Menikahi Sang Mantan

Menikahi Sang Mantan
Fakta terpendam


__ADS_3

Sonia yang merasa malu karena Adinda mengatakannya di depan Arash bahwa dia adalah seorang pelakor akhirnya ia hanya pergi begitu saja dengan raut wajah yang semakin jengkel.


"Bangun!" ucap Arash yang melihat Adinda masih berlutut di lantai.


Adinda bangun "Aku bangun bukan karena kamu menyuruhku ya!"


"Kenapa jadi kamu yang marah Adinda?Bukannya seharusnya aku? Kamu membuat keributan dengan tamu hotelku!"


"Apa aku juga perlu berlutut dan meminta maaf padamu juga?"


"Hhhh.. Sudahlah! Apapun yang ku katakan kau tak akan pernah bisa memahaminya!" kedua tangannya mengepal, Arash pun melangkah keluar dari ruangan meningglkan Adinda seorang diri.


Arash mengendarai mobilnya dengan mengebut, rasanya ia kesal dan marah kepada dirinya sendiri karena tak menanyakan alasan Adinda membuat keributan dengan tamu hotelnya, ia bertanya tanya kepada dirinya sendiri, jika Adinda memberikan alasan apa dirinya akan menerima alasan itu? Memang tindakan Adinda tetap tak bisa di benarkan tapi ia yakin dirinya akan mengerti, apa benar ia kesal sampe begitunya hanya karena Adinda membuat masalah di tempat kerjanya? Ia sendiri pun tak yakin, ia hanya marah dan sangat marah.


Arash memang sangat sensitif saat ia mendengar tentang perselingkuhan, karena kejadian hari ini ia teringat kembali kenangan yang telah susah payah ia lupakan.


Saat Arash berusia 8 tahun ia bersama kedua orang tuanya berlibur ke negara kelahiran Ayahnya, mereka selalu berlibur ke korea selatan setiap tahunnya untuk menemui keluarga Ayah Arash.


Ada satu waktu ketika ia bepergian berdua saja dengan Ayahnya mereka berpapasan dengan seorang wanita korea bersama seorang Putra yang seumuran dengannya dan anak itu memanggil Ayahnya dengan sebutan Appa, mereka berbincang cukup lama sampai akhirnya masuk ke dalam sebuah restaurant hidangan khas korea yang sangat asing di lidah Arash.


Arash hanya duduk diam dengan patuh tanpa tahu apa yang mereka bertiga bicarakan dalam bahasa korea yang tak dimengertinya, saat itu ia pikir Ayahnya bertemu dengan kerabat yang sudah lama ditemui dengan tak sengaja.


Anehnya sekali dalam setiap tahun Ayahnya akan mengajak Arash pergi dan menemui Ibu dan Anak itu dengan dalih mereka berjalan jalan dan pasti ujungnya menemui mereka, sekali atau dua kali Arash mengerti jika itu kebetulan, tapi saat Arash berusia 11 tahun setelah pertemuan ketiganya dengan wanita itu Arash mulai bertanya kepada Ayahnya tentang identitas wanita itu dan ia menjawab, "Jangan mengatakannya kepada Ibumu, Arash mengerti kan? Kamu tak boleh memberitahu Mamamu tentang mereka atau Mamamu akan sakit" Begitulah ucapannya yang terus terang itu, tentu saja anak berusia 11 tahun mengerti dengan maksud ucapannya.


Meski Arash sangat kecewa kepada Ayahnya namun demi kebaikan Ibunya Arash pun menyembunyikan fakta itu sampai sekarang, ia menunggu janji Ayahnya yang akan bilang sendiri kepada Ibunya namun lambat laun Ayahnya tak kunjung memberitahu Ibunya bahkan sampai detik terakhir sisa hidupnya, sejak hari Arash mengetahui keburukan Ayahnya ia terus bersikap dingin kepada Ayahnya meski Ayahnya memperlakukannya seperti biasa seolah tak ada apapun yang terjadi, ia hanya bertekad untuk menjadi seorang laki laki yang tak seperti Ayahnya dan mengubur fakta itu seumur hidupnya.


Arash masuk ke dalam Bar, suasana disana sangat riuh, ia menemui pemilik Bar yang bernama Dani kemudian Arash naik ke atas panggung dengan menggunakan hodie yang menutupi kepalanya kemudian ia mulai memainkan musiknya, Lampu yang redup berkelap kelip terus mengiringi setiap alunan musiknya, ia tenggelam dalam emosinya sementara semua orang asik berjoget dengan hebohnya menikmati musik.


.


Hari sudah mulai gelap, Adinda kini berada di depan rumah Anya, ia ragu ragu untuk mengetuk pintu namun pada akhirnya ia tetap mengetuknya.


Tok tok tok.. Dinda terus mengetuk pintu hingga tangannya sakit namun tak kunjung mendapatkan jawaban. Setelah cukup lama menunggu akhirnya Adinda pergi dari sana dan memutuskan akan kembali besok.


Diperjalanannya di dalam taxi Adinda termenung dan tiba tiba teringat Arash yang meninggalkannya dengan ekpresi terluka.


Cihh seharusnya aku yang kesal, kenapa dia membuat ekspresi seolah dia sangat terluka.. apa dia sedang puber kedua? Emmm.. Apa kata kataku sudah menyakitinya? Eiii mana mungkin, bahkan aku tak memakinya.

__ADS_1


Setelah pemeriksaan di pos security Taxi bisa masuk ke kawasan perumahan elit itu, Taxi pun berhenti di depan rumah, Adinda turun dan berjalan masuk.


"Kenapa pulang sendiri? Dimana Arash?" ucap Mariana tiba tiba mengejutkan Adinda.


"Aku tak tahu Ma"


"Apa ada sesuatu yang terjadi? Aku tak bisa menghubunginya sejak sore tadi"


Deg, Adinda cemas jika sampai Ibu mertuanya mengetahui bahwa dirinya baru saja membuat keributan di hotel, ia kawatir akan dimarahi sekarang, Adinda pikir akan lebih baik jujur dan meminta maaf.


Melihat Adinda yang terdiam Mariana tak menanyainya lebih lanjut "Baiklah, kau bisa masuk" ucapan Mariana tiba tiba membuat Adinda seketika merasa lega. Mariana mengambil hp di hadapannya dan tampaknya ia menghubungi seseorang.


Setelah mendapat telfon dari seseorang Mariana tampak tenang, ia menyeruput teh di hadapannya. Zraaasssss!! Tiba tiba hujan turun dan petir mulai menggelegar, jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, akhirnya ia mendengar suara mobil Arash.


Arash pun masuk ke dalam rumah dan tertegun melihat Ibunya yang sedang duduk di ruang tamu di jam segini, karena biasanya Mariana selalu tidur teratur di jam 9 malam.


"Ma? Kenapa belum tidur?"


"Entahlah, kenapa ya aku belum tidur?"


"Tidurlah sekarang, hari sudah larut"


"Tidak, aku hanya mampir ke suatu tempat bertemu teman"


"Sebenarnya ada hal yang ingin kubicarakam denganmu, tapi sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat, pergi dan istirahatlah"


"Baik, Mama juga tidurlah"


"Oke"


Keesokan harinya.


Pagi pagi Arash melihat Ibunya berangkat ke kantor hingga mengabaikan sarapan, Arash bertanya tanya apa mungkin ini ada hubungannya dengan hal yang ingin dibicarakan dengannya?


"Aduhhhh" tiba tiba lamunan Arash buyar karena mendengar suara Mirna. "Maafkan saya Nona Adinda saya tidak sengaja" mirna sengaja menjatuhkan air putih di gelas ke arah Adinda hingga membuat bajunya basah.


"Kamu sengaja kan?" tukas Adinda kesal.

__ADS_1


"Mana mungkin saya sengaja menumpahkannya Nona"


"Sudah sudah Adinda, kau tinggal ganti baju saja apa susahnya" ucapan Arash membuat Mirna tersenyum smirk.


Adinda pun segera bangun dan kembali ke kamarnya untuk berganti baju.


"Terimakasih Tuan Arash sudah membela saya" ucap Mirna dengan senyuman malu malu, Arash hanya meliriknya sekilas dan tak menjawab ucapannya.


"Mirna, siapkan kotak bekal untuk sarapan Mamaku"


"Baik Tuan, apa anda mau membawanya sendiri?"


"Iya"


"Akan segera saya siapkan"


Arash melihat jam di pergelangan tangannya, Adinda tak kunjung kembali menyelesaikan sarapannya.


"Hahhhh..kemana diaaa" gumamnya seraya berjalan ke kamar Adinda. Mereka pun berpapasan di tangga.


"Kenapa tak kembali ke meja makan?"


"Selera makanku sudah hilang" ucapnya dengan terus berjalan, Arash pun mengikutinya.


"Ayo berangkat bersama"


"Nggak mau!"


"Kenapa sih kamu marah marah terus apa kamu sedang PMS?


"Anggap saja begitu"


Tiba tiba Arash meraih tangan Dinda "Hei apa apaan ini!" ucap Dinda yang terkejut.


"Ikut saja denganku aku akan mengantarmu!"


Arash membuka pintu mobil dan mendorong Adinda masuk kemudian ia pun masuk dan menjalankan mobilnya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2