
Aku dan mas Bima siap meninggalkan pengadilan karena semua persidangan sudah tuntas, dan kami keluar sebagai pemenang yang memenangkan hak asuh Lala.
Why???
Kenapa kami bisa menang?
Tentu saja karena kami memang selalu mengutamakan kebahagiaan Lala, sementara tuduhan mereka tentang kami bisa kami patahkan dengan hubunganku dan mas Bima yang tak seanyep sebelumnya.
Sampai Lala belum bisa menentukan sendiri ingin tinggal dengan siapa, dia menjadi hak mas Bima sepenuhnya, dan aku berjanji akan membantu pria yang ku cintai ini merawat putrinya.
Cintaku pada mas Bima, Lala dan calon anakku, akan sama besarnya, tidak berat sebelah, apalagi pilih kasih.
"Bima!" Panggilan dari seseorang yang sudah ku hafal siapa pemilik suara itu, membuatku dan mas Bima spontan menghentikan langkah kemudian berbalik.
Ku temukan wajah mbak Hana yang menyorot lelah sekaligus kecewa.
Wanita yang bagiku super cantik ini berjalan menghampiriku, sementara aku dan mas Bima saling bertukar pandang dengan sorot heran.
"Bisa kita bicara, Bim?" tanyanya saat berdiri di depan kami.
"Bicara? Soal apa?"
"Privasi" Mbak Hana melirikku saat mengucap kata itu.
"Kita bicara di sana" Mas Bima menunjuk bangku di bawah pohon.
"Berdua saja"
"Berdua?"
"Iya berdua saja, Bima"
"Istriku tidak bisa ikut bicara?"
"Kita berdua saja" Sahut mbak Hana.
Mengerti apa maksud mbak Hana, akupun mengatakan akan menunggu di mobil.
"Okay kamu tunggu di mobil, aku cuma sebentar" Kata mas Bima sambil menyodorkan sesuatu padaku.
"Ini kunci mobilnya, kamu masuk mobil, jangan lupa nyalakan AC, atau buka jendelanya"
Aku mengangguk, memaksakan diri untuk tersenyum, baik pada mas Bima maupun mbak Hana.
Kembali berbalik, ku langkahkan kaki menuju mobil mas Bima.
Sembari melangkah, aku menoleh ke belakang untuk mencuri pandang pada mas Bima yang berjalan beberapa langkah di depan mbak Hana.
Apa yang akan mbak Hana bicarakan?
Mengenai Lala, atau hal lain.
Mendesah pelan, aku merasa masalah hilir mudik mmengacaukan pikiranku.
Dulu saat hubunganku dengan mas Bima tak sedekat ini, tak ada yang datang mengusik kami. Tapi di saat rumah tanggaku berjalan harmonis, seolah para pengganggu datang silih berganti.
Sabar itu berat, bahkan sangat berat. Tetapi apa yang ada di balik kesabaran itu ada sesuatu yang rasanya manis. Seperti manisnya pernikahanku saat ini, saking manisnya aku justru menjadi lupa diri dan mengingkari nikmat~Nya.
Seperti pada detik ini, ketika tengah menunggu mas Bima dengan bersandar di pintu mobil sambil melipat tangan, pandanganku yang tertunduk tiba-tiba saja menangkap sepatu heels yang di pakai oleh kaki seksi seseorang.
Gesya...
Ketika aku mengangkat kepala, ku temukan raut benci dari pancaran kilatnya yang tajam. Rahangnya mengerat begitu geram, sementara tangannya mengepal seolah penuh dendam.
"Jangan pikir kamu sudah menang Arimbi!" Ucapnya bersamaan dengan aku yang berdiri tegak.
"Apa maksud kamu?"
Alih-alih menjawab, dia malah mendesah, tersenyum sinis sambil membuang pandangan malas ke arah kanan.
"Jangankan kamu, Bi. Kakakku saja ku jebak perasaannya supaya jatuh cinta pada mas Yudha"
"Yudha?"
Lagi-lagi wanita itu tersenyum smirk.
"Ya, Yudha. Pria yang berselingkuh dengan kakakku, pria yang saat ini menjadi suaminya, dia juga pria yang membuat mbak Hana lebih memilihnya dari pada putri dan suaminya"
"J-jadi kamu yang membuat mbak Hana mengkhianati mas Bima?"
"Tentu saja, karena aku sangat mencintai mantan suaminya. Dan saking cintanya, aku sampai mengatur strategi bagaimana mbak Hana dan mas Yudha saling membutuhkan satu sama lain. Akulah yang sudah membuat mbak Hana sering menemui mas Yudha, dan intensitas pertemuan mereka yang sangat sering mereka lakukan tanpa sepengetahuan mas Bima, membuat mereka akhirnya saling jatuh cinta"
__ADS_1
"Jahat kamu, Gey.. Bukan hanya pada kakakmu, tapi juga pada keponakanmu sendiri"
"Mau bagaimana lagi Arimbi, suamimu sangat mempesona, aku ingin memilikinya"
Aku sungguh tak habis pikir dengan apa yang Gesya katakan. Ini sangat menjijikan untuk ku dengar. Aku bahkan tak mempercayai bahwa di zaman modern seperti ini, ada wanita yang tega berbuat demikian.
"Halo" Dia menjentikkan jari telunjuk dan jempolnya tepat di depan wajahku.
Aku tersentak "Mikir apa kamu?"
"Kali ini apa yang akan kamu lakukan pada pernikahanku?"
"Kamu pikir aku bego? Orang pintar tidak akan membocorkan rahasia perusahaan pada rivalnya, Arimbi! Seorang pengusaha selalu memutar strategi untuk memenangkan tandernya, so apapun yang akan aku lakukan padamu, di tunggu saja, okay!"
"Dan kamu pikir aku takut? Aku tunggu strategimu, aku tidak akan membiarkanmu menghancurkan rumah tanggaku"
"Sejak kapan kamu pemberani seperti ini? Biasanya cuma a a i i doang" Ejeknya yang kemudian melirik perutku. "Oh ya, gimana bayimu? Semoga baik-baik saja ya"
Tak sudi menjawab pertanyaannya, aku hanya diam menatapnya dengan sorot tajam, bahkan lebih tajam dari tatapannya.
"Bye, Arimbi!"
Sesaat setelah Gesya pergi dari hadapanku, mas Bima tahu-tahu berdiri di depanku. Fokusku yang masih tertuju pada punggung Gesya, tak menyadari kehadiran mas Bima.
"Kok nunggu di luar?"
"Eh, mas!"
Kenapa nggak tunggu di dalam mobil?"
"Nggak nyaman mas"
"Mana kunci mobilnya?"
Aku langsung menyerahkan kunci ke tangannya.
****
"Bi" Mas Bima melirikku sekilas.
"Hmm"
"Kenapa? Apa kamu sedang menebak-nebak apa yang ku bicarakan dengan ibunya Lala?"
"Enggak"
"Beneran enggak" Tatapanku lurus ke depan. Karena sebentar lagi istirahat makan siang, aku dan mas Bima memutuskan untuk menjenguk Lala ke sekolah. Kami akan makan siang bersama di sekolah Lala.
"Terus kenapa diam-diam?"
"Enggak kenapa-kenapa?"
"Dingin banget si, Bi? Bawaan adek bayi ya?"
"Iya, soalnya ayahnya juga super dingin, ngalahin dinginnya es"
Mas Bima terkekeh mendengar ucapanku.
"Kamu nggak penasaran sama pembicaraanku dengan wanita itu?"
"Enggak" Aku tak tahu seperti apa ekspresi wajah mas Bima. Tapi yang jelas tebakanku kalau tidak mengerutkan dahi, ya mengangkat satu alis sesuai dengan ciri khasnya.
"Biasanya kamu suka kepo"
"Sekarang nggak lagi, karena seharusnya mas berinisiatif memberi tahuku tanpa aku bertanya lebih dulu"
"Jadi sebenarnya kamu kepo?"
"Kalau nggak niat kasih tahu, mending mas fokus nyetir aja deh"
Hening, mas Bima mungkin heran dengan perubahan sikapku. Bukannya memberitahuku, pria itu malah tersenyum miring.
"Ngomongin apa?" tanyaku setelah diam selama sekian detik.
"Nggak ngomong apa-apa" jawabnya santai.
"Kalian bicara hampir dua puluh menit, tapi mas bilang nggak ada yang di omongin" Aku mendesis tak percaya. "Bohong"
"Nggak penting, sayang"
"Nggak penting apa rahasia?"
__ADS_1
"Yakin mau tahu?"
"Sudah enggak" sahutku kilat.
Kembali hening, kali ini sedikit agak lama.
"Kita mampir dulu beli makan siang ya"
"Hmm"
Mas Bima lantas membelokkan mobilnya ke kiri memasuki halaman restauran cepat saji.
Sebelum turun, dia tiba-tiba menghadapku kemudian bersuara.
"Dia memintaku menceraikanmu, terus nikahin adiknya yang sinting itu"
What?? Gumamku dalam hati. Aku langsung menoleh menatap mas Bima.
"Mas mau?"
"Ya enggak lah, bodoh kalau aku ninggalin istri secantik dan sebaik Dewi Arimbi, Jelmaan Raksasa yang sangat kuat"
"Mas ngomong apa si?"
"Loh, memang benar kan? Mentalmu sekuat baja, aku cuekin dua tahun kamu kuat. Coba kalau Gesya, dia pasti sudah mencak-mencak protes sana sini. Dan aku baru sadar ternyata namamu seperti nama raksasa wanita yang menjelma sebagai wanita cantik, sampai-sampai kecantikannya itu, mampu membuat seorang Bimasena jatuh cinta"
"Mas lagi ndongeng cerita mahabarata atau soal kita?"
"Dua-duanya"
"Ish" Aku mencebik untuk kesekian kali sembari membuang muka ke arah jendela kiri.
"Dia ngomong apa lagi?"
"Nggak penting Bi" ujarnya sambil melepas seatbelt. "Kamu tunggu di sini, aku beli makanan dulu"
Taak menjawab, aku diam seraya menatap pria yang tengah membuka pintu mobil.
Mbak Hana meminta mas Bima buat menceraikanku?
Memangnya dia siapa?
Adik kakak sama gilanya.
"hufftt..." Aku menggelengkan kepala lalu mendaratkannya di sandaran jok mobil.
Selang sekitar lima belas menit, mas Bima kembali dengan menenteng totebag berisi makan siang. Aku nggak tahu apa yang mas Bima beli, tapi aku yakin dia beli sesuatu yang aku sukai. Nggak sulit, sebab aku suka makan apa saja.
"Kita langsung ke sekolah Lala ya" Kata mas Bima menarik tuas gigi.
"Iya"
Karena restauran jaraknya sudah dekat dengan sekolah Lala, kami hanya memakan waktu kurang lebih tiga menit untuk sampai di tujuan.
***
"Bundaaa!" Lala memanggilku yang masih melintasi lapangan menuju depan kelasnya.
"Bunda jenguk Lala?" tanyanya saat kami berpelukan dalam posisi aku berjongkok di depannya. Aku tak memperhatikan sekitar sebab tengah fokus mengecupi pipi Lala, kemudian menjawab.
"Iya, bunda kangen sama Lala"
"Lala juga kengen, hari ini bunda cantiknya banyak-banyak, Lala senang lihat bunda tersenyum kayak tadi" ujarnya membuatku terkejut.
"Oh iya?"
Usai Lala menganggukkan kepala, aku kembali menciumi pipinya hingga dia tergelak.
"Bisa kita makan dulu, ayah sudah lapar" Sela mas Bima menginterupsiku.
"Ayah" Pekik Lala riang ketika sepasang netranya mendapati sang ayah juga turut menjenguknya. "Ayah juga jenguk Lala"
"Hmm, memangnya cuma bunda yang kangen Lala, ayah juga kangennya banyak-banyak, nggak bisa di hitung"
Aku yang sudah kembali berdiri tersenyum lebar.
"Lala mau makan di sana bun" Lala menunjuk bangku taman dengan jarinya. "nggak mau di ruangan makan"
"Okay, Lala sama ayah ke sana, bunda ambilkan jatah makan siang Lala dulu"
"Iya"
__ADS_1
Setelah Lala mengiyakan kalimatku, mas Bima menggandeng tangan mungil Lala dan membawanya ke bangku taman.
TBC