
Mata sudah nggak bisa di ajak kompromi, ngetiknya sambil merem, kalau ada typo besok di revisi..
Selamat membaca!!!
...🌷🌷🌷...
Aku sangat terusik ketika mengingat kejadian ledakan yang nyaris membuatku cidera. Tak hanya aku, bayi di perutku pasti juga akan terkena dampaknya. Tapi semua kejadian itu seakan bukan apa-apa di bandingkan ketika aku mendengar ucapan Gesya.
Lala betah di sini, katanya tempatnya sangat indah..
Sungguh hatiku seperti di cubit dengan sangat keras mengingat kata-kata itu.
Apakah Lala nggak akan pulang? Dia lupa padaku karena Hana dan Gesya sudah berhasil menghasutnya? Atau Lala marah karena merasa kalau aku dan ayahnya tidak menolongnya saat ibunya membawanya pergi?
Banyak pertanyaan yang seakan membuat hati dan pikiranku gelisah.
Jujur aku tak terima kalau Lala melupakanku, aku juga tak rela jika Lala tinggal dengan ibu kandungnya.
Menarik napas, kemudian membuangnya dengan berat sembari memejamkan mataku yang terasa sangat panas.
Aku merasa kalau badanku saat ini sedang tidak baik-baik saja, aku sedikit demam, kepalaku juga sangat sakit dan pusing, tapi aku tak memberitahu mas Bima. Ku pikir ini adalah sakit biasa yang di sebabkan karena terlalu over thingking.
Namun hingga jam menunjuk di angka sebelas malam, tubuhku terus melemah, memberikan reaksi yang begitu tidak nyaman, di tambah badanku tiba-tiba mengigil menahan panas serta dingin yang terasa begitu menyiksa.
Menoleh ke samping kanan, ku lihat mas Bima sudah terlelap begitu damai.
Tak enak hati, aku bergerak miring lalu memaksakan diri untuk membangunkannya.
"Mas" panggilku menyentuh salah satu sisi wajahnya.
"Mas" panggilku lagi ketika mas Bima masih bergeming dengan dengkuran halus dan nafas teratur.
Pria di sampingku menggeliat kemudian membuka matanya.
"Kenapa sayang? Kamu butuh sesuatu?"
"Bisa tolong matikan ACnya mas, aku kedinginan"
"Kamu kedinginan?" Mata mas Bima yang semula menyipit, kini membulat sempurna. "Bi kamu kok pucat?"
"Aku nggak apa-apa mas"
"Astagfirullah... Kamu demam Bi" ucapan mas Bima bersamaan dengan punggung tangannya yang menyentuh keningku.
Setelah itu ia bergegas menyibakkan selimut lalu bangun dan mematikan AC. Ia lantas menarik laci mengambil kotak p3k.
"Cuma demam biasa, besok juga sembuh"
"39,7° kamu bilang demam biasa?" Katanya setelah menempelkan alat pengecek suhu di keningku. "Jangan egois jadi bunda, kalau kamu sedang tidak hamil, aku bisa memberimu paracetamol, tapi ada adeknya Lala di dalam perutmu, kamu tidak bisa minum obat sembarangan, jangan menyepelekan, kita ke rumah sakit sekarang, okay Dewi Arimbi!"
"Untuk apa ke rumah sakit. Aku baik-baik saja mas"
"Jangan membantah, kalau aku sudah memutuskan, kamu harus menurut" Mas Bima bangkit, lalu melangkah ke arah lemari. "Tunggu sebentar, aku cari sweater dan jilbab buat kamu"
Sepasang netraku terus memindai tubuh mas Bima yang dengan panik mengganti bajunya dan mengenakan jaket. Lalu meraih pakaian untukku lengkap dengan hijabnya.
Pria ini membantuku memakai baju lalu dengan tangkas membopong tubuhku.
Mas Bima tahu saja kalau selain demam dan pusing, aku juga lemas sementara perutku sangat mual.________
Dalam keheningan malam, mobil mas Bima melesat dengan kecepatan sedikit agak tinggi. Kami hendak menuju ke rumah sakit yang dapat di tempuh kurang lebih dua puluh menit dari rumah.
Karena situasi sudah sangat larut dan hampir di pertengahan malam, mas Bima bisa dengan leluasa melajukan kendaraannya sebab tak ada banyak kendaraan yang lewat. Bahkan hanya mobil mas Bima dan satu kendaraan di belakang kami dengan jarak yang cukup jauh.
Setibanya di rumah sakit, aku langsung di bawa ke ruang IGD untuk melakukan pemeriksaan. Hanya setengah jam aku di tangani di dalam ruang gawat darurat, perawat langsung memindahkanku ke ruang rawat inap.
__ADS_1
"Kami sudah memberikan amunisi ke dalam tubuh bu Arimbi, pak. Kami juga sudah mengambil sample darah untuk di periksa lebih lanjut" ucap dokter yang menanganiku. Saat ini kami sudah berada di kamat VIP.
"Kenapa harus di ambil sample darahnya dok?"
"Demamnya sangat tinggi, kami khawatir ini gejala DB, jadi untuk antisipasi saja, semoga hasil trombosit bu Arimbi normal, dan ini hanya demam biasa"
Mas Bima mengangguk faham.
"Satu lagi pak" Kata si dokter dengan raut serius. "Ibu hamil tidak boleh stres, ini bisa berdampak fatal pada bayinya"
"Iya dok"
"Saya permisi dan selamat beristirahat. Jika ada sesuatu segera panggil kami"
"Terimakasih dokter"
"Sama-sama!"
Aku hanya diam, menyimak percakapan mas Bima dengan dokter wanita yang berjaga malam ini.
Setelah dokter itu keluar dari kamarku, mas Bima menutup lalu mengunci pintunya.
"Kamu dengar kan Bi? Jangan stres, jangan terlalu banyak pikiran, ngerti?" pria hebatku mengambil posisi duduk di samping ranjang. Ia meraih tanganku lalu menggenggamnya erat-erat.
"Maaf, aku kangen Lala"
"Tapi selain Lala, kamu juga harus jaga si adek kan?"
Aku merespon dengan anggukan kepala.
"Soal teror, ayah Danu dan papi sudah suruh orang buat ngawasin galeri serta rumahnya Gesya, mas Bagas juga sudah meminta temannya untuk mengawasi gerak-gerik Yoga di dalam sel. Aku, papi dan ayah Danu sudah menutup celah bagi si peneror agar dia nggak bisa lagi meneror kita" Mas Bima mengatakannya dengan sorot sendu, menatapku penuh fokus. "Mengenai Lala, aku meminta Rosa untuk melayangkan somasi ke pengadilan"
"Somasi apa mas?"
Aku mengerjap.
"Nah, kalau sampai besok malam kita masih belum bisa bicara dengan Lala, Lusanya terpaksa aku ke Singapura buat menjemputnya"
"Apa bisa mas?"
"Rosa akan mengusahakan"
"Semoga saja bisa" Balasku penuh harap.
"Semoga ya, Bi. Aku juga kangen sama Lala"
Mendesah pelan, genggaman kami reflek mengerat. "Sekarang istirahatlah, besok aku minta mami buat temani kamu di sini karena aku harus ke lapangan"
"Ya sudah mas Naik"
"Naik?" Alis mas Bima terangkat satu. "Naik ke mana?"
"Tidur sini"
"Yang benar saja, Bi. Tempat tidurnya sempit, kamu nggak bisa istirahat nanti"
"Di peluk sama mas, bisa kok"
"Issh nakal"
"Cepatlah bubuk sini!" pintaku sedikit memaksa seraya menunjukan puppy eyes ku.
"Nggak apa-apa?" Tanya mas Bima menatapku lekat.
"Enggak asal tangan mas nggak nakal-nakal?"
__ADS_1
Mas Bima tersenyum sebelum kemudian merebahkan dirinya di sampingku.
"Awas infusnya hati-hati ya" pesannya dengan suara rendah.
"Hmm"
Aku tidur dalam pelukannya, mas Bima mengecup keningku lalu berbisik. "I Love you, Bi"
Kami akhirnya sama-sama memejamkan mata hingga pagi menjelang.
***
Andai saja ponsel mas Bima tak mengeluarkan bunyi, mungkin kami masih merajut mimpi dalam hangatnya ranjang rumah sakit.
Bergerak sedikit, tangan mas Bima terjulur meraih ponsel di atas meja samping ranjang. Dia langsung menempelkan ponsel setelah menerima panggilan dari seseorang.
"Assalamu'alaikum" Sapa mas Bima dengan nada khas bangun tidur. Entah siapa yang menelfonnya, aku sama sekali tak bisa mendengar suaranya.
"Hana?"
Aku terkesiap begitu mendengar mas Bima menyebut nama yang membuat jantungku tiba-tiba berdetak kencang.
"Aku mau dengar mas" Lirihku, dan mas Bima langsung menekan tombol loud.
"Kebetulan sekali kamu telfon, Han. Gimana kondisi Lala, kenapa telfonku nggak kamu angkat?"
"Maaf, Bim, aku nggak mau kamu ganggu masa penjajakanku dengan Lala, tapi ternyata aku salah"
"Maksudmu?"
"Aku nggak bisa bujuk Lala, dan maaf, Lala_!"
Hana malah menggantung kalimatnya yang membuatku mendadak merasa khawatir.
"Ada apa dengan Lala?" tanya Mas Bima dingin, ia langsung duduk dengan raut panik.
Tak jauh beda denganku yang juga langsung duduk dan ikut panik bahkan takut.
"Lala sakit Bim, saat ini sedang di rawat d rumah sakit, dia_"
"You see!" pekik mas Bima dengan nada tinggi. Matanya merah menyiratkan sebuah amarah yang tertahan. "Karena keegoisanmu, putrimu jadi korban"
"Aku minta maaf, Bim"
"Sejak kapan dia di rumah sakit?"
"Panasnya sejak kemarin siang, aku kasih paracetamol, tapi demamnya tak kunjung turun, akhirnya tadi malam sekitar pukul sebelas aku membawanya ke rumah sakit"
"Kemarin siang?" Mas Bima mengernyitkan kening. "Bukankah kemarin sore Lala main sama Gesya? Aku telfon dia, dan dia bilang Lala sangat senang berada di sana?"
"Gesya nggak pernah main sama Lala, dia sibuk dengan teman-temannya sendiri di sini"
Aku dan mas Bima saling pandang, kami sama-sama terkejut mendengar apa yang di katakan Hana.
"Sekarang gimana kondisinya?"
"Demamnya masih belum turun, Bim. Kamu bisa datang kamari bersama Arimbi, nanti aku belikan tiketnya"
"Putriku menderita, tentu saja aku akan ke sana. Tapi kamu nggak perlu repot-repot pesan tiket untuk kami, kami sangat mampu untuk sekedar membeli tiket dan menginap di hotel bintang lima di Spore"
"Nggak boleh sombong, mas" Bisikku di telinga mas Bima sembari mengusap tengah dadanya. Aku tahu betul kalau emosinya sedang berada di level paling tinggi.
Priaku lantas menghela napas panjang sebelum kembali bicara. "Berikan alamat rumah sakit tempat Lala, aku langsung ke sana pagi ini" Usai mengatakan itu, mas Bima dengan kasar menyentuh ikon merah untuk memutus panggilan.
Bersambung...
__ADS_1