
Di hari minggu, keluarga Bima yang selalu menghabiskan waktu libur hanya bertiga yaitu Arimbi, Bima dan Lala, pagi ini ada juga Ryu dan Jihan yang ikut beraktifitas dalam membersihkan halaman rumah.
Ryu dan Jihan yang jarang sekali di rumah sebab berada di ponpes, kini bisa menghabiskan masa liburan akhir tahun bersama orang tua dan kakaknya.
Mereka pun sudah mendapat tugas masing-masing dari sang ayah.
Ryu memotong rerumputan, Jihan yang menyapu halaman, sementara Lala mendapat bagian membuat kudapan dan minuman dingin.
Bima sendiri mencuci mobil dan Arimbi menyiram tanaman.
"Tumben diam, mas!" Tanya Arimbi, melirik sekejap ke wajah sang suami.
"Terus aku harus apa, Bi?"
"Biasanya mulutnya nggak berhenti ngomong, lagi mikirin apa?"
"Kakak" jawab Bima tanpa melihat lawan bicaranya.
"Memangnya kenapa sama kakak?"
"Memangnya kamu nggak merasa kalau kakak dari kemarin diem aja?"
"Ngerasa" Arimbi mematikan kran air yang sedang ia pakai untuk menyiram tanaman menggunakan selang panjang.
"Dia curhat katanya lagi sedih, lagi cemburu sama cowok, tapi kakak nggak bilang siapa cowok yang udah buat dia cemburu"
Mendengar ucapannya, Bima menatap Arimbi yang berjalan mendekat ke arahnya.
"Dia pacaran?"
"Enggak pacaran, cuma temenan aja sama cowok itu, tapi si cowoknya nggak tahu kalau kakak suka sama dia"
"Dia memang lebih mirip kamu ketimbang Hana, sama-sama suka menyimpan perasaan sendiri, nanti ujung-ujungnya sakit hati sendiri"
Arimbi tersenyum menanggapi kalimat Bima, sedetik kemudian wanita itu berucap.
"Dia begitu karena nggak mau pacaran, ingat pesan ayah katanya, buat nggak pacaran dulu"
"Nggak penting juga kan pacar-pacaran?"
"Jaman sekarang kan nggak apa-apa, mas. Mas dulu juga pacaran sama mbak Hana, kenapa ngelarang anaknya buat pacaran?"
"Jadi kamu ngedukung putrimu pacaran, begitu?"
"Nggak" Arimbi yang sudah berada di samping Bima sejak beberapa menit lalu, mengambil alih kanebo dari tangan suaminya, lantas mengelap kering kaca mobil yang baru saja di cuci.
"Kakak anak baik, dia lebih mementingkan karir dari pada pacaran"
"Kamu benar-benar nggak tahu siapa pria yang sudah buat putri kita uring-uringan?"
Arimbi meresponnya dengan kedikan bahu.
"Mungkin nggak si kalau pria itu mas Lentera?" Bima menyelidik dengan sorot penasaran.
"Kok mas Tera?"
__ADS_1
"Ya feeling aja, setahuku cuma mas Tera pria yang dekat dengan kakak"
Arimbi menoleh ke samping kiri, menatap Bima dari samping yang tengah menyandarkan punggung di sisi mobil sambil melipat tangan di dada.
"Terus kalau feeling mas benar kenapa? Mas mau marahin mas Tera?"
"Ya enggak, memangnya atas dasar apa aku marahin mas Tera?" kilah Bima membalas tatapan Arimbi dengan menolehkan wajah ke samping.
"Ya sudah biar itu jadi urusan mereka, kak Lala sudah besar, pasti tahu gimana cara mengatasi masalahnya"
Diam bergeming, tatapan Bima kian lekat, lalu mengecup bibir Arimbi kilat.
"Apaan si mas, ada anak-anak juga"
"Mereka lagi sibuk sendiri, satu potong rumput, satunya lagi nyapu, nggak sempat lihat kita tadi"
"Jadi kebiasaan nanti"
"Reflek, aku bisa apa?" Sahut Bima santai.
Lalu hening, keduanya saling menatap dalam diam seraya berbalas senyum genit.
"Kalau misalnya mas Tera pria yang di sukai kak Lala, dan dia yang sudah buat kakak sedih, gimana?" Tutur Arimbi setelah puas memandang suaminya, namun suaminya tak menjawab.
"Aku juga sedih kalau lihat kakak sedih apalagi sampai nangis" Tambahnya menggenggam tangan Bima lalu mengusap punggung tangannya. "Setiap orang pasti memiliki masalah, dan masalah itu nantinya yang akan membuat diri mereka berkembang. Dari masalah itu pula, mereka termasuk kita sendiri akan bisa belajar tentang ketegaran, kesabaran atau keikhlasan apapun itu. Dia akan menjadi orang yang penakut jika kita terus melindunginya"
"Kita harus percaya sama putri kita, dia pasti bisa melewatinya, sama seperti dia bercita-cita saat kecil dulu, dan sekarang? We see!!! kakak bisa membuktikan bahwa dia bisa menggapai cita-citanya"
"Tapi aku nggak suka lihat dia sedih"
"Aku kagum sama pemikiranmu, betapa concern-nya kamu ke anak yang bukan darah dagingmu"
"Sekali lagi mas bilang kakak bukan darah dagingku, aku nggak akan ijinin mas tidur di kamar"
"Bisa emang, tidur tanpa suamimu?"
Wanita itu melempar tatapan tajam, tak lagi menjawab, dia malah mencubit pinggang Bima lalu membuka selang dan menyemprotkannya ke tubuh suaminya.
"Aahhh, apa-apaan kamu Bi?"
"Makannya jangan jahil"
Bima melangkah mendekat berniat merebut selang dari tangan Arimbi. Untuk menghindari sang suami, Arimbi melempar selang begitu saja kemudian berlari, namun langkahnya yang lebar, justru kalah lebar dan langsung bisa di susul oleh pengejarnya.
"Mau lari kemana kamu Bi?" Ucap Bima sambil memukul lembut pantatnya.
"Kemana aja!"
Melihat suara cekikikan dari kedua orang tuanya, mengundang atensi Ryu dan Jihan beralih ke arah dua orang yang sedang lari berkejaran.
"Aku berharap, aku akan menemukan pria baik seperti ayah. Maksudku, seorang pria yang memperlakukanku seperti ayah memperlakukan bunda" Gumam Jihan.
"Kamu ngomong apa? Sekolah dulu yang benar, jangan mikirin cowok" Ryu menyentik kening adiknya sedikit agak keras.
"Sakit mas" Gadis remaja itu membalasnya dengan menimpukkan sapu lidi ke lengan sang kakak.
__ADS_1
"Ayah! bunda! Adek ngintip kalian pacaran tuh?" teriakan Ryu membuat Bima dan Arimbi langsung berhenti, lalu menoleh.
"Pria satu ini, benar-benar duplikatnya ayah, tengil dan jahil kayak ayah. Mulutnya kayak ember pecah"
"Ayah, adek bilang ayah mulutnya kayak ember pecah"
"Eh jangan fitnah ya" Jihan kembali menyentakkan sapu lidi.
"Awh.. Sakit bunda" Adu Ryu berlari ke arah Lala yang sedang melangkah sambil membawa nampan.
"Jihan, Ryu, berantemnnya nanti saja. Selesaikan pekerjaan kalian dulu"
Teriakan Bima membuat cewek yang berjarak beberapa langkah di belakang Ryu mendesah mengabaikan ucapan ayahnya.
Sementara Ryu dengan gesit berlari. "Kakak" serunya yang tahu-tahu berlindung di belakang tubuh kakak perempuannya.
"Sini sendiri atau ku paksa?" Ucap Jihan.
"Enggak dua-duanya. Tangkap sini kalau bisa"
"Stop deh, nggak usah berantem" Lala mencoba menengahi kedua adiknya.
"Dengar tuh, jangan nakal jadi adek"
"Bangga??? dapat pembelaan dari kakak?"
"Loh kamu yang mulai dulu nimpuk aku pakai sapu lidi, so jangan iri kalau kakak jadi pembelaku"
"Sudah dong, kakak mau lewat, ini nampan nanti jatuh gimana?"
"Keluar deh mas, jangan pengecut ngumpet di belakang kakak"
Tiba-tiba...
Prank ...
"RYUSANG!! JIHAN!! SINI KALIAN"
Teriakan Bima membuat Ryu dan Jihan reflek terdiam. Jihan bahkan sampai menutup mulutnya sendiri sebab salah satu gelas di atas nampan jatuh ke lantai.
"Sudah kakak bilang kan?" Lirih Lala sembari menggelengkan kepala. "Cepat ke ayah, hati-hati ada pecahan gelas. Bakal kena marah kalian sama ayah"
Bersungut-sungut, Jihan menggamit lengan kakaknya dengan perasaan was-was. Sementara Lala tersenyum melihat ekspresi masam kedua adiknya.
Dari pandangan Ryu dan Jihan, tampak Bima tengah berdiri tegas dengan sepasang tangan yang ia masukkan ke saku celana pendeknya, sedangkan Arimbi berkacak pinggang menatap anak-anaknya dengan tatapan maut.
"Mati, kita berdua" Gumam Ryu sangat lirih.
"Ini semua salah mas"
_____Arimbi, wanita yang lembut dan tidak mudah marah, sangat menyenangkan dan juga menenangkan. Yang jarang sekali bersikap keras pada ketiga anaknya.
....Wanita itu justru jauh lebih menakutkan jika marah di bandingkan dengan pria yang sudah menemaninya selama puluhan tahun.
End...
__ADS_1
Semoga bahagia selalu ya Arimbima, LaRyuJi.