
Arash dan Adinda berjalan masuk, diruang tengah Mariana tengah duduk menunggu mereka, ketika Arash dan Dinda muncul Mariana bangun menatap Adinda, wajah Dinda seakan dipenuhi oleh tanda tanya.
"Kau tahu ucapanku tadi tak masuk akal kan? Kuharap kau tak terganggu dan lekas biasakan dirimu agar kau bisa mengontrol ekspresimu itu! Arash juga!" ucapnya dengan raut wajah datar, Dinda dan Arash hanya mengangguk.
Mariana melihat jam tangannya "Hahhh.. Aku sampai kesiangan" gerutu Mariana sembari pergi.
"Jangan pikirkan perkataan Tante Luna tadi" ucap Arash seraya melirik Dinda.
"Apa kamu sedang menghawatirkanku?"
"Tidak tuh, hanya ingin bilang saja" ia membuang mukanya ke arah lain lalu segera mengalihkan topik pembicaraan "Ayo kuantar ke butik"
"Oke, aku ambil tas dikamar dulu" jawabnya seraya berjalan.
"Jangan lama!"
"Bawel"
Adinda berjalan dengan senyuman tipis diwajahnya, hari ini ia cukup senang karena kehidupannya sebagai pengantin pengganti ternyata tak seburuk pikirannya.
Arash hanya mengantar Dinda sampai butik kemudian ia pergi, sesampinya di butik Adinda cukup terkejut dengan tiga pasangan tamu yang datang dalam waktu bersamaan, ia melihat Lina yang sedang kewalahan, Adinda tersenyum tipis kemudian menghampiri Lina dengan langkah cepat untuk membantunya.
Setelah berkonsultasi tentang gaun yang mereka inginkan satu persatu, Adinda dan Lina mulai menunjukkan kumpulan buku desain yang sudah Adinda persiapkan sebelumnya, mereka pun menyukai desain pilihan masing masing dan tak butuh waktu lama sampai mereka menentukan keinginan dan membuat jadwal fitting.
Jam makan siang pun tiba, para tamu sudah pergi setelah mendapat yang mereka inginkan.
"Akhirnya hari ini tiba juga Kak" ucap Luna yang kelelahan, ia menyandarkan punggungnya di sofa.
"Benar, aku sangat bersyukur untuk itu, tapi ada sesuatu yang mengganjal" ucap Dinda ragu ragu.
"Apa itu Kak?"
"Ketiga pengantin akan melaksanakan pertunangan dan pernikhan di Hutama's Hotel"
"Apa yang aneh tentang itu Kak? Memang disanalah tempat favorit kan"
"Iya, tapi.."
"Sudah jangan dipikirkan kak, bukankah ini sesuai dengan apa yang kita inginkan? Ini loh berkat kakak yang menikah dengan Kakak ipar di hotel itu, ini hal baik kak"
__ADS_1
"Hmm, pasti begitu kan.." gummnya ragu ragu.
Tiba tiba seorang Pria tampan berkulit sawo matang berambut kira kira sebahu yang diikat masuk ke butik membawa 2 cup es kopi di tangannya "Permisi"
Adinda dan Lina segera bangun "iyaa? Ada yang bisa di bantu?" ucap Dinda ramah.
"Halo, saya Henry pemilik bangunan sebelah, rencananya saya akan membuka coffee shop, tapi dalam beberapa hari ini akan dilakulan renovasi saya ingin minta izin dari nona nona sekalian akan cukup berisik dan saya minta maaf untuk gangguan itu, ini saya membuatkan kalian es kopi terbaik yang akan ada di salah satu menu, saya harap kalian menerimanya" ucap ramah pria itu.
Adinda mengambil cup kopi di tangan pria itu "Ya, tentu saja kami akan menikmatinya kebetulan cuaca sedang panas, terimakasih Henry kedepannya kita akan sering bertemu"
"Ya, terimakasih atas pengertiannya, kalau begitu saya permisi" Dinda dan Lina pun mengangguk.
Duk duk duk, es kopinya enak dan segar tapi setelah kepergian pria itu suara bising dari sebelah benar benar mengganggu.
"Astaga Kak, ini benar benar mengganggu, aku sudah tak tahan lagi, harusnya dia memberikan sesuatu yang lebih ketimbang cup kopi itu" ucap Lina seraya menunjuk cup kopi yang isinya sudah habis.
"Kamu sudah meminumnya, jangan protes lagi, mari bersabar dan ayo kerjakan gaun yang akan dipakai lebih awal"
"Oke deh, ayo makan siang dulu kak"
"Kamu saja, aku akan makan nanti"
"Iya"
.
Adinda melakukan peregangan tangannya setelah seharian sibuk, tak terasa hari sudah gelap saat ia menoleh ke arah luar, Lina pun sudah pulang terlebih dahulu, Adinda melihat ponselnya, ia membuka chat dari Arash.
^^^Datanglah ke hotel dan tunggu aku di lobi!^^^
Begitulah isi pesan dari kontak yang diberi nama teman serumah, memang jarak dari Butik ke hotel hanya memakan waktu 10 menit menggunakan taxi.
"Apa dia masih sibuk?" gumamnya seraya memakai tas lalu ia berjalan keluar.
"Halooo" sapa Henry yang terburu buru mematikan rokok dengan menginjaknya begitu melihat Dinda.
"Haloo juga" jawab Dinda.
"Sudah mau pulang?"
__ADS_1
"Iya"
"Ngomong ngomong anda sudah tahu nama saya tapi saya belum tahu nama anda yaa, seperti yang anda bilang kita akan sering bertemu, alangkah baiknya kita saling mengenal satu sama lain, kalo boleh tahu siapa nama anda?"
"Ya, saya Adinda dan rekan saya Lina, anda boleh bicara santai saja dengan kami sepertinya usia anda dibawah saya, apa saya benar?"
"Baiklah, mari bicara santai,memangnya usiamu berapa Adinda?" ucapnya kikuk namun dia tersenyum.
Adinda pun tersenyum balik "Aku 30 tahun ini"
"Eiii, itu berarti kamu harus memanggilku kak atau mas? Hehe aku 32 tahun hari ini"
Adinda pun tersentak "Ohh, hari ini? Kalau begitu selamat ulang tahun Kak Henry.
"Terimakasih, kamu satu satunya orang yang mengucapkan selamat ulang tahun padaku tapi aku lebih suka dipanggil cukup dengan Henry" Dinda pun mengangguk.
Seketika Dinda merasa iba, dan berbagai pertanyaan muncul dari benaknya, seperti apakah dia tak memiliki keluarga dan teman sampai sampai tak ada yang mengucapkan ulang tahun padanya, Namun hari ini adalah pertemuan pertama mereka, akan aneh jika dinda menanyakan hal hal seperti itu.
Henry menatap Dinda yang terlihat tak nyaman "Eiii, kenapa ekspresimu jadi murung? Hehe itu bukan apa apa, ini adalah sesuatu yang biasa hehe" mendengarnya berkata sudah biasa membuat Adinda semakin iba. "Eiii, sudah sudah, tolong jangan dipikirkan ucapanku barusan, aku sudah menyita banyak waktu adinda dengan berbicara omong kosong, kamu boleh pulang sekarang"
"Baiklah, sampai jumpa Henry" Dinda pun berjalan pergi.
"Adinda!" panggilnya lagi menghentikan langkah Dinda, Dinda pun berbalik badan.
"Ya?"
"Senang bertemu denganmu!" ucapnya dengan senyuman ceria di wajahnya sembari melambaikan tangan.
"Ya, senang bertemu denganmu juga Henry, dah"
Melihatnya yang begitu ramah dan ceria membuatku merasa sia sia menghawatirkannya, dasar...
.
Sesuai permintaan Arash, Adinda duduk menunggu di lobi begitu memasuki hotel, saat itu memang banyak sekali orang berlalu lalang, pasti sedang ada acara, itu wajar jika Arash lebih sibuk dari biasanya karena pekerjaan Arash mengurus dan mengawasi langsung hotel dan jalannya event event di hotel itu.
Namun tiba tiba mata Adinda terperanjat menatap ke satu arah di antara orang orang yang sedang berlalu lalang, ia memastikan dan memastikan lagi yang dilihatnya, setelah merasa yakin bahwa yang dilihatnya benar dadanya mulai berdebar hebat hingga lemas, Adinda segera mengalihkan wajahnya ketika pria berkacamata itu menoleh ke arahnya, dan pria itu adalah Dokter Donny, dia adalah suami dari Anya, Adinda sangat terkejut suami sahabatnya menggandeng mesra seorang wanita keluar dari hotel, dan wanita itu bukanlah Anya, berbagai pikiran mulai berkecamuk di benak Adinda.
Bersambung.
__ADS_1