Menikahi Sang Mantan

Menikahi Sang Mantan
Terusir


__ADS_3

Lina dan kedua orang lainnya yang membawa beberapa gulung kain di tangannya berpapasan dengan pemilik gedung, Lina segera berlari masuk menghampiri Adinda yang saat itu terduduk lemas.


"Kak, aku lihat pemilik gedung dari sini, bukannya belum waktunya memperbarui kontrak sewa?" tanya Lina yang sudah berfirasat buruk karena melihat ekspresi Adinda.


"Pemilik gedung bilang sudah menjual bangunan ini, kita diminta mengosongkannya, bukan lusa atau besok tapi hari ini juga.." jawab Adinda lemas.


"Apahhh??? Kenapa?? Kenapa begini? Kenapa orang itu jahat banget!!!" Lina merasa syok sekaligus tak terima.


"Yah..mau bagaimana lagi.."


"Mintalah bantuan suami Kakak! Apa aku yang harus menghubunginya?"


Adinda hanya terdiam, saat ini ia benar benar tak bisa berpikir jernih, seolah saat ini dunia berputar tanpa dirinya, melihat Adinda yang sangat kalut Lina pun meninggalkannya untuk menenangkan diri.


Beberapa saat berlalu Adinda masih dalam posisi duduknya, kepalanya menunduk, tiba tiba Arash datang, melihat Istrinya yang seolah kehilangan seluruh dunianya membuatnya sangat teriris dan lagi ia yakin bahwa itu adalah ulah dari Ibunya sendiri.


Arash menghampiri Adinda dan duduk di sebelahnya, "Kamu baik baik saja?" ucapnya seraya membuat Adinda menatap wajahnya.


Adinda menggeleng pelan, "Aku tidak tahu.. sepertinya aku nggak baik baik saja.." gumamnya lirih.


Arash memeluknya dengan erat, "Maafkan aku, ini semua salahku, Lina sudah mengatakannya di televon, aku akan mencari jalan keluar untukmu, hemm???"


Adinda mengusap wajahnya dengan kedua tangan mencoba menyadarkan dirinya sendiri, "Ahhh.. Apa yang kulakukan dari tadi.. Aku harus bergegas mencari tempat dan memindahkan barang barang" Adinda bangun dari duduk.


"Tenanglah masih ada waktu, aku akan mengantarmu"


"Tapi gimana dengan pekerjaanmu?"


"Tidak apa apa, kau tak perlu menghawatirkan itu" Adinda mengangguk.


Lina dan dua pegawai lainnya mulai mengepak barang barang sementara Arash dan Adinda mencari tempat yang bisa menampung barang barang dari butik.


Sayangnya semuanya tak berjalan dengan lancar, Adinda menghubungi nomor yang tertera dari satu bangunan ke bangunan lainnya yang tampak kosong dan bertuliskan di sewakan atau dijual, namun semuanya mengatakan bahwa sudah terjual, tidak ada celah, tidak ada tempat baginya.

__ADS_1


Sedangkan Arash merasa bahwa Ibunya sudah berniat mengincar Adinda, kemanapun dia pergi Ibunya akan mengusiknya selama masih memiliki hubungan dengannya, tangan Arash mengepal, ia sudah tahu sifat Ibunya tapi tetap saja ia sangat meradang dibuatnya.


.


Sore itu Mikayla menunggu dengan santai di ruang tamu rumah Hutama sambil menikmati secangkir teh hangat dan camilan kesukaannya yang dipersiapkan oleh Mirna. Mikayla merasa amat lega karena pada akhirnya Adinda meninggalkan rumah itu dan dia sudah siap menempati posisi yang seharusnya menjadi miliknya, ia tersenyum smirk.


Saat itu Mariana pulang dari bekerja, ia masuk melewati ruang tamu, dan seketika langkahnya terhenti melihat seseorang duduk sendirian.


Mariana melirik dengan tatapan tajam, "Apa yang kau lakukan disini?" ucapnya dingin.


Mikayla bangun, "Halo Tante, sepertinya Tante sangat kelelahan--"


"Hentikan basa basinya!! Jawab saja pertanyaanku!!" Ekspresinya semakin tak enak membuat Mikayla merasa semakin menciut.


"Baiklah, aku datang karena selama ini aku sudah menunggu tapi tetap tak mendapat kepastian, bukannya aku sudah memberitahu kebenaran tentang Adinda kepada Tante?"


"Benar, lalu?"


"Bukankah mereka sudah bercerai? Itu artinya aku akan menikah dengan Arash kan? Jadi kapan kami akan menikah?" Mikayla tersenyum malu malu.


Mikayla terdiam menggigit bibirnya menahan rasa marah sekligus malu, tapi ia tak bisa menyerah hanya karena kata kata kasar, ia sudah melakukannya sejauh ini dan tak akan mundur begitu saja.


"Tante..dulu sewaktu kecil Arash mencintaiku, aku adalah cinta pertamanya, aku yakin kami akan bahagia dan menjadi pasangan yang sempurna untuk satu sama lain, dan lagi kami sama sama berasal dari keluarga terpandang"


"Hahhh!! Hentikan ucapan tentang cinta itu, sungguh menggelikan! Itu keputusanmu yang meninggalkan Arash di pelaminan, setelah di pikir pikir semua yang terjadi itu bermula karena dirimu!! Kau lebih parah dari siapapun!! Jangan berani muncul di hadapanku lagi atau aku benar benar akan membuatmu menyesal berurusan denganku!! Enyah kau!!" Mariana pergi meninggalkannya.


"Tante.. Tunggu Tante.." Meski Mikayla memanggil manggilnya, Mariana sama sekali tak bergeming.


Begitulah Mariana Hutama, sekali orang lain membuat kesalahan padanya ia tak akan pernah mentolelirnya, karena menurutnya itu akan sangat menurunkan harga dirinya dan orang lain akan terus melakukan kesalahan yang sama tanpa berfikir akan berubah, itulah pengalaman yang ia dapatkan dari kehidupannya yang keras setelah mengambil alih tanggung jawab dari Ayahnya.


Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, Arash dan Adinda kembali dengan tangan kosong, sementara semua barang sudah tersusun di mobil pick up.


7 orang pengawal yang sengaja dikirim Arash untuk membantu membereskan barang menghampirinya, "Tuan, semuanya sudah selesai"

__ADS_1


"Ya! Pergilah"


Lina dan kedua pegawai menghampiri Adinda, "Gimana Kak? Barang barang ini akan di bawa kemana?"


"Entahlah.. Aku tak berhasil menemukan tempat"


Tiba tiba Rosita dan Kinanti mendekatinya "Kak Adinda, sepertinya kami akan berhenti bekerja dan mencari pekerjaan lain, maaf"


"Iya, seharusnya aku yang minta maaf, kalian baru bekerja beberapa hari tapi sudah jadi begini, semoga kalian cepat dapat pekerjaan yang lebih baik" jawab Adinda.


"Baik, kami permisi dulu"


"Ya"


Adinda kembali terdiam menatap bangunan bertuliskan Maha Boutique di hadapannya, Arash mendekati Adinda, "Sudah malam, ayo tinggal di hotel untuk sementara, aku akan membawa barang barang ini ke gudang hotel"


"Nggak! Aku merasa akan terjadi sesuatu jika aku membawa barang barang ini ke Hutama's Hotel"


Deg, rasanya Arash kembali tersadar, benar.. Bagaimana mungkin Adinda mau kembali kepada Hutama padahal Hutama lah yang membuatnya menjadi seperti ini, sedangkan ia sendiri merasa sangat payah karena ia juga adalah seorang Hutama yang tak memiliki kekuasaan seperti ibunya, Arash mulai merasa bahwa Adinda mulai merasa tak nyaman berada di dekatnya.


"Kak, ayo ke rumahku" ucap Lina.


Adinda kembali berfikir, ia takut jika ia datang kepada Paman dan Bibinya, Mariana akan ikut mengusiknya, tapi apa saat ini ia memiliki pilihan lain?.


"Baiklah, Lin.. Aku akan menginap satu malam saja di rumahmu, barang barang ini biarkan saja seperti ini di depan rumah, maaf ya sudah merepotkanmu"


"Jangan berfikir seperti itu Kak, kita kan keluarga"


"Naiklah ke mobilku, aku akan mengantarkan kalian" ucap Arash.


.


Arash kembali ke rumah dengan amarah yang meledak ledak, ia menggedor pintu kamar Ibunya dengan keras beberapa kali dan berteriak, Namun Ibunya tak bergeming sedikitpun, Mariana sudah tahu kira kira apa yang akan dikatakan oleh Putranya itu.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2