Menikahi Sang Mantan

Menikahi Sang Mantan
Prasangka


__ADS_3

Kasur yang lembut dan nyaman serta pendingin ruangan yang pas membuat Adinda enggan bangun, ia tahuu seharusnya ia membuka matanya namun ia maalah semakin erat memeluk bantal guling di sampingnya.


Tunggu.. Bantal guling?


Adinda mulai meraba raba bantal guling yang terasa berbeda dari biasanya, ia pun mulai membuka matanya secara perlahan mengintip kemana arah tangannyaa berada karena ia teringat mengajak Arash tidur di kasur yang sama.


"Hmmmpppp" ia kaget setengah mati namun berusaha tak mengeluarkan suara, perlahan ia mengangkat tangannya dari atas dada Arash yang masih memejamkan mata.


Tiba tiba tangan Arash meraih tangannya menempelkannya di dada lalu dia membuka matanya.


Deg deg.. Deg deg, tangan Adinda kini berada tepat di bagian jantungnya, ia bisa merasakan debaran jantung yang berdetak cepat dengan jelas, wajahnya mulai merona.


Adinda hendak menarik tangannya namun Arash tak mengizinkannya menahan tangan Adinda tetap berada di jantungnya.


"Lepas!" ucap Adinda seraya menatap Arash.


"Kenapa? Kukira sejak tadi kau merasa nyaman karena tanganmu bergerak gerak di atas tubuhku"


"Ahhh.. Aku nggak sadar, aku minta maaf, sekarang tolong lepas"


"Maaf?" Wajah Arash tampak terluka.


"Ya, aku minta maaf"


"Bukankah hal yang wajar jika seorang istri menyentuh tubuh suaminya? Kenapa kau minta maaf?"


"Ah benar juga, tapi kita kan bukan suami istri normal, bukankah wajar jika aku begini?"


"Jadi begitu, baiklah aku akan memberikan waktu" Arash melepaskan tangan Dinda lalu ia bangun dari tempat tidur.


"Waktu apa yang kau maksud?"


"Waktu untukmu mempersiapkan hati, bukankah kita sepakat memulai kembali hubungan, dan jangan lupa apa yang ku katakan kemarin, kau tak bisa lagi menarik keputusanmu, aku juga sudah mengatakan bahwa perasaanku padamu masih sama dan sebagai seorang pria dewasa tak munafik aku menginginkan lebih dari sekedar tidur bersebelahan saja!"


"Tentu saja aku---" ucapannya terhenti, begitu menyadari rasanya ia sudah masuk ke dalam kandang singa, seketika wajahnya memerah, ia benar benar tak berfikiran jauh tentang makna dari memulai kembali hubungan dan status mereka kini yang adalah suami istri yang bisa melakukan kontak fisik yang lebih intim.


"Kenapa? Apa aku salah bicara Adinda?"


"Tidak! Ten tentu saja aku tahu itu, baiklah kau sudah bilang akan memberikan waktu maka berjanjilah untuk menunggu! Aku juga sudah mulai menata perasaanku!"


"Tentu saja aku akan menunggu" Arash mulai berjalaan mendekati Adinda yang duduk di tempat tidur, kepalanya menunduk lalu kedua tangannya menyentuh pundak Adinda. "Tapi kau tahu aku bukan orang penyabar kan? Lekas bereskan perasaanmu, aku tak ingin kau mengingat pria lain saat kau sudah memilih untuk bersama denganku"


"Pria lain?"

__ADS_1


"Ya! Bukankah sejak putus denganku kau memacari banyak pria? Pasti dari salah satunya ada yang masih tertinggal di hatimu, apa aku salah Adinda?"


Adinda hanya terdiam, diamnya Adinda membuat perasaan Arash seketika menjadi buruk, awalnya ia hanya ingin memastikan perasaan Adinda kepadanya dengan menebak nebak tentang mantan, namun ia yakin dari reaksinya itu Adinda masih menyimpan rasa kepada salah satu mantan pacarnya, ia benar benar kesal jika memang ternyata dugaannya benar.


Arash pun berjalan menjauh, "Aku akan mandi, cepatlah bersiap aku akan mengantarmu ke butik!" ucapnya seraya berjalan ke kamar mandi dengan wajah mengernyit.


Adinda pun tak kalah kesal, bagaimana bisa Arash mengatakan bahwa dirinya memendam perasaan kepada salah satu mantan pacarnya dengan posisi dirinya yang sudah berkomitmen dengan dirinya.


Apa dia kira aku wanita gampangan? Apa katanya tadi? Memacari banyak pria? Ciihhh.. Banyak pria apanya, cuma tiga! Itu nggak banyak, dan lagi semuanya berselingkuh! Untuk apa memendam perasaan dengan pria pria tukang selingkuh! Huhhh..bikin kesal!.


.


Adinda berjalaan ke arah mobil Arash, disana Arash sudah menunggunya. "Lama banget sih!" ucapnya ketus ketika Adinda baru saja duduk di sampingnya. Adinda hanya diam tak merespon.


Melihat Adinda yang terus membuang muka dalam diam di sepanjang perjalanan membuat Arash berkali kali meliriknya dan semakin penasaran.


"Kenapa diam saja?"


"Nggak pengen ngomong sama kamu!"


"Hahhh.. Menyebalkan!"


"Kamu yang menyebalkan!" suaranya meninggi.


"Sudahlah! Aku nggak mau berdebat!"


"Kamu gitu sih!! Katakan apa yang membuatmu kesal, aku akan berusaha memperbaikinya"


Adinda menatapnya dengan tajam, "Aku kesal karena sepertinya kau menganggapku memendan rasa kepada pria lain disaat aku sudah berkomitmen denganmu!! Kau anggap aku apa!! Aku tersinggung!" ucapnya dengan nada penuh kekesalan.


Tiba tiba Arash tersenyum, "Apa kau serius?"


"Ya! Aku bukan orang seperti itu"


"Jadi kau orang seperti apa?"


"Aku? Entahlah aku tak bisa menilai diriku sendiri"


"Baiklah, aku minta maaf sudah salah sangka denganmu" tiba tiba perasaan dan raut wajahnya menjadi cerah seketika. "Bagaimana dengan rencana liburan ke bali besok?"


"Liburan ya? Aku lupa.. Apa sebaiknya kita mengundurnya? Apa Mama akan kecewa?"


"Entahlah, kalau diberi tahu alasannya pasti dia akan mengerti, kau pasti menghawatirkan Anya kan?"

__ADS_1


Adinda mengangguk "Tentu saja, gimana mau menikmati liburan saat sahabatku sedang di timpa kemalangan"


"Aku akan membicarakannya dengan Mama, kau tak perlu merasa terbebani"


"Oke, ayo mampir membeli sarapan untuk Anya dan Bara, kita sarapan bersama"


"Mau beli apa?"


Drrttt drrttttt, ponsel Arash berdering, ia pun segera menjawab panggilan tersebut.


"Halooo,baik.." Tiba tiba wajah Arash tampak mengeras. "Saya akan segera tiba, tolong awasi orang itu" setelah itu Arash menutup panggilan.


"Apa ada masalah di hotel?" tanya Adinda yang penasaran.


"Ya, bukan masalah besar, sepertinya aku nggak bisa ikut sarapan dengan kalian, aku akan mengirim American breakfast melalui staff hotel"


"Apa itu enggak merepotkan?"


"Nggak!"


Adinda merasa telah terjadi sesuatu masalah yang serius di hotel sampai wajah Arash berekspresi seperti itu, ia penasaran tapi jika memang Arash tak ingin memberitahunya maka ia tak punya hak mengetahuinya.


Mobil pun berhenti di depan butik, Adinda merasa ia harus melakukan sesuatu untuk sedikit menghibur Arash yang perasaannya tiba tiba memburuk.


"Aku turun ya"


"Ya!"


"Hati hati!"


"Ya!"


Arash menoleh ke Adinda yang belum juga membuka pintu. "Apa lagi?"


"Apa tak mau memberi salam perpisahan dengan istrimu?"


"Apah?" Arash tampak bingung dengan ucapan tak terduga Adinda. "Salam apa maksudmu? Aku harus segera ke hotel Adinda, berhenti bermain main ini bukan waktu yang tep--" ucapannya terhenti, Arash terkejut tak bisa berkata kata, dalam waktu singkat Adinda sudah mencium piipinya.


"Hati hati, dah.." Adinda yang malu dengan tindakannya sendiri segera melarikan diri secepat kilat, sementara Arash masih terdiam membisu seraya tangannya menyentuh pipi kirinya.


"Apa yang barusan aku berhalusinasi? Adinda menciumku? Hahh?? Hehehe hehe" ia terus tersenyum di sepanjang jalan dan merasa tak sabar untuk segera bertemu lagi dengannya, kini ia mulai menduga bahwa Adinda masih memiliki perasaan untuknya.


Namun wajahnya kembali serius ketika ia menyadari ia harus segera membereskan masalah yang ditimbulkan oleh seseorang dan mengganggu waktu kebersamaannya dengan Adinda.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2