
"Gimana soal sidang beberapa waktu lalu, Bi?" tanya mbak Kanes ketika aku membantunya mencuci piring.
"Belum ada putusan mbak, besok ada agenda mendengarkan ungkapan Lala"
"Loh, ungkapan yang bagaimana?" mbak Kanes seperti terhenyak, tangannya yang tadi meniriskan piring yang baru selesai ku bilas, seketika terhenti kemudian menatapku dengan saksama.
"Mereka pengin dengar bagaimana perasaan Lala selama tinggal dengan kami" Aku menoleh ke belakang, memastikan mami atau papi tak ada di dapur. "Mbak Hana mempermasalahkan hubunganku dengan mas Bima, mbak. Mereka tahu kalau sebelumnya pernikahan kami nggak ada cinta" Bisikku, dan mbak Kanes langsung ternganga.
"Dari mana mereka tahu?"
"Mereka tanya-tanya ke Lala"
"Apa?"
Aku tersenyum, mengoper piring lain yang sudah bersih ke tangan kakak iparku. "Mereka bilang kalau aku dan mas Bima sering berantem, dan itu akan membawa dampak buruk pada Lala, jadi mereka mau mengambil alih hak asuhnya, sebab nggak mau Lala trauma dengan pertengkaran kami. Padahal selama ini aku dan mas Bima, jangankan berantem, saling bicara saja tidak. Memang si, Lala pernah mergokin aku dan mas Bima ribut, tapi bukan ribut yang gimana-gimana mbak, mas Bima hanya membentakku karena aku nggak mau di ajak bicara. Dan Lala dengar pas ayahnya ngomong dengan nada tinggi"
"Keterlaluan ya dua cucunguk itu. Dari dulu kemana aja mereka, nggak ngurusin Lala?" Kesal mbak Kanes seraya mencebik. "Terus apa rencana Rosa?"
"Ya kami akan datangkan Lala"
"Masa iya Bi, harus melibatkan anak kecil dalam persidangan?"
"Nanti akan di adakan sidang tertutup mbak, biar Lala tetap nyaman"
"Terus gimana nanti kalau Lala bilang kalian memang sempat tidur terpisah?"
Ucapan mbak Kanes kembali membuatku tersenyum. "Aku sudah kasih penjelasan ke Lala, mbak"
"Penjelasan apa?"
"Ya penjelasan yang mengarah kalau hubunganku dengan ayahnya baik-baik saja"
"Ini semua salah Bima, coba dari dulu dia menerimamu, ini pasti nggak akan kejadian, Bi"
"Nggak perlu saling menyalahkan mbak, kan memang sudah di atur jalannya seperti itu"
"Bi, kamu jujur deh, kamu merasa nggak, kalau ada desas desus soal Gesya yang katanya menyukai Bima?"
Aku terdiam, cukup terkejut sebenarnya setelah mendengar kalimat mbak Kanes barusan. "Aku khawatir aja sama kamu, Bi"
__ADS_1
"Kenapa mbak Kanes bilang begitu, darimana mbak tahu?"
"Rosa yang cerita" Sahut mbak Kanes menerima piring terakhir dariku. "Gesya sangat tahu hubunganmu dan Bima itu anyep dan nggak komunikatif, dia pasti nekad Bi. Takutnya Bima terpengaruh sama rayuannya"
"Nggak ada yang perlu di khawatirkan kok mbak"
"Aku bukannya mau meracunimu dengan prasangka-prasangka buruk Bi, tapi ... Apa kamu yakin nggak ad yang perlu di khawatirkan?"
"Ya ada si, sedikit. Tapi mas Bima sudah meyakinkanku kalau dia sama sekali tidak minat dengan wanita seperti Gesya. Menurut embak, apa mas Bima akan bermain api di belakangku?"
"Enggak mungkin si, aku tahu gimana Bima kalau sudah cinta, dia nggak akan sia-siain apalagi mengkhianati, bisa di coret dia dari kartu keluarga kalau berani selingkuh"
Aku menatap mbak Kanes. Dia seoalah terus mencermati wajahku yang mungkin terlihat begitu santai. Setelah puas menelisik wajahku, dia menghembuskan napas pelan.
"Ya sudah, tapi pesanku, ada baiknya kamu dan Bima sama-sama waspada. Zaman sekarang loh Bi, makin banyak orang single tega menggoda pasangan orang lain. Jangankan kamu yang sempat memiliki hubungan toxic, pasangan yang saling cinta, dan sudah menikah puluhan tahun saja bisa berakhir gara-gara orang yang di butakan oleh cinta. Tega merampas milik orang lain demi untuk kebahagiaannya sendiri"
Aku menyimak kalimat mbak Kanes baik-baik. Biar bagaimanapun, apa yang dia katakan sangatlah benar.
"Bima itu bukan pria yang mudah tergoda, aku tahu itu" Lanjut mbak Kanes. "Tapi kita nggak tahu kan, kalau apapun bisa di lakukan demi untuk menarik perhatian Bima. Kamu boleh percaya seratus persen pada suamimu, tapi wanita di luar sana banyak yang nggak peduli dengan cincin yang melingkar di jari manis kita kalau mata hatinya sudah tertutup"
"Sudah selesai cuci piring?" Tiba-tiba mami bersuara dari arah ambang pintu yang membatasi ruang makan dan dapur.
"Itu si Lala minta susu, Bi. Dia sudah ngantuk katanya"
"Aku buatkan sebentar, Mi"
"Aku lihat anak-anak dulu ya Bi" sela mbak Kanes lantas beranjak dari area dapur. Sementara mami tampak mengeluarkan teh daun jambu biji. Mami pasti mau buatkan teh itu untuk papi yang kadar gulanya mencapai dua ratus lebih. Meski tak sampai tiga ratus, tetap saja mami khawatir dan beliau selalu hati-hati mengatur porsi makan papi agar tak melebihi kapasitasnya.
***
Malam ini aku dan Lala memang sedang menginap di rumah papi, karena besok kami akan datang ke pengadilan, papi memintaku untuk berangkat di antar sopirnya dari sini. Mas Bima sendiri sudah tiga hari ini tak menelfonku. Pasti tak ada waktu atau tak ada sinyal, buktinya pesan singkat yang mas Bima kirim tadi pagi, baru bisa masuk ke ponselku setelah adzan Ashar.
"Lala ingat kata-kata bunda, ya" Kataku sambil menidurkan Lala.
"Bunda dan ayah saling sayang dan nggak pernah tidur pisah-pisah. Bunda bubuk di kamar depan kamar Lala karena ayah lagi nggak di rumah, ayah lagi dinas naik pesawat, jadi bubuknya yang dekat dengan kamar Lala, biar kalau Lala nangis, terus kebangun di tengah malam, bunda bisa dengar"
"Jadi bunda sama ayah tidurnya nggak pernah pisah-pisah?"
"Nggak pernah nak, kalau ayah ada di rumah, bunda bubuknya sama ayah. Lala nggak tahu soalnya Lala sudah bubuk, nah kalau ayah nggak di rumah, bunda bubuknya kadang sama Lala di kamar Lala, kadang di kamar bunda yang ada di depan kamarnya Lala"
__ADS_1
"Sekarang Lala tahu kan, kalau bunda bubuknya sama ayah"
"Iya" jawabnya sambil mengulun rambutku untuk main-main.
"Lala tahu kan kalau anak kecil nggak di bolehin lihat orang dewasa cium-cium"
"Tahu bunda"
"Makannya, Lala nggak pernah lihat ayah cium bunda kan? Karena ayah cium bundanya ngumpet-ngumpet, biar anak kecil kayak Lala nggak lihat"
"Tapi Lala pernah lihat ayah cium bunda satu kali"
"Pas kapan?"
"Lala lupa, pokoknya pas mau berangkat sekolah, ayah sama bunda berangkat kerja"
Aku tersenyum meresponnya. "Terus Lala senang nggak tinggal sama bunda sama ayah?"
"Senang, bun"
"Bahagia kan sama bunda?"
"Bahagia, bunda. Lala nggak mau jauh-jauh dari bunda, Lala sayang bunda"
"Okay, anak pintar, sekarang bubuk. Besok bunda ajak jalan-jalan"
"Nggak ke sekolah, bun?"
"Besok libur dulu, bunda sudah minta ijin ke bunda Lisa kalau Lala mau jalan-jalan sama bunda"
Lala mengeratkan pelukannya, aku membalasnya dengan usapan lembut di punggungnya lantas mengecup pucuk kepalanya.
Kurang lebih seperti itu pertanyaan Hakim besok. Dan semoga Lala terus ingat dengan apa yang sudah aku jelaskan selama satu minggu ini.
Selang beberapa menit, aku mendengar getaran ponselku. Ada pesan masuk dan aku harap dari mas Bima, tapi saat aku meraih benda tipis itu, aku harus menelan kecewa sebab bukan nama mas Bima yang mengirim pesan.
Gesya : "Kamu meminta suamimu buat blokir nomorku? Aku peringatkan, sebaiknya kamu nggak usah melarang mas Bima apalagi membatasi komunikasi kami. Para pria tidak akan pernah bisa hidup dengan satu wanita saja, jadi jangan pernah menganggap mas Bima akan setia padamu" ( 21:17) WIB.
Pesan panjangnya, entah kenapa membuat napasku seperti tercekat.
__ADS_1