
Setelah mendengar semua pengakuan Gesya, termasuk dirinyalah yang ternyata sudah memohon pada Hana dan menghasutnya untuk membawa Lala pergi, aku yang sudah habis kesabaran meraih pergelangan tangannya lalu mencengkramnya kuat-kuat. Ku tarik dengan paksa dan ku seret dia keluar rumah sakit.
Entah akan ku bawa kemana, yang jelas keinginan untuk menenggelamkan wanita monster ini begitu meletup-letup. Mana bisa seorang suami membiarkan orang yang membuat anak serta istrinya nyaris kehilangan nyawa?
"Mas Bima mau membawaku kemana?" tanyanya, dan aku sama sekali tak berniat menjawab. Cengkramanku justru menguat dan aku yakin Gesya pasti merintih kesakitan.
"Haww sakit mas"
"Ini hanya fisikmu yang sakit, itu belum seberapa di bandingkan rasa sakit yang Arimbi dan putriku rasakan"
"Aku minta maaf mas"
"Apa maafmu ini setara dengan semua perbuatanmu? Apa Arimbi sudah mengusik hidupmu, apa dia membuatmu mengalami kerugian besar, hah?" Aku mengatakannya sembari terus melangkahkan kaki. "Apa kesalahan istriku padamu, sehingga kamu nekad melukainya dengan tanpa perasaan?"
"Aku bersedia menebus semua kesalahanku, tapi biarkan aku menunggu Arimbi dan meminta maaf padanya secara langsung"
Mengabaikan perkataannya, aku terus melangkah dengan amarah tertahan dalam benakku.
Sementara wanita yang melangkah di belakangku terus mengucapkan kata maaf dengan sesekali tersengguk.
"Sebagai sesama wanita, apa kamu nggak sedikitpun memiliki perasaan?"
"Aku sungguh minta maaf, dan aku menyesal"
"Simpan saja penyesalanmu itu"
Tiba-tiba, langkahku terhenti saat berpapasan dengan bunda Nina, ayah Danu dan juga mas Ken. Mereka mungkin sudah di hubungi oleh mami tentang Arimbi yang mendadak di larikan ke rumah sakit.
"Bima?" Bunda Nina menatapku heran campur panik.
"Bunda, ayah!" Lirihku menatap mereka.
"Kamu mau kemana? Bukankah seharusnya kamu menunggu Arimbi?"
Tak hanya bunda, ayah dan mas Ken pun sama bingungnya.
"Aku ada urusan sebentar, Bun"
"Urusan apa? Apa urusanmu lebih penting dari pada istrimu?" Sela ayah dengan tatapan dingin.
"Bahkan sangat penting, yah" jawabku lalu mengalihkan mata ke wajah mas Ken.
"Pinjam mobilnya sebentar, mas"
"Mau kemana?"
"Menyelesaikan urusan" Aku merampas begitu saja kunci mobil dari tangan kakak iparku kemudian berucap.
"Arimbi masih ada di ruang operasi. Di sana ada mertuaku dan juga Lala, tolong bunda sama ayah jagain Arimbi, nanti aku balik lagi kesini"
"Tapi kamu mau kemana, nak?"
Aku langsung melangkah tanpa menghiraukan pertanyaan bunda Nina.
Setiba langkahku di samping mobil mas Ken, aku menekan remot kunci untuk membuka kunci pada masing-masing pintu.
Membuka pintu mobil bagian penumpang, aku mendorong dengan paksa tubuh Gesya agar masuk ke dalam. Setelahnya, aku beralih ke pintu yang ada di depannya, membuka lalu menempatkan diri di kursi kemudi.
"Mas mau bawa aku kemana?" tanya Gesya takut-takut.
"Ke suatu tempat yang jauh dari keramaian"
"M-maksud mas Bima?" tanyanya. Ketika sepasang mataku melirik spion tengah, kening wanita yang tak ingin ku sebut namanya mengernyit. Lalu melempar padangan ke arah kanan dan kiri.
Akan ku bawa wanita jahanam ini ke pantai. Di sana, setidaknya aku bisa bebas berteriak melampiaskan kemarahanku yang sepertinya sudah berada di level paling atas.
"Mas, kita bisa menyelesaikan urusan kita setelah Arimbi selesai caesar, aku janji nggak akan kabur, aku hutang nyawa padanya, kembalilah ke rumah sakit, aku ingin menunggunya sampai dokter mengatakan dia dan bayinya selamat. Aku mohon mas"
Ucapannya itu bagaikan angin lalu bagiku, kepercayaaku padanya benar-benar sudah tidak ada barang sedikit.
"Please mas, kita balik ke rumah sakit, Arimbi membutuhkan mas Bima, kalau Lala bangun, dia pasti juga akan mencarimu"
__ADS_1
"Ayolah mas, aku tahu mas marah, tapi Arimbi sedang berjuang mempertaruhkan nyawanya, mas harus ada di sana"
"Istriku adalah wanita kuat, akan ada tiga ayah dan tiga bunda yang menunggunya, aku yakin dia bisa, dan ku beri tahu Arimbi tidak membutuhkanmu ada di sana"
"Tapi mas di butuhkan"
Aku tersenyum smirk. "Sejak kapan kamu peduli dengan wanita yang kamu anggap menghalangimu untuk menjadi ibu sambungnya Lala? Bukankah kamu senang kalau Arimbi seperti ini, kamu pasti akan tertawa kegirangan jika Arimbi tidak selamat, kamu pasti berharap Arimbi tiada, iya kan?"
"Itu dulu, tapi sekarang enggak, aku menyesali semuanya, dan aku minta maaf mas"
Aku tak lagi merespon sampai mobil ini tiba di area pantai.
Mematikan mesin mobil, Aku lantas turun, lalu beralih membuka pintu bagian belakang dan kembali meraih tangan Gesya.
Ku tarik dia menuju tepian laut, sebab disini aku bebas melakukan apa saja pada wanita yang pernah menjadi adik iparku.
"Mas, m-mas mau apa?" raut takut di wajahnya sangat kentara.
Aku langsung menampar pipinya dengan sangat keras sebagai jawaban atas pertanyaannya barusan.
"Ini yang aku akan lakukan padamu"
Satu lagi tamparan ku layangkan di pipinya yang putih mulus. Lima jariku membekas sangat jelas di sana karena saking kerasnya tanganku mendarat di pipinya.
"Brengsek kamu, Gesya"
Aku menampar sekali lagi kemudian satu tanganku mencengkram rambut, sementara tangan lainku mencengkram dagunya hingga kepalanya terangkat.
Dari jarak sekitar dua jengkal, aku bisa melihat dengan jelas bekas tamparanku yang langsung membiru.
"Ada banyak hal yang sudah kamu lakukan untuk menyakiti Arimbi, apa lampu di restauran itu juga sebagian dari rencanamu?"
"Bukan, mas" kedua tangan Gesya memegang leganku. "Aku bahkan nggak tahu kalau lampu itu mau jatuh, dan j-jika Arimbi tidak mendorongku, aku mungkin yang saat ini terbaring di meja operasi dan bahkan mungkin aku kehilangan nyawaku"
"Oh jadi Arimbi mempertaruhkan nyawanya demi wanita yang memiliki rencana jahat padanya" Reflek kepalaku menggeleng.
"Betapa bodohnya Arimbi, dan betapa baiknya dia, mau menolong wanita yang menjahatinya"
"Aku tidak akan memaafkanmu" Pekikku dengan intonasi tinggi, dan spontan aku kembali menamparnya lebih keras dari sebelumnya, sampai-sampai cairan merah dari sudut bibirnya mengalir.
"Karena ulahmu, aku nyaris kehilangan akal sehat, tapi dengan mudahnya kamu mengucapkan kata maaf, apa kamu nggak berfikir dulu sebelum menyakitinya? Aku baru mendengar ada wanita sejahat kamu, dan aku sama sekali tak menyangka kalau istriku sendirilah yang menjadi korbannya"
"Biadab kamu, Gesya" Imbuhku memekik kali ini mendorong tubuhnya hingga ia terjatuh dengan posisi duduk.
Entahlah mungkin mataku yang memerah dan melotot tajam membuat Gesya begitu ketakutan.
Mengabaikan raut wajahnya yang pucat pasi, aku mencengkram krah bajunya lantas menariknya agar kembali berdiri.
Tepat ketika aku hendak melempar tonjokan, ayah dan mas Ken tahu-tahu mencegah tanganku yang terangkat.
"Stop Bima, stop" bentak ayah seraya memegangi tanganku. "Dia bisa tiada dengan pukulanmu.
"Biarkan saja dia tiada yah, orang seperti dia memang tidak pantas hidup" ucapku kembali hendak memukulnya. Namun dengan tangkas mas Ken langsung meraih tanganku dan ayah Danu langsung memberiku pukulan tepat di area pipi bagian bawah.
"Ayah tidak suka kamu seperti ini, Bima. Kamu ini seorang petahanan negara, apa pantas melakukan hal bodoh begini?" Kata ayah dengan mata membulat sempurna. Tangannya mencengkram krah kemejaku sementara mas Ken membantu Gesya yang sudah terlihat sangat lemah.
"Lihat pakaian yang kamu kenakan, bagaimana bisa kamu memukuli seorang wanita dengan atribut seperti ini? Dimana otakmu, Bima"
"Dia yang membuat Arimbi sengsara, yah"
"Ayah tahu, tapi bukan seperti ini caranya. Kita bisa serahkan dia ke kantor polisi, biar mereka yang menghukumnya, kamu tidak perlu mengotori tanganmu"
"Bagaimana jika dia tiada? Apa kamu ingin membuat hidup Arimbi dan anak-anakmu di kasihani banyak orang? Kamu ingin ayah, bunda, mami, papi dan kakak-kakakmu mengasihani anak dan istrimu karena kamu masuk penjara?"
"Kamu mau seperti itu? Mau kamu, hidup berjauhan dengan anak istrimu, kamu mau anak-anakmu besar tanpamu, begitu?"
Aku menghela napas panjang, berusaha menjernihkan pikiran yang terlampau kalut.
"Kita pulang, tenangkan dirimu di rumah, okay" nada bicara ayah melembut. "Arimbi pasti nggak suka dengan sikapmu yang seperti ini"
Ketika akal sehatku sudah kembali, aku melemas, lalu berlutut di atas pasir.
__ADS_1
"Ken, kamu bawa dia kerumah sakit, pakai mobil ayahnya Arimbi, biar ayah yang bawa pria sialan ini pulang"
"Iya yah" jawab mas Ken yang masih bisa ku dengar.
Pandanganku tertunduk, mengingat betapa kacaunya Arimbi dan Lala beberapa bulan lalu. Kekacauan yang di buat oleh orang terdekat kami.
"Ayo berdiri, kita pulang ke rumah ayah, mbak Za akan mengobati lukamu sebelum kita kembali ke rumah sakit" Kata ayah sambil membantuku bangkit.
****
"Kamu bukan anak kecil yang nggak bisa mengendalikan diri Bim, usiamu sudah kepala tiga dan ada angka lima di belakangnya, seharusnya kamu sabar" mbak Za terus saja mengomeliku sambil menekan-nekan kapas di area sudut bibirku, sebab luka yang ku dapat akibat tinjuan ayah membuat bibirku pecah dan berdarah.
"Bagaimana kalau mas Ken sama ayah nggak datang tepat waktu? Kalau telat, entah apa yang kacau setelah ini. Yang pasti istri dan anakmu akan lebih menderita karena kamu menyandang status pembunuh"
"Kamu nggak kasihan sama anak istrimu jika kamu di penjara? Kamu nggak mikir kesana, Bim?" lanjut mbak Za dengan mata berkaca-kaca. "Lala dan Arimbi sudah cukup menderita selama ini, apa kamu tega menambah penderitaan mereka? Coba bayangkan jika kalian hidup terpisah, bagaimana nasib Arimbi dan Lala tanpamu?"
"Aku hilang kendali mbak"
"Mbak tahu kamu marah, tapi ada yang lebih baik bagaimana cara melampiaskannya. Kamu sudah hidup dengan Arimbi selama tiga tahun, apa kamu nggak pernah belajar dari istrimu bagaimana mengontrol kesabaran, bagaimana cara yang tepat mengendalikan diri? Istrimu sangat sabar, kenapa kamu tidak bisa seperti dia?"
Hening... Aku hanya diam tak berani membantah ucapan kakak perempuanku yang sabarnya sama besar dengan istriku.
"Please Bim, lain kali jangan bertindak bodoh, pikirkan anak dan istrimu sebelum berbuat"
Wanita di depanku ini kemudian mendengkus lirih sambil menuang alkohol di kapas yang baru.
"Mbak nggak bisa bayangin bagaimana kejamnya kamu memukuli dia, emosimu yang butuh pelampiasan itu mungkin bisa membuat dia tiada Bim, harusnya kamu tahu itu"
"Kemungkinan kita bakal jenguk dia di penjara mbak" Timpal ayah yang tahu-tahu berjalan ke arahku dengan senyum sinis serta tatapan meledek.
"Ayah" kening mbak Za mengernyit sambil menatap ayah mertuanya. "Jangan ngomong penjara dong yah, ngeri dengarnya"
"Harus di ingatkan hal yang mengerikan mbak, biar otak adikmu ini jalan"
Aku diam, sebagian diriku membenarkan semua ucapan ayah dan mbak Zara, tapi sebagian lagi masih di kuasai emosi dan ingin melanjutkan memberi pelajaran lagi pada Gesya.
"Ayah akan bawa kamu ke rumah sakit, tapi dengan catatan kalau emosimu sudah lenyap. Ayah nggak mau Arimbi dan bayimu melihat auramu yang terkesan emosi, ayah yakin Lala pasti juga akan ketakutan karena wajahmu sangat menyeramkan"
"Bayi?" aku menatap ayah dan mbak Za bergantian dengan kening mengerut. Dan kerutan di dahiku ini di balas gelengan kepala oleh mbak Za.
"Anakmu sudah dua sekarang, jangan kekanak-kanakan mengambil sikap" pungkas ayah.
"J-jadi operasi Arimbi_" Aku menggantung kalimatku sendiri, menatap ayah tak percaya.
"Iya, istri dan bayimu sehat, keduanya selamat tanpa kurang satupun"
Menarik napas, aku memejamkan mata mengucap syukur dalam hati.
"Jagoanmu sangat menggemaskan, tadi bunda kirim fotonya ke ayah"
"M-mana fotonya, yah?"
"Sudah ayah hapus?"
"Kok di hapus?" protesku tak terima.
"Kenapa memangnya?"
"Ya aku pengin lihat"
"Nanti saja lihat secara langsung"
"Kalau begitu, sekarang kita ke rumah sakit yah"
"Emosimu gimana?"
"Udah hilang yah"
"Benar sudah hilang?" ayah memicingkan mata yang langsung ku respon dengan anggukan kepala tanpa ragu.
Bersambung
__ADS_1