Menikahi Sersan Mayor

Menikahi Sersan Mayor
~ 68 ~


__ADS_3

Makasih yang masih ngikutin....!


Selamat membaca, semoga terhibur.


...☄☄☄...


Badanku terasa lebih enteng setelah di bantu pijat dan kerok oleh Nining, leher yang sebelumnya sangat kaku, kini pun terasa lebih lemas. Begitu juga dengan perutku yang terasa mual, pun sudah mendingan di bandingkan sebelumnya.


Tadi saat Nining memijat tengkuk serta pundakku, kami tak lepas dari obrolan. Aku yang selalu memiliki jiwa penasaran dan hobi mewawancarai, kali ini bertanya-tanya soal Hana pada ART mami.


Jelas Nining tahu tentang awal mula Hana berselingkuh, sebab saat dia masuk ke rumah mami, saat itu Hana sedang mengandung empat bulan.


Bu Hana orangnya baik si bu, nggak banyak omong, kalau lagi jengkel sama seseorang, dia nggak akan ngomong sama orang yang dia jengkelin. Kalau mau sesuatu harus di turutin. Contohnya pas pengin punya rumah sendiri. Dia minta pak Bima buat cepat-cepat beli rumah, padahal sama pak Rio, pak Bimanya nggak di bolehin keluar dari rumah itu. Biar bagaimanapun kan pak Bima anak terakhir, pak Rio maunya pak Bima tetap menempati rumahnya, tapi bu Hana kekeh minta rumah, katanya pengin mandiri, nggak mau serumah sama mertua. Akhirnya pak Bima beli rumah ini dengan tabungannya, dan kekurangannya pinjam sama pak Ken.


Pas baru saja lahiran, bu Hananya juga kekeh dari rumah sakit minta pulang ke rumah baru. Saya dan bu Irma sempat tinggal di sini selama empat puluh hari. Setelah bu Hana sudah bisa apa-apa sendiri, dia minta saya dan bu Irma buat kembali ke rumah pak Rio.


Pas usia dedek Lala dua bulan, saya di suruh datang kesini sama bu Irma buat cek kondisi bu Hana, di situ saya curiga bu, soalnya pas saya datang, pas banget lagi ada tamu dua pria.


Kecurigaan saya terjawab saat usia dek Lala tujuh bulan. Setelah acara turun tanahnya, pak Bima yang pulang mendadak, dan sudah ketinggalan acara, malah lihat bu Hana lagi selingkuh. Saking asiknya, bu Hana nggak sadar kalau pak Bima pulang dan merekamnya bu.


Saya juga sempat di kasih lihat rekamannya sama bu Kanes.


Saya kalau ngebayangin kasihan dek Lala bu, masa iya anaknya nangis kejer dia asik main-main sama pria yang bukan suaminya.


Puas bercerita tentang mbak Hana, Nining juga menceritakan soal wanita-wanita yang di jodohkan dengan mas Bima sebelum akhirnya di jodohkan denganku.


Tapi pak Bima kadang lucu juga bu, pas dokter anak itu datang buat makan malam, bik Nani kan bilang,


'Mas Bima, dokter Tiara cantik ya?' Bik Nani tanya gitu di depan dokter yang mau di jodohin itu, pak Bimanya malah jawab gini sambil bersungut-sungut.


'Cantikan bik Nani kemana-mana lah bik, dia sama sekali nggak cantik, rambutnya saja di umbar kesana kemari '


Terus besoknya dokter Tiara datang pake jilbab, tapi sama sekali nggak di lirik sama pak Bima. Malah pak Bima kembali nyeletuk yang bikin dokter Tiara jengkel.


'Satria baja hitam, berubah dalam sekejap?' ampun deh pak Bima. Kalau ingat, aku sama bik Nani langsung ketawa.


Ada lagi bu Arimbi, yang di jodohin sama pak Bima, dia dari kalangan pebisnis, temannya pak Danu dan pak Rio. Namanya nona Siena, alih-alih memujinya, pak Bima malah bilang gini.


'Oh ini to ... keluarga dari kerajaan, yang maunya di panggil Nona'


Soalnya nona Siena memang nggak mau di panggil mbak. Waktu itu bik Nani kena tegur sama nona Siena, dan pak Bima dengar. Jadinya di sindir gitu sama pak Bima. Dia juga yang pernah nyubit pahanya Lala pas jalan-jalan.


Aku reflek menggelengkan kepala mengingat ulasan cerita Nining.


Mas Bima memang kalau ngomong asal keluar, seperti nggak di fikir apakah menyakiti atau tidak.


Dulu sama aku juga kerap sekali seperti itu. Apalagi untuk soal menyindir. Halus, tapi ngena di hati.

__ADS_1


Malam semakin larut, suasana pun kian sunyi, aku yang masih belum bisa memejamkan mata, berkali-kali melirik ke arah ponsel yang ku letakkan di atas nakas.


Mas Bima belum juga menelfon, aku harap dia baik-baik saja.


Tiba-tiba kesunyian yang menyelimutiku mendadak di sela oleh dering ponsel. Saat aku memusatkan netra ke arah nakas, nama mas Bima muncul di layar yang tengah berkedip. Aku segera menerima panggilan masuk darinya.


"Assalamu'alaikum" lirihku menjaga nada suara agar tak membangunkan Lala yang sudah tenang dalam tidurnya.


"Wa'alaikumsalam, belum tidur, apa kebangun gara-gara telfon dariku?"


"Belum tidur, mas. Tadi Lala agak susah tidurnya karena nunggu telfon dari mas, terus aku baru selesai ngobrol sama Nining tadi pas dia bantu mijitin aku"


"Mijitin? Kamu yang di pijat? kenapa?"


"Nggak apa-apa, cuma kelelahan sama masuk angin sedikit"


"Kamu jaga kesehatan Bi, aku nggak ada, jangan sampai sakit, nggak ada yang jagain kamu"


"Aku nggak apa-apa kok mas"


"Kalau belum baikan, besok ke dokter"


"Sudah baikan kok"


"Lala tidur jam berapa tadi?"


"Sekitar pukul sepuluh"


"Maaf baru bisa telfon, tadi setelah perjalanan langsung ketiduran karena malamnya harus siaga satu"


Aku mengangguk saja, seakan tengah bicara secara tatap muka dengan mas Bima.


"Mas hati-hati ya, Lala juga pesan supaya ayahnya hati-hati"


"Hmm"


"Tadi sampai Papua pukul berapa?"


"Sekitar pukul sepuluh waktu sini"


Pukul sepuluh waktu Papua berarti sekitar pukul delapan waktu Surabaya, karena selisihnya sekitar dua jam. Lebih cepat dari waktu Papua.


"Besok pagi bisa telfon lagi, soalnya aku sudah kadung ngomong ke Lala kalau mas paginya akan telfon"


"Di usahain ya, besok pagi juga harus patroli ke Timika, waktu sini dengan tempat tingggal kita kan beda, takutnya pas aku ada waktu telfon, Lalanya belum bangun, sinyal juga susah di sini"


"Telfon sebentar aja, kasihan Lala kangen sama mas, tadi juga diam-diam sempat nangis karena pengin ngomong sama ayahnya"

__ADS_1


"Iya besok di sempatin"


"Tapi kalau memang benar-benar nggak sempat, mas kirim pesan suara nggak apa-apa, nanti aku coba kasih pengertian ke Lala kalau mas memang sibuk"


"Hmm"


Setelah itu hening, sampai-sampai aku mendengar suara jangkrik dari sebrang telfon.


"Bi"


"Iya"


"Lala tidur dimana?"


"Kamarnya mas"


Suasana kembali hening, hanya ada suara hembusan napas kami yang saling bersahutan.


Baik mas Bima dan juga aku, tak ingin Lala kekurangan kasih sayang dari ibu kandungnya, itu sebabnya aku berusaha memberikan kasih sayang penuh layaknya seorang ibu yang melahirkannya. Dan aku sama sekali tak pernah menganggap Lala anak sambungku.


Wajah yang terlihat pulas dan damai ini putriku, putri pertamaku.


"Mas" panggilku ketika terdiam cukup lama.


"Ya" sahutnya singkat.


"Kok diam?"


"Sedih aja ninggalin kalian"


"Nggak cuma mas, aku juga sedih"


"Sabar ya Bi. Aku memang jarang di rumah, makannya Hana bosan dan pilih jalan pintas"


"Sudah mas jangan bahas soal Hana. Mas fokus kerja, karena aku dan Lala selalu nunggu kepulangan mas"


"Makasih Bi, sudah memahami profesiku"


"Hmm, ya sudah mas bisa kerja lagi, ini aku tutup dulu"


"Hmm"


"Assalamu'alaikum"


"Bi" bukannya menjawab salamku, mas Bima malah memanggilku.


"Iya mas?"

__ADS_1


"I miss you"


Bersambung.


__ADS_2