Menikahi Sersan Mayor

Menikahi Sersan Mayor
~ 47 ~


__ADS_3

Pov Arimbi


Aku sudah siap dengan seragam PAI berwarna biru langit khusus untuk para istri TNI AU. Hijab warna senada yang ku hias dengan bros pemberian dari mas Bima juga menambah kesan elegant, serta membuat auraku entah kenapa bisa sehidup ini.


Mungkin karena aku merasa bahagia.


Mungkin ...


Mengecek penampilanku sekali lagi, aku menghirup napas panjang sebelum melangkah keluar kamar.


Aku membuka dan menutup pintu kamar mas Bima. Sudah dua malam aku menjadi penghuni kamar ini. Pakaian serta perlengkapan mandiku juga satu persatu di boyong memenuhi kamar pria yang beberapa hari ini selalu bersikap manis.


Terlepas dari apa yang sudah kami lakukan selama dua malam, entah kenapa aku masih merasa sedikit gamang. Mas Bima belum mengatakan kalau dia mencintaiku secara langsung. Aku jadi berfikir kalau dia hanya di luarnya saja menerimaku, dari dalam hati sepertinya masih tampak samar.


Ah entahlah..


Begitu keluar rumah, mas Bima yang masih dalam masa cuti, tak memakai seragam PDH untuk menghadiri acara ini, dia cukup mengenakan pakaian olah raga khas profesinya sebagai anggota Bintara.


Aku melihat pria itu tengah mengelap motor besarnya selagi menungguku, mesin mobilnya juga di biarkan menyala karena masih di panasi.


Dia menghentikan tangannya begitu melihatku mendekatinya.


"Aku sudah siap mas"


Entah apa yang salah dengan penampilanku, mas Bima menatapku dengan tatapan yang tak ku tahu apa maksudnya.


Pria itu meletakkan kanebo di atas motor kemudian melangkah keluar dari garasi. Menutup dan menguncinya, lalu berjalan menghampiriku.


"Cantik" Pujinya tanpa ekspresi sesuai dengan ciri khasnya sebagai manusia datar.


Aku hanya tersenyum meresponnya. Ini pertama kali mas Bima memujiku.


"Sudah bawa baju ganti sama mukena?"


"Sudah" sahutku singkat. Memperlihatkan goodiebag yang ku bawa di tanganku.


Tadi mas Bima memang berpesan untuk membawa baju untukku dan juga Lala, serta mukena untuk sholat saat dalam perjalanan.


Kami akan langsung mengajak Lala ke kebun binatang dan akan berganti baju di rumah dinas milik mas Bima yang letaknya tak jauh dari area Lanud.


"Kita berangkat sekarang?"


Ku anggukkan kepalaku lalu mengekori langkahnya di belakang mas Bima.


Kalau mas Bima tak memulai lebih dulu untuk berinteraksi lebih dekat seperti tadi malam, aku tak berani mendahuluinya.


Aku malu, pengalaman berpacaran saja tak ada. Jadi aku bingung sendiri. Sementara raut datar dan dinginnya mas Bima juga masih tersisa dalam dirinya, itu yang membuatku belum berani sepenuhnya.


Mobil kami melaju membelah jalanan. Tak ada sepatah kata yang keluar dari mulut kami berdua. Aku tak berani mengganggu mas Bima yang terus fokus dengan kemudinya.

__ADS_1


Menundukkan kepala, aku meraih ponsel untuk memeriksa pesan yang masuk. Ada banyak pesan dari group kantorku, pesan yang sejak kemarin belum sempat ku baca.


Setelah scrol ke atas, aku mendapati sebuah undangan untuk mengikuti rapat di kantor kabupaten yang akan di adakan pada hari kamis.


Scrol ke bawah, pak Firman menunjukku untuk mewakili para staf mengikuti rapat yang akan di isi oleh pak Gubernur di acara intinya.


Aku melirik mas Bima, memikirkan bagaimana cara untuk meminta izinnya.


Menarik napas, aku kembali memalingkan wajah ke jendela sebelah kiri.


Hingga bermenit-menit berlalu, mobil mas Bima sudah mulai masuk ke area landasan udara tempat mas Bima dinas jika tak ada tugas ke luar kota.


"Aku langsung jemput Lala, ya"


"Iya" Kataku tanpa berani menatap kilatnya. Meski sudah lebih dekat dari ini, aku masih di selimuti perasaan canggung ataupun gerogi.


Mas Bima sepertinya juga cuek saja. Pria itu hanya melirikku dengan tatapan menggoda, sedangkan aku, langsung salah tingkah mendapat tatapan itu.


"Mas hati-hati"


"Hmm"


Aku langsung turun setelah mengucap salam dan mencium tangan mas Bima, lantas mengarahkan kaki untuk menyapa ibu-ibu Ardhya Garini.


Aku memiliki dua teman akrab di organisasi ini. Riana dan Sasmita, kami hanya bertemu pada saat-saat seperti ini, selebihnya kami mengobrol melalui pesan group yang di ketuai oleh Ibu Kapten Sri Hanggoro. Istri dari Bapak Kapten Supono Hanggoro. Kapten yang ku dengar akan Purnawirawan beberapa bulan lagi karena faktor usia. Begitu juga dengan Ibu Sri yang juga turut pensiun dan posisinya nanti akan di gantikan oleh pengganti yang di tunjuk.


Setelah saling sapa tidak hanya dengan Riana dan Sasmita, tapi dengan yang lainnya juga, kami menempatkan diri duduk di kursi yang sudah tersedia di aula tempat khusus pertemuan.


Tentang malam indahku bersama mas Bima, gugatan dari mbak Hana, kerinduanku pada Lala dan ketakutan berpisah dengannya, juga tentang jadwal rapatku hari kamis mendatang.


Soal mas Bima yang belum juga mengutarakan cintanya pun ikut nimbrung seakan tak mau kalah.


Aku sampai berfikir apakah aku sudah salah memberikan hak pada mas Bima sebagai suamiku.


****


"Bundaaaa!" Aku mendengar teriakan Lala ketika baru saja keluar dari area gedung aula.


Semburat bahagia yang terlukis di wajah Lala Membuat bibirku terulas lebar.


Aku berlari pelan sambil merentangkan tanganku.


Tak menampik kalau aku memang sangat merindukannya.


Berlutut di hadapannya, aku menyamakan tinggi level anak gadisku kemudian mengecupi pipinya bertubi-tubi.


"Bunda kangen Lala"


"Lala juga, bunda. Kangenya segunung"

__ADS_1


"Ah masa iya?"


"Ciyus bunda"


Aku tersenyum, kembali mencium pipinya yang kemudian menggigit lembut menggunakan mulutku.


"Geli bun"


"Bunda nggak mau tahu, pokoknya bunda kangennya banyak-banyak-banyak ke Lala"


Lala kian tergelak, sementara aku tak peduli dengan area sekitar yang melihatku dengan sorot kagum sekaligus tak percaya.


Mereka pasti berfikir kenapa aku bisa sedekat ini dengan putrinya mas Bima. Karena mereka tahu kalau aku hanyalah ibu sambung buat Lala.


Kabar perselingkuhan dan perceraian mas Bima dulu memang sempat menggemparkan dunia TNI khususnya di Lanud tempat mas. Bima di tugaskan. Mereka jelas tahu kalau Lala bukan anak kandungku.


"Kayak nggak ketemu lama aja, Lala sama bunda Arimbi" Itu kata Riana, yang tahu-tahu sudah berdiri di belakangku dengan Sasmita.


"Iya Onty, dua hari Lala nggak ketemu bunda, jadinya kangen banyak"


"Oh ya?" Sasmita ikut bersuara, sementara aku kembali berdiri dengan tangan menggandeng tangan mungil Lala.


"Memangnya bunda kemana?" Tanya Riana lagi.


"Bunda sibuk kerja sama ayah, jadinya Lala di antar ke rumah oma biar nggak ganggu bunda sama ayah yang lagi sibuk"


"Ayah sama bunda pasti sibuk bikin dedek bayi tuh" Celetuk Sasmita melirikku sekilas.


"Emang dedek bayi bisa di bikin ya? Bikinnya gimana?"


Mataku membulat sempurna begitu mendengar pertanyaan absurt Lala. Pun dengan sasmita dan Riana yang terkikik tanpa dosa.


"Tanya ke ayahnya Lala" seloroh Riana.


"Ayah bisa bikin dedek, onty Riana?"


"Bisa dong"


"Nggak La, onty Riana bercanda" Sambarku cepat dan Lala bengong seperti tengah memikirkan sesuatu.


Mengabaikan sorot Lala, pandanganku ku edarkan mencari sosok mas Bima.


Di sana kulihat priaku sedang terlibat perbincangan ringan dengan rekannya.


Baik bicara denganku, dengan papi maminya, serta rekan kerjannya, mas Bima bisa sesantai itu.


Gesture tubuhnya sama sekali tak menunjukkan ketegangan. Apalagi dengan bibirnya yang berkali-kali menyunggingkan senyum serta kedua tangannya yang masuk ke saku celana..


Benar-benar bahasa tubuhnya orang yang seolah tak memiliki beban.

__ADS_1


Berbanding terbalik denganku yang justru selalu di selimuti asumsi-asumsi negatif, yang sepsersekian detik membuat persaaan, hati serta pikiranku gelisah.


Bersambung


__ADS_2