
Duduk di sebuah ruang kantor aku menerka-nerka sedang apa Lala dan ayahnya saat ini. Mereka pasti sudah berada di sebuah museum pahlawan yang lumayan jauh dari tempat tinggal kami.
Menatap layar ponsel, aku menimbang-nimbang apakah harus menelfon mas Bima atau tidak.
Saat ku buka WA story, aku melihat story Gesya yang baru beberapa saat lalu ia unggah.
Foto itu menunjukan potret mantan dirinya dengan Lala, ada sebuah caption tersisip di foto itu.
Semoga kita bisa terus bersama ya, keponakan onty. (Tiga kepala emoji cium cinta).
Sementara di belakang mereka duduk seorang pria yang sangat familiar bagiku. Meski hanya punggungnya yang tampak, tapi aku tahu siapa pemilik punggung lebar itu.
Ayahnya Lala.
Aku yakin kalau Gesya sengaja memperlihatkan punggung mas Bima. Di sisi lain, aku sedikit heran, kenapa dia bisa ikut ke ke museum khusus untuk wali murid di playgroup tempat Lala sekolah. Setelah ku pikir-pikir, mungkin saja dia mewakili Yoga menjadi walinya Naura, dan aku baru tahu karena selama beberapa hari ini mas Bima sudah mengalihkan perhatianku dari ponselku, sampai informasi apapun aku tidak membacanya lebih awal.
Hhh...Sekalian saja nikah dan menjadi ibunya Naura.
Aku tersenyum miring, setelah memiliki pemikiran seperti itu.
Foto kedua kembali masuk, menampilkan wajah wanita yang sedikit ada kemiripan dengan Gesya.
Ibunya Lala, dia bersama Naura, anak dari Yoga, adik suaminya, itu artinya Naura adalah keponakan mbak Hana.
Aku tahu itu Naura karena ada caption yang merujuk ke anaknya pria yang sudah melecehkanku.
Saat sedang fokus menatap foto ibunya Lala, tiba-tiba ponselku bergetar. Mas Bima melakukan panggilan video call.
Aku langsung menggeser ikon hijau lalu mengarahkan layar ke wajahku.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam. Lagi nggak sibuk, dari tadi online terus?"
"Ini lagi jeda buat sholat ashar, terus lagi lihatin punggung seorang pria"
"Punggung siapa yang kamu lihat, dosa loh Bi lihat punggung pria orang asing" Dia berkata seraya menyunggingkan senyum.
Aku tersenyum kecut. Dalam hal seperti ini, mas Bima sama sekali tidak menunjukkan raut jeulous. Padahal aku sangat berharap dia cemburu, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Dia sesantai itu menanggapi candaanku.
"Punggung siapa?" Tanya mas Bima dengan sorot penasaran.
Alih-alih menjawab, aku malah menggerakkan jariku di layar kemudian meneruskan foto Gesya dengan Lala yang juga memperlihatkan punggung mas Bima.
Ya, Gesya mengambil foto itu dari arah belakang mas Bima, itu sebabnya pria itu tak menyadarinya.
Kini giliranku yang tak bisa melihat wajah mas Bima, karena mas Bima pasti sedang membuka pesanku.
"Bagus kan punggungnya, aku jadi kangen sama mas?"
"Kalau begitu, nanti malam bikin adek buat Lala"
Aku tersipu malu. Mas Bima memang jago dalam hal apa saja, baik merayu, meledek, berantem pun dia sangat lihai.
Mbak Kanes yang suka menggodanya dengan mengatainya jiwa setengah preman, terkadang juga sering mendapat rayuan maut dari mas Bima sampai-sampai kakaknya itu salah tingkah.
Orang kalau tidak mengenal mas Bima dengan baik, pasti akan mengira kalau dia adalah pria dingin yang angkuh.
"Sudah dulu ya, acaraku sudah mau mulai lagi"
__ADS_1
"Okay, nanti tunggu mbak Kanes menjemputmu, malam-malam jangan pulang naik taksi"
"Iya"
"Jangan lupa hapus fotonya"
"Punggungnya aku suka, mas. Akan ku potong saja wajah dan tubuh ontynya Lala. Terus nanti aku up di Wa storynya mas. Kan bagus kalau Gesya lihat"
"Kamu ini cari perkara, kayak anak ABG cemburu sama tingkahnya"
Aku meringis memperlihatkan deretan gigiku yang tersusun rapi.
"Sudah dulu ya"
"Iya" Jawab mas Bima.
Aku memutus panggilan setelah membalas salamnya.
Sesaat setelah menutup panggilan, aku masih duduk di tempat semula.
Pikiranku jauh menerawang ke museum Sepuluh November.
Tiba-tiba aku jadi penasaran bagaimana pertemuan antara mas Bima dengan mantan istrinya. Mulai dari tatapannya, sikapnya, atau mungkin perlakuannya.
Tapi aku harus percaya pada mas Bima. Dia milikku, dia tidak akan pernah memberikan perhatian lebih pada wanita yang bukan miliknya.
Mas Bima, aku yakin nggak akan pernah mengingkari ucapannya.
Bersambung
__ADS_1