
Namaku Ryusang Juna Anggara, aku anak ke dua dari tiga bersaudara. Kakak perempuanku yang super pemalu, dan adikku yang absurtnya ngalahin bu dhe Kanes. Kedua gadis itu adalah saudaraku, wanita yang akan selalu aku sayangi selain bunda.
Entahlah, kenapa adekku bisa secerewet dan sejahil itu, padahal bunda dan kakak perempuanku adalah sosok wanita yang tak banyak bicara, tapi adikku selalu membuatku kalah telak untuk urusan debat, sangat berbeda dengan kakakku yang santunnya setengah mati.
Balik ke aku! Ini adalah awal tahunku menempuh pendidikan di sebuah Universitas dan aku sangat senang karena artinya, aku sudah sah terbebas dari aturan-aturan pondok yang larangannya tak terhitung jumlahnya.
Tapi jangan salah, meski begitu tetap saja aku melanggar aturan di pesantren.
Karena apa? Tentu saja bosan, dan entah berapa kali ayah dan bunda di panggil ke sekolah, belum lagi kak Lala yang juga diam-diam mewakili ayah bunda datang ke sekolah memenuhi panggilan uztadzah karena kenakalanku.
Kak Lala emang the best, dia selalu menutupi kesalahan adik tertampannya dari ayah dan bunda. Dia nggak tega kalau aku di marahin sama ayah, bukan marah si sebenarnya, tapi lebih ke memberikan nasehat. Selain itu, urusan pekerjaan ayah dan bunda sebagai PNS membuat kak Lala merasa kasihan sebab ayah bunda sudah di pusingkan oleh kerjaan, sampai rumah harus mirkirin aku yang nakalnya kebangetan.
Ngomong-ngomong, hari ini aku sudah ada di kampus yang pas buatku untuk melanjutkan pendidikan, kampus yang tentunya banyak cewek-cewek cakep.
Jangan salah paham, nggak untuk aku pacarin terus tinggalin, tapi untuk cuci mata aja, soalnya di ponpes aku jarang sekali lihat cewek cantik. Santriwan dan santriwati itu terpisah, nggak ada sejarahnya pria dan wanita saling ketemuan dan saling jatuh cinta di sana. Nggak ada sama sekali, dari jaman oma Irma dan oma Nina sampai ke anak cucunya.
Jihan Ghiska Anggara.
Tiba-tiba ponselku berbunyi dan setelah ku lihat ternyata sebuah panggilan dari adikku, tanpa pikir panjang aku segera menggeser ikon berwarna hijau.
"Assalamu'alaikum, dek!"
"Wa'alaikumsalam, mas. Jemput sekarang bisa?"
"Nggak bisa! Mas masih di kampus"
"Tolongin dong, udah pada pulang semua, ayah nggak bisa jemput, bunda minta hubungi mas atau nggak kak Lala, tapi kak Lalanya juga sibuk"
"Entar sore ya, sekarang temani uyut umi dulu di situ"
"Uyut umi pergi"
"Minta antarin mas Tera kalau gitu"
"Dia lagi jalan sama kak Lala"
"Berati kak Lala nggak sibuk dong"
"Sibuk, mas Tera lagi antar kak Lala menemui klien katanya"
"Naik taxi aja ya, mas pesankan"
"Boleh, tapi nanti kalau nggak sampai rumah, terus ada apa-apa sama adek mas yang cantik ini, mas yang tanggung jawab okay!"
Pip...
Sambungan terputus!
__ADS_1
Jihan. Dia memang pembuat onar, perusak suasana, dan no debat.
Aku menggerutu sembari mengetik pesan untuknya.
"Okay! Tunggu mas, tiga puluh menit lagi sampai"
Usai mengirimkan pesan singkat, aku langsung memasukkan ponselku ke dalam saku celana, lalu berpamitan pada teman-temanku.
Fakultas kedokteran, aku pasti bisa masuk ke kampus ini sebagai mahasiswa.
Menghempaskan nafas kasar, aku melangkah menuju area parkir.
****
"Kok bawa motor si?" Protes Jihan ketika aku sampai di pesantren.
"Kok bawa koper segala?" Tanyaku balik, sambil melepas helm.
"Loh, ini kan mau liburan panjang, mas. Jelas aku bawa pulang barang-barangku"
"Kamu baru naik kelas dua, masih akan tinggal disini dua tahun ke depan, jadi untuk apa di bawa pulang. Kayak mau pindahan aja"
"Nggak apa-apa dong, ini baju-baju lama, udah bosan, mau ku sumbangin"
"Terus nanti minta beli lagi ke bunda sama ayah" Aku mencebik.
"Boros tahu"
"Ya nggak apa-apa, bunda yang beliin kok mas yang protes"
"Bukan gitu dek_"
"Ah udah lah, males debat sama mas, muka mas kayak ayah pas baru pulang dinas, udah kusut, jelek lagi!"
"Kamu bilang apa?"
"Hehe enggak" Anak itu selalu bikin kesal, tapi menggemaskan. Siapa saja pria yang ingin dekat dengannya, harus lulus melewati ujian dariku.
Dan Alaku tahu adikku tak bermaksud mengataiku jelek, dia hanya tak suka dengan raut wajahku yang terlihat kesal. Bukan hanya sekali dia mengatai wajahku begitu, jika aku berbuat anarkis atau berkelahi dengan teman tapi musuh, dia bahkan tak segan mengatai wajahku yang imut jadi amit karena banyak lebam dan biru di wajahku.
Aku sangat paham kalau adekku ini tak serius. Dia justru memuji ketampananku sampai-sampai kadang tak terima jika ada cewe yang nggak baik menyukaiku.
Satu lagi ...
Orang yang nggak tahu, pasti menyangka kalau kita adalah sepasang kekasih.
Selisih usia kita yang hanya dua tahun, membuat kami seperti teman sebaya. Kami bahkan sering sekali jalan berdua misalnya untuk nonton, datangi tempat-tempat wisata, dan juga pergi ke mall sama-sama.
__ADS_1
Dia juga sering memintaku menemaninya belanja kebutuhan wanita.
Tapi aku suka itu, karena selain ingin melindungi adekku, ayah juga memintaku untuk selalu menemaninya kemanapun adekku pergi.
Ya, untuk hal-hal tertentu Jihan memang tidak di ijinkan pergi dengan orang lain, pasti harus ada aku yang mendampinginya, jangankan Jihan yang masih bau kencur, kak Lala saja yang udah kerja kalau pergi nggak boleh sendiri.
Kalau nggak aku yang temani ya mas Lentera, kalau kami sama-sama sibuk, ayah yang maju, atau minta tolong ke mas Gema atau nggak mas Alvio.
He is so care. Ayah yang selalu menjadi ayah yang bijak dan protective terhadap anak-anaknya, nggak cuma ke anaknya, istrinya bahkan tak pernah lepas dari tangan ayah jika bepergian.
Kadang aku sampai iri melihat kemesraan orang tuaku yang cintanya kekal sampai anak-anaknya dewasa.
Kadang juga suka mikir.
Emangnya nggak bosan, mesra-mesra setiap hari? Tapi memang begitu si kalau sudah terikat dalam sebuah ikatan. Harus setia satu sama lain, ayah bahkan tak pernah memberikan celah untuk wanita yang kadang suka iseng ngerayu-ngerayu ayah.
Ku akui kesetiaan ayah ke bunda benar-benar luar biasa. Begitu juga dengan bunda yang selalu memberikan yang terbaik buat ayah, mungkin kerena itulah jadi sayang buat ayah ninggalin wanita sebaik bunda.
Jika aku menikah nanti, aku ingin mencari sosok wanita yang seperti bunda. Setia, penyayang, dan selalu mengatakan.
Jangan dendam, jangan balas orang yang menyakiti kita dengan keburukan, balas dengan kebaikan supaya hidup kita juga terus mendapat kebaikan.
Rasanya, aku ingin memberikan penghargaan orang paling baik sedunia ke bunda.
Bundaku luar biasa.
"Naik!" Perintahku dengan nada tegas. Tentu saja perintah untuk adikku.
"Kopernya?"
"Kamu yang pegang lah"
"Nggak mau, taruh depan aja! Mas yang pegangin"
"Susah dek, ini bukan motor matic"
"Nggak mau tahu, pokoknya aku nggak mau pegangin koper"
"Kamu ini dek, pengin tak iihh" geramku menahan emosi, sementara Jihan dengan santainya naik ke boncengan.
Tak ada pilihan lain, akupun menaruh koper kecil di depanku.
"Pegangan yang kencang"
"Iya" Dia melingkarkan tangan di perutku.
Tbc...
__ADS_1