
Dengan agak terburu-buru mas Bima berjalan seraya mendorong kursi rodaku ke arah ranjang, hanya beberapa langkah, jarakku dengan Lala kini terkikis habis.
Tak memperdulikan kondisiku sendiri yang masih lemah, dan hatiku yang seperti di sayat sembilu, aku melipat bagian kursi roda yang berfungsi sebagai pijakan kaki. Aku bangkit, lalu berdiri dengan posisi membungkuk demi agar bisa memeluk tubuh mungil Lala yang ku pastikan berat badannya turun hingga beberapa kilo.
Gadis kecilku langsung melingkarkan lengan di leherku, menangis dalam pelukan dengan penuh haru.
"B-bunda" Tangisnya pecah begitu tubuh kami menyatu dalam pelukan.
"Lala mau pulang, bunda"
"Iya, tunggu Lala sembuh dulu baru kita pulang, okay!"
"Lala nggak mau disini sama mama Hana, bunda. Lala mau sama bunda, Lala ingat bunda terus, Lala kangen bunda" Terdengar seperti sebuah pengaduan, dan aku hanya bisa mendengarkan sembari berusaha menenangkannya.
Di saat tangisan Lala kian pecah, air mataku pun kian mengalir deras. Dadaku terasa sangat sesak, sulit sekali mencuri udara untuk ku hirup.
"Lala tenang ya jangan nangis, dadanya nanti bisa sakit kalau nangis terus, sembuhnya juga lama, nanti pulangnya lama-lama juga" Kataku menghibur. "Sekarang Lala tarik napas pelan-pelan, lalu keluarkan pelan-pelan. Bunda sama ayah sudah di sini temani Lala, jadi Lala harus cepat-cepat sembuh biar cepat-cepat pulang"
"Bunda janji ya, nggak kasihkan Lala ke mama Hana kayak ayah" Kelekarnya dengan susah payah karena terganggu oleh pernafasannya yang terengah-engah.
"Enggak, bunda nggak akan kasihkan anak bunda ke siapapun, bunda janji nak"
"Kalau mama Hana maksa-maksa, bunda tetep nggak kasihkan Lala kan?"
"Enggak sayang, Lala akan terus sama bunda sampai kapanpun"
"Janji ya bun" Ia kembali tersengal ketika mengambil napas panjang.
"Iya, bunda janji, dan Lala harus ingat terus janjinya bunda ke Lala ini"
Setelah Lala meresponku dengan anggukan kepala, kemudian hening. Hanya ada suara sesegukannya yang masih terdengar begitu menyesakkan.
Mas Bima sendiri entah seperti apa reaksinya, aku sama sekali tak tahu sebab dia berdiri di di balik punggungku. Kemungkinan pria itu juga menangis menyaksikan pertemuan kami.
Hingga lewat bermenit-menit, pelukanku dan Lala terurai. Aku mengusap kening Lala, menyingkirkan anak rambut yang basah menutupi sebagian matanya.
"Maafin bunda ya nak! Bunda nggak bisa tolong Lala pas mama Hana bawa Lala pergi" Pandangan kami begitu lekat, tanganku bergerak membelai lembut kepalanya.
"Bunda banyak salah ke Lala, bunda minta maaf"
"Bundaa!" panggilnya sambil mengalungkan kembali tangan kecilnya di leherku.
__ADS_1
"Lala sayang bunda, Lala nggak mau jauh-jauh dari bunda"
Tubuhku yang tadi membungkuk, kini agak sedikit ku rendahkan lagi supaya Lala bisa nyaman memelukku.
"Lala nggak marah sama bunda kan?" tanyaku gamang.
"Enggak, tapi Lala kangen banyak sama bunda, pengin bobo sama bunda"
Mendengar ucapan Lala, tiba-tiba saja tubuhku terdorong untuk turut merebahkan diri di ranjang Lala. Karena tak bisa menepis, aku pun bergerak naik lalu membaringkan tubuhku di samping anak gadisku.
"Bunda juga kangen Lala" Balasku dengan suara bergetar. Aku nyaris kembali menangis. "Istirahat lagi yuk, bunda temani Lala bobo"
"Bunda di sini aja temani Lala, bunda jangan pergi"
"Iya, bunda temani Lala, bunda pengin peluk Lala yang lama-lama. Sekarang Lala istirahat lagi ya"
"Iya" sahutnya lalu segera menyerukkan kepalanya di leherku.
Aku membantu Lala agar cepat terlelap seperti yang biasa ku lakukan jika menidurkannya. Mengusap punggungnya dengan sesekali mengecupi puncak kepalanya.
Setelah Lala terlelap, perlahan aku bergerak bangkit lalu mengalihkan pandangan ke mas Bima yang tengah berdiri tegak dengan kedua tangan tersimpan di saku celana. Kedua matanya mengarah sepenuhnya menatap sang putri.
Wajah mas Bima yang sendu, serta sorot mata yang sekelam malam tanpa penyinaran, jelas kalau pria ini sedang di rundung kesedihan atau bisa jadi penyesalan karena sudah menyerahkan putrinya ke ibu kandungnya.
"Hmm"
"Kok diam?"
Hening, mas Bima tak menjawab, dia hanya bergeming dengan tatapan kosong. Begitu aku sudah bangkit, aku mengarahkan pandanganku tepat dimana pandangan mas Bima jatuh, yaitu tubuh Lala.
Menyingkirkan kursi roda, aku lantas berdiri berhadapan dengan mas Bima.
"Kenapa?" tanyaku mendongak.
Mas Bima masih mengunci rapat mulutnya, tepat ketika sepasang penglihatannya berkedip, setitik embun jatuh dari pelupuk mata dan aku langsung menghapusnya.
"Aku nggak bisa lihat kalian sedih kayak gini Bi. Aku nyesel kemarin nggak cegah Hana bawa Lala" Dia menghela napas sebelum kembali melanjutkan kalimatnya. "Andai saja aku melarang Hana kemarin, Lala pasti nggak begini"
"Sudah, nanti Lala pasti sembuh, dan setelah itu kita akan bicarakan ulang dengan Hana, kita minta dia untuk jangan memaksa Lala, kita minta supaya mbak Hana nggak mengulanginya lagi"
"Pantas saja kamu marah, keputusanku menyerahkan Lala ternyata salah besar" pungkasnya tanpa melihatku.
__ADS_1
"Kita sudah bersama Lala, kita harus buat Lala bahagia supaya dia lekas sembuh, iya"
"Maafkan aku sudah menyia-nyiakanmu selama dua tahun lebih, maafkan aku karena terlambat menyadari semuanya, maafkan aku yang bodoh karena tak menyadari ketulusanmu pada Lala"
Kepalaku reflek menggeleng cepat.
"Maaf sudah buat kalian kecewa, sudah buat kalian sedih, terutama maaf sudah pisahkan kamu dengan putrimu. Maaf karena selalu melukai perasaan kalian"
Pertahananku runtuh seketika. Air mataku tumpah cukup deras meski tanpa suara isakan. Tak peduli dengan keberadaan kami yang masih di ruangan ICU, aku memeluknya dan membenamkan wajahku di dadanya.
"Maaf karena selalu membuatmu menangis, maaf karena sikap dan ucapanku sering membuatmu terusik"
Mas Bima mengeluarkan tangan dari sakunya lalu melingkarkan tangan di pinggangku. Sementara aku kembali menggelengkan kepala dengan wajah masih terbenam di dadanya. Sosok pria yang memiliki ego cukup tinggi ini entah seperti apa perasaannya sekarang.
Mas Bima lalu merenggangkan pelukan kami dan dengan cepat ia menangkup wajahku.
"Aku nggak tahu, di kemudian hari apa aku bisa untuk tidak membuatmu menangis lagi, Bi. Tapi aku berharap, kalaupun kamu menangis, itu bukan lagi tangisan sedih atau kecewa melainkan tangis bahagia"
Aku terdiam dengan kedua tangan masing-masing memegang pergelangan tangan mas Bima yang masih menangkup wajahku.
"Kamu yang terbaik Bi, maaf"
"Ssstt..! mas sudah berkali-kali meminta maaf, mas sudah menebus kesalahan mas dengan membahagiakanku" Aku meneguk ludahku sesaat. "Asal mas tahu, saat ini aku bahkan menjadi istri yang paling beruntung karena cinta serta perhatian yang mas berikan"
Hening hingga beberapa detik, sebelum aku kembali bersuara
"Kalau sudah lebih baik, bisa kita keluar? Kita biarkan Lala istirahat. Kita temui Hana"
"Iya" mas Bima mengangguk dan langsung menarik kursi roda.
"Duduklah kita keluar" perintahnya.
"Iya"
Selagi aku memposisikan diri di atas kursi roda, mas Bima menghampiri Lala, ia membungkuk mengecup kening putrinya dalam, lantas menatapnya penuh intens.
"Cepat sembuh ya nak! Bunda sudah di sini. Ayah bunda sayang Lala"
Ia kembali menempelkan bibirnya di kening Lala.
"Kita keluar!" ucap mas Bima setelah berbalik.
__ADS_1
Bersambung