
Arash berpapasan dengan Mariana yang baru saja kembali ke rumah. "Maa, kenapa Mama sendirian? Dimana Adinda?" tanya Arash waspada.
"Dia masih di rumah sakit, Mama pulang sendiri karena harus bekerja"
"Kok Mama nggak bawa Adinda pulang juga sih! Dia juga kan mau bekerja!"
"Bawa bawa! Memangnya Adinda barang? Nggak usah kawatir, anak itu sudah bangun"
"Apah? Justru aku semakin kawatir karena dia sudah bangun!" tukas Arash menaikkan nada bicaranya.
"Kalo sekawatir itu pergilah jemput istrimu sendiri! Melihat kau sudah rapi sepagi ini tanpa disuruh pun kau mau menjemputnya kan? Sana pergi jangan banyak tanya!" jawab Mariana seraya berjalan meninggalkan Arash.
Arash segera pergi dari sana, Sampai di depan ruang rawat Arash membuka pintu. Krieett!! Kedua orang yang sedang saling berhadapan serentak menatap ke arahnya, sedangkan mata Arash tertuju pada tangan Adinda yang memegang sendok dan semangkuk bubur dari rumah sakit.
"Hai, kau kesini karena menghawatirkan keadaan Mujin?" ucap Adinda yang di abaikan oleh Arash, Arash berjalan dengan cepat menghampirinya.
Adinda sangat kaget karena Arash tiba tiba merebut mangkok beserta sendok bubur dari tangannya. "Minggir" ucap Arash melirik ke arah Adinda.
Adinda pun bangun dan meninggalkan kursi yang didudukinya, disana Arash duduk lalu menyuapkan bubur ditangannya kepada Mujin.
"Ppffttt.. He he" Adinda hanya bisa tertawa pelan seraya menutupi mulutnya, melihat Arash yang menyuapi dengan kaku juga Mujin yang kebingungan namun tetap membuka mulutnya seiring suapan besar dari Arash.
"Hei, pelan pelan, kau sedang menyuapi orang sakit" ucap Adinda seraya tersenyum, Arash pun memelankan gerakannya.
"Memngnya kamu nggak bisa makan sendiri apah? Perasaan tanganmu baik baik saja" ucap Arash kepada Mujin.
"Tanganku memang baik baik saja tapi aku belum bisa duduk dengan tegap" jawab Mujin.
"Sudahlah jangan alasan!"
Beberapa saat pun berlalu.
"Mujin baik baik yaa, aku harus pulang dulu, nanti malam aku kembali lagi" ucap Adinda yang berdiri berdampingan dengan Arash.
"Siapa bilang kamu bisa kembali lagi? Aku gimana?" protes Arash.
"Kamu mau ikut? Boleh banget dong!"
__ADS_1
"Hahh.. Dasar Adinda payah! Ayooo.." Arash menarik tangan Adinda membawanya keluar, sedangkan Adinda melambaikan tangannya kearah Mujin yang tersenyum.
Kini tinggal Mujin seorang diri menatap jendela dalam diam.
Tok tok tok, seseorang mengetuk pintu sebelum masuk ke ruang rawat, Mikayla muncul dari balik pintu, ia berjalan mendekati Mujin yang sedang berbaring di ranjangnya.
"Kudengar kamu kecelakaan? Aku tak mengira lukanya separah ini" ucapnya seraya mendekat.
"Bukankah kau senang melihatku seperti ini?"
"Ehei mana mungkin.. Aku turut prihatin atas musibah yang menimpamu tapi aku datang karena ingin mengatakan bahwa tadi aku datang ke Hutama Grup lalu aku sudah memberitahukan semuanya kepada Tante Mariana hi hi.." Melihat Mujin yang tersentak membuat Mikayla tersenyum smirk.
"Apah kau bilang?!"
"Apa kau penasaran reaksi Tante Mariana? Seharusnya kau ada disana tadi, aku yakin kamu puas melihat ekspresinya yang sangat syok sampai tak bisa berkata kata, bahkan dia memegangi jantungnya, sepertinya tak lama lagi kamu bisa mengambil alih perusahaan, ayo cepat puji aku Mujin, berterimakasihlah padaku karena aku dengan suka rela membantu balas dendammu"
"Dasar wanita gila sialan!!" wajah Mujin terlihat sangat murka.
"Apa kau bilang? Bukannya memujiku kau malah memakiku?? Dasar nggak tahu di untung!"
"Dasar.. Mujin Mujin.. Bisa bisanya kau berubah semudah ini, mana amarahmu yang waktu itu? Hanya segitu?"
Mujin memegangi kepalanya yang sakit, "Dasar sialan!! Enyah kau!!!"
"Hei..ingatlah.. Aku melakukan ini atas permintaanmu, jadi jangan menyesal Lee Mujin!! Aku pergi karena urusanku sudah seleaai.. Daahhhh.." Mikayla pergi dengan santai.
Sementara kini keadaan Mariana terlihat sangat syok, ia terdiam sendirian di kursi kerjanya seraya menghadap ke jendela, sesekali ia menghela nafas dan memegangi dadanya, tanpa sadar tiba tiba air matanya menetes dalam diam.
Ia teringat kembali perkataan Mikayla bahwa selama ini ia sudah ditipu oleh Putranya sendiri demi melindungi kekasih dan keluarganya. Nasi sudah menjadi bubur, tak ada lagi yang bisa ia lakukan kecuali amarah yang menyeruak memenuhi hati dan pikirannya yang merasa amat terkhianati.
.
Malam harinya Arash dan Adinda kembali ke rumah, begitu sampai mereka segera menghampiri Mariana yang berada di meja makan.
Mariana tampak diam dan acuh dengan kedatangan keduanya, Adinda menatapnya yang bahkan tak mau menoleh ke arah mereka. "Maa..apa Mama baik baik saja?" tanya Adinda hati hati, Mariana tak meresponnya, Arash dan Adinda saling memandang bertanya tanya tentang Mariana yang tak seperti biasanya.
"Maa!! Adinda tanya apa Mama baik baik saja? Kenapa Mama diam saja?" ucapnya dengan nada meninggi.
__ADS_1
Dreeekkkkk... Mariana meletakkan sendok ditangannya dengan keras lalu pergi begitu saja dengan raut wajah dinginnya.
"Adinda, kamu makan saja, aku akan bicara dengan Mama sebentar" ucap Arash bangun, Adinda pun mengangguk.
Tok tok.. Arash mengetuk pintu kamar Mariana, meski tak mendapat respon Arash tetap membuka pintu yang memang tak di kunci itu.
Didalam kamar Mariana sedang duduk diatas tempat tidur menatap bingkai foto kelulusannya bersama kakek Arash yang sedang tersenyum menghadap kamera yang terletak di meja samping tempat tidurnya.
"Maa.." panggil Arash mendekati.
"Untuk apa kau kesini? Pergilah kepada istri yang sangat berharga bagimu itu"
"Kenapa Mama bicara seolah Mama membenciku dan Adinda? Apa masalahnya?"
"Kenapa membohongiku?"
"Siapa? Aku?"
Mariana bangun dari duduknya "Mama sangat kecewa denganmu, kamu membohongi Mama selama ini! Saat itu, sepuluh tahun yang lalu, kamu bilang sudah memenjarakan pelaku utama yang menyebabkan kecelakaan Ayah dan Kakekmu! Yang lebih parah lagi kenapa aku harus mendengar semua kebohongan itu dari mulut wanita itu?!!"
"A apa maksud Mama?"
"Mama tau kamu mengerti ucapan Mama! Jangan coba mengelak lagi"
Deg..deg, jantung Arash berdebar hebat melihat raut wajah Ibunya yang terlihat sangat marah bercampur kecewa. "Maa.. Aku nggak bermaksud membohongi Mama, aku hanya---"
"Usir dia dari rumah ini sekarang juga!!"
"Maaaa!!! Tolonglah, jangan begini!! Kecelakaan itu nggak ada hubungannya dengan Adinda, tolong jangan perlakukan Adinda seperti penjahat!"
"Kamu bilang nggak ada hubungannya?? Apa kau tahu sekarang setiap kali aku melihat wajahnya aku selalu teringat kejadian 10 tahun lalu yang sangat menyiksa, kecelakaan yang membuat hidupku berubah 180 derajat.. jika tak ada hubungannya kenapa kamu menyembunyikannya selama ini bahkan kau sudah berpisah dengannya sepuluh tahun yang lalu! Aku yang bodoh karena membuat situasi menjadi seperti ini, aku yang bodoh! Dasar orang bodohhh!!!!" tangan Mariana memukul mukul kepalanya sendiri.
"Cukup Maa, aku minta maaf.. Tolong maafkan aku" ucapnya seraya memegangi tangan Ibunya.
"Baiklah, Mama akan maafkan kamu, tapi kamu harus berpisah dengannya sekarang juga!!" kekeh Mariana membuat Arash tersentak.
Bersambung.
__ADS_1