
Acara pernikahan pun berjalan dengan lancar, Adinda sangat bahagia karena mempelai wanita dan kerabatnya memuji gaunnya yang indah, meskipun ia mendapatkankan klien berkat bantuan seseorang namun mendengar pujian pujian yang orang orang lontarkan kepadanya membuatnya merasa kerja kerasnya benar benar diakui.
Waktu cepat sekali berlalu, tugas Adinda sudah selesai, ia menyeret dua kopernya keluar dari ruang rias kamar mempelai wanita, wajahnya tampak sangat cerah dan bersemangat, ia berjalan dengan santai.
Langkahnya terhenti ketika ia melihat seseorang keluar dari kamar hotel tepat di hadapannya, Deg.. Mata mereka berdua bertemu, pria di depan Adinda rupanya terlihat sangat terkejut namun dalam sekejap ekspresinya berubah tenang.
"Halo Adinda, kita bertemu disini yah aku tak menyangka" ucapnya seraya bibirnya tersenyum, namun dibalik kacamatanya, matanya sangat jelas terlihat kepanikan meski ia berpura pura tenang.
"Apa yang sedang Kak Donny lakukan?" ucap Dinda dengan raut wajah curiga.
"Heiii apalagi yang bisa dilakukan seorang Dokter disini, hehe" Donny merasa Adinda tak percaya dengan ucapannya "Atasanku menyuruhku memeriksa seseorang disini jadi mau tak mau aku harus datang,jangan bilang kamu salah paham padaku Dinda?"
"Aku tak mengatakan apa apa tuh, bolehkah aku menyapa pasienmu di dalam?"
"Apah?" Donny mulai mengernyit. "Maaf Adinda, ini privasi pasienku, kau tak memiliki hak mengunjunginya tiba tiba begini!" tegasnya.
"Hahhhhh" Adinda menghela nafas panjang "Kak, aku peringatkan yaa, berhenti menghianati Anya atau kamu akan menyesal!!"
"Hei!! Apa maksudmu? Apa kamu menuduhku berselingkuh hanya karena aku keluar dari kamar hotel?" Nada suaranya meninggi.
"Apa Kakak tahu ini bukan kali pertama aku melihatmu disini?"
"Apahh??"
"Putuskan hubunganmu dengan wanita di dalam kamar ini sekarang juga atau aku akan memberitahu Anya bagaimana kelakuan suami yang sangat dicintainya itu!!"
"Hahh..aku tak habis pikir, kamu sahabat baiknya malah ingin menyakitinya? Apa kau tahu betapa Anya sngat mencintaiku? Dia akan percaya dengan semua ucapanku dan bukan kamu!! Jadi Adinda..jangan urusi kehidupan rumah tangga kami karena kau hanyalah orang luar! Tolong tutup mata sekali ini saja oke? Kau pasti ingin yang terbaik untuk sahabatmu kan? Lakukan sesuai keinginanku maka Anya tak akan menderita" ucapnya panjang lebar.
"Wahhh..benar benar luar biasa, rupanya kak Donny orang yang seperti ini ya, bagaimana bisa orang sebaik Anya mempercayai orang sepertimu, aku tak peduli lagi aku akan memberitahukannya sekarang juga" tegas Dinda sembari mengambil ponsel di kantong celananya hendak menelfon Anya, namun tiba tiba Donny mengambil ponsel di tangan Adinda lalu membantingnya ke lantai hingga membuat Adinda sangat terkejut menatap layar ponselnya yang sudah retak di lantai.
"Sudah gila ya!!" ucap Adinda menatap Donny kesal.
Tiba tiba seorang wanita yang memakai pakaian mandi berwarna putih keluar karena mendengar kegaduhan di depan kamarnya, Adinda menatap tajam wanita yang adalah perusak rumah tangga sahabatnya itu "Loh kamu masih disini?" ucap wanita itu menatap Donny lalu menatap Dinda kemudian hp yang retak di lantai "Ada apa ini? Siapa wanita ini sayang?" wanita itu kebingungan.
"Bukan apa apa, masuklah dulu Sonia" ucap Donny lembut.
"Oh jadi ini pelakor yang sudah menggoda suami sahabatku yaa" Adinda memelototi Sonia kemudian menjambak rambutnya yang basah.
__ADS_1
"Aw awhhh sakit, apa apaan ini? Perempuan gila siapa kau bersikap seperti ini padaku!"
"Adinda lepaskan!! Lepas!!" Donny berusaha memisahkan Adinda dari Sonia namun sekarang energi Adinda sedang meledak, dia terlalu kuat, ia tak bisa begitu saja melepaskan biang masalah. "Lepaskan Adinda, sonia kesakitan!!" ucapnya dengan panik sembari memegangi lengan Adinda.
"Dasar wanita murahan!!!" Adinda semakin kesal.
Sonia pun tak bisa tinggal diam, kedua tangannya menjambak rambut Adinda. "Dasar wanita gila!!!! Siapa kau memanggilku murahan!!!" Donny pun terlihat sangat kewalahan.
"Dasar pelakor murahan! Apa kau tak bisa mencari pria lain didunia ini? Kenapa harus pria beristri!!!!" teriak Adinda.
Saat itu tiba tiba seorang security datang dan mencoba melerai perkelahian keduanya yang masih saling menjambak hingga penampilan keduanya sangat berantakan, keduanya tak ada yang mau mengalah, security pun kebingungan tak mampu melerai, lalu dia memanggil rekannya melalui HT yang dibawanya memberitahukan keributan yang terjadi.
"Adindaaaa!!! Berhentiiii!!!" teriak seseorang membuat fokus mereka teralihkan. Arash melangkah dengan cepat "Apa apaan ini Adinda, kau mau membuat keributan disini? Apa kalian gila?" teriak Arash dengan raut wajah penuh amarah, ia baru saja tiba bersama 2 orang security lain.
Buuukkkkkk!!..Sonia pun mendorong Adinda yang lengah sehingga ia jatuh terpental, "Awww" Dinda melihat sikunya yang memar karen terkena benturan keras.
"Wanita itu yang tiba tiba menyerangku" ucap Sonia seraya menunjuk Dinda.
Wajah Arash semakin murka "Apa yang dikatanya benar Adinda?"
"Itu Benar tapi aku punya al---"
"Security! Bawa Nona Adinda ke ruangan saya!"
"Baik" ucap serentak ke 3 security. Arash pun segera berbalik badan lalu pergi.
"Nona Adinda ayo ikut dengan kami"
"Aku harus pergi ke suatu tempat sekarang! Aku buru buru!" ucap Dinda yang telah bersiap untuk melarikan diri.
Ketiga security itu pun langsung menghadangnya "Tidak bisa Nona! Kami harus mengikuti perintah Tuan Arash atau kami akan dipecat"
"Tapi Pak.." kedua tangan Adinda sudah dipegangi oleh para security, "Apa apaan inii, lepas lepas!"
"Maafkan kami, kami akan membawa paksa anda jika anda menolak mengikuti kami baik baik" Adinda masih berusaha melepaskan diri.
"Tunggu tunggu..koperku, lepas aku akan ikut kalian percayalah"
__ADS_1
"Koper anda aman, rekan kami akan mengantarkan kepada anda" Kedua security menarik Adinda seolah Adinda adalah seorang tahanan yang ingin kabur, sekeras apapun ia mencoba melepaskan diri ia tak berhasil, akhirnya ia pasrah mengikuti petugas keamanan.
Adinda menoleh kebelakang, ia baru sadar bahwa Donny sudah tak ada di tempatnya tadi, Dinda menyesal karena terbawa emosi dan malah menyerang wanita bernama Sonia itu.
Krieettttt.. Adinda membuka pintu ruangan Arash, disana Arash sedang berdiri menghadap ke arah jendela dengan kedua tangan mengunci di dada.
Arash berbalik badan "Tinggalkan kami" ucapnya kepada petugas keamanan yang membawa Adinda.
"Baik!" ucap mereka serentak.
"Apa kamu sadar apa kesalahanmu Adinda?" ucapnya seraya berjalan mendekat.
"Aku minta maaf tapi aku punya alasan" jawab Dinda membela diri.
"Apapun alasannya aku tak mau dengar! Karena kau yang menyerang tamu di hotel ini maka kamu harus meminta maaf agar masalah tak berkepanjangan!" tegasnya.
"Nggak mau!" kekehnya.
Arash mengernyit "Apah? Mengapa kau kekanak kanakan seperti ini Adinda? Minta maaf dan semuanya akan selesai! Jangan menambah masalahku!"
"Kenapa? Kenapa kau tak menanyakan alasannya? Apa semua hal bagimu memang tak membutuhkan alasan? jika itu keinginanmu apa aku harus menurutimu tanpa bisa memberikan alasan dan membela diri? Alasan yah memang alasan tak berguna, orang sepertiku memang tak boleh beralasan dan mendengar alasan kan???!!" suaranya meninggi dan Mata Adinda memerah.
"Adinda---" ucapan Arash terhenti karen mendengar ketukan pintu. "Masuk!"
Sonia muncul dari balik pintu seorang diri "Bagaimana ini Tuan Arash, saya mendapat serangan saat saya di dalam hotel ini, apa yang harus saya lakukan?"
Tiba tiba Adinda mendekati Sonia "Maafkan aku, aku minta maaf!" Adinda menundukkan kepalanya.
"Heehhhhh..Apa minta maaf saja cukup?"
"Apa maumu?"
"Berlutut!" Arash terkejut mendengarnya.
"Nona Sonia, sepertinya ini agak--"
Dukkkk!! Tiba tiba Adinda berlutut dihadapan Sonia karena tak ingin memperpanjang masalah "Tolong maafkan aku dan mohon pengertiannya, saya terbawa emosi karena ini menyangkut kehidupan sahabatku dan Putranya yang sudah kau rebut suaminya"
__ADS_1
Bersambung.