Menikahi Sersan Mayor

Menikahi Sersan Mayor
~ 56 ~


__ADS_3

Panasnya deru nafas membuatku semakin erat melingkarkan lengan di punggung pria yang berada di atas tubuhku, hingga lenguhan panjang menjadi penanda bahwa percintaan kami telah selesai.


Masih bertahan dalam posisi seperti ini, kami hanya diam tanpa sepatah kata.


Mas Bima yang masih merebahkan kepala di pundakku, membuatku menoleh ke samping kiri untuk mempertemukan netra kami.


Saat pandangan kami bertemu, mas Bima yang ambruk menindih tubuhku tersenyum lembut. Secara reflek, akupun ikut tersenyum sambil menghapus titik bening yang bertaburan di keningnya.


Hening ... Tak ada suara yang keluar dari mulut kami. Yang kami lakukan hanya diam dengan iringan dada yang naik turun saling beradu.


Sungguh aku masih belum percaya, bahwa mas Bima, pria yang aku cintai sejak lama, bisa menjadi milikku sepenuhnya.


Jika mengingat apa yang sudah aku lewati, kesabaran yang ku tempuh, serta cinta yang sudah terpatri untuk mas Bima hingga detik ini, rasanya aku tak ingin berhenti untuk mensyukurinya.


Sebaik-baik rencana manusia, pastilah lebih baik rencana-Nya. Meski harus menunggu lama dan cukup menguras emosi, tapi buahnya sabar memang luar biasa.


Hingga beberapa menit berlalu, mas Bima bergerak. Tubuhnya yang tadi menindihku, kini dadanya sedikit terangkat dengan bertumpu pada kedua siku dan mengungkungku.


Dia kembali menyerukkan wajah di leherku, lalu mengecup tulang selangkaku dan menyesapnya lembut.


Satu lagi tanda merah terlukis di sana.


Bibirnya kemudian berpindah mengecup keningku dalam dan lama, turun ke mata sebelah kiri lalu kanan.


"Jangan pernah sembunyikan apapun dariku, Bi. Selalu ingat, katakan apa saja yang mengganggu ketenangan hati dan pikiranmu, beri tahu aku meski hanya seekor semut yang menggigitmu, mengerti!"


"Eungmm"


"Jika sudah tidak mencintaiku, bilang padaku, dan jangan pernah berkhianat"


"Aku nggak akan mengkhianati mas" Ku rangkum wajahnya dan ku tatap bola matanya lekat-lekat. "Aku akan terus temani mas sampai rambutku memutih, bahkan sampai nafasku terhenti. Mas Bima sudah menjadi penghuni hatiku sejak lama, karena untuk benar-benar mendapatkan mas aku butuh waktu hampir sepuluh tahun, jadi setelah aku berhasil memilikinya, akan ku jaga baik-baik dan tak akan aku lepaskan"


"Aku nggak nyangka, ternyata ada wanita yang mencintaiku selama itu" Pria itu mengusap pipiku dengan jemarinya.


"Mas tahu, apa yang aku rasakan saat mas membawaku ke rumah ini?"


"Mengasihani nasibku dan Lala karena sudah di khianati oleh Hana?" sahut mas Bima kilat.


"Selain itu, juga ada rasa kagum buat mas. Seorang pria yang menurutku memiliki banyak beban, yang selalu sibuk dengan kewajibannya terhadap negara, tapi mas nggak lupa sama kewajibannya sebagai seorang ayah buat Lala. Aku salut sama mas karena bisa membagi waktu antara pekerjaan dan juga mengurus serta mendidik Lala. Di situ aku berjanji, kalau aku akan bantu mas memikul beban mas, supaya mas bisa lebih ringan dalam melangkah"


"Makasih kamu sudah memenuhi janjimu"

__ADS_1


"Untuk pria yang ku cintai, aku akan melakukan apa saja"


Mas Bima langsung mengecup bibirku sedikit agak lama.


"Sejak kapan mas mulai melihatku" Tanyaku sesaat setelah bibir kami yang menempel terurai.


Mas Bima seperti termenung, rahangnya terkatup kemudian mengedikkan bahu.


"Kalau mulai melihatmu aku lupa, tapi kalau cinta, sejak kamu mulai suka protes tentang sikapku, dan mulai berani tanya-tanya urusan pribadiku. Tapi entahlah, puncaknya saat kamu pergi waktu itu"


Aku diam sambil mencerna ucapan mas Bima.


"Tapi, Bi" lanjut mas Bima, membuatku kembali fokus menatapnya. "Sekarang bukan hanya hatiku yang kamu miliki, hidupku bahkan aku serahkan padamu. Kamu berhak mengendalikanku kapanpun kamu mau, dan seperti apapun keinginanmu, sesuka hatimu"


"Aku nggak berhak mengendalikan hidup mas, karena setiap apa yang keluar dari mulut mas, akan menjadi perintah untukku. Mas lah yang seharusnya menjadi sutradara untukku, dan anak-anak"


"Tapi jika kamu merasa terbebani dengan perintahku, dengan apa yang membuatmu lelah kamu ngomong, jangan di pendam sendiri"


Aku mengangguk untuk mengiyakan, kemudian kami saling berbalas senyum hingga sekian detik.


"Kapan sidang buat Lala?"


"Masih dua minggu lagi. Tapi sidang untuk Yoga hari kamis besok"


"Aku nggak mau datang mas"


"Kamu nggak perlu datang, semuanya biar Rosa yang urus"


"Nggak perlu saksi?"


"Aku dan CCTV yang jadi saksi nanti" Jawab mas Bima. "Mengenai Hana, jangan pernah terusik oleh ucapannya, begitu juga dengan Gesya, jangan di ambil hati apapun yang dia katakan. Bila perlu, lawan saja, asalkan jangan melewati batas. Jika sudah benar-benar keterlaluan, beri tahu aku"


"Iya" Balasku yang kemudian di respon dengan kecupan singkat di bibirku sebelum akhirnya mas Bima melakukan pergerakan.


Pria itu bangkit lalu menyambar bathrobe yang sebelumnya ku letakkan di tepi kasur.


"Mau mandi sekarang apa nanti?" tanyanya sambil menyimpulkan tali bathrobe di sisi pinggangnya.


"Sekarang, tapi mas dulu yang mandi"


Ekor mataku terus memindai tubuh mas Bima yang melangkah menuju kamar mandi.

__ADS_1


Selagi menunggunya mandi, aku melihat-lihat ponsel mas Bima. Seperti biasa, tanpa sepengetahuan mas Bima, diam-diam aku selalu membuka WA story milik Gesya, yang setiap hari mengunggah berbagai pose dirinya.


Dia pasti kepedean dan berfikir kalau mas Bimalah yang sudah sering melihat storynya.


****


Setelah enam hari disibukkan oleh tuntutan pekerjaan, akhirnya aku memiliki waktu untuk bersama Lala seharian penuh.


Hari ini akan ku gunakan untuk bercengkrama dengan Lala dan ayahnya di rumah, menghabiskan sisa cuti mas Bima dan memanfaatkan waktu liburku.


Usai sarapan, aku yang langsung memandikan Lala, dan sedang membantu memakaikan baju, mas Bima tiba-tiba muncul dari arah pintu kamar Lala yang terbuka lebar.


Sorot matanya yang berbeda, entah kenapa membuatku sedikit was-was. Dan firasatku pun sangat tepat ketika mendengar ucapan mas Bima.


"Di bawah ada tamu, cepat turun temui tamu itu"


Usai mengatakan itu, mas Bima langsung berbalik, dan kembali keluar.


Sementara aku, di liputi berbagai pertanyaan dan prasangka.


"Siapa tamunya bun?" tanya Lala.


"Bunda nggak tahu, La. Ayo cepat sedikit"


"Iya"


Begitu selesai membantu putriku mengenakan pakaian, aku menggandeng tangan Lala dan membawanya turun.


Ketika langkahku sudah di lantai bawah, aku sedikit heran kenapa mas Bima malah duduk di ruang makan sambil menikmati kopi yang ku buat sebelum memandikan Lala tadi.


Memilih melanjutkan langkah ke ruang tamu, sepasang netraku di buat terkejut saat melihat sesosok anak kecil.


Dia tidak sendiri, anak bernama Naura itu datang bersama dua wanita yang tidak hanya cantik, tapi juga berkelas dan sangat anggun bak model papan atas.


Mbak Hana dan mbak Gesya.


Mau apa dia kesini?


"Itu Naura bun, sama onty Gesya dan onty Hana"


Aku menoleh ke bawah, melihat wajah Lala yang tengah mendongak menatapku.

__ADS_1


Ada senyum terpaksa yang terbit dari sudut bibirku ketika pandanganku dan Lala bertemu.


Bersambung...


__ADS_2