Menikahi Sang Mantan

Menikahi Sang Mantan
Wajah yang kusut


__ADS_3

Adinda masih terduduk lemas,ia masih tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya, Donny yang ia kenal adalah seorang suami yang selalu perhatian dan pengertian kepada istrinya, selalu dewasa dan bijaksana, Donny yang ia dengar sering kali memberikan kejutan kepada Istri dan anaknya.


"Din" ucap seseorang seraya menyentuh pundak Dinda hingga membuatnya kaget.


"Hahhh!" Dinda menoleh kebelakang "Ngagetin saja!"


"Kamu kenapa? Sakit?" tanya Arash setelah melihat raut wajah Dinda yang pucat.


"Aku nggak apa apa, ayo pulang" Dinda pun bangun lalu berjalan keluar hotel, Arash pun mengikutinya dari belakang, ia menghawatirkan Dinda yang berekspresi tak biasa.


Arash masih mencuri curi pandang kepada Adinda saat mereka sudah dalam perjalanan pulang, saat itu raut wajah Adinda semakin murung hingga membuat Arash semakin bingung.


"Apa kamu marah aku menyuruhmu ke hotel?" tanyanya tiba tiba.


"Ahhh benar juga, aku mengetahui sesuatu yang seharusnya tak boleh kuketahui..Hahhh semua ini gara gara kamu!" Adinda melirik tajam ke Arash yang sedang fokus mengemudi.


"Apa maksudnya?" ia sama sekali tak memahami ucapan Adinda.


"Hahhh.. Sudahlah, tak ada untungnya aku berbagi pikiran denganmu"


"Yasudah jangan buat orang lain terganggu dengan ekspresi wajahmu yang kusut itu!"


"Ihhh nyebelin"


.


Adinda berbaring di tempat tidurnya setelah makan malam, ia merasa tak tenang dan tak enak makan setelah melihat Donny yang diduga berselingkuh dari Anya perasaan Adinda terus menerus kacau, haruskah ia mengatakan kepada sahabatnya itu atau lebih baik menutupi? Sudah jelas ia harus mengatakannya namun ia tak bisa melihat Anya menderita.


Dalam benak Adinda masih terngiang kenangan pahit saat Anya bersedih karena kehilangan Ibunya, sekarang rasanya ia tak akan sanggup melihatnya terpuruk lagi.


Adinda bangun, ia duduk di atas tempat tidur menatap hp nya, kemudian ia menelfon Anya, tak lama pun Anya mengangkatnya.


"Haloo..ada apa Din kamu nelfon malem malem?" ucap Anya begitu mengangkat panggilan.


"Oh??" Adinda pun bingung ingin mulai dari mana.


"Ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi denganmu?" Anya merasa Adinda sedang kalut.


"Nggak, apa kamu punya waktu besok?"


"Kenapa sih? Kamu mencurigakan"


"Sudah lama kita tak bertemu, mampirlah ke butik atau kau mau bertemu di kafe?"


"Oke deh, besok aku akan mampir setelah mengantar Bara ke sekolah"


"Oke, ngomong ngomong kamu sedang apa? Apa kau bersama Kak Donny?"

__ADS_1


"Tentu saja, kami baru saja merayakan hari jadi pernikahan" ucapnya dengan riang.


"Ohh?? Begitu rupanya, pantas saja kamu terdengar bahagia"


"Tumben sekali kamu menanyakan suamiku?"


"Bukan apa apa kok, kalau begitu sudah dulu ya, sampai bertemu besok"


"Oke, Dah Din"


Anyapun menutup sambungan televon, ia sudah berbaring di atas tempat tidur bersama dengan suaminya disampingnya.


"Ada apa?" tanya Donny setelah Anya meletakkan ponselnya di atas meja samping tempat tidur.


"Nggak tahu, dia minta bertemu besok, aku akan mampir setelah mengantar Bara"


"Oh..sering seringlah mengunjunginya, dia pasti kesepian, sesekali kau dan Bara juga boleh menginap di butiknya"


"Apa boleh begitu sayang? Tapi aku takut kamu kesepian"


"Eii aku bisa mengerti apapun yang kamu lakukan"


"Aku tau itu, akupun sama" Anya terdiam sejenak lalu melanjutkan "Sayang, sepertinya sudah lama kita tidak berhubungan, apa hari in---?"


"Sudah malam, ayo kita cepat tidur saja" ucapnya seraya melepas kaca mata dan meletakkannya di atas meja, lalu Donny mematikan lampu tidurnya, ia mendekap tubuh Anya dalam pelukannya.


Meski Anya merasa sedikit kecewa karena beberapa bulan ini ia jarang di sentuh oleh suaminya, ia tetap merasa terhibur hanya dengan suaminya bersikap lebih manis padanya.


🍁🍁🍁


Keesokan harinya.


Seperti hari sebelumnya, hari ini pun di butik masih berisik karena renovasi bangunan sebelah, tapi penghuni butik sudah cukup menyesuaikan diri.


Hari ini pun Dinda dan Lina cukup sibuk, seperti sekarang seorang wanita datang untuk memilih gaun pesta yang sudah jadi, Adinda membantunya melakukan Fitting untuk menyesuaikan ukuran di ruang fitting, gaun pesta berwarna peach dengan dengan manik manik yang berkilauan sangat cocok dikenakan oleh wanita yang sedang melihat dirinya di cermin besar.


"Aku menyukainya, jika ukurannya sudah disesuaikan segera kabari aku ya, aku akan memakainya 2 hari lagi ke pernikahan temanku"


"Baik Nona, secepatnya akan saya selesaikan"


"Rupanya dia tak berbohong, gaun disini cukup bagus, pantas saja dia merekomendasikannya, kau beruntung pemilik butik, seorang sepertinya merekomendasikan tempat ini"


"Hemm? Siapa yang anda maksud?"


"Tuan Arash Esfandiar Hutama"


"Ohh?? Apa beliau merekomendasikan tempat ini?"

__ADS_1


"Iya, lebih tepatnya kepada temanku yang akan menikah, bukankah dia klien disini? Namanya Sherly"


"Ohh benar sekali Nona Sherly akan menikah 2 hari lagi di Hutama's Hotel"


"He em,dia yang merekomendasikannya karena kubilang aku tak menyukai gaun bridesmaidnya jadi dia memberitahu agar aku memilih sendiri gaun yang senada disini"


"Jadi begitu"


"Tolong bantu saya berganti pakaian"


"Baik"


Setelah kliennya pergi Adinda terduduk di sofa, ia memikirkan tentang ucapan wanita tadi bahwa Arash yang merekomendasikan tempat ini, Disisi lain Adinda merasa bersyukur karena penjualan semakin hari semakin meningkat sehingga ia harus mempekerjakan seseorang lagi, tapi rasanya seolah semua yang ia dapat akhir akhir ini semata mata bukan karena kerja kerasnya, harga dirinya sedikit terluka.


.


Anya membuka pintu, dia tersenyum melihat Adinda "Haiii, kamu sibuk?"


"Benar, aku sibuk tapi tidak juga" jawabnya dengan lesu.


"Semangatlah" ujarnya sembari menaruh tas berwarna coklat tua bermerk Chann di atas mejanya.


"Apa ini? Kamu pamer tas baru kan?" ucap Dinda dengan sinis menatap tas yang diletakkan dengan hati hati itu.


Anya tersenyum "Tadaaa.. Ini hadian dari suamiku atas perayaan hari jadi pernikahan kami" ucapnya dengan riang.


Deg, seketika jantung Adinda seakan berhenti menatap wajah Anya yang terlihat sangat bahagia, Dinda ingin sekali mengatakan tentang suaminya namun ia tak bisa menghilangkan senyum itu untuk saat ini.


"Kenapa? Kok kamu jadi kelihatan sedih? Kamu pasti iri yaaahhhh?? Ayo ngaku!"


"Iya iya, aku sangat iri denganmu, puas??"


"Hahaha, mintalah pada suamimu yang kaya itu"


"Ogah!"


"Mengeluarkan uang untuk tas seperti ini bukanlah masalah besar untuknya kan, turunin harga dirimu yang setinggi gunung itu"


"Haahhh, nggak mau!"


"Kamu nggak asik ahh, ada apa? Apa ada yang sedang mengganggu pikiranmu? Kau terlihat kusut"


"Ya banyak sekali tapi aku malas mengatakannya padamu"


"Ihhh dasar anak ini!! Awas yaa"


"Any.. bagaimana hubunganmu dengan suamimu?"

__ADS_1


"Tiba tiba ??"


Bersambung.


__ADS_2