
Sampai di depan butik Adinda dan Arash terkejut karena orang yang baru saja dibicarakan muncul dan sudah membuat keributan, disana orang orang sudah berkerumun menyaksikan dan beberapa orang melerai perkelahian antara Mahesa dan Lina, keduanya masih saling menunjukkan wajah bengisnya dengan penampilan yang acak acakan.
Dinda segera berlari menghampiri Lina yang sedang dipegangi oleh seseorang. "Lin ada apa ini, ujung bibirmu berdarah, apa bedebah itu yang melakukannya?!" tanyanya panik sembari menunjuk Mahesa yang masih mencoba melepaskan diri dari pegangan orang orang.
"Maafkan aku Kak sudah membuat keributan, ini karena orang gila itu merusak gaun gaun dan membuat butik berantakan" ujar Lina merasa bersalah.
"Apah?" Adinda tak percaya, rupanya orang yang pernah dicintainya bisa berbuat hal sehina itu.
"Akhirnya yang dicari datang juga, kemana saja kamu Adinda!" teriak Mahesa yang langsung dilirik oleh Adinda.
Adinda pun mendekatinya dengan mata yang membelalak, kedua tangan Adinda menarik kerah Mahesa "Apa sebenarnya maumu sampai berbuat kekacauan seperti ini dasar br******!!"
"Hehhh, rasakan kamu! Ini balasan atas semua perbuatanmu kepadaku, sekarang kau datang bersama seorang pria yang mengendarai mobil mewah Adinda? Ternyata kamu benar benar murahan ya, untung saja aku meninggalka---" Plakkkkk!!! Adinda menampar pipi Mahesa dengan amarah yang meledak ledak.
Mahesa pun mulai kembali terbakar amarah, ia mendorong dua orang yang memegangi tangannya, lalu ia mengangkat tangannya hendak membalas tamparan Adinda dengan cepat, Adinda sudah bersiap siap menerima tamparan itu dengan memejamkan matanya, namun tangan Arash menghentikan pergerakan tangan Mahesa dan menghempaskannya sampai ia jatuh terpental kebawah.
"Dasar sialan!! Siapa lagi kau!! Jangan berani beraninya mencampuri urusanku!! Enyah kau!!" ucapnya yang masih terbaring di aspal tempat parkir.
Arash segera berjalan dan kakinya menginjak pergelangan kaki Mahesa. "Aaaw aw awww, sakit! Lepas!" teriaknya seraya mengerang kesakitan.
Arash hanya tersenyum smirk "Kau yang pergi atau kita selesaikan di kantor polisi" ucapnya santai.
"Lapor saja! Toh aku hanya membela diri, wanita itu yang mulai main tangan duluan!!" dia menunjuk Lina.
"Anggaplah begitu biar mereka yang memukulmu menerima hukumannya sendiri, sedangkan kau akan dihukum karena merusak properti seseorang"
"Apah?" Mahesa mengernyit, sebenarnya awalnya ia hanya ingin memberi pelajaran sewajarnya kepada adinda namun ia terbawa amarah karena ia pikir Adinda mencoba bersembunyi darinya dan tak mau menemuinya. "Hahhh.. Aku tak peduli, kamu pikir siapa kamu sampai berani beraninya mengancamku begini?" ia masih tetap bersikap semaunya.
Arash pun mengeluarkan hp dari saku celananya "Halo kantor polisi, saya Arash Esfandiar Hutama ingin melaporkan kejahatan di--" ucapan Arash terhenti karena tiba tiba Mahesa sudah berada di kakinya, kini orang orang sudah mulai pergi meninggalkan keributan itu.
"Tolong maafkan aku, aku janji tak akan berbuat hal seperti ini lagi, Tuan Arash" ia langsung bergidig ketika mendengar nama belakang pria di depannya.
"Maaf Pak polisi ini hanya kesalahpahaman, saya akan menghubungi kembali nanti" Arash meneruskan percakapannya di televon setelah melihat Mahesa yang memohon. "Kalau begitu minta maaflah pada orang yang kau sakiti"
__ADS_1
Mahesa segera berlari ke arah Adinda dan lina yang berdiri bersebelahan "Tolong maafkan aku Adinda, Lina, tolong ampuni aku sekali ini saja" ucapnya dengan tangan memohon.
"Enak saja! Jangan maafkan Kak" lantang Lina.
"Tolonglah Lina, tolong maafkan aku, aku janji aku tidak akan muncul lagi di hadapan kalian"
"Baiklah, aku akan memaafkanmu" ucap Adinda membuat Lina terkejut.
"Kak!?"
"Terimakasih Adinda, aku tahu kamu orang yang pemaaf, jadi aku--"
"Ganti rugi!" celetuk Adinda membuat Mahesa kehilangan kata kata, sedangkan Arash hanya tersenyum tipis, itu adalah ciri khas Adinda banget yang selalu perhitungan jika menyangkut uang.
Mahesa melirik Arash dengan hati hati "Baiklah, berapa?" ia hanya bisa pasrah mengingat dibelakang Adinda ada anggota keluar Hutama yang bisa melakukan apapun padanya jika ia tak berhati hati, karena yang ia dengar Hutama Grup memiliki organisasi gelap dibelakang mereka membuatnya merasa ciut.
"Tunggu, aku harus menghitungnya dengan benar, Berapa gaun yang dirusak olehnya Lin?"
"Tiga gaun yang dipajang di depan, itu adalah gaun terbaik butik kami, lalu telefon, meja kaca ruang tunggu dan vas bunganya lalu hp ku yang lecet karena kupakai untuk memukul wajahnya" jawab Lina dengan begitu lancarnya.
"Baiklah, karena aku bermurah hati, kamu hanya perlu memberiku 120 juta lalu masalah kita selesai"
Mahesa pun tersentak "Apah? Apa sekarang kamu sedang memerasku Din?!!" teriaknya.
"Apa kau tau butuh berapa lama aku menyelesaikan tiga gaun itu?"
"Tapi itu tak sepenuhnya rusak, kau masih bisa memperbaikinya, turunin harganya!"
"Hmmm, kalau mau menawar sana pergi ke pasar ikan! Ini akibatnya karena kau sudah berbuat onar di sini!"
Mahesa mendekati Dinda membuat Arash mengernyit "Din, jangan begitu lah, kau bukan orang pendendam kan, aku tahu kamu bukan orang seperti itu, bukankah kita berdua pernah saling menyayangi? Tak bisakah kamu mengingat kembali kenangan kenangan indah kita?"
"Tidak bisa! Sekarang yang terpikirkan olehku saat melihatmu hanyalah penghianatanmu dan sikap sampahmu!"
__ADS_1
"Dinda!!" teriaknya kembali emosi namun ia sadar ia harus menahannya.
"Bayar aku 120 juta atau ayo kita selesaikan di kantor polisi" ujar Dinda masa bodoh.
"Jika kau keberatan dengan kedua pilihan itu apa mau ikut denganku saja?" celetuk Arash sembari menghampirinya.
"Tidak tidak, aku akan membayarnya! Aku akan membayar 120 juta itu sesegera mungkin!!" ucapnya terburu buru.
"Bagus" Lina pun tersenyum puas.
"Apa aku boleh pergi sekarang?" tanyanya kepada Arash.
"Kau berhadapan denganku sampai kau tak menepati janjimu,aku akan menemukanmu kemanapun kamu pergi! sekarang enyah kau!!" ucap Arash, lalu Mahesa segera berlari menjauh.
"Dasar sampah!" gerutu Lina yang masih kesal.
"Sampah yang pernah disukai oleh seseorang, duhh menyedihkan" gumam Arash membuat Adinda menyernyit.
"Benar juga, entah sekarang atau dulu lagi lagi aku berurusan dengan sampah yang tak bisa di daur ulang" jawab Adinda membuat Arash tertohok sampai tak bisa berkata kata, Lina hanya tertawa melihat kedua orang yang saling menyindir.
Mereka bertiga pun masuk ke dalam butik "Hahhh!" Adinda terus menerus menghela nafas melihat gaun dan perabotannya berantakan.
"Maafkan aku Kak, aku tak bisa menjaga tempat ini dengan baik" sesal Lina.
"Sudah sudah, ini bukan kesalahanmu, aku akan berhenti mengeluh, lagian ini sama saja kita berhasil menjual tiga gaun pengantin kepada bedebah itu!!" ucapnya sembari menepuk pundak lina, ia berlaga tenang untuk menenangkan Lina, ia bertekad untuk mulai mengontrol ekspresinya agar Lina tak lagi merasa bersalah atas kejadian hari ini.
Tak berselang lama tiba tiba ada 10 orang pria berpakaian serba hitam bertubuh kekar yang tampak seperti pengawal sudah masuk ke dalam butik yang sedang porak poranda, mereka suka berbaris di belakang Arash hingga membuat Adinda dan Lina ternganga, kapan Arash memanggil mereka?.
"Apa ini?" tanya Adinda bingung.
"Bereskan tempat ini seperti sedia kala" ucap tegas Arash.
"Baik"
__ADS_1
Bersambung.