
Arash menatap mata Adinda dalam dalam setelah mengungkapkan isi hatinya, bukan benci atau kecewa, namun yang terlihat dari sorot matanya adalah kesedihan, Arash sadar dengan ia mengatakan isi hatinya akan membuat Adinda merasakan luka lama yang kembali terbuka, ia bertanya tanya dalam benaknya, apa ia salah sudah bersikap lebih jujur? Arash pun terdiam seiring Adinda tampak berfikir tanpa suara.
"Maaf" suara Arash tiba tiba memecah keheningan di antara keduanya.
"Kenapa?"
"Aku sudah melukaimu meninggalkanmu dan sekarang malah mengatakan perasaanku yang masih belum bisa melupakanmu, kau berhak membenciku aku pantas disalahkan" nada suaranya terdengar pasrah, pasti ia pun berat mengatakan hal seperti itu tapi dia tetap mengatakannya agar hubungan mereka yang baru akan kembali di mulai di awali dengan kejujuran.
"Kau bilang jangan mengungkit masa lalu, kenapa sekarang malah membahasnya?"
"Buatlah keputusan, pikirkanlah ulang tentang hubungan kita, haruskah kita mengakhiri atau memulai kembali, karena setelah kau membuat keputusan aku tak akan membiarkanmu menarik kembali kata katamu itu"
"Bukankah aku sudah membuat keputusan? Untuk mundur sekarang bukankah itu sudah terlambat?"
"Aku memberikan kesempatan sekali lagi padamu untuk lari dariku tapi kau menyia nyiakannya, jadi jangan pernah menyesal! Apa sekarang masih ada yang ingin kau tanyakan? Sesuatu yang membuatmu penasaran?"
"Kenapa meminta putus jika sampai sekarang kau masih memiliki perasaan kepadaku?"
Arash menghindari pandangan mata Adinda "Tolong jangan penasaran dengan itu, anggaplah saat itu aku kekanak kanakan"
"Haruskah aku berfikir seperti itu?"
"Yaa! Oh ya, apa kamu sudah membuka hadiah dariku?" Arash segera mengganti topik pembicaraan.
"Hadiah? Kapan kau memberikan hadiah?"
"Iiisshhhh.. Tadi pagi saat kau sedang memberikan tanaman kepada si gondrong!"
"Ohh itu hadiah? Apa isinya? Aku belum membukanya, tapi namanya Henry!"
"Ahhh terserah aku! Memangnya sejak pagi kamu ngapain sampai tak sempat membuka hadiahku?" gerutunya.
"Hari ini sibuk"
"Hhhhh.. Sudah sore, ayo pulang!" Arash bangun dan berjalan keluar dari taman, Adinda mengikutinya dari belakang.
Langkah Arash yang cepat tiba tiba melambat menyesuaikan langkah Adinda yang tertinggal di belakangnya, Adinda pun tersenyum begitu menyadarinya. "Mampir ke butik dulu"
"Mau ngapain?"
"Ambil hadiah darimu!"
__ADS_1
"Apa itu perlu?"
"Perlu! Karena itu hadiah pertama dari suamiku aku jadi penasaran haha"
Ppssshhhhh.. Tiba tiba raut wajah Arash memerah, ia benar benar belum siap jika Adinda menyerang dengan kata kata seperti itu.
Adinda menatapnya yang terus mengalihkan wajahnya "Kamu malu ya suamiku?"
"Nggak!"
"Eheiiii.. Kamu malu kan? Ayo ngaku!!" godanya seraya memutari Arash yang terus menyembunyikan wajahnya.
"Berhenti menggodaku!!!"
"Ahahhaaa"
.
Sedangkan di depan Cafe Henry tengah menghisap rokonya, ia masih sulit menerima kenyataan bahwa Adinda sudah menikah, ia menyesal karena sejak awal tak menanyakannya dengan jelas tentang hubungannya dengan laki laki yang biasa mengantar jemputnya.
*Aku yang bodoh! Sudah pasti laki laki kasar yang mengantar jemputnya itu adalah suaminya, aku yang bodoh karena tak menyadarinya dan hanya berfikir sesuai keinginanku, tapi setelah dipikir pikir aku tak sepenuhnya salah, laki laki itu kasar dan perlakuannya kepada Adinda tak seperti perlakuan suami kepada seorang istri, apa itu hanya prasangkaku saja?
Hahhh.. Memang seharusnya perlakuan seorang suami itu seperti apa sih? selama ini toh aku sudah melihat laki laki tak bertanggung jawab yang malah menyiksa istrinya aku sangat muak dengan laki laki seperti itu*.
Apa dia marah gara gara perlakuan Arash tadi siang? Eiii mana mungkin, mungkin dia nggak lihat aku,aku nggak boleh berprasangka buruk padanya.
.
Sampai di rumah Adinda segera menuju ke kamarnya, namun di bawah tangga ia berpapasan dengan Mariana. "Kok sudah pulang?" tanyanya membuat Adinda bingung harus menjawab apa, apa sebaiknya ia pulang terlambat?.
"Iya Maa, kami hanya berjalan jalan di sekitar restaurant tadi"
"Kalian harus menghabiskan waktu berdua lebih banyak, oh iya Mama sudah pesan tiket pesawat, dua hari lagi kalian akan liburan ke bali"
"Apah?? Tapi kenapa tiba tiba Ma?"
"Untuk apa menunda hal baik, lebih cepat lebih baik, Mama ingin kalian berdua bisa selayaknya pasangan normal dan--"
"Apa maksud Ibu Mariana Arash dan Adinda bukan pasangan normal?" ucap Mujin yang tiba tiba muncul dari arah dapur membuat Mariana dan Adinda kaget setengah mati. "Kenapa kalian kaget sekali? Membuatku semakin penasaran saja" gumamnya pelan.
"Bukan apa apa, kami normal, apa maksudnya nggak normal haha, Mujin pasti salah denger" ucap Adinda setengah bergurau dengan kaku.
__ADS_1
"Aku salah dengar yaa??" Mujin menyentuh telinganya.
"Bukankah kau baru saja pergi? Bagaimana bisa sudah kembali?" ucap Mariana dingin.
"Aku mau pergi tapi nggak jadi karena takut nyasar hehe" jawab Mujin seraya bergurau. "Sepertinya kalian tak ingin aku bertanya lebih lanjut, oke, kalau begitu aku tidak akan bertanya lagi"
"Ada apa ini? Kenapa berkumpul disini?" tanya Arash yang baru saja tiba setelah memarkirkan mobil di garasi.
"Bukan apa apa, Mama bilang dia sudah pesan tiket pesawat untuk kita liburan ke bali 2 hari lagi" jawab Dinda.
"Wahhh.. Bali yaa.. Dinda apa aku boleh ikut?" ucap Mujin senang.
"No!!" jawab Mariana dan Arash kompak.
"Aku kan tanya pendapat Adinda, kenapa jadi kalian yang jawab?"
"Anu Mujin, gimana yaa" Adinda merasa sungkan untuk menolaknya tapi tak bisa juga mengiyakannya karena pasti Arash tak akan menyukainya, itu bukan hal yang bisa ia putuskan sendiri.
"Kamu pergi sendiri saja! Mereka itu akan berbulan madu karena memang baru sempat, kau mau jadi orang ketiga sama seperti Ibumu?" ucap Mariana kesal karena Mujin bertingkah kekanak kanakan menurutnya.
Seketika Mujin terdiam sejenak, raut wajahnya berubah suram, sejenak kemudian ia kembali tersenyum "Baiklah, maaf karena aku tak memahami situasi, padahal seharusnya aku tahu kehadiranku hanya akan memperkeruh suasana, aku tak berfikir panjang, kalau begitu aku permisi" Mujin menaiki tangga menuju ke kamarnya.
Raut wajah Mariana pun berubah "Mama juga mau istirahat, kalian juga istirahatlah" ia pun berjalan pergi ke kamarnya.
"Hahhh.. Dasar anak perusak suasana" gumam Arash seraya menaiki anak tangga menuju ke kamarnya, Adinda pun mengikutinya.
Brakkk!! Adinda menutup pintu kamar, kemudian duduk terdiam di atas tempat tidur, Arash yang keluar dari kamar mandi mendekatinya duduk disampingnya seraya memperhatikan wajahnya yang sedang termenung.
"Jangan kasihan atau merasa iba kepadanya! Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan sekarang ini"
Adinda menoleh ke wajah Arash "Sok tahu!"
"Heii dasar! Kau bilang mau buka hadiah begitu sampai dirumah"
"Oiya" Adinda segera membuka papperbag kecil di tangannya. "Hp? Kelihatannya ini mahal, aku terbebani menerima hal seperti ini"
"Jangan lihat harganya! Seperti katamu itu adalah hadiah pertama dari suamimu jadi pakailah dengan nyaman" ia mengatakannya dengan canggung dan malu malu.
Adinda tersenyum menatap layar ponsel yang terlihat berharga itu "Baiklah aku akan menerima jika kau memaksa, terimakasih"
Arash pun tersenyum "Cepat aktifkan nomermu dan hubungi Anya, kau belum sempat menghubunginya kan?"
__ADS_1
"Iya, kamu benar, aduh gimana sih aku lupa dengannya karena sibuk, maafkan aku Anyy" Dinda terburu buru memasang kartunya di ponsel baru.
Bersambung.