Menikahi Sang Mantan

Menikahi Sang Mantan
Hadiah


__ADS_3

Adinda masuk ke kamar mandi lalu keluar lagi, disana Arash sudah bangun, sedang menggoyang goyangkan kepalanya seraya memijat lehernya.


"Leherku sakit sekali" gumamnya, kemudian ia menoleh ke arah Adinda.


"Kenapa kamu pindah ke sofa?" tanya Adinda.


"Kenapa lagi memangnya? Aku nggak tega membiarkanmu tidur dengan tak nyaman Adinda!"


"Apahh??"


"Pasti itu yang kamu pikirkan kan!! Hahhh.. Mana mungkin! Itu semua karena tiba tiba kamu pindah ke tempat tidur dan membuatku tak nyaman!"


"Apa sih? Pasti begitu kan? Sudah kuduga! Maaf, untuk seterusnya aku tak akan seperti itu"


"Nggak perlu minta maaf juga kali" gumamnya yang tiba tiba merasa tak enak hati.


Kenyataannya memang Arash benar benar memindahkan Adinda yang sedang tertidur lelap dengan sangat hati hati meskipun ia tak akan mungkin mengakui tindakannya yang seperti itu di depan Dinda.


Adinda keluar dari kamar, begitu juga dengan Mujin yang baru saja membuka pintu.


"Pagi Adinda" Sapanya dengan ceria


"Pagi Mujin" Jawabnya singkat kemudian Adinda melanjutkan langkahnya.


"Adinda" panggilnya membuat Adinda kembali menoleh.


"Ada apa?"


"Apa kamu juga membenciku?"


Seketika Adinda merasa tertohok "Tidak, kenapa tiba tiba bicara begitu?"


"Rasanya kau menjaga jarak dariku seperti orang lain di rumah ini, kalau Arash dan Ibu Mariana wajar jika mereka benci padaku dan aku bisa memakluminya, tapi kalau itu kamu aku jadi benar benar merasa buruk"


Adinda menatap wajah Mujin yang terlihat sedih, ia yakin Mujin juga pasti kesulitan dan tak nyaman dengan lingkungan baru terlebih situasinya yang membuat orang orang dirumah ini menghindarinya, seketika Adinda merasa Iba.


"Aku tak membencimu, aku hanya belum terbiasa denganmu karena kita baru bertemu"


"Apa kau serius?"


Adinda mengangguk "Apa kau mau berteman denganku Adinda?"


"Ten tentu saja!" jawabnya ragu ragu.


Mujin pun tersenyum kembali "Kalau ada waktu mau mengajakku jalan jalan keliling kota jakarta? Aku sendirian dan hanya kau satu satunya temanku jadi---"


Klekkkkk! Arash keluar dari kamarnya "Pergi jalan jalan saja sendiri! Jangan mengajak istri orang lain!!" ucap Arash dengan ketus, kemudian ia menarik tangan Adinda dan membawa Adinda menuruni tangga bersamanya. Adinda panik menatap Mujin yang ditinggal sendirian, sedangkan Mujin hanya menatap mereka dalam diam.


Setelah sarapan pagi yang hening dan hikmat kini Arash dan Adinda sedang berada di dalam mobil.

__ADS_1


"Jangan terlalu dekat dengan orang itu!!" ucap Arash sembari fokus mengemudi.


"Orang itu?"


"Lee Mu jin! Masih bertanya?"


"Aku bukannya dekat, dia hanya merasa kesepian di tempat baru tanpa satu orang pun yang dikenalnya, dia hanya ingin berteman denganku apa salahnya?"


"Apa dia membuatmu merasa iba?"


"Ituuu...."


"Itulah kelemahan terbesarmu! Orang yang sengaja ingin mendekatimu akan langsung membuatmu iba sebelum memanfaatkan dirimu! Masih saja polos heran!"


"Jangan berfikir berlebihan, apa yang bisa dimanfaatkan dariku untuknya?"


"Terserah! Yang jelas jangan dekat dekat dengan pria mencurigakan itu!"


"Tidak bisakah kau melihat dari sudut pandangnya sekali saja? Bukankah dia sama sepertimu yang hanyalah korban dari perbuatan Ayahmu?"


Deg, tiba tiba Arash tersadar, seketika ia terdiam membuat Adinda merasa tak enak hati.


"Aku minta maaf, aku nggak bermaksud menjelek jelekkan Ayahmu yang sudah meninggal" ucapnya gugup.


"Nggak! Kamu memang benar, yang bersalah adalah pria tua menyedihkan yang sudah mati itu!!"


"Jangan memaki orang yang sudah meninggal"


"Hmmmm.. Di depan sana ada toko bunga, tolong berhenti sebentar"


"Mau apa lagi sih?" Arash menggerutu tapi ia tetap menuruti permintaan Adinda, ia memarkirkan mobilnya di depan toko bunga. "Cepat! Kalau lama akan ku tinggal!"


"Oke!" Adinda pun turun dari mobil, setelah beberapa saat ia kembali membawa sebuah pot kecil di tangannya, Arash pun kembali menjalankan mobilnya.


"Sejak kapan kau menyukai tanaman?"


"Kau memang tak mengenalku! Aku selalu menyukainya hanya saja tak bisa merawatnya" ucapnya seraya menatap tanaman hijau di pangkuannya.


"Terus untuk apa dibeli? Apa untuk dibiarkan mati?"


"Hadiah"


.


Adinda turun dari mobil setelah sampai di depan butik, di depan kafe sudah banyak sekali papan bunga ucapan dalam rangka pembukaan kafe yang akan mulai beroperasi hari ini.


Setelah Adinda turun Arash baru menyadari apa yang hendak diberikan padanya saat melihat papper bag kecil berwarna putih di samping kakinya, Arash mengambilnya lalu menyusul Adinda.


"Hahhhh!!"Arash menghela nafas menatap Adinda yang sudah bersama dengan pemilik kafe.

__ADS_1


Jadi hadiah untuknya ya? Kalau tahu tadi sudah kuhancurkan! Sial! Heran..ada saja lalat yang berkeliaran di sekitar wanita itu! Nggak di rumah nggak di tempat kerja, benar benar menyebalkan.


Arash berjalan menghampiri Adinda "Lihatlah senyum wanita itu, melihatnya tersenyum kepada setiap orang benar benar menyebalkan!" Gumamnya.


Tanpa babibu Arash membuat tubuh Adinda berbalik menghadap ke arahnya.


"Apa sih ngagetin"


Arash menyodorkan yang dibawanya "Untukmu!"


Adinda pun mengambilnya "Apa ini?"


"Lihat sendiri!" Kemudian Arash mendekatkan wajahnya membuat Adinda kebingungan sekaligus salah tingkah, Arash melirik tajam pria yang sedang berdiri di belakang Adinda "Sudah kubilang jangan dekat dekat dengan orang mencurigakan kan!" bisiknya kemudian ia pergi.


"Apasih semua orang dibilang mencurigakan, kamu tuh yang paling mencurigakan!" gumamnya menatap Arash yang pergi dengan mobilnya.


Adinda kembali menoleh ke arah Henry "Maaf Henry, pokoknya selamat atas pembukaan Coffee shop nya, maaf aku cuma bisa kasih hadiah kecil, semoga kafe rame pengunjung"


"Heii..ini hadiah paling berharga buatku, aku sangat menyukainya"


"Syukurlah, dia tidak akan merepotkanmu, kau hanya perlu menyiramnya seminggu sekali hehe"


"Benarkah? Hebat"


"Bukannya sebentar lagi buka? Apa kau tak sibuk? Aku terlalu menyita waktumu ya"


"Semuanya sudah siap, aku memiliki staf berpengalaman yang membantuku mengurus semuanya"


"Begitukah? Itu bagus"


"Kalau kau ada waktu aku ingin kau menjadi pengunjung pertama jika tak keberatan karena kau temanku satu satunya disini"


"Tentu! Hari ini aku tak punya pekerjaan yang mendesak"


Henry pun tersenyum "Akan kubuatkan kopi terenak yang kupunya"


"Setuju! Aku akan kembali setelah meletakkan barangku" ia menoleh ke kedua tangannya.


"Oke"


Henry berjalan masuk ke kafe dengan menatap pot monstera kecil di tangannya dengan wajah tersenyum tipis, ia meletakkan hadiah berharga baginya itu di meja counter tempat pemesanan minuman dengan hati hati.


Tak lama Adinda datang bersama dengan Lina dan Tasya yang belum lama ini bergabung bekerja di butik, Tasya adalah teman Lina dan seumuran dengannya.


Di bayangan Henry ia akan duduk berdua satu meja hanya dengan Adinda, ia tak menyangka Adinda datang bersama rekan rekannya, namun Henry tetap menyambut mereka dengan hangat.


"Duduklah di sebelah sini" ucap Henry seraya menunjuk meja di samping jendela.


"Suasana dan interiornya sangat nyaman Henry, aku yakin pengunjung akan betah duduk seharian disini" ucap Dinda seraya melihat lihat sekitarnya.

__ADS_1


"Benarkah? Aku senang kau menyukainya, tunggulah aku akan membuat minuman khusus untuk kalian" Dinda pun mengangguk, sedangkan Lina dan Tasya masih sibuk berbisik bisik mengamati gerak gerik pemilik kafe yang berwajah manis itu.


Bersambung.


__ADS_2