
Adinda bangun dari duduknya, "Kamu nggak boleh jadi anak durhaka! Pulang sana!!"
"Nggak mau!!"
Tiba tiba tubuh Adinda terhuyung ketika hendak membuat Arash bangun dari duduknya, kepalanya sakit lagi, seketika Arash memeganginya yang hampir jatuh. "Adinda!!"
"Ahh.." Adinda mengerang kesakitan seraya memegangi kepalanya.
Arash memeriksa suhu tubuhnya, "Kamu demam? Sejak kapan?"
"Entah, sejak kapan?"
"Udah diperiksa belum?"
"Aku cuma beli obat pereda nyeri di apotek, tapi hanya membaik sebentar setelah minum obat"
"Hiii!! Dasar! Ayo periksa!"
"Udah malem nggak mau!"
"Ayolah.....kamu nggak perlu apa apa, aku akan menggendongmu!"
"Aku akan pergi besok titik!"
"Adinda.."
"Nggak!"
"Haa.. Yasudah, tapi ijinkan aku menginap malam ini!"
"Sana pulang saja dan jadilah putra yang berbakti!!"
Arash bangun dari duduknya, tiba tiba ia menggendong Adinda tanpa aba aba membuatnya kaget. "Kyaa..! Mau apa? Turunin!!"
"Diam Adinda, kalau kau terus memberontak kita bisa jatuh bersama" Arash berjalan pelan menaiki tangga dan sampailah ia di kamar, ia merebahkan tubuh Adinda perlahan di atas tempat tidur.
"Diam disini dan menurutlah!!" ucap Arash sebelum ia kembali keluar dari kamar. Adinda pikir dia akan pulang namun tak lama ia kembali membawa air dan handuk kecil untuk kompres.
Arash menarik kursi dan menaruhnya di samping tempat tidur, kemudian ia mulai mengompres dahi Adinda. "Aku nggak akan pulang kalau demamnya belum turun!" ketika Arash sudah bersikeras Adinda pun tak bisa berbuat apa apa, lama kelamaan mata Adinda terpejam, sedangkan Arash terus mengompresnya dengan hati hati.
Drrtttt.. Ponsel Arash bergetar, ia segera bangun dan berjalan keluar kamar untuk mengangkatnya.
"Haloo" dalam panggilan televon.
"Pulang sekarang juga!" ucap Mariana memerintah.
__ADS_1
"Aku bukan anak kecil!!" pipp.. Arash mematikan televonnya dan kembali ke sisi Adinda.
Chip chip.. Adinda membuka mata ketika sinar matahari menyorot wajahnya dari selah tirai putih yang tergantung di jendela. Ia merasa tubuhnya sudah lebih enakan setelah istirahat, ia pun menoleh ke sampingnya, Arash masih di sana, tidur dengan posisi tubuh duduk kepalanya menyender ke samping tempat tidur, melihatnya yang merawatnya semalaman membuat Adinda tersenyum sekaligus merasa bersalah.
Adinda beranjak dari tempat tidurnya, tiba tiba Arash terbangunkan oleh pergerakan kecil Adinda. "Mau kemana?" ucapnya seraya mengusap matanya.
"Kenapa bangun? Tidurlah lagi! Aku akan membuatkanmu sarapan"
"Nggak usah" Arash berjalan mendekat, memeriksa dahi Adinda. "Syukurlah demamnya sudah turun.
"Emm.. Terimakasih" ucapnya ragu ragu.
"Kalau kau benar benar merasa berterimakasih sini cium aku" Arash sedikit menundukkan wajahnya.
Cup, Adinda mencium pipi Arash dengan gerakan kilat, "Sudah kan?"
Arash tersenyum, "Bukannya nggak adil Adinda! Aku merawatmu semalaman tapi upahnya hanya satu ciuman?"
"Terus mau kamu apa?"
Tuk tuk, Arash menunjuk bibirnya kemudian memejamkan mata. "Nggak usah macem macem!" Adinda meninggalkannya.
"Haaa Dasar!!" gumam Arash tersenyum smirk.
Tok tok.. "Keluar!" ucap Arash mengulanginya beberapa kali sampai akhirnya orang di dalam mobil membuka jendela kacanya.
"Ada apa ya?" ucap pria yang terlihat berusia 30an itu.
"Apa Mariana Hutama yang memintamu memotret dan mengikutiku? Apa ada orang lain selain kamu!!"
"A..aku nggak memotret kok!" jawabnya gugup, kemudian Arash membuka pintu mobil dan mengambil kamera di bawah kaki orang itu.
"Haa..benar benar!! Ini apa?" ia menunjuk kamera yang sudah di pegannya. "Haruskah aku menghancurkan benda ini? Kelihatannya juga sudah sangat usang" Arash melihatnya dengan teliti memutar mutar kamera tersebut.
"Itu baru!! Jangan!"
"Makannya jawab pertanyaanku!" Arash bersiap membantingnya.
Orang itu pun sangat panik dibuatnya, "PT Atmaja Jaya, Direktur utama yang mengutusku!!"
Arash tersentak, mengapa nama orang asing di sebut olehnya, "Siapa yang kamu potret? Sejak kapan?" Arash mulai mencengkeram kerah pria itu.
"Wanita bernama Adinda, pemilik butik itu.. Sejak tiga hari yang lalu"
"Apa alasannya?"
__ADS_1
"Aku tak tahu, aku hanya menuruti perintah! Kembalikan kameraku!!" orang itu merebut kameranya dari tangan Arash, namun Arash malah mengeluarkan fail foto dan menghancurkannya.
"Heii!!! Apa apaan kau!!! Kameraku!!!" orang itu keluar dari mobil dan memungut kamera yang sudah di injak injak oleh Arash. "Sialan!! Ganti rugi!!" teriaknya.
"Hehhh..kau tak tahu siapa aku? Berani beraninya kau meneriakiku!! Berani beraninya mengambil foto Istriku diam diam!!!!" Arash mengeluarkan tatapan membunuhnya hingga membuat orang itu merinding. "Kalau masih mau bernafas enyah dan jangan pernah kembali kesini!!!!" ucapannya membuat orang itu segera kabur membawa mobilnya.
"Sialan! Ada hubungan apa Adinda dengan Dirut Atmaja Jaya?" gumamnya, "Aku harus segera mencari tahu" Arash segera masuk ke mobilnya.
.
Siang harinya, wanita dengan rambut di gulung rapi berkacamata hitam dengan setelan formal hitam yang tampak elegan, penampilan seperti hendak ke pemakaman, ia di ikuti oleh orang yang di duga sekretaris dan dua orang pengawal bertubuh besar di belakangnya masuk ke dalam butik Adinda. Dia adalah Mariana Hutama.
"Dimana Adinda" tanya Mariana kepada Lina yang menyambutnya.
"Oh..dia ada di meja kerjanya, maaf anda ada perlu apa ya? Saya bisa bantu"
"Cepat panggil dia! Aku tak membutuhkanmu!"
"Baiklah" Lina terburu buru pergi karena merasa ngeri dengan wanita itu.
Ketika Adinda melihat orang yang masih menjadi Mertuanya itu ia segera meminta para pekerjanya untuk keluar makan siang sementara ia menutup butiknya, kini ia sudah duduk berhadapan dengan Mariana yang masih melihat lihat sekelilingnya dan beberapa kali berreaksi meremehkan.
Hubungan mereka yang biasanya harmonis seolah berbalik 180 derajat hanya melihat dari ekspresinya wanita di hadapan Adinda saat ini.
"Apa yang membawa anda datang kemari?" tanya Adinda.
"Pergilah ke tempat yang jauh dan tinggalkan putraku yang berharga!!! Anak seorang pembunuh tidak layak berada di sampingnya!!"
Adinda tak merasa kaget, mungkin sekarang ia akan merasakan langsung tayangan yang biasa muncul di drama, pikirnya.
"Kenapa aku harus melakukan itu? Apa anda pikir perintah anda adalah segalanya? Aku akan menikah jika anda meminta, Aku akan pergi dan bercerai jika anda meminta juga?"
"Hahhh.. Ternyata kau orang seperti ini ya? Bahkan kau seoerti tak merasa bersalah sedikitpun meski sudah tahu semuanya"
"Untuk itu aku benar benar minta maaf dan sangat menyesal, tapi itu juga adalah kecelakaan yang tak diharapkan oleh siapapun, kedua orang tuaku meninggal di hari itu, apa anda pikir bagiku yang lainnya lebih penting setelah kehilangan orang tua dan menjadi yatim piatu?"
"Haa.. Benar benar!! Aku muak melihat wajahmu itulah sebabnya aku tak bisa melepaskan kaca mata hitam ini, jawabanmu berarti tidak kan? Baiklah, teruslah bersikap keras kepala karena keras kepamu itu akan menghancurkanmu dan orang orang di sampingmu!" Mariana bangun dari duduknya lalu pergi. Adinda pikir sebelum pergi setidaknya Mertuanya akan menyodorkan surat cerai dan juga sekoper uang, ternyata ekspektasinya terlalu dramatis.
Setelah beberapa jam berlalu tiba tiba seseorang kembali datang ke butik, Adinda menemuinya, dia adalah pemilik gedung tempatnya berdiri, firasat tak enak Adinda tak pernah salah.
"Maaf, Nona Adinda.. Anda harus segera mengosongkan tempat ini karena seseorang membelinya dengan harga yang sangat tinggi, saya tidak punya pilihan selain menjualnya, saya akan mengembalikan uang sewa yang masih tersisa dua bulan padamu" ucap Ibu pemilik gedung. Bagi Adinda kata katanya bagaikan petir di siang bolong dan membuatnya sangat terkejut, karena baru saja usahanya itu berjalan dengan stabil setelah 3 tahun lamanya di bangun, tapi hanya karena seseorang memintanya pergi ia langsung terusir begitu saja.
Tiba tiba ia menerima pesan dari Mariana. "Kau harus tahu, ini barulah PERMULAAN!!"
Bersambung.
__ADS_1