Menikahi Sersan Mayor

Menikahi Sersan Mayor
~ 74 ~


__ADS_3

Jangan tegang. . Bahasa santai, konflik ringan.. Di vote dulu yuk, nanti malam up lagi..


Happy reading 😗😗😗


............


Aku menatap wajah Lala yang tertidur pulas di jok mobil bagian belakang, ponselku masih memutar youtube tergeletak begitu saja di sisi kepalanya.


Mbak Hana yang ingin bertemu dengan Lala pun mengurungkan niat sebab tak mau mengganggu ketenangan tidurnya. Aku memintanya untuk menemuinya di lain waktu atau bisa datang ke rumah.


Sepasang mataku masih menatap punggung mbak Hana yang melangkah menjauh menuju mobil sang adik.


Menurut kacamataku wanita itu cukup ramah, pantas saja mas Bima pernah mencintainya. Dan mungkin ada hal yang mendorong dia melakukan perselingkuhan, bisa jadi karena dorongan dari sang adik, atau persahabatan antara dirinya dengan Yoga yang membuatnya sering bertemu dengan selingkuhannya yang tak lain adalah kakaknya Yoga.


Mas Bima yang memang jarang sekali di rumah, dan jarang memberikan nafkah batin pun bisa saja turut menjadi alasan dia main api.


Memasuki mobil, aku duduk lalu mengangkat kepala Lala untuk ku daratkan di pangkuanku.


"Kita pulang bu?" Tanya pak Herman.


"Iya pak, pak Herman sudah sholat dzuhur?"


"Sudah bu"


Aku tersenyum merespon pak Herman. Karena aku pun juga sudah sholat bersama kak Rosa tadi di mushola pengadilan.


"Kita pulang ke rumah pak Rio atau rumah ibu?"


"Ke rumah saya pak"


"Baik bu" Sahutnya yang kemudian mengoper tuas gigi dan menancapkan pedal gas.


Selagi dalam perjalanan pulang, aku membuka ponsel untuk memeriksa pesan-pesan yang masuk.


Mataku membulat begitu mendapati nama mas Bima berada di urutan ke tiga yang mengirim chat, mengabaikan pesan yang lain, aku lebih dulu membuka chat darinya.


Sebuah voice message dengan durasi sepuluh detik langsung ku dengarkan.


Mas Bima : "Assalamu'alaikum Lala, bunda. Kondisi di sini sudah mulai terkendali, doain ayah cepat pulang ke rumah ya. Ayah kangen kalian"


Pesan itu mas Bima kirim empat puluhan menit yang lalu, dan saat ku lirik bagian atas layar, ternyata dia aktif sekitar tiga puluh menit yang lalu.


Sementara hatiku persekian detik menghangat, suara yang jarang sekali ku dengar beberapa minggu ini membuat rinduku kian menggebu-gebu.


Pria itu! Dengan segala daya tariknya, sifat tegas, dingin serta romantisnya membuatku melupakan segalanya, termasuk Lala.


Aku mengibaskan kepalaku, berusaha mengusir bayangan mas Bima dari pikiranku, namun alih-alih pergi, sosok mas Bima justru terus berkelebat bebas berputar-putar mengelilingi kepala. Tatapannya, perlakuannya, dan sentuhannya benar-benar tak bisa ku lupakan.


Hingga tahu-tahu mobil yang pak Herman kendarai sudah berada di depan rumah dan tengah menunggu mas Jim membukakan pintu gerbang.


Setelah mobil memasuki halaman rumah, begitu mesinnya di matikan, aku membawa Lala turun lalu masuk ke dalam rumah untuk membaringkannya di tempat tidur.


Kondisi tubuhku yang terlampau lelah membuatku turut merebahkan diri dan tidur di samping Lala sembari memeluknya.


***


"Bundaaa!" Tiba-tiba teriaka Lala ki dengar dari arah dapur. Otomatis aku langsung menuju kamar Lala. "Lala nggak mau bubuk di rumah mama Hana" Raung Lala ketika aku sudah di dalam kamarnya dan bergegas memeluknya cukup erat.


"Lala bubuk di rumahnya ayah, bukan di rumah mama Hana nak"


"Tapi bunda nggak ada, Lala sendirian di rumah mama Hana"


"Enggak, sayang. Ibu ada di sini, di rumah ayah, temani Lala"


Anak di pelukanku ini cukup ketakutan dengan tangis yang semakin menjadi.


"Maafin bunda ya, tadi bunda tinggalin Lala, bunda biarin Lala bubuk sendiri"


Lala mengangguk sambil sesenggukkan, keringat di dahi serta lehernya membuat rambutnya sedikit basah.


Mengangkat tubuhnya, ku bawa Lala yang belum berhenti menangis ke ruang makan. Sepertinya kejadian saat di ruangan persidangan membuatnya terbawa sampai ke alam bawah sadar.


"Minum dulu yuk" titahku setelah duduk di salah satu kursi makan.


"Nggak mau bunda"


Mengalah, aku kembali meletakan gelas di atas meja, lalu membetulkan ikatan rambut Lala yang berantakan dan kembali mengikatnya dengan rapi.


"Lala kenapa?"


"Lala tadi kayak bubuk di rumah mama Hana" Jawabnya polos.


"Apa Lala mimpi?"


Anak ini mengangguk.


"Tadi bunda main-main sama Lala, terus Lala bubuk, Lala ingatnya bubuk di mobil, ternyata bukan di mobil tapi di rumah mama Hana, pas bangun bunda nggak ada"


"Terus Lala mengira kalau Lala lagi bubuk di kamar mama Hana?"


Kepala Lala kembali terangguk pelan.


"Itu kamar Lala nak, tadi bunda juga temani Lala bubuk, tapi bunda bangun dulu karena mau sholat. Bunda minta maaf ya"


"Iya, tapi bunda udah ngomong ke mama Hana kan, kalau Lala nggak mau tinggal sama mama Hana"


"Sudah sayang" Jawabku lalu menyunggingkan senyum.


Lala lantas merebahkan kepalanya di dadaku, sampai bermenit-menit berlalu, ku dengar dering ponsel menggema, ku tolehkan kepalaku ke arah kulkas.


"Bunda angkat telfon dulu ya, nak"


"Telfon dari ayah bukan?"


"Sepertinya bukan, bunda coba lihat ya"


"Iya"


Setelah Lala mengiyakan, aku mendudukkan Lala di kursi lainnya. Lalu berjalan meraih ponsel yang tadi ku letakkan di atas kulkas.


"Ayah La" kataku saat mendapati nama dan foto profil mas Bima yang muncul di layar.


"Lala mau ngomong, bun"


Tak mau membuatnya menunggu, aku segera menggeser ikon ke atas, wajah mas Bima langsung tampak di layar ponselku.


"Assalamu'alaikum, ayah" Sapa Lala, sebab aku langsung mengarahkan layar ke wajahnya, sementara tangan Lala otomatis mengambil alih ponsel dari tanganku.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam, anak ayah lagi apa?"


"Lagi duduk, baru bangun tidur"


"Bangun tidur? Lala nggak sekolah?"


"Lala kan nggak masuk, yah. Tadi ketemu sama onty Oca, sama onty Gesya juga"


"Oh ya?"


"Iya"


"Bunda di mana?" tanya mas Bima yang bisa ku dengar dari arah wastafle. Aku sedang mengambil buah dan akan melanjutkan aktivitasku yang tadi sempat tertunda.


"Bunda mau potong-potong buah"


"Oh. Lala kenapa matanya merah? Lala nangis?"


Saat ku lirik, Lala tengah menganggukkan kepalanya. Aku menghampiri meja makan dan duduk di kursi tempat biasa mas Bima makan.


"Nangis kenapa?"


"Tadi pas Lala bangun, Lala kira lagi bubuk di kamar mama Hana, jadinya nangis, tapi ternyata malah di kamar Lala"


"Lala sama bunda sehat?" Pertanyaan mas Bima membuatku melirik Lala.


"Lala sehat, tapi kemarin bunda sakit, bunda mimi obat yah, kata bunda besok kalau ayah pulang mau minta temani ayah ke dokter"


Mendengar kalimat Lala, aku jadi teringat tentang kehamilanku. Baik Lala, dan yang lainnya termasuk mas Bima memang belum ku beri tahu. Sebab, mas Bimalah yang ingin aku beri tahu terlebih dulu dan secara langsung tentunya.


"Bunda sakit?"


"Kata bunda enggak yah"


"Boleh ayah ngomong sama bunda?"


"Tapi Lala masih kangen sama ayah, Lala masih pengin ngomong"


"Ya sudah, ayah punya banyak waktu, Lala boleh ngomong banyak-banyak sampai kangennya hilang"


"Ayah nggak kerja?"


"Kerja, tapi ayah lagi istirahat"


"Ayah capek?"


"Enggak"


"Nggak capek kok istirahat?" tanya Lala membuatku tersenyum.


"Ayah kangen Lala sama bunda, jadi istirahat dulu buat telfon Lala"


"Lala sama bunda kangennya banyak-banyak ke ayah"


"Ayah juga kangen banyak sama Lala dan bunda"


"Ayah mau ngomong sama bunda?"


"Enggak"


"Katanya kangen?"


"Tapi ayah kangen bunda"


"Tapi kan Lala masih kangen ayah"


"Gantian dulu ngomongnya sama bunda, mau?"


"Boleh?" tanya mas Bima balik.


"Boleh"


Lala langsung menyerahkan ponselnya ke tanganku.


"Assalamu'alaikum" Sapaku lembut.


"Wa'alaikumsalam, lagi apa Bi?"


"Lagi kupas buah mau bikin salad"


"Bunda Lala mau main puzle ya di ruang tengah" Lala tiba-tiba menyela.


"Iya, nak. Jangan lari-larian ya"


"Enggak bunda"


"Kenapa?" tanya mas Bima menyambung.


"Itu, Lala mau main puzle katanya"


"Oh, sehat kan dia?"


"Sehat"


"Kamu sendiri?"


"Mas dulu gimana keadaanya?"


"Aku, apa suasana di sini?"


"Ya mas Lah, mas sehat?"


"Sehat. Kamu gimana, tadi Lala bilang kamu minum obat"


"Cuma vitamin dan asam folat, sama pereda mual"


"Kamu asam lambung?"


"Hmm" Balasku singkat.


"Jangan telat makan!"


"Iya"


"Sekarang gimana? Sudah sembuh kan?"


"Sudah"

__ADS_1


Kemudian hening, kami sama-sama membungkam mulut kami dengan sepasang iris yang saling menatap penuh lekat.


"Ada apa?" tanyanya.


"Mas yang ada apa, kenapa nggak kedip"


Tak langsung menjawab, mas Bima malah membungkam mulutnya. Tak kurang dari lima detik, pria yang masih menutupi mulutnya dengan tangan berkata.


"Kangen kamu, Bi"


"Aku juga" akuku kemudian tersipu.


"Doain ya, semoga minggu ini sudah bisa pulang"


"Loh kok cepat pulangnya?" reflekku terkejut.


"Kamu nggak suka aku pulang cepat?"


"B-bukan begitu, mas"


"Lalu?" tanyanya dengan ekspresi wajah yang menakutkan.


"Ya enggak, heran aja, biasanya kan sampai sebulan lebih"


"Kan sudah di bilang, aku cuma gantiin sersan Aditya, dan kalau suasana cepat kondusif maka aku akan cepat pulang?"


"Sudah aman memangnya?" tanyaku yang membuat mas Bima kembali menampilkan raut aneh.


"Memangnya kamu nggak ingin suasana di sini cepat aman?"


Ah salah lagi...


"Bukan gitu maksudku, mas"


"Maksudmu cuma nanya doang, begitu?" sambar mas Bima menebak.


Aku mengangguk pelan, tapi tanpa ragu.


Pria itu tampak menggembungkan mulutnya kemudian menyemburkan udara dengan sedikit kasar.


"Sidangnya Lala gimana?"


"Nanti saja kalau mas pulang"


"Tapi lancar kan?"


"Lancar" Jawabku kemudian langsung memanggilnya "M-mas"


"Apa?"


"Ketus banget si" Gumamku.


"Apa?" ulang mas Bima, kali ini dengan nada lembut.


"Kalau pulang, boleh di bawain ransum?"


Bukannya menjawab, mas Bima malah mengangkat satu alis sesuai dengan gaya khas miliknya ketika keheranan.


"Kamu mau ransum?"


"Hmm, satu aja. Bisa?"


"Apa lagi?" tanyanya datar.


"Sudah itu saja"


"Besok ku bawakan buat kamu"


"Makasih"


"Hmm"


Kembali hening.


"Jam berapa di sana sekarang?" tanyaku memecah kebisuan.


"Setengah tujuh" jawab mas Bima setelah melirik pergelangan tangannya. "Lala mana? Aku sudah harus makan malam. Ini mau ku tutup dulu"


"Sebentar aku panggilkan"


Aku berjalan menuju ruang tengah.


"Lala!"


"Iya bunda!"


"Lagi ngapain kamu?"


"Pasang-pasangin puzle bun, kenapa?"


Lala menatapku ketika aku sudah berada di depannya.


"Ayah mau pamit, mau kerja lagi" aku mengarahkan camera ke wajah Lala yang sudah mengangkat pandangannya.


"Telfonnya sudah dulu ya nak" Ujar mas Bima.


"Iya ayah. Ayah hati-hati"


"Okay, Lala jangan nakal, nurut sama bunda"


"Iya"


"Bun" panggil mas Bima padaku.


"Iya mas" kembali ku arahkan kamera ke wajahku.


"Sudah dulu ya"


"Mas hati-hati"


"Hmm, Assalamu'alaikum"


Aku menutupnya setelah menjawab salamnya.


Rasa rinduku sedikit terobati.


Hanya sedikit.

__ADS_1


Bersambung...


Ransum : makanan khas TNI.


__ADS_2