada atasan saya tentang kasus ini? Apa anda ingin saya berbohong kepada semua orang?" Mahendra mulai mengernyit tak suka.
"Tutup kasusnya dan anda tak perlu menjelaskan apapun kepada siapapun!!" tegas Arash.
"Hahh.. Sepertinya anda seorang mahasiswa, hei Nak, kau harus meminta persetujuan keluargamu sebelum memutuskan hal sepenting ini"
"Anda hanya perlu menutup kasusnya atau aku yang anak anak dimatamu ini akan menghancurkan karirmu!!" ucap Arash dengan tatapan tajam.
"Hahh.. kamu mengancamku? Kamu berani mengancam Polisi?"
"Tidak, ini bukan ancaman tapi permintaan, jika anda berniat buka mulut saya sendiri yang akan mengajukan permintaan ini kepada atasan anda langsung! Kira kira bagaimana karirmu selanjutnya?"
"Hahh.. Baiklah aku akan menutup kasus sesuai keinginanmu, tapi kuharap kau akan menyesal!!" jawabnya kesal, kemudian ia pergi dengan cepat.
Arash pun kembali ke sisi Ibunya, Mariana sudah sedikit tenang. "Maa.." Melihat putranya Mariana segera memeluk dan bersandar padanya.
"Ayahmu..ayahmu sudah pergi.." ucapnya seraya terisak.
"Tenanglah Ma..ikhlaskan saja, masih ada aku, aku akan selalu ada untuk Mama" Tangisan Mariana kembali pecah.
Setelah pemakaman keadaan Mariana semakin terpuruk apalagi kondisi Kakek Arash yang semakin memburuk dari hari ke hari, Mariana tak memiliki waktu memikirkan tentang penyebab kecelakaan, ia hanya dengar dari Arash bahwa supir taxi yang menabrak mobil Ayahnya sudah ditangkap dan menerima hukuman yang setimpal, lalu ia bilang sudah memblokir semua artikel artikel yang memberikan efek buruk kepada kelangsungan perusahaan, Mariana pun hanya bisa percaya sepenuhnya kepada putranya sembari menyesuaikan diri dalam pekerjaan di tengah suasana duka.
Semakin hari rasa bersalah Arash kepada Ibunya semakin besar, hal itu membuatnya tak bisa lagi menatap atau bahkan sekedar menemui Adinda, sampai akhirnya ia memutuskan untuk menjauh dari semua orang, setelah keadaan Mariana lebih baik ia melanjutkan pendidikannya di Kanada, tempat Mikayla bersekolah.
.
Keesokan harinya, Lina datang ke butik, saat itu pintu sudah terbuka, ia masuk dan matanya mencari cari keberadaan Adinda yang datang lebih awal darinya.
__ADS_1
"Kak.. Kakak dimana?" ucap Lina lantang.
Adinda datang menghampirinya, pakaiannya sudah rapi dengan tas di tangannya. "Aku harus pergi Lina, apa kau bisa mengurus butik sendiri?"
"Iya, aku baik baik saja, tapi hari ini 2 orang akan melakukan wawancara Kak.."
"Kau saja yang mewawancarainya, kau bisa menentukan kelayakan pekerja yang akan bekerja bersamaa kita kedepannya, aku percaya padamu!"
"Baiklah, tapi Kenapa kakak mau pergi lag?"
"Aku ada urusan, dan mulai hari ini aku kembali tinggal disini"
"Apah? Kenapa? Apa Kakak bertengkar dengan Kak Arash?"
"Bukan, ceritanya panjang jadi aku akan memberitahumu nanti saat aku kembali"
"Baiklah"
Baru beberapa langkah berjalan kakinya kembali berhenti, wajah Adinda mengernyit, tangannya memegangi dahinya yang tiba tiba pusing. "Arhh.."
Lina segera menghampirinya "Kenapa Kak? Kakak sakit? Wajah Kakak sangat pucat"
"Kepalaku sakit dan perutku rasanya tidak enak, apa karena aku belum makan ya?"
"Nggak usah Lin, aku akan membelinya sendiri, aku nggak apa apa"
"Kakak yakin?" Adinda mengangguk. "Kalau begitu Kakak jangan naik motor, aku aakan pesankan taxi, kakak nggak boleh menolak oke?"
"Ya, baiklah"
Beberapa saat berlalu, Adinda tiba di kantor polisi tempat orang bernama Mahendra Dwi Angga bertugas dulu. Namun tak semudah itu.. Adinda di beri tahu oleh rekannya bahwa Mahendra saat ini sedang cuti dan akan kembali bertugas 5 hari lagi.
Adinda pun berjalan keluar dengan perasaan kecewanya, langkahnya terhenti, rasanya ia tak bisa menunggu selama 5 hari. Akhirnya Adinda kembali ke dalam.
"Maaf, permisi Pak, saya ada urusan yang sangat mendesak dengan Beliau, apa saya bisa tahu dimana alamat rumahnya?" tanya Adinda kepada polisi yang berjaga, kedua orang itu tampak saling memandang.
"Kami tidak kenal dengan anda maka dari itu kami tidak bisa memberikan alamat rumah petugas polisi kepada sembarang orang.."
"Apa benar benar tak bisa?"
"Tidak! Tapi.. Sepertinya anda bisa menemuinya di danau tempat pemancingan di jakarta selatan"
__ADS_1
"Oh..benarkah? Dimana tepatnya Pak?"
Orang itu tampak berpikir, "Dimana ya, namanya.. Gala...aku lupa dia pernah menyebutnya, carilah sendiri!!"
"Tak apa, baiklah, terimakasih informasinya Pak"
"Ya ya.."
Adinda terus mencari orang itu dari satu tempat pemancingan ke tempat pemancingan lainnya, sampai tiba saatnya ia berada di tempat pemancingan terakhir yang ia temukan di internet.
Adinda memutari tempat itu memperhatikan satu persatu wajah orang yang baru pertama kali ditemuinya itu dengan berbekal sebuah foto yang diambilnya dari media sosial Mahendra.
Adinda hampir menyerah karena sepertinya ia sudah mengitari tempat itu namun belum juga menemukannya, padahal hari sudah sore dan pemancingan sebentar lagi tutup.
"Hahhh..." Adinda menghela nafasnya, kepalanya terasa sangat berat, ia pun istirahat sejenak duduk di kursi kayu di pinggir danau, lalu beberapa saat ia kembali bangun dan berjalan keluar, ia sudah pasrah jika memang tak bisa menemui orang itu hari ini, ia pikir ia akan kembali besok dan besoknya lagi sampai berhasil menemuinya.
Duuukkkk!! "Aww.." Seseorang menabrak Adinda dan ia hampir terjatuh ke danau, untunglah seseorang menangkapnya tepat waktu. "Terimakasih" ucap Adinda menatap orang yang masih memegangi punggungnya. "Anda? Pak Mahendra Dwi Angga?"
"Kamu mengenalku?" Adinda mengangguk, "Yah, aku ini memang lumayan terkenal sih" ucap pria berusia 40an yang penampilannya lebih terlihat seperti preman dari pada Polisi.
"Terimakasih"
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu"
"Tunggu Pak"
"Ada apa?"
"Apa kita bisa berbicara di suatu tempat? Saya datang kesini karena ingin bertemu dengan anda"
"Oh?? Baiklah, mari duduk disitu, kau punya waktu sampai tempat ini tutup setengah jam lagi"
"Baik!"
Mereka pun duduk berdampingan di kursi kaya pinggir danau. "Katakan yang ingin kau katakan!" ucapnya tegas.
"Sepuluh tahun lalu benar anda yang mengurus kasus kecelakaan Darius Hutama dan Menantunya kan?"
Deg, tiba tiba Mahendra tersentak. "Benar, tapi kasus itu ditutup oleh pihak keluarga dan tidak ada yang bisa saya katakan, apa anda wartawan?" Mahendra menatap penuh kewaspadaan.
"Bukan, saya Adinda Maharani, menantu dari keluarga Hutama sekaligus Putri dari Ammar Yadityan, supir taxi yang mengalami kecelakaan di hari yang sama sepuluh tahun lalu, anda bahkan datang ke rumah saya setelah pemakaman, apa anda tak ingat saya?"
__ADS_1
Bersambung.