Menikahi Sang Mantan

Menikahi Sang Mantan
Kebencian


__ADS_3

Mikayla masuk ke dalam sebuah kelab malam, suasana di dalam sana tampak berisik, beberapa pria dan wanita menyapanya dengan akrab, Mikayla pun menjawabnya dengan senang hati, ia melanjutkan langkahnya menghampiri seseorang yang sedang duduk di counter tepat di depan bartender.


Ketika Mikayla menyentuh pundaknya dia segera menoleh. "Kau sudah datang" ucap Mujin dengan tatapan dingin yang jarang sekali ia perlihatkan, kemudian meneguk minuman keras dalam gelas yang di pegangnya.


"Ya, sudah minum berapa banyak?"


"Tak perlu kau tahu! Jadi apa kamu sudah berhasil menemukan sesuatu?"


"Tentu saja! Itu sebabnya aku datang kesini kan?"


"Hoo..Mikayla hebat juga"


Mikayla duduk di sampingnya "Aku penasaran, Kamu memiliki banyak uang dan bisa mengendalikan Hutama Grup dengan saham yang kamu warisi dari Ayahmu, tapi mengapa kau malah sangat tertarik dengan Arash dan Adinda?"


Mujin tersenyum smirk seraya tangannya memutar muutar gelas berisi minuman, "Entahlah.. Kenapa ya? Aku hanya membenci uang yang kudapatkan dari Ayahku yang selama ini tak pernah peduli padaku dan Ibuku, aku benci dengan diriku sendiri yang sangat membutuhkan uang itu"


"Aku tak mengerti.." ucap Mikayla bingung.


"Aku membencinya yang bisa mendapatkan apapun yang tak kumiliki selama ini, aku juga benci Ibu Mariana yang selalu menyalahkan Ibuku sebagai orang ketiga padahal faktanya dialah yang mengambil Ayahku dari Ibuku"


"Kau sangat membenci mereka tapi kenapa kau memutuskan datang kesini dan tinggal bersama mereka?"


"Karena sepertinya hidupku akan menyenangkan jika aku bisa mempermainkan semua orang yang kubenci dengan harta yang kudapat dari Ayah jahat itu! Bahkan Ibu Mariana saja bisa tunduk kepadaku seperti sekarang jika aku memberikan sedikit saja saham perusahaan yang kumiliki, melihatnya berselisih paham dengan putranya karena aku adalah salah satu sumber kesenanganku sekarang, ha ha, dasar wanita tua serakah! Demi mendapatkan sahamku dia rela melakukan apapun, sungguh lucu! Ibu Mariana yang bermartabat itu tunduk denganku.."


"Hei.. Kau sudah mabuk kan? Berhenti minum!" Mikayla menarik gelas yang ada di tangan Mujin.


"Kay..aku masih mau minum tahu.. Kamu diam saja dan dengarkan ceritaku, kau bilang kau penasaran..selanjutnya Ibuku, dia adalah orang yang sangat cantik, tapi sejak aku bisa mengingat aku hanya bisa mengingat sosok Ibuku yang kesepian dan menderita depresi karena dicampakkan oleh keluarga dan kekasihnya, kau tahu alasanku sangat membenci Arash? Itu karena keadaan Ibuku semakin memburuk setelah Arash mengetahui tentang kami dan sejak itu Ayah sialan itu tak pernah datang lagi sampai aku dengar kematiannya, aku membencinya meskipun dia meninggalkan banyak harta untukku, nyatanya semua harta itu tak berarti karena Ibuku sudah tak ada.." Mujin tertunduk di atas meja.


"Aku mengerti, sekarang berhentilah minum, kau bilang ingin mendengar sesuatu yang kutemukan dengan susah payah, tapi kenapa malah mabuk seperti ini?"


"Mikayla..berhenti bicara, malam ini aku ingin kau menjadi pendengar yang baik" nada suaranya semakin lemah karena mabuk.


"Nggak mau ahh!! Aku pulang saja kalau kau mau begini!!" Mikayla bangun namun Mujin menarik tangannya.


"Tetap disini! Hari ini adalah hari peringatan kematian Ibuku.. aku tak ingin sendiri seperti pada hari itu.."


"Hemmm" Mikayla pun kembali duduk "Baiklah, katakan apapun yang kau ingin katakan setelah itu aku akan membawamu pulang!"

__ADS_1


"Hehehe.. Mikayla baik juga ya.. Tapi aku lebih suka Adinda.."


"Dasar menyebalkan!"


.


Pagi pagi saat Mariana baru saja keluar untuk bekerja ia berpapasan dengan Mujin yang datang dengan penampilan yang berantakan, dia masih mengenakan pakaian yang dikenakannya kemarin, Mariana menatapnya tajam, tercium bau minuman keras yang kuat darinya.


"Kalau ingin keluar masuk rumah bebas lebih baik kau tinggal di hotel!" ucap Mariana membuat langkah Mujin terhenti.


"Baiklah.. Aku akan tinggal di hotel tapi anda harus mengembalikan saham yang sudah saya berikan! Bagaimana Ibu Mariana?" Mujin tersenyum smirk.


"Aku bukannya mengusirmu! Tapi tolong jangan melakukan hal hal yang akan mencemarkan nama baik Hutama!" tegas Mariana.


"Oh.. Jadi begitu, aku akan pikirkan!" ia melanjutkan berjalan.


"Kau!!! Hahh!!" Mariana menahan amarahnya sekuat tenaga, ia rela menahan semuanya hanya karena agar perusahaan yang di dirikan oleh Ayahnya dengan susah payah tak goyah hanya karena anak tidak sah dari suaminya yang sudah meninggal.


Mujin kembali berpapasan di depan kamar dengan Adinda, namun anehnya Mujin sama sekali tak menatapnya dan hanya terus berjalan menuju kamarnya, ekspresinya terlihat seakan perasaannya sedang sangat kacau sampai tak menyadri keberadaan Adinda.


"Itu.. Eh bukan apa apa kok, ayo kita pergi"


"Oke"


Di perjalanan Arash dan adinda berhenti di sebuah toko kue terkenal, mereka masuk dan memilah satu persatu kue yang hendak di beli.


"Semuanya terlihat enak bukan?" ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya dari kue kue di depannya.


"Iya, kau mau juga? Beli saja" ucap Arash.


"Nggak deh, lain kali saja, ayo pilih satu untuk Paman dan Bibi"


"Baiklah, kau pilih saja"


Arash dan Adinda keluar dari toko kue dengan membawa se kotak berukuran besar di tangan Adinda, kemudian mereka kembali masuk ke mobil.


Mobil Arash berhenti tepat di sebuah rumah sederhana milik Barata dan Yunita, mereka adalah Paman dan Bibi Adinda sekaligus orang tua Lina.

__ADS_1


Tok tok.. Begitu Adinda mengetuk pintu Yunita keluar membukanya. Wanita paruh baya yang terlihat sedikit berisi itu tersenyum ke arah Adinda.


"Adinda ya?? Apa kabar?" ucap Yunita dengan ramah dan lemah lembut.


"Bibi" Adinda menjabat dan mencium tangannya. "Dia adalah Suamiku, namanya Arash" Dinda menoleh ke arah Arash.


"Halo Bibi, saya Arash" ucapnya seraya menjabat tangan Yunita.


"Senang bertemu denganmu, ayo masuk dulu"


"Baik"


Arash dan Adinda masuk mengikuti Yunita, mereka pun duduk di ruang tamu. Adinda meletakkan kue yang di bawanya di atas meja.


"Ini kue Bibi, kuharap Bibi dan Paman menyukainya"


"Wah.. Terimakasih, toko kue ini sedang populer kan belakangan ini? Seharusnya datang saja kesini, nggak perlu bawa apa apa"


"Ini bukan apa apa Bi"


"Adinda, apa kau tahu betapa terkejutnya Bibi ketika tahu kamu sudah menikah dari berita yang beredar di internet? Gimana bisa kamu nggak undang Bibi, Bahkan Pamanmu yang sudah menikahkanmu merahasiakannya dariku"


"Maaf Bibi, semuanya terjadi begitu saja.. Hehe"


"Eh? Nggak perlu minta maaf, kau terlihat bahagia maka itu sudah cukup untukku, oh iya ada urusan apa kesini Adinda? Paman sudah pergi soalnya"


"Aku mau bicara dengan Lina Bibi, Lina nya ada?"


"Oh Lina, anak itu sudah dua hari nggak kerja, kalau Bibi tanya katanya dia lagi malas, maaf ya Din Lina itu masih sangat kekanak kanakan"


"Nggak apa Bi"


"Bibi panggilkan Lina dulu ya"


Setelah itu Lina muncul, Yunita dan Arash meninggalkankan mereka berdua ke teras agar kedunya lebih leluasa dan akhirnya masalahnya selesai ketika Lina mendengarkan ucapan Adinda mengenai apa yang ingin dikatakannya perihal kecurigaannya kepada Tasya dan bukan dirinya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2