Menikahi Sersan Mayor

Menikahi Sersan Mayor
~ 61 ~


__ADS_3

Wajah Lala sudah kembali riang saat dia bangun tidur berada dalam pelukan ayahnya. Senyum cemerlangnya pun kian lebar kala bermain dan bercanda di ruang tengah selagi aku memasak untuk makan malam


Aku dan mas Bima memang sepakat untuk tak membahas tentang kepergian Lala dengan ibu kandung dan tantenya sampai kami selesai makan malam.


Tentu saja kami tidak mau merusak kebahagiaan Lala setelah tadi sempat di rundung kesedihan dan kecemasan.


"Bunda!" Teriak Lala.


"Iya, nak!"


Tak ada sahutan lagi darinya, mungkin dia hanya mengecek keberadaanku saja.


Selesai memasak, aku melangkah ke ruang tengah berniat meminta suami dan anakku untuk makan malam. Ku lihat Lala sedang berada di pangkuan ayahnya sambil menonton kuda poni kesukaannya di laptop.


Selama menonton animasi kuda poni, Lala benar-benar bersikap manja pada mas Bima. Aku sendiri sangat menyukai kedekatan antara anak dan ayah ini.


Aku duduk di lengan sofa kemudian berkata "Kuda poninya di lanjut nanti ya, kita makan malam dulu"


"Bentar lagi bun" Sahut Lala dengan tanpa melihatku.


Akupun dengan sabar menunggu anak dan ayah yang masih fokus menatap layar selebar empat belas inchi.


Selang sepuluh menit, Lala menoleh lalu mendongak untuk menatapku yang kemudian ku balas dengan senyuman.


"Sudah bisa makan sekarang?" tanyaku lembut.


Tiba-tiba, sembari mengangguk Lala mengulurkan tangan kecilnya.


"Gendong ayah saja ya" kata mas Bima saat aku hendak menerima uluran tangan kecil Lala.


"Nggak mau, mau gendong bunda"


"Lala udah berat lho" mas Bima mengklik kursor pada ikon exit.


"Mau gendong bunda aja" kekehnya tak mau menurut.


Tak ada pilihan lain aku pun meraih tubuh Lala kemudian membawanya melangkah menuju ruang makan.


Sampai langkahku tiba di tempat yang ku tuju, mas Bima yang juga sudah menyusul langkahku, langsung duduk di kursinya. Akupun dengan cekatan melayani anak dan ayah seperti biasa ketika di meja makan.


Kami makan dengan sesekali di sisipi canda tawa, bermaksud supaya Lala bisa lebih lepas dari kejadian yang menimpanya tadi siang.


Meski aku terusik dengan rasa penasaran yang terus merongrong dan mengganggu ketenangan otakku, tapi aku harus menahan diri sampai waktunya tepat untuk bicara dengan putriku.


Setengah jam berlalu, selesai makan, mas Bima kembali membawa Lala ke ruang tengah. Sementara aku membereskan meja makan dan membersihkan piring-piring sekaligus dapur.


Aku langsung menuju ke tempat Lala berada begitu menyelesaikan pekerjaanku.


"Bunda" panggil Lala ketika dia melihatku melangkah menghampirinya.


"Bunda duduk sini"


Aku duduk di sebelah Lala yang kini sedang mewarnai gambar pegunungan buatan tangan mas Bima.


"Bagus ya bun pemandanganya"


"Iya, siapa yang gambar?"


"Ayah bun"


Aku tak berani mengganggu mas Bima yang tengah berkonsentrasi dengan dealinenya. Dua minggu cuti, pekerjaannya mungkin menumpuk.


"Ini mataharinya di kasih warna orange apa kuning bun?"


"Orange campur kuning bagus, La"


Sembari mewarnai, aku mencoba memancing dengan bertanya sebab rasa penasaranku tak bisa lagi ku tolerir.


"Tadi Lala di ajak kemana sama onty Gesya?" Tanyaku sedikit ragu sebenarnya.

__ADS_1


Mendengar pertanyaanku, mas Bima yang tadi sedang fokus dengan laptonya langsung melirikku tajam. Dulu aku sangat takut dengan tatapannya, bahkan jantungku hampir terlepas dari tempatnya jika mas Bima menatapku setajam itu, tapi sekarang tidak lagi.


Detik itu juga, aku dan mas Bima sama-sama menunggu jawaban Lala.


"Lala nggak suka jalan-jalan sama onty Gesya" ujarnya menghentikan aktivitas mewarnai. "Onty Gesya jahat, dia udah bilang ke Lala kalau bunda bukan bundanya Lala, onty bilang nanti bunda Arimbi mau pergi, terus Lala mau tinggal sama onty Hana, soalnya onty Hana itu ibunya Lala yang benar. Onty juga bilang kalau bunda itu ibu tiri jahat kayak di dongeng cinderella yang di ceritain sama bunda Lisa pas di sekolah"


Jelas Lala dengan panjang lebar.


"Onty Gesya bilang begitu, nak?"


"Iya" Sahut Lala, lalu seperti biasa dia mengambil tempat di atas pangkuanku. "Onty juga kasih tahu potonya ayah sama onty Hana lagi peluk-pelukan"


"Kata onty Gesya, ayah nggak sayang ke bunda, ayah sayangnya ke onty Hana, makannya ayah peluk-peluk onty Hana"


Pandanganku dengan mas Bima otomatis bertemu. Menyadari ekspresi wajahku yang berbeda, mas Bima segera melipat laptopnya kemudian bergabung duduk di lantai dengan posisi bersila.


"Itu nggak benar, nak" Sanggah mas Bima, tangannya terulur membelai rambut Lala. Lala pun beralih menatap ayahnya dengan tatapan nanar.


"Tapi Lala lihat foto ayah sama onty Hana"


"Fotonya juga nggak cuma satu, yah" Tambah Lala sendu. "Ada banyak yah, sama poto yang perutnya onty Hana besar. Kata onty Gesya itu foto pas onty Hana lagi mengandung Lala di perut, ayah juga cium-cium keningnya onty Hana. Lala lihat kok"


"Yang cerita onty Gesya La?" tanyaku, dan Lala langsung mengangguk.


"Onty Hana kemana pas onty Gesya kasih tahu foto-foto itu ke Lala"


"Onty Hana di dekat Lala, onty Hana sempat ngomong ke onty Gesya supaya jangan kasih tahu Lala, tapi onty Gesya bandel, nggak mau dengar omongan onty Hana"


Reflek, aku menggigit bibirku sendiri dengan kuat-kuat.


"Nggak apa-apa ya bun, kalau ayah nggak sayang bunda" Anak ini menangkup wajahku penuh sayang. "Lala janji Lala akan sayang terus sama bunda Arimbi. Biarin aja kalau ayah peluk-peluk sama cium-cium onty Hana. Nanti Lala yang peluk-peluk sama cium-cium bunda. Kan Lala sayang bunda banyak-banyak"


"Ayah juga sayang bunda kok, La" sela mas Bima menangkis prasangka Lala.


"Kalau sayang bunda, kenapa ayah peluk ciumnya ke onty Hana, kenapa nggak pernah cium bunda kalau ayah sayang bunda?"


Cukup lama Lala terdiam sambil lekat menatap mas Bima, mungkin dia sedang mencerna baik-baik kalimat tanya dari ayahnya. Gadis di depanku lalu mengangguk seraya berucap. "Ayah mau cium bunda?"


"Boleh?" tanya mas Bima balik.


Bukannya menjawab pertanyaan sang ayah, tatapan Lala malah beralih padaku."Bunda mau, di cium ayah?"


Akupun mengangguk sambil mengulas senyum.


Tanpa aba-aba, mas Bima langsung menggeser duduknya dan melingkarkan tangan di bahuku. Ia mengecup puncak kepalaku di hadapan putrinya.


"Ayah sayang bunda, bun" Mas Bima menatapku penuh intens. "Bunda sayang ayah?" Lanjut mas Bima bertanya.


"Sayang" jawabku lirih.


"Lala lihat kan, ayah sama bunda saling sayang?"


Lala mengangguk merespon mas Bima. Namun anggukan kepalanya itu seperti menyimpan sebuah pertanyaan atau entahlah. Reaksinya tak seriang saat mengetahui aku dan mas Bima sudah tidur satu kamar.


Sementara pikiranku sendiri traveling sambil mengingat kalimat-kalimat Lala barusan.


Aku yakin yang di perlihatkan Gesya pasti foto lama yang tersimpan di ponselnya. Tapi aku sedikit heran, dari cerita mas Bima, kalau mbak Hana yang sudah keceplosan ngomong, tapi saat mendengar cerita Lala, justru Gesya yang sengaja memberitahu Lala.


Apa mungkin wanita itu sedang merasa kesal melihat kemesraanku dengan mas Bima saat dia meminta ijin untuk membawa Lala?


Hatinya pasti terbakar, lantas melampiaskan kecemburuannya pada anak kecil.


Lalu mbak Hana sendiri? Apa dia juga terlibat dalam meracuni otak anaknya sendiri?


"Ayah" Panggil Lala, membuyar lamunanku. Sepasang irisku secara reflek memindai wajah mas Bima dan Lala bergantian.


"Iya?"


"Kenapa Ayah peluk-peluk onty Hana?"

__ADS_1


Mas Bima seperti kebingungan, dari ekspresi wajahnya sangat kentara kalau dia tidak bisa menjawab pertanyaan putrinya.


Ayahnya Lala lantas menatapku, dan aku faham dengan tatapannya itu. Lewat sorot matanya, dia seolah meminta pendapatku apakah harus menceritakannya pada Lala.


Dan aku mengangguk untuk mendukung niatnya.


"La" kata mas Bima lalu meraih tangan Lala.


"Dulu, ayah sama onty Hana pernah menikah, dan apa yang di katakan onty Gesya itu benar. Bunda Arimbi bukan bundanya Lala" Mas Bima tampak berhenti sejenak untuk mengambil nafas. "Onty Hana memang ibunya Lala, tapi onty Hana pergi dan kasihkan Lala ke bunda Arimbi"


"Mas" Jujur aku keberatan dengan penjelasan mas Bima, tapi dengan cepat mas Bima memintaku untuk tetap diam.


"I will to handle it, Bi. Okay!"


Akupun langsung mengunci mulutku, tak berani membantah ucapannya.


"Kenapa Lala di kasihkan ke bunda Arimbi, yah?" Suara Lala kembali ku dengar.


"Karena bunda Arimbi sayang banget sama Lala"


"Tapi kenapa onty Gesya bilang kalau bunda nggak sayang Lala?"


"Terus Lala percaya sama onty Gesya?"


"Enggak, kan bunda emang sayang ke Lala, bunda udah temani Lala, udah masakin makanan buat Lala, bunda juga udah temani Lala bobo"


"Kalau gitu, Lala nggak usah pikirin omongan onty Gesya"


"Jadi onty Hana juga bundanya Lala?"


"Iya nak" sahut Mas Bima singkat.


Pandangan Lala kembali terarah padaku.


"Bun"


"Iya sayang"


"Lala nggak mau tinggal sama onty Hana, tapi onty Gesya maksa-maksa, kata onty Gesya orang jahat kayak bunda Arimbi harus tinggal sendirian, nanti onty Hana mau ajak Lala tinggal dengannya. Lala nggak mau bun, Lala maunya tinggal sama bunda sama ayah"


Astaga, apa yang sudah Gesya katakan? Kenapa semakin rumit?


"Kata onty Gesya, nanti ada polisi yang mau jemput Lala biar tinggal sama onty Hana. Lala nggak mau bun, Lala takut sama polisi"


"Enggak nak" kataku menepisnya. Kemudian membawanya ke pelukanku.


"Lala takut kalau nggak tinggal sama bunda"


Anak ini benar-benar sudah merasa nyaman dan terlindungi saat bersamaku.


Saat aku memeluk sambil mengecupi kepala Lala, mas Bima merengkuhku untuk bersandar di dadanya. Pria itu memelukku kemudian mencium keningku.


"Sehat dan bahagia selalu ya, sayangnya ayah. Ayah janji akan terus jagain Lala sama bunda Arimbi"


"Ayah sayang bunda sama Lala berarti?" ujar Lala dengan suara teredam.


"Tentu, nak"


"Udah nggak sayang sama onty Hana?"


"Enggak. Sekarang ayah sayangnya cuma sama bunda dan Lala aja"


Lala semakin mengeratkan lingkaran tangannya di perutku.


"Lala sayang bunda, Lala nggak mau pisah sama bunda"


"Bunda juga nak"


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2