
Malam itu Adinda tak bisa tidur karena merasa gelisah, ia melihat Lina yang sudah tertidur pulas di sampingnya, Adinda merasa tak enak hati karena sudah merepotkan Paman dan Bibinya dengan tiba tiba datang membawa semobil pik up barang, Paman dan Bibinya sangat pengertian, mereka tak banyak bertanya dan hanya menyambutnya dengan tangan terbuka, itulah sebabnga Adinda merasa lebih tak enak.
Tiba tiba tercium bau sesuatu seperti terbakar, deg.. Jantungnya mulai berdetak cepat, bukan hal yang mustahil jika Mertuanya akan membakar rumah Lina jika dia berniat mengusiknya, Adinda segera bangun memeriksa keluar kamar, matanya mengelilingi mencari cari sumber aroma terbakar itu, ia mengecek disetiap ruangan, semuanya aman, namun ketika ia mulai beralih ke ruang tamu ia melihat api sudah berkobar di halaman rumah tempat mobil pick up berada.
Adinda menjerit histeris hingga semua penghuni rumah menghampirinya, Barata dan Istrinya datang ke sisi Adinda yang sudah lemas bersimpuh di lantai. "Ada aapa Adinda?" tanya Barata, lalu ia tersentak melihat api besar yang sudah membakar mobil di depan rumah.
"Kak.." Lina menahan dan menenangkan Adinda yang masih histeris ingin keeluar menyelamatkan barang barangnya yang sudah terbakar.
Sedangkan Barata dan Istrinya memanggil orang orang untuk membantunya memadamkan api agar api tak merembet ke dalam rumah.
Tak lama mobil pemadam kebakaran pun tiba, suasana sudah sangat gaduh, orang orang merasa penasaran tentang penyebab kebakaran.
Tak ada lagi Yang bisa Adinda perbuat selain menangis. Barang barang yang sangat berharga baginya sudah hangus terbakar, termasuk motor kesayangannya yang di parkir tepat di sebelah mobil. Ia bertanya tanya benarkah Ibu Mertuanya yang melakukan itu semata mata hanya untuk mengusiknya? Kenapa dia setega itu? Lalu kedepannya apa lagi?? Beruntung hanya barangnya yang hangus terbakar, bagaimana jika besok rumah ini yang terbakar?Jika itu terjadi Ia tak akan sanggup menanggung rasa bersalah itu seumur hidupnya.
Keesokan harinya Petugas Polisi datang karena Barata melaporkan tentang pembakaran itu tanpa berunding terlebih dahulu dengan Adinda, namun Adinda menolak dengan tegas meminta Pamannya mencabut laporannya dan memilih pergi meninggalkan rumah itu.
"Kamu mau kemana Adinda?" Tanya Barata dengan raut wajah khawatir.
"Paman tenang saja, aku punya tempat tujuan, tak mungkin aku tak punya teman kan?" Adinda tersenyum tipis untuk menenangkan keluarga Pamannya yang mengantar kepergiannya dengan raut tak rela.
"Kembalilah kesini jika ada masalah oke?" Ucap Bibi.
"Siap Bi! Aku akan mengabari kalian begitu sampai, kalau begitu aku pamit"
"Hati hati Kak, hubungi aku" kata Lina.
"Iyaa.. Dah Lin" Adinda pergi menarik kopernya, semakin jauh ia melangkah semakin pula ia kehilangan senyum palsunya.
Adinda menghentikan taxi dan sampailah ia di depan kantor pusat Hutama Grup, ketika hendak membuka pintu ia dihentikan oleh petugas keamanan yang berjaga di depan.
"Ada keperluan apa Nona? Sepertinya anda bukan karyawan sini" ucap security seraya menatap koper besar yang dibawanya.
__ADS_1
"Aku mau bertemu dengan Ibu Mariana, saya Adinda, Istri Arash Esfandiar Hutama"
Security yang awalnya memasang wajah garang tiba tiba tersenyum ramah, "Oh, anda menantu kesayangan yang dibicarakan orang orang itu ya?"
"Haa??!!" Adinda tak menyangka sebutannya berbanding terbalik dengan apa yang kini dilakukan oleh Mertuanya itu, namun kini ia akan memanfaatkan panggilan itu agar bisa leluasa masuk ke dalam sana. "Benar, saya adalah menantu kesayangan Mama Saya, apa saya bisa masuk sekarang?"
"Tentu, silahkan ke resepsionis di sebelah kanan, lalu resepsionis akan menghubungi ruangan Bu Bos"
"Terimakasih, bisa titip koper saya?"
"Tentu saja, silahkan hubungi saya di pos jika mau mengambilnya"
"Baik"
Adinda sampai di resepsionis, begitu selesai menggunakan televon pegawai resepsionis mengantarkan Adinda sampai ke depan ruangan Direktur, Adinda tak menyangka ia bisa masuk semudah itu.
Seluruh tubuhnya menegang begitu ia berada di depan ruangannya tapi ia sudah membulatkan tekadnya, paling parah dia hanya akan di usir kan? Begitu pikirnya.
"Silahkan masuk Nona Adinda" ucap pria itu pelan lalu ia pergi.
Adinda melangkahkan kakinya, membusungkan dada dan meremas jemarinya. Disana Mariana sudah duduk seolah sudah menantikan kedatangannya.
"Ada apa Menantu Kesayanganku?" ucapnya dengan bibir sedikit terangkat.
"Kenapa? Kenapa anda tega membakarnya? Barang barangku yang sudah seperti hidupku!"
"Aku? Membakar barangmu? Bicara apa kamu tiba tiba?"
Adinda hanya bisa menggigit bibirnya, "Sejauh apa anda akan terus mengusik saya!" nada suara Adinda mulai mengeras, matanya membulat tajam.
"Sejauh apa ya? Biasanya aku melakukannya sampai tujuanku terpenuhi karena aku orang yang tak kenal kata menyerah, apa kau tahu? Bahkan aku pernah mengusik seorang wanita sampai dia kesakitan dan berakhir meninggal, apa kira kira kamu bisa menebak siapa wanita itu? meski itu bukan kesalahanku sepenuhnya tapi sampai sekarang aku masih merasa bersalah, aku tak ingin mengulanginya jadi aku tak akan sampai membunuhmu, kamu tenang saja" ucapnya santai.
__ADS_1
"Ternyata begini sifat asli anda ya!"
"Benar Adinda, beginilah aku! Aku akan sangat baik kepada orang yang baik dan akan sangat jahat kepada orang yang mengusik hidupku terlebih dahulu, apa aku mengerikan? Kamu takut? Maka dari itu kau cukup pergi jauh dan menghilang dari hadapan Putraku yang adalah pewaris tunggal perusahaan ini! Orang sepertimu tak pantas berada di sampingnya!!"
"Jangan bermimpi!! Sekeras apapun usaha anda kami sudah janji akan terus bersama! Usik saya sampai anda kelelahan!!"
"Kamu menantangku Adinda?? Beraninya!!!"
"Sebelum itu.. Ganti rugi!! Barang barang yang anda bakar, saya mau anda ganti rugi sekarang juga!!"
"Hehhh!! Rupanya masalahnya uang ya? Dasar rendahan!!" Mariana menelvon seseorang menggunakan ponselnya.
Tak lama Pak Andy datang dengan membawa koper kecil di tangannya, kemudian Mariana memberinya perintah dengan isyarat matanya agar Andy membuka koper itu dan menunjukannya kepada Adinda.
Begitu melihat tumpukkan uang perasaan Adinda semakin kacau, benar ia meminta ganti rugi, tapi rasanya seolah Wanita di hadapannya itu memberikan penghinaan yang lebih besar dengan memamerkan uang tunai sebanyak itu.
"Ambil itu!! Kenapa diam saja?" ucap Mariana sinis. Adinda hanya terdiam menunduk. "Kamu bilang minta ganti rugi!! Aku bilang ambil ya ambil!!!" Mariana semakin emosi, ia mulai menghujani Adinda dengan lembaran lembaran uang tersebut dengan tangannya sendiri. "Ambill semuanya!! Jangan malu malu, bahkan aku bisa memberimu lebih banyak asal kau enyah dari hadapan putraku!"
Klekkk..tiba tiba Arash membuka pintu ruangan itu dan betapa terkejutnya dia melihat banyaknya uang yang berserakan di sekitar tubuh Istrinya.
Arash menarik tangan Adinda, "Apa apaan ini? Kenapa kamu diam saja di perlakukan seperti ini Adinda!!!" teriak Arash kesal. "Mama sebenarnya apa yang kau inginkan dari melakukan ini? Apa masih belum cukup??" mata Arash membelalak, saat ini ia benar benar tak bisa menahan amarahnya.
"Apa salahku? Kenapa kau membentak Mama? Dia meminta ganti rugi, aku memberikannya jadi apa masalahnya?" jawab Mariana santai.
"Mama benar benar sudah keterlaluan!! Mama membakar barang barangnya dan sekarang begini!!! Aku benar benar akan pergi kalau Mama terus berbuat kejam seperti ini!!!" teriak Arash.
"Oh jadi kau lebih memilih wanita ini dari pada Ibu yang sudah melahirkanmu? Kau senang Adinda? Putraku sekarang menjadi anak durhaka berkatmu!!!"
"Cukuppp!!! Ayo pergi Adinda, tak ada gunanya bicara dengan wanita tua kejam ini!!" Arash menarik tangan Adinda membawanya keluar.
Bersambung.
__ADS_1