
Semua barang sudah dibereskan begitu juga Adinda juga sudah berganti pakaian, ia dan Lira sudah siap meninggalkan ruang rawat.
Tiba tiba seseorang membuka pintu, dia adalah Dewangga bersama Asisten di belakangnya "Kau sudah selesai bersiap?" ucapnya yang hanya dijawab anggukan oleh Adinda.
"Baiklah, ayo pulang kerumah"
Adinda terkejut mendengar ucapan Kakek tua itu, "Ke rumah??" ia bertanya tanya rumah siapa yang dimaksud olehnya.
"Iya, ke rumahku yang juga akan menjadi rumahmu mulai hari ini"
"Kenapa anda tak meminta pendapatku lebih dulu? Dan kenapa saya harus tinggal dirumah anda?!" raut wajah Adinda sangat tak nyaman.
"Kamu punya tempat tujuan?"
Deg! Adinda merasa tertohok, benar.. Saking kacau pikirannya bahkan ia tak tahu setelah keluar dari rumah sakit ia tak memiliki tempat tujuan.
Dewangga menatap Adinda yang terdiam, "Budi, bawakan barang barang Adinda, kita akan pulang ke rumah, jangan merasa sungkan, mulai sekarang kau bisa mengandalkan Kakekmu ini, ini adalah permintaan pertama dan terakhirku sebagai seorang Kakek, Paman dan Bibimu sudah menunggu kedatanganmu, ayoo!" Dewangga pergi terlebih dahulu, kemudian Adinda berjalan mengikutinya disusul juga oleh Budi dan Lira.
Ketika sampai di depan rumah sakit 2 mobil BMW hitam yang terlihat sangat mengkilat berhenti di hadapan mereka, supir keluar dan membukakan pintu, dia membantu Dewangga masuk.
Lira melihat Adinda yang masih canggung dan tak nyaman, "Nona, masuklah kita tak bisa menahan mobil terlalu lama disini, saya dan Pak Budi akan naik mobil satunya" ia menunjuk mobil belakang. Adinda pun menuruti perkataan Lina, ia duduk di kursi belakang di samping Dewangga.
Mobil berjalan dengan kecepatan sedang, jalanan pagi yang macet membuat mobil terus berhenti beberapa kali, sementara Adinda merasa tercekat dengan keheningan di dalam sana.
Setelah satu jam perjalanan akhirnya mobil berhenti di depan gerbang besar berwarna emas. Security yang berjaga disana sudah sigap membuka gerbang itu dan mobil kembali melaju dengan pelan.
Adinda dan Dewangga turun di depan rumah dengan halaman yang luas itu, rumah yang sangat mewah dan luas berlantai 2 yang tampak asri dengan taman kecil yang terlihat terawat di samping rumah itu berada di komplek perumahan elit yang sama dengan komplek rumah milik keluarga Hutama, namun rumah Dewangga terletak jauh di ujung kompleks, Adinda tak menyangka jika Kakek yang hanya ia tahu namanya itu begitu dekat dengannya selama ini.
Perlahan kaki Adinda berjalan masuk mengikuti Dewangga, baru saja melangkah dari pintu anggota keluarga yang lain sudah menghampirinya.
"Haloo Adinda.. Ya ampun ternyata aku memiliki keponkan secantik ini, astaga.." ucap heboh seorang wanita paruh baya dengan dandanan glamor itu seraya memegang tangan dan memeluk Adinda tiba tiba membuat Adinda tak tahu harus berekspresi apa.
__ADS_1
"Ma..maaf anda siapa ya?"
"Helooo.. Aku Karina! Aku Kakaknya Ibumu!"
"Ahhh.. Haloo salam kenal"
Tampak dari dalam seseorang yang sangat mirip Dewangga menghampiri Adinda, "Haloo Adinda, aku Rakka, panggil saja Paman Raka atau Om Rakaa, aku Kakak tertua"
"Haloo Paman" sapanya canggung.
"Ya, ayo mengobrol sambil duduk minum teh" sahut Karina lagi.
"Ba..baik"
Di luar dugaan Adinda, anggota keluarga Atmaja menyambutnya dengan hangat, perbincangan selanjutnya pun terasa hangat, semua orang berusaha mengakrabkan diri dengan Adinda yang masih merasa canggung dan tak nyaman. Tiba tiba difikirannya terbesit pertanyaan, mengapa keluarga yang seperti ini tak pernah berusaha menemui dirinya lebih awal?.
"Adinda, dari tadi kamu cuma menjawab saja, apa nggak ada yang mau kamu tanyakan sama Om dan Tante atau Kakekmu?" tanya Karina membuyarkan lamunan Adinda.
"Hahahaha...ini memang memalukan, tapi aku dan Tantemu ini sudah bercerai dengan pasangan kita masing masing, Adinda apa kamu tahu apa julukan keluarga kita?" Adinda terkejut, ia menggeleng. "Tukang cerai! Kami berdua mendapat julukan itu karena sudah sama sama menikah dua kali tapi bercerai lagi dan lagi seperti sebuah kutukan saja kan? Bahkan kami tak memiliki anak, makanya aku sangat senang kau datang kessini, betah betahlah kau disini!!" ucap Rakka.
"Benar Adinda, mungkin sebenarnya Ayah ingin kita terus tinggal dengannya disini makannya meski sudah meninggalkan rumah ini kami tetap kembali kesini, oh iya kudengar kau menikah dengan si Hutama itu kan? Siapa namanya? Ary? Aran?" ucap Karina.
"Namanya Arash, tapi kami juga bercerai" Adinda tertunduk mengingat kembali.
"Apah??? Apa keluarga kita benar benar terkena kutukan?" kata Karina.
"Jangan bicara seperti itu!" kata Rakka.
"Tahayul dipercaya.. Hmm" kata Dewangga.
"Hei Adinda, jangan sedih ya.. kami bahkan sudah dua kali! Bercerai bukanlah aib! Kau mengerti? Yang terpenting kita hidup bebas dan bahagia..hehe.." tegas Karina menghibur Adinda.
__ADS_1
"Baik Tante, tapi.. Ada sesuatu yang menggangguku"
"Apa itu? Katakan saja Adinda" jawab Rakka.
"Sebenarnya kenapa selama ini kalian tak menemuiku jika kalian menantikan kedatanganku? Kalian juga tak menanyakan keberadaan Kakakku"
Seemua orang terdiam, Karina dan Rakka melirik Dewangga. "Apa aku yang harus menjawab pertanyaan itu?" ucap Dewangga yang di jawab anggukan oleh kedua anaknya. "Baiklah, semua ini salahku Adinda, aku yang melarang mereka menemuimu karena keegoisanku, aku minta maaf"
"Benar Adinda, bahkan Ayah mengancam kami akan diusir jika menemuimu! Ayah benar benar kejam kan?" kata Karina.
"Adinda, yang lebih parahnya itu Ayah kami terus mencari tahu kabarmu dan tak pernah mengatakannya kepada kami, bukankah itu tak adil?" kata Rakka.
"Hei kalian!! Beraninya membicarakan orang tua di depannya! Aku kan mengatakn itu dulu sekali saat klian masih muda! Salah kalian sendiri masih menahan diri menemui keponakanmu! Dan itu bukan kesalahanku sepenuhnya, rumah tangga mereka berdua berantakan, mereka sibuk sampai tak mengingat keberadaanmu Adinda" kata Dewangga.
"Ayah!!! Itu tidak benar! Jangan percaya Adinda! Mungkin kakakku begitu. Tapi aku tidak! No!!" kata Karina.
"Eheii.. Kenapa jadi rasanya aku yang terpojok disini?" ucap Rakka tak terima.
"Brisik!!! Kalian berdua kekanak kanakan padahal udah sama sama tua!!" Bentak Dewangga.
"Pfffftttt.. Baiklah aku mengerti" tiba tiba rasanya geli berada di tengah tengah menjadi bagian dari sebuah keluarga, tanpa sadar Adinda tertawa, membuat suasana mencair.
"Hei, kalian sudah menahan Adinda terlalu lama, dia baru keluar dari rumah sakit biarkan dia istirahat" ucap Dewangga.
"Benar juga, Ayo Adinda, aku akan menunjukkan kamarmu, aku sudah menyiapkan kamar kusus untuk keponakan cantikku tersayang"
"Baik Tante, terimakasih"
"Aku juga harus ke kantor, ini sudah sangat kesiangan, ahh aku sampai lupa ada janji penting setengah jam lagi, sampai jumpa nanti Adinda.." Ucap Rakka pergi terburu buru, Adinda mengangguk.
Adinda pun pergi bersama Karina, di ruang tamu tinggal Dewangga sendirian menatap punggung Adinda dalam diam . "Syukurlah dia sudah mulai menerima keluarga ini, Nabilah.. sekarang kau bisa tenang di atas sana, aku akan mengurus Putrimu dengan baik, maafkan Ayahmu yang berhati keras ini" gumam Dewangga.
__ADS_1
Bersambung.