
2 tahun yang lalu Henry kembali bertemu dengan Adinda secara tak sengaja, saat itu mereka berpapasan di sebuah acara yang di gelar oleh PT. Atmaja Jaya dalam rangka ulang tahun berdirinya perusahaan.
Henry adalah Putra ke dua dari Heru Herawan Affandi pemilik perusahaan furniture ternama, lebih tepatnya Putra dari istri ke duanya. Seperti biasa Henry harus mewakili undangan undangan penting di saat Heru dan Putra dari istri sahnya itu berhalangan hadir, yah seperti itulah kira kira Henry terpaksa menjalankan perannya demi Ibunya yang hidup menderita selama ini.
.
Mobil Henry masuk dan berhenti di depan rumah keluarga Atmaja, Henry turun dari mobil terlebih dahulu lalu membukakan pintu untuk Adinda, Adinda menggendong Jean yang ketiduran.
"Ayo mampirlah dulu, sudah lama Kakek ingin mengundangmu makan malam juga" kata Adinda.
"Oke"
Henry ikut masuk ke rumah, ia menunggu di ruang tamu sementara Adinda pergi untuk membaringkan Jean di tempat tidur.
Kakek Dewangga datang menghampirinya dengan tongkat yang sudah seperti pengganti kakinya sendiri, Henry segera memberi salam padanya, Dewangga pun tersenyum, ia selalu menyambut dengan hangat kedatangan Henry, orang orang di kediaman Atmaja terasa jauh lebih ramah padanya dari pada di rumah keluarganya sendiri.
Dewangga duduk di hadapan Henry, "Kalian sudah lama bersama, jadi kapan kalian berencana akan menikah?" Pertanyaan Dewangga membuat Henry tersentak.
"Maaf Pak Dewa, hubungan kami tidak lebih dari hubungan pertemanan" jawabnya canggung.
"Benarkah? Tapi aku bisa lihat dengan jelas kamu berharap lebih dari cara kamu menatap Adinda dan Jeje, apa aku salah?"
Henry kembali tertohok, ia mulai bertanya tanya apa sikapnya selama ini sangat kentara?. "I..ituuu..." Henry pun kesulitan menjawab.
"Aku mengerti posisimu! Kau tidak bisa mengatakannya kepada cucuku karena dia masih memiliki perasaan dengan Ayahnya Jean kan? Tapi sampai kapan dia dan juga kau yang menunggunya akan hidup seperti ini terus? cobalah memberanikan diri, kau harus mengatakan tentang keinginanmu sesungguhnya"
Henry benar benar tak menyangka, ternyata selama ini Dewangga memperhatikan hubungan mereka berdua dengan sangat detail sampai rasanya saat ini isi hati Henry sedang dikorek habis oleh orang tua itu.
"Apa lagi yang kau pikirkan? Kau sudah berhasil mendapatkan hati dari putrinya, apa sesulit itu mendapatkan hati Ibunya?" ucap Dewangga lagi.
"Anu Pak Dewa.. Saya--" ucapannya terhenti.
"Apa yang sedang kalian bicarakan? Wajah Henry terlihat ketakutan? Kakek apa yang Kakek katakan padanya? Kakek mengancamnya?" ucap Adinda, dia duduk di samping Kakeknya.
"Hoho.. Apa kesanmu pada Kakek seburuk itu?"
"Ehei.. Tentu saja!" Adinda tersenyum meledek Kakeknya.
Hubungan Adinda dan Kakeknya pun mulai membaik dari hari ke hari, Adinda tak memiliki pilihan lain untuk segera menerima Kakeknya karena berkat perhatiannya selama ini dia bisa hidup tanpa tekanan dan menjalani hari hari dengan nyaman bersama putri kecilnya.
"Bukankah kalian berencana menikah?" ucap Dewangga tiba tiba membuat Adinda dan Henry terkejut bersamaan.
__ADS_1
"Apa yang Kakek bicarakan? Hubungan kami tak mengarah ke sana! Kami benar benar murni berteman!" bantahnya tegas.
Henry pun tak kalah tertusuk dengan ucapan Adinda.
Bagaimana aku akan menyatakan perasaan, jika sudah di tolak mentah mentah begini.
"Ahahaha.." Dewangga tertawa melihat ekspresi Henry yang terluka, Orang tua itu malah meledeknya habis habisan karena sudah di tolak, setelah puas tertawa dia pergi meninggalkan situasi canggung di antara mereka berdua.
"Makannya Henry!! Kamu cari saja pacar lalu menikah dan hidup bahagia lah, aku jadi takut aku dan Jeje menjadi penghalang masa depanmu!" kata Adinda serius.
"Jangan berpikir seperti itu!" tukas Henry. "Aku bahagia saat bersama kalian"
"Tapi kamu juga harus menikah dan memiliki anak sendiri kan? Berapa usiamu sekarang? 36 kan? Hahhh.. Bagaimana ini, kamu sudah hampir kepala 4 begini, cepatlah menikah atau aku akan amat sangat merasa bersalah!"
"Nggak ada wanita normal yang mau menikahiku Din.."
"Ehei!!!! Maksudnya apa? Memngnya kamu kurangnya apa?? Kamu tampan, tinggi dan bentuk tubuh ideal, baik, pengertian, dan kebapakkan, kamu sempurna untuk dijadikan suami Henry.. Jangan merendahkan dirimu!"
"Ehemm" Wajah Henry seketika merona mendengar pujian pujian yang di lontarkan untuknya dari mulut Adinda. "Aku tidak sebaik itu.. wanita normal pasti akan kabur jika tahu tentang keluargaku!"
Jika dimatamu aku sesempurna itu mengapa kamu tak pernah memandangku sedikitpun?.
Henry pun tersenyum.
Aku tak sebaik itu.. Bahkan aku menyembunyikan tentang Arash darimu, jika kamu tahu aku orang yang seperti ini, apa nanti kamu akan kecewa padaku?.
***
Seminggu setelahnya, Arash duduk berhadapan dengan Alexa di sebuah cafe, bukan sembarang cafe, cafe itu adalah Sweet Coffe, berada di tempat itu membuatnya teringat kembali bangunan di sampingnya yang dulu adalah butik milik Adinda yang sekarang sudah menjadi sebuah restaurant.
Arash merasa semakin jengkel karena cafe itu adalah milik Henry.
Apa wanita itu tahu sesuatu? Kenapa harus tempat ini!.
"Kupikir seminggu tak ada kabar anda sudah menyerah" kata Arash.
"Menyerah? Itu tak ada di kamus saya Tuan! Oh..apa jangan jangan anda menunggu kabar saya selama seminggu ini?" Alexa tersenyum dengan matanya berkedip kedip.
"Mana mungkin!!"
"Yah.. saya tak berharap banyak dari anda, Apa anda punya rencana? Seharusnya kemana kencan kita hari ini?"
__ADS_1
"Bukannya ini sudah di cafe?"
"Ini kan tempat kita janjian, berarti masih belum dihitung!"
"Nggak bisa!! Kalau anda mengajak saya ketempat lain hari ini berarti hitungannya sudah ketiga!" Tegasnya.
"Wah.. Benar benar deh! Besok malam saya butuh seorang pasangan untuk menghadiri pernikahan teman, jika anda bersedia menjadi pasangan saya maka saya akan anggap itu adalah kencan ketiga, bagaimana?"
"Nggak mau!!"
"Ayolah.. Apa yang akan dia katakan jika aku datang sendirian.." Alexa mulai panik dengan nada sedikit merengek.
"Bukannya diluar sana banyak laki laki yang mau menjadi pasanganmu?"
"Memangnya saya butuh pasangan asal asalan? Harus anda orangnya!! Nggak ada lagi pasangan dengan penampilan dan latar belakang seperti anda!!"
"Saya nggak setuju! Itu sangat merepotkan!"
"Saya janji!! Setelah itu saya tak akan mengganggu anda lagi, yaa??"
Arash terdiam sejenak "Anda serius??"
Alexa mengangguk dengan sorot mata penuh harapan.
"Baiklah, pegang janji anda, lalu katakan pada Ibuku bahwa anda yang menolakku!!"
"Setuju!!"
"Karena pembicaraan kita sudah selesai maka saya permisi" Arash bangun dari kursinya.
"Tapi, ini kan kencan kedua!!"
"Sudah berakhir Nona!" Arash melangkah pergi.
"Ughh.. Dasar menyebalkan! Aku benar benar akan cepat tua jika sampai menikah dengan laki laki bertempramen buruk itu, kalau saja Cindy tak memprovokasiku tentang pasangan aku tak akan mengajaknya bertemu seperti ini lagi!! Semua orang menyebalkan!!" gumamnya.
Arash berdiri melihat ke sisi bangunan cafe begitu berada diluar, menatap dengan lekat sebuah restauran hidangan Cina di hadapannya.
Semakin keras aku coba melupakanmu, semakin sering kamu muncul di pikiranku.. Adinda..Adinda..Adinda..
Bersambung.
__ADS_1