
Happy Reading 😘
"Kepo itu apa bund?" Lala mengulang pertanyaan yang belum ku jawab tadi.
"Bukan apa-apa nak"
"Oh, jadi kepo itu bukan apa-apa!" Aku melirik Lala dengan senyum meledek.
"Bunda kenapa lihatin Lala gitu?"
"Habisnya Lala lucu" Aku menggelitikinya hingga ia tergelak.
Aksiku menggelitiki Lala seketika terhenti saat sepasang netraku mendapati ponsel mas Bima tergeletak di atas nakas. Selain ponsel, ada juga dompet serta kunci mobil di sebelah ponsel.
Reflek aku menoleh ke arah pintu kamar mandi, untuk memastikan saja kalau mas Bima masih lama-lama berada di dalam sana, dengan gerak cepat aku meraih ponselnya.
Entahlah kali ini aku kepo sama ponsel milik pria tampan itu.
"Bunda mau apa?"
"Bentar ya sayang, bunda mau kirim pesan ke temannya bunda"
"Pakai ponsel ayah?"
"Iya, bunda pinjam sebentar"
Lala terus memperhatikanku yang saat ini tengah memeriksa ponsel mas Bima. Dari kontak, pesan, dan history panggilan nggak ada nama Hana. Saat ku buka aplikasi berwarna hijau, tanganku dengan lincah membuka satu persatu chat yang masuk.
Tak ada yang mencurigakan. Aku beralih ke ikon status. Ada banyak kontak tersimpan yang membuat story.
Ibu jariku terus scroll ke bawah, ada nama Gesya yang beberapa menit lalu dia mengunggah sebuah foto di WA story. Langsung ku buka dan ku baca captionnya
Foto yang senonoh menurutku. Sebab agak sedikit memperlihatkan belahan dada.
Aku tersenyum miring, dia pasti mengira kalau mas Bima yang sudah melihat storynya.
Selang sekitar tiga menit, dia kembali mengunggah foto, dan aku kembali melihatnya. Sampai di unggahan ke tiga, aku lantas keluar dari menu WA, lalu meletakkan ponselnya kembali di tempat semula.
"Sudah bun?" Pertanyaan Lala membuatku sedikit kaget.
"Sudah" Balasku. "Sekarang cerita lagi ayah ngapain saja pas di museum?"
"Ayah duduk aja sambil main ponsel, terus Lala di temani oma jalan-jalan"
"Ayah nggak lirik-lirik onty Hana?" tanyaku ingin tahu. Sungguh aku penasaran seperti apa reaksi mereka saat bertemu setelah sekian tahun.
"Lala nggak tahu bun, tapi onty Hana tanya kabarnya ayah"
"Tanyanya gimana?"
"Apa kabar, Bim. Gitu bun, terus ayah jawab, baik"
"Terus?" tanyaku menatap wajah Lala dengan sorot serius.
"Udah gitu aja, terus ayah pamit ke Lala sama ke oma mau ke toilet. Terus habis itu oma yang ngobrol sama onty Hana"
"Oma ngobrolin apa?"
"Tadi kan udah di kasih tahu pas di kamar mandi"
Oh, jadi mami ngobrol sama mbak Hana setelah dia menyapa mas Bima. Aku termenung sambil menyimpulkan kalau ayahnya Lala memang nggak banyak bicara dengan mantan istrinya. Cukup bisa di percaya.
"Terus Lala nggak tau lagi oma ngobrolin apa sama onty Hana bun, soalnya onty Gesya ajakin Lala foto-foto, sama Naura juga"
Aku kembali menatap mata bulat Lala.
"Tadi pas mau pulang, onty Hana panggil-panggil namanya ayah, pas ayah balik badan terus lihat onty Hana. Mukanya ayah langsung galak bun, kayak pas ayah lihat bunda waktu ayah bentak bunda"
"Ayah nggak bentak bunda nak" Sergahku cepat. "Ayah cuma negur bunda waktu itu"
"Tapi mukanya ayah seram, bun"
__ADS_1
"Mukanya ayah kan emang seram, La. Kayak mukanya orang mau berantem"
"Tapi ayah kan nggak suka berantem bun. Kata ayah berantem itu nggak baik"
"Benar dong kata ayah"
"Kata ayah apa?" Mas Bima tiba-tiba bersuara sesaat setelah membuka pintu. Aku serta Lala kompak menatap mas Bima yang sedang mengeringkan rambut menggunakan handuk dengan satu tangan.
"Bukan apa-apa yah, Lala cuma kasih tahu bunda kalau berantem kata ayah nggak baik"
"Oh" Satu tangan mas Bima yang lain menutup pintu kamar mandi lalu menekan saklar untuk mematikan lampunya.
"Tadi tasnya Lala mana bun?"
"Mau apa?" tanyaku heran.
"Lala mau ambil tempat pensil yang di kasih sama onty Hana. Lala mau kasih lihat ke bunda"
Aku bangkit dari rebahku, lalu berjalan ke arah sofa untuk mengambil tasnya Lala yang tadi ku pindahkan ke sana.
"Ini"
Lala menerima tasnya kemudian membuka resleting dan meraih tempat pensil bergambar kuda poni.
"Nih bagus kan bun?"
"Oh iya, bagus banget La"
"Bagusan mana sama tempat pensil yang di belikan bunda?" Tanya mas Bima sambil naik ke atas ranjang lalu duduk di sebalah Lala. Aku mengecek rambut mas Bima untuk memastikan kalau rambutnya memang sudah benar-benar kering.
Kami bertiga bercengkrama di atas tempat tidur di kamar mas Bima.
"Bagus yang ini yah, tapi Lala sukanya yang di beliin sama bunda Arimbi. Makannya Lala selalu bawa ke sekolah biar kalau Lala kangen bunda, Lala bisa peluk-peluk tempat pensilnya"
"Lala nggak kangen ayah?" Nada mas Bima terdengar seperti protes.
"Kangen, tapi Lala kangen bundanya banyak"
"Iya" jawab Lala konstan. Aku hanya diam sambil menyimak percakapan ayah dan anak.
"Pilih ayah apa bunda, La?"
"Pilih bunda, tapi Lala juga nggak mau pisah sama ayah. Lala mau sama ayah Bima dan bunda Arimbi terus"
Entah kenapa ucapan Lala persekian detik membuatku menyendu. Dia nggak tahu kalau ibunya sedang menuntut hak asuhnya, aku nggak bisa membayangkan bagaimana sedihnya Lala kalau mbak Hana memenangkan gugatan itu. Karena aku yakin Lala pasti akan kaget.
"Bobo yuk?" Ajakku.
"Bobo sama ayah boleh bun?"
"Tanya ke ayah" Pandangan Lala yang tadi fokus ke aku, kini beralih ke mas Bima.
"Boleh, yah"
"Boleh" Mas Bima tersenyum sambil mengusap kepala Lala.
"Kalau sama bunda bobo sini, boleh?"
"Boleh"
"Benar yah?"
"Hmm"
"Yey Lala bobo sama ayah sama bunda" Anak ini berjingkrak kegirangan. "Besok Lala mau kasih tahu teman-teman kalau Lala bobo bertiga sama ayah sama bunda"
"Tapi cuma malam ini saja ya nak"
"Kenapa, yah?" Lala kembali duduk kali ini di atas pangkuan mas Bima yang duduk bersandar pada headboard dengan kaki terjulur panjang.
"Lala kan udah gede, jadi bobonya harus sendiri"
__ADS_1
"Terus bunda juga malam ini saja bobo di kamarnya ayah?" Lala sedikit mendongak untuk menatap ayahnya.
"Enggak, bunda bobo di sini terus sama ayah"
Aku khawatir dengan reaksi Lala, aku kira dia tidak suka kalau aku tidur di kamar ayahnya, tapi justru sebaliknya, wajah Lala terlihat sangat senang begitu tahu kalau ayah bundanya tidur sekamar.
"Besok kalau onty Gesya nanya ke Lala lagi, Lala jawab kalau bunda sama ayah bobonya udah nggak pisah-pisah"
"Mas" Protesku cepat seraya mendelikkan mata, usai mas Bima mengatakan itu.
Mas Bima melirikku. "Kenapa?"
"Nggak gitu juga kan?"
"Ya nggak apa-apa ya La, kan bagus kalau onty Gesya tahu, iya kan La"
Lala merespon ayahnya dengan anggukan kepala. "Iya bun, onty Gesya soalnya sering nanya gitu"
"Udah sekarang ayo bobo, besok sekolah" ujarku keluar topik.
"Besok libur bun" Ucap mas Bima.
"Libur?" Alisku menukik menatap mas Bima dengan tatapan tak paham.
"Anak-anak kecapean bunda, jadinya di suruh libur, Senin baru masuk"
"Benar La?"
"Benar" Jawab Lala "Besok ayah masih libur?"
"Masih, kenapa?" Sepasang manik mas Bima menyorot tajam ke arah Lala.
"Lala di rumah sama ayah berarti?"
"Iya dong, bunda kan kerja"
"Udah malam tuh, bobo yuk, besok bunda harus bangun pagi-pagi buat masak" Kataku kembali menyela.
"Tapi Lala belum ngantuk bun?"
"Tapi tetap harus bobo kan?"
"Bobo aja ya" mas Bima ikut nimbrung. "Bunda besok kerja, nak. Kasihan kalau ngantuk di kantor, nanti di marahin bosnya"
"Ya udah"
Lala langsung merebahkan diri, memunggungi mas Bima dan memelukku sembari memainkan rambutku.
Sementara mas Bima mengusap puncak kepala Lala hingga beberapa usapan, sebelum kemudian bangkit untuk mematikan lampu utama kamar. Dia menyisakan lampu temaram yang menempel di sisi tembok bagian atas kepala ranjang.
Menit berlalu, Lala sudah terlelap. Posisiku masih tidur dengan posisi miring berhadapan dengan Lala sekaligus mas Bima yang juga tidur miring di belakang punggung Lala. Saat aku mempertemukan pandangan, mas Bima yang juga tengah menatapku mengerlingkan salah satu matanya.
"Malam jum'at, Bi ... Sayang kalau di lewatkan, pahalanya berlimpah"
Dahiku mengernyit, tahu maksud kalimat mas Bima tadi. Aku yang memang lemah di hadapan mas Bima, sama sekali tak mampu menolak ajakannya.
Begitu aku tersenyum memberikan respon, ayahnya Lala langsung membopongku ke kamar tamu.
****
Sampai di esok harinya, Aku yang sedang bekerja sambil mengobrol dengan rekan kerjaku yang lain, tiba-tiba di kejutkan dengan sosok yang tak asing bagiku.
Mbak Hana..
Entah apa tujuannya dia sampai datang ke kantor dan berniat menemuiku untuk membicarakan sesuatu.
"Tadi sudah saya suruh tunggu di ruang tamu bu, tapi ibu ini minta ikut dengan saya" Kata si satpam memberitahuku.
"Nggak apa-apa pak" Sahutku ramah sambil mengulas senyum.
"Kita bicara di ruang tamu, mbak" Ucapku merujuk lada ibunya Lala. Setelah itu aku langsung melangkah di depannya dengan di iringi debaran jantung yang kian tak menentu.
__ADS_1