Menikahi Sang Mantan

Menikahi Sang Mantan
Definisi dari cinta


__ADS_3

"Sejak kapan kamu disini Mujin?" ucap Adinda.


"Sejak awal hehe"


"Benarkah?"


"Iya, kau pasti bertanya tanya kan bagaimana aku tak terlihat dari tadi dan apakah aku boleh berada di tempat ini Sementara aku adalah orang yang tak boleh terlihat di muka umum?Akan kujawab rasa penasaranmu Adinda!"


"Oh? Kau tak perlu menjelaskannya aku juga tak penasaran, wajar jika anggota keluarga Hutama berada di tempat ini, syukurlah kau disini, terimakasih sudah membantuku menghadapi Nona Mikayla"


"Eheiii sayang sekali kau tak penasaran denganku, sepertinya kau adalah satu satunya orang yang merasa bersyukur atas kehadiranku haha rasanya lumayan juga"


Lagi lagi Mujin mengatakan hal yang menyedihkan dengan ceria membuat perih perasaan orang yang mendengarnya, terlihat jelas sorot mata yang menyiratkan akan kesepiannya di tengah tengah keramaian ini.


"Hahhh.. aku datang karena kupikir pestanya akan menyenangkan, siapa sangka ini sangat membosankan, bukan begitu Adinda?"


"Ya! Satu satunya yang menyenangkan adalah ini" Adinda mengangkat sendoknya menyuapi mulutnya dengan dessert lagi.


"Iya aku setuju denganmu! Aku mau coba, tolong suapi aku aaaaaa..."


Adinda merasa risih namun ia tak bisa mengabaikan permintaannya begitu saja, ia mulai menyendok puding di piringnya setelah melihat ke kiri dan kanan tak ada yang memperhatikannya, setelah sendoknya hampir sampai tiba tiba Arash memasukkan sepotong kue ke dalam mulut Mujin, Mujin pun cukup terkejut namun ia mengunyah potongan besar kue di dalam mulutnya dengan ceria.


"Terimakasih kue nya sangat enak Arash haha" ucapnya tertawa menatap Arash yang kesal.


"Pergilah" ucapnya dengan wajah galak.


"Aku masih mau disini Arash, duduklah sini bersama kami sebelum orang orang mencurigai situasi ini?" Jawab Mujin santai.


"Pergi!!"


"Duduklah, jangan membuat kegaduhan yang akan menggugah rasa penasaran orang lain" ucap Adinda kepada Arash yang masih berdiri di sampingnya, Arash pun duduk diantara keduanya.


"Katakan apa tujuanmu yang sebenarnya!" ucapnya pelan namun penuh penekanan di telinga Mujin.


"Entahlah.. Coba tebak dong.. Hehe" Mujin mennggapinya dengan candaan membuat Arash semakin kesal dibuatnya.


"Adinda sudah selesai makan kan?"

__ADS_1


"Iya udah"


"Ayo pulang!" Arash menarik tangan Adinda. Mujin hanya bisa melambaikan tangan dengan senyuman melihat Adinda yang menjauh menoleh ke arahnya.


Tiba tiba pandangan mata Adinda terhenti ke suatu arah dalam perjalanannya keluar, ia melihat seseorang dengan setelan jas berambut sebahu yang terlihat mirip dengan Henry sedang berbincang bincang dengan beberapa orang. "Tunggu.. Tunggu ituu..." ucap Adinda yang di tarik oleh Arash, ia bahkan tak sempat melanjutkan apa yang ingin dikatakannya karena Arash tak mau mendengarnya dan tetap membawanya keluar.


Sementara Mujin bangun dari duduknya, ia juga berjalan keluar dari aula mengikuti seseorang, tapi tiba tiba orang itu masuk ke dalam toilet wanita, Mujin pun segera menghentikan langkahnya menjaga jarak dari pintu masuk toilet.


Klotak klotak.. Suara langkah kaki berhenti tepat di hadapan Mujin, wanita itu adalah Mikayla.


"Sudah lama menungguku Mujin Oppa?" ucapnya seraya tersenyum.


"Yah..lumayan"


"Gimana aktingku tadi?"


"Keren..aku suka, seharusnya kau jadi aktris, haruskah kita lanjutkan pembicaraan di tempat yang lebih privasi?"


"Oke!" Mikayla berjalan mengikuti Mujin.


.


"Sudah kubilang jangan dekat dekat dengan si Mujin itu! Apa kau sama sekali tak ada niat mendengarkan ucapanku Adinda!!" ucapnya kesal dengan nada tinggi.


"Aku minta maaf tapi aku bukan anak kecil yang harus selalu menuruti kata katamu! Haruskah aku mengabaikan orang yang selalu sendirian?"


"Dia itu mendekatimu karena ada maksud tersembunyi, apa kau tak bisa berpikir ke arah sana sedikit?"


"Aku nggak merasa dia sengaja mendekatiku, dia hanya butuh teman bicara, itu saja.. Dia selalu datang membantuku apa aku harus menolak kebaikannya juga?"


"Apa kau masih belum paham juga?"


"Apa memangnya? Beri aku alasan yang pasti agar aku memahami keinginanmu! Jika dia memang berniat jahat dia pasti sudah melakukannya dengan saham perusahaan yang dimilikinya, tapi dia hanya berdiam diri dan sama sekali tak mengusik keluargamu, apa masalahnya? Apa dalam hatimu sama sekali tak merasa iba dengan situasinya? Dia juga tak memilih terlahir sebagai anak haram!"


"Yah..memang percuma aku bicara denganmu! Aku lebih suka bicara dengan batu! Yasudah lakukan apapun sesuai keinginanmu, kau tak perlu memperdulikan perasaan suami yang bahkan tak kau cintai!" Adinda terdiam tersentak dengan ucapannya.


Arash mulai menjalankan mobil dengan cepat, setelah itu ia sama sekali tak mengatakan sepatah katapun, ia hanya membuat ekspresi penuh amarah.

__ADS_1


Dalam diam Adinda mulai berfikir, ia menyadari bahwa Arash sudah beberapa kali mengungkapkan perasaanny namun ia sama sekali belum menjawabnya, wajar jika Arash menganggap bawa ia tak mencintainya, Adinda menilik kembali dalam hatinya apa yang sebenarnya ia rasakan saat ini kepada orang yang sudah menjadi suaminya itu, apakah perasaan cinta? Atau rasa tanggung jawab karena keputusan yang dipilihnya? Ataukah rasa hormat dan terimakasih karena diperlakukan dengan baik oleh Mertuanya? Adinda berfikir dengan keras, rasanya ia butuh lebih banyak waktu untuk memikirkan hal itu.


"Tolong turunkan aku di butik, aku ingin bertemu dengan Anya dan Bara" ucapnya dengan hati hati, Arash hanya diam tak merespon kata katanya, namun ia tetap mengantar Adinda sesuai keinginannya, setelah Adinda turun Arash langsung menjalankan kembali mobilnya.. Arash pikir Adinda kesal dengannya dan ingin menghindarinya, itu membuat darahnya semakin mendidih.. Bruummmmm..!


"Hahhh...aku lelah" Adinda menengok kafe di samping butik yang sudah gelap. "Sudah sepi ya, apa tadi itu benar benar Henry? Tapi dia seperti orang yang berbeda meski wajahnya sama, apa aku salah lihat?"gumamnya seraya berjalan masuk ke butik.


Adinda membuka pintu butik dengan kunci yang selalu di bawanya, Klekkkk.. Ketika ia berhasil membuka pintu Anya sudah berada di balik pintu kaca itu, Adinda pun tersenyum menyapanya yang tampak curiga.


"Kamu belum tidur Any? Bagaimana dengan Bara?"


"Bara sudah tidur" Anya masih menatap Adinda dengan tegas.


Dinda yang kelelahan duduk bersandar di sofa panjang, Anya pun ikut duduk di sampingnya dengan sorot mata yang semakin tajam.


"Apa apa apa? Katakan saja jangan menatapku seperti itu, bisa bisa wajahku berlubang!" ucap Adinda yang sudah sadar dengan ekspresi Anya sejak awal.


Plakkkkk!!!! Anya memukul lengan Dinda dengan keras..


"Duuhhhhh!! Sakit Anyaaa!!!" teriak Dinda.


"Dasar wanita gila! Sementara aku sedang sibuk dengan urusanku sendiri kenapa barusan aku melihat wajahmu di sebuah artikel? Sekarang kau benar benar menantu keluarga itu? Bukannya hubungan kalian harus dirahasiakan? Apa yang ada di kepala kecilmu itu!!!!" ia bicara dengan sangat cepat.


Adinda tersenyum "Maaf, aku belum mengatakan padamu ya bahwa perjanjian kami batal dan aku benar benar menjadi Istri darinya" ucapnya hati hati.


"Apa kau bilang!!!!"


"Hei pelankan suaramu! Bara bisa bangun"


"Hahhh..nyebelin banget Adinda!! Jadi sekarang kalian adalah suami istri sungguhan? Kamu dan Arash si makhluk angkuh itu?" Adinda mengangguk. "Hahhhh.. Aku benar benar tak mengerti dengan jalan pikiranmu, apa kamu yakin kamu takkan menyesal?"


"Entahlah, aku tak berfikir panjang, aku hanya merasa harus melakukan hal yang membuat perasaanku nyaman"


"Apa Mertuamu memaksamu?"


"Enggak, Ibu mertuaku sangat baik, itulah alasan terbesar aku mengambil pilihan itu"


"Hahhhh.. Adinda Adindaa.. Sepertinya aku bicara pun percuma" Anya merasa frustasi. "Jadi kau akan hidup bersama dengannya? apa kau memang masih mencintainya??" Seketika Adinda terdiam, ia bertanya tanya kepada dirinya sendiri, apa memang sejak awal ia menerima pernikahan tak masuk akal itu karena Pria itu adalah Arash dan bukan orang lain??.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2