Menikahi Sang Mantan

Menikahi Sang Mantan
Merebut perhatian


__ADS_3

"Papii...." Jean berlari begitu melihat Henry di meja baristanya, Henry pun tersenyum sumringah begitu melihat Jean yang datang ke arahnya.


Henry meletakkan nampan berisi biji kopi yang dipegangnya lalu keluar dari tempat kerjanya, ia berjongkok kemudian kedua tangannya membuka lebar menyambut Jean.


"Jeje Lindu Papi" bisiknya selagi ia berada di dalam pelukan Henry.


"Papi juga rindu Jeje, sudah makan? Mau makan cake stroberi?" Jean mengangguk, "Kalau begitu duduk dengan patuh disana oke" Henry menunjuk meja di bawah jendela.


"Oke!" Jean segera berlari ke arah kursi pelanggan.


Begitu Adinda sampai dihadapannya seketika dalam pikirannya terlintas pengakuan cintanya saat itu membuat raut wajah Henry memerah, suasana keduanya menjadi sangat canggung.


"Hai.." sapa Adinda dengan ragu ragu.


"Hai juga, kau mau minum apa? Aku akan segera mengantarkannya"


"Es americano.."


Tiba tiba Henry terkejut karena biasanya Adinda selalu minum minuman manis, "Nggak salah?"


"Nggak!"


"Oke, duduklah terlebih dahulu.. Aku akan kembali" Henry pergi terburu buru untuk mengakhiri situasi canggung itu.


"Ya.. Baiklah.."


Arash tiba tiba duduk di antara Jean dan Adinda dengan wajahnya yang tersenyum. "Om galak kenapa dicini?" ucap Jean dengan wajah sinisnya.


"Namanya Om Arash! Panggil dia seperti itu, kamu mengerti Je?" tegas Adinda.


"Jangan terlalu keras dengan anak anak Adinda.. mau dipanggil apapun aku nggak masalah kok"


"Putriku harus belajar bahwa semuanya tidak bisa semaunya sendiri! Kamu juga ngapain disini? Kamu mengikuti kami kan?"


"Entahlah.. Ini hanya sebuah kebetulan he he.. Benarkan Jeje?"


"Huuhhh" Anak itu mengalihkan wajahnya ke arah lain.


"Hei sayang.. Sampai kapan kamu acuh tak acuh kepadaku?" ucap Arash kepada Jean. "Bagaimana kalau hari ini kita piknik? Piknik keluarga pasti mrnyenangkan"


Seketika wajah Jean menjadi cerah, "Piknik? Aku mau Om!! Ayoo kita piknik" ia terlihat antusias membuat Arash tersenyum bahagia.


"Bukannya kau harus bilang terlebih dahulu padaku yah?" ucap Adinda yang tak dihiraukan oleh Arash yang sedang asyik merencanakan hal hal apa saja yang akan mereka lakukan. "Heii.. Kalian mendengarku?? Astaga.. Aku diabaikan"


Dari kejauhan Henry mengernyitkan wajahnya melihat Arash yang berada disana juga terlihat akrab dengan Jean.


Sepertinya dia sudah mengetahui bahwa Jean adalah Putrinya.. apa setelah ini mereka bertiga akan bersatu? Bagaimana denganku? Aku nggak rela! Bagaimanapun juga aku nggak rela Arash merebut Jean dan Adinda dariku!.

__ADS_1


Henry segera memasang wajah tersenyumnya, "Kue dan minuman sudah datang" suara Henry membuat perhatian Jean teralihkan dari Arash.


"Yeee!! Kue.. Aku mau kue Papi.."


"Iya.. Ini untuk Tuan Putriku yang manis.." ucapnya seraya meletakkan piring cake di hadapan Jean kemudian tangannya membelai kepala anak itu.


Raut wajah Arash berubah suram, "Eh.. Ada Tuan Arash.. silahkan pesan minuman di konter pemesanan"


"Aku tak ingin minum tuh" jawabnya acuh.


"Terus kenapa anda datang kalau tak mau minum?" Henry menahan kekesalannya, ia mengatakannya sambil tersenyum.


Adinda hanya diam dengan situasi yang sangat tidak nyaman baginya itu. Bagaimana tidak, saat ini ia berada di antara pria yang belum lama ini menyatakan cinta sekaligus melamarnya dan satu lagi adalah mantan suami yang secara terang terangan mengajaknya menikah lagi, apalagi terlihat jelas ada hawa hawa persaingan dari tatapan mata keduanya saat ini, persaingan sengit memperebutkan perhatian Putrinya.. Adinda hanya merasa ingin kabur saja sekarang juga.


"Papi ayo ikut kami piknik!" ucap Jean bersemangat.


"Piknik?"


"Tidak Jeje.. Pamanmu ini sedang bekerja! Dia tidak bisa ikut kita sekarang!!" ucap Arash.


"Siapa bilang? Aku senggang kok!" Henry menimpali.


"Bos macam apa kamu bisa senggang di saat banyak pelanggan seperti ini" Arash melihat sekelilingnya, kafe memang sedang ramai pengunjung.


"Papi bilang bisa kok Om..belcama cama lebih celluuu..." ucap Jean menimpali.


"Hei!! Kenapa jadi kamu yang mengatur atur panggilannya kepadaku!! Apa urusannya denganmu yang baru muncul dihadapan Jean setelah dia sebesar ini??" Henry pun terbawa emosi.


"Hei!! Bicaramu semakin menyebalkan yah!"


"Kamu yang sejak awal sudah menyebalkan!"


"Cukup kalian!!! Apa yang kalian lakukan di depan anak kecil?" ucap tegas Adinda.


Seketika Henry dan Arash terdiam.


"Apa kalian beltengkal gala gala Jeje? Apa Jeje melakukan kesalahan Mami?" tanyanya dengan raut wajah murung.


"Tidak, Jeje tidak melakukan kesalahan!! Dua orang itu yang sudah bersikap kekanak kanakan!" Adinda melirik keduanya dengan tajam.


Adinda menyeka mulut Jean yang belepotan terkena krim kue, "Ayo kita pergi berdua saja sayang.. Kalau bersama mereka berdua pikniknya akan berisik" ucap Adinda dengan melirik tajam kedua pria di depannya.


"Tapi Mami... Beldua tidak celuuu...."


"Seru.. Tenang saja, ayo kita ajak Kakek Nenek dan Kakek buyut saja, oke??"


"Okee!!"

__ADS_1


Adinda menggendong Jean membawanya keluar menjauh dari Arash dan Henry.


"Hahhh.. Gara gara kamu kan Adinda jadi marah!" ucap Arash kesal.


"Bukannya gara gara kamu!!!" Henry tak mau disalahkan.


"Benar benar yaa.. Bisa nggak sih kamu menjauh saja dari istri dan Putriku!!"


"Istri? Putri?"


"Kenapa memangnya?"


"Adinda cuma mantan istrimu!!"


"Benar.. Tapi sebentar lagi kami akan segera rujuk"


"Mana mungkin.. Kuharap setelah melihat sikapmu yang kanak kanakan hari ini Adinda akan berpikir ribuan kali lagi untuk rujuk denganmu lalu menerima lamaranku" Henry tersenyum menyeringai.


"Apahhh!!??? Beraninya kamu melamarnya!!!" Arash mencengkeram kerah kemeja Henry dengan raut wajah suram.


"Kenapa? Apa kamu takut Adinda akan menerimaku dan menolakmu??" Wajah Arash semakin suram, "Pukul saja aku!! Biarkan orang lain dan juga Putrimu tahu kalau ternyata Ayah kandungnya adalah seorang preman!!"


Tangannya yang sudah mengepal bersiap memukul tiba tiba terhenti, Arash melihat sekitarnya, orang orang sudah mulai berbisik menatap ke arahnya, ia pun melepaskan cengkeramannya dengan mendorong Henry dengan kasar.


"Pergilah dari sini.. Jangan mengganggu bisnis orang lain!" Henry mendekatkan wajahnya, "Kau tahu? Keluarga Adinda sudah memberikan restu untuk hubunganku dengannya, bagaimana denganmu? Apa mereka menyambut kedatanganmu?" Henry tersenyum sinis menatap Arash yang semakin kesal, Arash pun pergi dengan langkah cepat.


Diperjalanan Arash terus terfikirkan dengan ucapan Henry tentang restu dari keluarga Adinda.. Berbanding terbalik dengan perilaku mereka kepadanya, semakin dipikirkan semakin membuatnya kesal.


"Sial!!!"


"Si gondrong jelek itu benar benar membuatku kesal!! Harusnya tadi aku memukulnya saja sampai babak belur sampai kekesalanku terlampiaskan!!"


Drrttt... Drtttt... Ponsel Arash bergetar, ia segera mengangkatnya.


"Ada apa lagi Pak Andy?"


"Tuan Arash.. Ibu Mariana pingsan.."


"Apah?? Apa kalian berencana menipuku?? Tadi aku lihat dia masih baik baik saja! Jangan hubungi aku lagi!!"


"Tapi Tuan Ara--" Arash menutup panggilan televon.


"Jangan kira aku bisa ditipu!"


Setelah itu Pak Andy terus menerus menghubungi Arash namun Arash terus menerus menolak panggilannya sampai akhirnya mematikan ponselnya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2