Menikahi Sang Mantan

Menikahi Sang Mantan
Menginginkan milik orang lain


__ADS_3

Arash berjalan dengan cepat membuka pintu ruang kerjanya. "Lee Mujin!!" teriaknya begitu melihat Mujin yang duduk di kursinya dengan kakinya yang berada di atas meja dengan menyandarkan punggungnya.


Mujin tersenyum cerah melihat reaksi Arash "Ada apa sih teriak teriak, ngomong pelan pelan saja Arash" jawabnya santai.


"Dasar gila! Apa yang sedang kau lakukan dengan menerobos masuk ke ruanganku?!"


"Aku cuma mau lihat lihat ruangan kerjamu karena penasaran, dan aku menyukainya.. Kursimu ini sangatlah nyaman!"


"Bicara apa kau ini!!"


Mujin pun bangun "Hahhh..entah mengapa apapun yang kau miliki terasa sangat nyaman untukku, mulai dari Ayahmu, rumahmu, tempat kerjamu dan juga Istrimu..membuatku semakin serakah ingin juga menikmati hal hal yang kau miliki, kenyamanan yang selama ini kau nikmati"


Tangan Arash mengepal "Dasar gila!! aku benar benar akan menghajarmu habis habisan jika kau dengan tak tahu dirinya menginginkan milikku!!, pergi kau!!!"


"Hahhh!!! Padahal seharusnya kau yang tahu diri, apa kau lupa aku adalah salah satu pemegang saham terbesar di perusahaan yang dipimpin oleh Ibumu? Atau kau mau aku melakukan sesuatu dan mengusik Mamamu tersayang itu?? Eheiiii..tapi itu tak menyenangkan! Setelah kupertimbngkan aku lebih suka mengambil sesuatu yang benar benar penting buatmu" Mujin berjalan mendekati Arash "Entah mengapa aku menjadi sangat menginginkannya..Istrimu.." bisiknya di telinga Arash.


Tanpa basa basi Arash segera mencengkeram kerah kemejanya kemudian meninju wajahnya dengan keras hingga Mujin terhempas kelantai.


"Ahahah ahahha" Bukannya melawan atau menghindar Mujin malah tertawa, "Ekspektasiku kepadamu terlalu berlebihan ternyata, hanya segini saja kau sudah tak tahan? Hahahha benar benar lucu, apa yang kuharapkan selama ini hihi hihi"


"Dasar gila! Enyah kau atau aku akan benar benar menghabisimu!!"


Mujin kembali bangun lalu berjalan ke arah pintu "Tenanglah..aku akan pergi" Mujin menunjuk luka memar di wajahnya "Terimakasih sudah memberiku alasan untuk menemui wanita baik hati yang akan mengobati lukaku" ucapnya dengan wajah tersenyum. "Padahal ini baru permulaan" gummnya pelan, ia merasa senang karena berhasil memprovokasi Arash dan mengetahui dengan pasti sumber kelemahannya.


Arash masih sangat kesal dengan tingkah kekanak kanakan Mujin, namun ia lebih kesal dengan dirinya sendiri yang dengan mudahnya terpengaruh oleh orang yang jelas jelas sengaja datang hanya untuk memprovokasi dirinya itu.


"Dirumah dia selalu berpura pura ramah dan tersenyum kepada semua orang termasuk ART, tapi barusan dia menunjukkan sifat aslinya yaa, sialan!"gumamnya.


"Tungguu..apa dia bilang tadi? Alasan untuk menemui wanita baik hati yang akan mengobati lukanya?? Jangan jangan..Sial!!" Arash keluar dari ruangan dengan langkah terburu buru, namun asistennya tiba tiba menghadangnya.


"Pak Arash Saya--"


"Ada apa Denis? Minggir!!" ia terus berjalan melalui Denis.


"Tapi Pak, ada yang harus saya sampaikan, ini mendesak!" ucapan Denis yang tampak gusar membuat langkah Arash terhenti dan kembali menoleh ke arahnya.


"Cepat katakan!"


"Pengunjung kamar 107 belum juga keluar padahal kami sudah mengontaknya sejak batas waktu menginap pagi ini tapi masih belum mendapatkan jawaban"


"lalu?"


"Tim keamanan meminta izin untuk membukanya secara paksa demi meminimlisir hal hal yang tidak di inginkan"


"Oke mari lakukan seperti itu, aku akan ikut" Mereka berbicara dengan berjalan menuju kamar tersebut.

__ADS_1


"Apa kau yakin penghuninya ada di dalam ruangan?"


"Yakin Pak, saya sendiri sudah memantau cctv dan penghuninya sama sekali tak keluar sejak cek in dua hari yang lalu"


Arash tersentak "Kenapa baru mengatakannya sekarang?!"


"Maaf pak, anda baru saja tiba jadi---" Denis merasa ragu ragu.


"Ya baiklah, ini kesalahanku karena datang kesiangan! Jika lain waktu terjadi hal hal seperti ini segera hubungi saya"


"Baik Pak"


"Apa tim keamanan sudah mengambil kunci cadangan?"


"Sudah pak, mereka menunggu di depan ruangan"


"Hubungi tim yang berada di depan ruangan itu untuk tidak membuat keributan demi kenyamanan pengunjung lain"


"Baik"Dia segera mengontek anggota keaman yang bertugas menggunakan alat komunikasi jarak dekat(HT).


Sampai di depan ruangan terlihat dua orang petugas keamanan yang sudah bersiap.


"Bukalah!" ucap Arash.


"Baik"


"Permisi..Nona..apa anda baik baik saja?" ucap Arash seraya mendekat dengan hati hati, namun tak ada respon dari wanita yang wajahnya tertutup rambut panjangnya itu, Arash dan yang lainnya tampak gugup.


"Periksa denyut nadinya apa dia masih hidup"


"Baik" Denis pun meraih pergelangan tangannya dan mengecek nafasnya.


"Masih hidup Pak" ucapnya seraya memeriksa, "Pak, ada botol obat di tangannya"


"Bacalah obat apa itu"


"Obat tidur"


"Cepat hubungi ambulans dan bawa wanita ini ke rumah sakit!"


"Baik"


Tak lama pun suara mobil ambulans terdengar di depan hotel, seketika penghuni hotel menjadi gempar setelah seorang wanita dibawa dari kamar hotel ke ambulans, terlebih lagi tak lama setelah itu beberapa polisi mulai datang untuk menyelidiki percobaan bunuh diri di kamar hotel tersebut, dalam sekejap Arash menjadi sangat sibuk karena wanita itu adalah seorang selebriti.


.

__ADS_1


Seperti rencana Lee Mujin, kini dia sudah berada di butik Adinda dan mendapatkan perawatan darinya.


"Kau baru saja datang ke Negara ini tapi kau sudah kena pukul seseorang? Apa kau membuat masalah di suatu tempat?" ucapnya seraya mengoleskan salep di pipi Mujin.


"Iya!" Mujin hanya tersenyum sejak tadi.


"Kau terlihat tak menyesal ya! Jangan buat masalah dan hiduplah dengan damai, kau hanya orang asing disini seberapa kayaanya kau! Apa kau mengerti?" Celoteh Adinda menasehati.


"Aku mengerti Adinda, untunglah aku datang kesini hehe"


"Kalau terluka harusnya datang ke rumah sakit kenapa kau malah kesini, untunglah aku membuka pintu meski butik sedang libur..sudah selesai, memarnya akan segera hilang dalam beberapa hari, ini salep bagus"


"Terimakasih Adinda"


"Ya, jika kau merasa berterimakasih maka jangan sampai terluka lagi! Jangan membuat masalah dengan seseorang!"


"Hehe"


"Sepertinya kau berencana mencari masalah lagi ya kalau melihat dari ekspresimu!"


"Aku hanya senang mendengarmu berbicara seolah kau benar benar tulus menghawatirkanku, didunia ini orang yang seperti itu cuma Ibuku tapi sudah lama sejak Ibu meninggalkanku dan aku hidup sendirian tanpa satu orang pun yang peduli meski aku terluka atau merasa kesepian" ia mengatakan kata kata menyedihkan itu dengan wajah yang tetap ceria membuat Adinda semakin merasa iba dengannya.


"Pasti selama ini kau kesulitan, kau sudah bekerja keras Lee Mujin aku bangga padamu" ucap Adinda tersenyum seraya menepuk bahunya. "Ibumu pasti akan melakukan itu".


"Yaa, kau benar, terimakasih Adinda, beruntungnya Arash memiliki seorang istri sepertimu"


"Hei, aku tak sebaik itu.. Oh ya, saranku lebih baik kau menjalin hubungan baik dengan Arash, meski bagaimanapun kalian tetaplah saudara"


"Tentu saja aku juga berfikir hal yang sama denganmu, tapi dia saja sangat membenciku, aku harus apaaa? Bisakah kau membantuku Adinda?"


"Membantu? Apa yang bisa kulakukan untuk memperbaiki hubunganmu dengannya?"


"Entahlah..bagaimana jika kau coba memikirkannya mulai sekarang? Kau satu satunya orang yang bisa kumintai tolong Adinda, aku benar benar ingin akur dengannya"


"Emmm..baiklah, aku akan coba jika ada kesempatan, tapi kau juga harus bersikap baik padanya, kau mengerti?" Mujin pun mengangguk dengan senyuman puas yang terpancar dari wajahnya.


Duk duk duk.. Anya menuruni tangga dengan tergesa gesa menghampiri Adinda.


"Din.."


"Ada apa Anyy??"


Anya mendekat seraya menunjukkan ponsel padanya "Lihat ini.." Seketika wajah Adinda tersentak.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2