Menikahi Sersan Mayor

Menikahi Sersan Mayor
~ 41 ~


__ADS_3

Ketika menuruni anak tangga, mas Bima yang baru saja keluar dari kamar sambil melingkarkan jam tangan, mengernyitkan kening melihatku hanya membawa pouch berukuran kecil.


Pouch berisi sunscren khusus untuk kulit bayi. Jika kedinginan, Lala kerap sekali merasakan gatal-gatal pada kulitnya, aku biasa mengoles sunscren ini jika timbul bentol-bentol, ada juga minyak rambut, serta perlengkapan mandi.


"Cuma itu?" tanya mas Bima ketika langkahku berada di anak tangga terakhir.


"Di rumah mami sudah ada baju-bajunya Lala, jadi nggak perlu bawa baju"


Ketika mas Bima menyadari raut wajahku, dia menempelkan punggung tangan di keningku.


"Nggak demam" Gumam mas Bima. "Apa kamu sedih berpisah dua hari dengan putrimu"


"Aku ngapain nanti kalau nggak ada Lala?"


"Ngapain?" Mas Bima menatapku penuh heran. "Ngurusin aku kalau bingung"


"Aku serius, mas"


"Aku juga serius"


"Jangan banyak bercanda, sudah waktunya jemput Lala, nanti terlambat" Kataku mengalihkan pembicaraan.


Fikiranku mendadak kacau, aku punya firasat tidak baik tentang Lala, padahal dia hanya akan menginap di rumah omanya, tapi entah kenapa seolah aku akan berpisah cukup lama dengannya.


"Dua hari nggak lama, sayang"


Terbiasa dengan candaan mas Bima, panggilan-panggilan aneh yang dia lontarkan untukku, serta sikapnya yang lembut, membuatku tak segugup sebelumnya. Meski hanya sedikit, setidaknya aku sudah bisa mengendalikan detak jantungku yang menggila ketika berhadapan dengan mas Bima.


"Hati-hati!"


Tanpa ku duga, mas Bima meraup pinggangku dengan tangan kanan agar aku menempel padanya.


"Oops" Tanganku tak sengaja mendarat di dadanya.


"Aku akan hati-hati, satu jam untuk pulang pergi"


"J-jangan ngebut, kasihan Lala nanti!"


"Okay, aku pergi"


Aku mengantar mas Bima sampai di pintu depan. Tiba-tiba saja dia mengecup keningku. Hal yang tak pernah ada dalam khayalanku.


Memang mas Bima akhir-akhir ini sering sekali mencium bibirku, tapi ini pertama kalinya dia mengecup keningku saat mau pergi.


Benar-benar hubungan kami sudah membaik, tapi aku masih sedikit ragu karena mas Bima belum bilang 'aku mencintaimu'.


"Masuklah, aku akan menutup gerbangnya sendiri"


"Hati-hati!" Pesanku sekali lagi.


"Iya, assalamu'alaikum" Pamitnya dengan suara yang tak lagi dingin.


"Wa'alaikumsalam"


Begitu mas Bima keluar dari gerbang dan menutupnya kembali, dia sempat mengerlingkan matanya sebelum gerbang benar-benar tertutup. Jelas sekali pria itu tengah menggodaku.


Aku menggelengkan kepala lengkap dengan seulas senyum.


Mungkin saja mas Bima memang sudah menerimaku.


Sembari menunggu mas Bima kembali ke rumah, aku menyetrika pakaian kami. Aku menghirup aroma baju Lala ketika giliran menyetrikanya. Baju milik mas Bima juga sempat ku peluk dan ku cium dalam-dalam aromanya.


Baru beberapa menit berlalu, tapi aku sudah merindukan mas Bima juga putrinya.


Saat sedang membayangkan kejahilan ayahnya Lala, raut mukanya yang berubah menyebalkan ketika mengerjaiku, tiba-tiba aku mendengar suara bel berbunyi.


Aku mengernyit dengan penuh penasaran.


Apa mas Bima nggak jadi antar Lala ke rumah mami?


Nggak sia-sia pasang muka sedih di hadapan mas Bima tadi. Ternyata laku juga sama pria dingin seperti dia.


Aku mencabut kabel strika lalu bergegas lari keluar rumah. Karena akan membuka pintu gerbang, aku menyambar khimar dan memakainya sembari melangkah lebar.


Pintu gerbang sudah terbuka, aku menelan ludah ketika bukan sosok mas Bima yang berdiri di balik pintu besi.


"Pak Yoga!"


"Apa suamimu ada?" Tanyanya dengan senyum misterius.


"Tidak ada"


"Aku datang kemari ada perlu penting dengannya"


"T-tapi mas Bima tidak ada"

__ADS_1


"Okay, kamu bisa mewakilinya. Boleh saya masuk?"


Aku tak langsung menjawab. Sebab merasa heran dengan bahasanya yang 'aku kamu'


"Ini terkait putrinya, Syahla Athalia Anggara"


Jantungku meronta mendengar nama Lala di sebut.


"Soal Lala?" Aku mengerutkan kening.


"Iya"


Sempat ragu, akhirnya aku mempersilahkan pria itu masuk. Dia yang berpendidikan tinggi dan seorang pengacara, jadi ku rasa dia tak berani macam-macam. Dia hanya bertamu untuk suatu kepentingan mengenai putri kecilku.


"Mari, silakan masuk!"


Aku kembali menutup pintu gerbang.


Duduk di ruang tamu, aku membiarkan pintu rumah terbuka lebar. Tak mau membuat mas Bima salah paham jika tiba-tiba dia pulang.


"Bisa langsung ke intinya" ucapku mengawali pembicaraan.


"Bisa, tapi sebelumnya aku ingin mengatakan sesuatu"


"Apa?" tanyaku penasaran.


"Kamu ini adalah istri yang tak pernah di anggap, bukan? Kenapa anda masih bertahan dalam hubungan toxic ini?"


"Asal kamu tahu, kamu tak lebih dari baby sister untuk Lala" tambahnya sarkastis.


Dan itu membuat dadaku terasa sesak.


"Apa maksud anda?"


"Aku sangat tahu kalau kamu belum pernah di sentuh oleh Bima, iya kan?"


Aku berdecih. "Tahu apa anda?"


Pria di depanku tersenyum meremehkan "Kamu tidak perlu menyangkal, Gesya sudah cerita segalanya. Kalau kamu mau, aku bisa membantumu keluar dari hubungan ini, atau menikahlah denganku, aku pasti akan memberikan nafkah batin untukmu"


"Jaga ucapan anda, pak Yoga!"


"Ckk... Ayolah, kamu wanita yang tidak di harapkan oleh Bima. Kamu akan hidup bahagia denganku" Usai mengatakan itu Dia bangkit lalu melangkah ke arah sofa panjang yang ku duduki.


"Anda mau apa?" Ketika pria itu duduk, persekian detik kemudian aku bangkit untuk menjauh darinya.


Pria itu melangkah mendekat, membuatku melangkah mundur.


"Anda mau apa?"


"Kita bisa bicara baik-baik, bu Arimbi. Aku pastikan kamu tidak akan menyesal pisah dengan Bima, tenang saja aku akan memberimu kemewahan, nafkah batin juga lahir"


"Stop di situ" Pekikku sambil memberikan kode tanganku supaya berhenti.


"Saya tidak akan pernah sudi hidup dengan pria seperti anda"


"Sombong sekali kamu!"


"Astaghfirullah, istighfar pak Yoga! Anda sudah lancang pada saya, anda sudah melewati batas"


Mengabaikan perkataanku, pria itu kembali memunculkan senyum sinis. Ada seringai menakutkan terlukis jelas di wajahnya, dan itu membuatku semakin tak ada nyali.


Keringat dinginku keluar, jantungku juga seakan kian naik ritme detakannya.


Dia terus melangkah maju seiring dengan kakiku yang melangkah mundur.


Berkali-kali aku menelan ludah, berdoa dalam hati agar mas Bima segera pulang.


"Dengan menolakku, kamu sudah merendahkanku, bu Arimbi. Ini kesempatan bagus untukku karena Bima sedang tidak ada di rumah. Aku benar, bukan?"


"Apa maksud anda sebenarnya?"


"Aku ingin mencicipimu"


Pria itu kian mendekat, menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki.


Aku berniat lari, namun dengan cepat pria bernama Yoga meraih pergelangan tanganku. Mencengkram kuat-kuat hingga kukunya membekas di kulitku.


"Ayolah Arimbi, kita bisa melakukannya secara baik-baik"


"Lepaskan saya!" aku berusaha melepas tangannya dari tanganku.


"Lepaskan?" dia berdecak.. "Ckkk, mana mungkin aku melepaskanmu begitu saja. Mumpung nggak ada Bima di rumah aku bisa melakukannya" Senyum sinisnya semakin tajam.


"Ayolah Arimbi, dimana kamarmu, kita bisa melakukannya di ran_" Kalimatnya terhenti karena aku tak lagi bisa menahan diri dan reflek menamparnya.

__ADS_1


Sepasang matanya berkilat, menatapku penuh amarah seraya mengusap pipi bekas tamparanku.


"Cukup anda merendahkan saya" ujarku berusaha menenangkan diri dan berusaha menormalkan nafasku yang tersengal.


"Cukup kuat juga tenagamu"


Dia menarikku menuju kamar mas Bima. Saat melewati meja hias, satu tanganku meraih vas bunga lalu melempar ke kepalanya.


Seketika tanganku terlepas, dan aku bergegas lari keluar rumah untuk meminta pertolongan.


Namun baru beberapa langkah, dia menarik khimarku dan detik itu juga khimar itu terlepas dari kepalaku.


Rambutku yang tadi ku gelung dengan asal, seketika tergerai.


Dia langsung mendorongku hingga aku terhuyung ke lantai, lalu berjongkok dan menamparku di kedua sisi wajahku.


Tamparan yang cukup keras sebenarnya, bahkan ada darah yang menetes dari sudut bibirku, tapi tak membuatku merasa perih.


Mas Bima! aku menjerit dalam hati memanggil nama mas Bima berulang kali.


"Dasar wanita malang, sok suci, wanita bodoh. Jelas-jelas kamu menderita, masih saja bertahan demi pria macam Bima"


Dia kembali meraih tanganku, membawaku ke arah sofa. Tubuhku di lempar dan jatuh dalam posisi duduk di atas sofa.


Meski sudah kehilangan daya, tetapi aku berusaha mempertahankan baju agar tetap melekat di tubuhku.


Kukunya yang panjang, mampu merobek kulitku bagian dada.


Dia kembali menamparku hingga aku merasakan pusing yang luar biasa.


Aku tak tahu harus berbuat apa, yang bisa aku lakukan hanyalah berdoa sambil terus berusaha menyingkirkan tangan pria itu yang hendak menarik pakaianku.


Tiba-tiba saja Yoga menyingkir dari hadapanku.


Mas Bima, dia menarik kemejanya dari belakang dan langsung melemparkan pukulan di wajah Yoga.


Pria yang berprofesi sebagai tentara itu sangat jago bela diri, membuatnya tak merasa kesulitan memberi pukulan pada lawannya.


"Berani sekali kamu menyentuh istriku"


Satu pukulan kembali mendarat di rahang kokoh Yoga. Bahkan mas Bima tak memberi kesempatan pada pria itu untuk membalas pukulannya.


"Berani sekali kamu melukai istriku" Dia kembali memukulnya bertubi-tubi dengan tanpa ampun.


"Bima, jangan salah paham, dia yang memintaku melakukannya karena dia tak mendapatkan nafkah batin darimu"


"Cukup!" Amarah di wajah mas Bima kian nampak. "Kamu pikir aku percaya?"


"Sungguh Bim, dia yang memintanya"


Mas Bima melirikku dengan ekor matanya, menatap rambutku yang tak tertutup kain.


Sepasang netranya kembali beralih menatap wajah Yoga.


"Aku tidak akan membiarkanmu lolos, ku pastikan kamu akan mendekam di penjara"


Mencengkram krah, mas Bima menyeret tubuh Yoga dan melempar ke luar pintu.


"Kamu bisa pergi dari rumahku, tapi tidak bisa menghindar dari CCTV di rumahku. CCTV itu, tahu segalanya"


Usai mengatakan itu, mas Bima menendang kaki Yoga lalu berbalik dan menutup pintunya dengan kasar.


Ia langsung berlari melangkah menghampiriku.


"Maaf" mas Bima membopong tubuhku dan membawaku ke kamarnya. Tanpa ragu aku melingkarkan lengan di lehernya, menyembunyikan wajahku di dadanya yang bidang.


Sesampainya di kamar, mas Bima merebahkanku di atas ranjang.


Ini pertama kali punggungku menyentuh kasur empuk milik mas Bima.


Tanpa mengatakan apapun, mas Bima turut merebahkan dirinya di sampingku, lalu memelukku erat-erat sambil mengecupi puncak kepalaku.


"Kamu aman sekarang"


Tanpa malu aku membalas pelukan mas Bima, melampiaskan sisi manjaku tanpa peduli dengan jantungku yang detakannya masih belum stabil.


Hampir satu jam dalam posisi ini, mas Bima merenggangkan pelukan kami.


"Kita obati lukamu dulu, Bi"


"Ini nggak sakit mas" Pelukanku mengerat, dan seolah mas Bima faham dengan keinginanku yang masih ingin berada dalam pelukannya.


Bersambung...


Ah.. untuk part spesialnya (Malam spesial Arimbima) besok saja ya.

__ADS_1


Di vote dulu.. Kasih rate juga..


__ADS_2